
Aneska mempercepat makannya. Dia tidak mau Abian tau kalau dia baru saja mengobrol dengan Zidan.
Dia kembali ke ruangan suaminya. Selama melewati loby Aneska menundukkan kepalanya, karena banyak mata yang memperhatikannya dari atas sampai bawah. Di depan ruangan CEO sudah ada Tya yang berkutat dengan pekerjaannya.
"Hai Tya, aku tunggu Abian di dalam ya." Ucap Aneska.
"Silahkan." Jawab Tya ramah.
Aneska masuk ke dalam ruangan suaminya sambil memperhatikan dekorasi ruangan itu. Waku terus berputar membuat Aneska bosan dan mengantuk tanpa di sadarinya, dia tertidur di sofa, selang beberapa menit Abian masuk ke dalam ruangannya dan melihat istrinya tertidur.
Abian tersenyum sambil mendekati istrinya yang tertidur pulas.
"Kasihan, pasti kamu kelelahan menungguku." Gumam Abian sambil mengangkat tubuh istrinya dan memindahkan di kamar yang ada di belakang ruangannya. Dia meletakkan tubuh istrinya secara perlahan. Sebelum keluar kamar dia mengecup bibir istrinya.
"Cantikku, muaah." Abian mengecup bibir istrinya kemudian keluar ruangan sambil menutup pintu. Ruangan di ketuk, Tya masuk ke dalam ruangan itu.
"Pak, ada pak Zidan di luar." Ucap Tya.
Abian diam beberapa saat.
Apa dia tau kalau Aneska ada di sini.
Abian melamun dan berbicara dalam hatinya.
"Pak, bagaimana? apa pak Zidan boleh bertemu dengan anda." Tanya Tya lagi.
"Heemm, suruh masuk." Jawab Abian.
"Baik pak." Tya keluar ruangan dan memerintahkan Zidan masuk ke dalam ruangan CEO.
"Maaf mengganggu, saya mau menunjukkan beberapa produk baru." Zidan menunjukkan rancangannya untuk memulihkan anjloknya nilai saham perusahaan Bassam. Sambil menjelaskan Zidan memperhatikan sekeliling ruangan, dia mencari keberadaan Aneska.
"Baik segera luncurkan produk baru itu." Ucap Abian sambil memperhatikan Zidan. Walaupun dia tau kalau pria di depannya menyukai istrinya. Tapi keduanya bersikap profesional dan tidak menyinggung masalah pribadi.
"Tuan, apa anda sudah tau penyebab anjloknya nilai saham perusahaan Bassam." Tanya Zidan.
"Iya, ada yang menyalah gunakan kekuasaan di sini." Ucap Abian.
"Apa maksud anda tuan Farid." Tebak Zidan.
"Hebat benar tebakkan kamu, dari mana kamu tau kalau dia yang saya maksud." Ucap Abian.
"Jujur saya juga menaruh curiga sama beliau. Semenjak tuan Farid pegang perusahaan, selalu banyak keluhan yang di laporkannya sama nyonya Rona." Jelas Zidan.
"Iya saya tau, dia sudah menjual beberapa saham perusahaan." Ucap Abian.
"Tuan, kenapa anda tidak memulihkan perusahaan ini dengan bekerjasama dengan perusahaan bonafit salah satunya Raharsya group." Jelas Zidan.
"Akan saya pikirkan ide kamu, fokus untuk produk baru untuk kerjasama biar menjadi urusan saya dan dewan direksi." Ucap Abian.
"Permisi tuan." Ucap Zidan sambil melihat pintu ruangan yang ada di belakang Abian. Pria itu keluar dari rungan CEO. Dan berpapasan dengan dokter Arif.
__ADS_1
"Dokter apa yang anda lakukan di sini." Tanya Zidan.
"Abian ada." Tanya Arif.
"Ada dok." Jawab Zidan. Dokter itu kembali lagi menghampiri rivalnya Zidan.
"Saya dengar Abian kemarin menghajar Farid." Ucap dokter Arif.
"Saya dengar seperti itu." Jawab Zidan.
"Apa Abian sudah sembuh." Tanya dokter Arif lagi.
"Sudah" Jawab Zidan singkat.
"Bagus, saya akan membawa kembali dua perawat saya."
"Tunggu dok, apa maksud dokter mengatakan ini kepada saya." Ucap Zidan bingung.
"Jangan pura-pura lupa, saya tau kamu suka sama Aneska, dengan izin Abian, kedua perawat saya akan kembali ke rumah sakit." Ucap dokter lagi.
"Dok, sepertinya anda salah paham." Ucap Zidan.
"Salah paham bagaimana? ingat saya pernah bilang ke kamu kalau Aneska keluar dari istana. Saya akan langsung mempersuntingnya." Ucap dokter Arif sambil berlalu meninggalkan Zidan.
"Dokter anda tidak akan bisa membawa Aneska. Anda salah orang, tuan Abian tidak akan memberikan izin untuk anda membawa istrinya." Gumam Zidan.
Dokter Arif masuk ke dalam ruangan CEO, dia memperhatikan sosok teman kecil sekaligus sahabatnya.
"Apa kamu Abian yang dulu aku kenal?" ucap dokter Arif.
"Silahkan duduk." Ucap Abian mempersilahkan sahabatnya duduk sambil meletakkan tas istrinya di atas meja. Dokter muda itu mengerutkan dahinya melihat ada tas cewek di ruangan temannya.
"Wah hebat, kamu benar-benar sudah move on." Ucap dokter Arif senang.
"Begitulah, dia hadir memberikan warna baru dalam hidupku." Ucap Abian sambil tersenyum. Di dalam kamar Aneska mulai terbangun, dia melihat ruangan yang asing. Aneska bangun dari tempat tidur dan dari balik pintu dia mendengar ada suara orang lain.
"Sepertinya dia ada tamu." Gumam Aneska.
"Apa aku langsung keluar dan menyapa tamunya." Aneska mondar mandir sambil berpikir.
"Hahaha sok ramah banget gue. Lebih baik aku tunggu di sini." Gumam Aneska sambil tertawa.
"Ada perlu apa kamu ke sini." Tanya Abian.
Dokter Arif menghela nafasnya yang berat, dia menceritakan tentang pertemuannya dengan nyonya Rona di rumah sakit.
"Kenapa? apa masalah kamu dengannya." Ucap dokter Arif.
Mendengar rumah sakit, Aneska langsung menguping dan memastikan pendengarannya kalau tamu yang ada di ruangan suaminya adalah dokter Arif, Aneska mengintip dari lubang pintu.
"Aku menghajarnya di kantor." Ucap Abian pelan.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" ucap dokter Arif.
"Asal kamu tau, dia berselingkuh dengan sekertarisnya di dalam ruang kerjanya!" Teriak Abian marah.
"Oh my God, ternyata itu penyebabnya." Gumam Aneska di dalam kamar sambil tetap menguping.
"Ya ampun, apa Tanisa tau tentang kebenaran ini." Tanya dokter Arif.
"Belum, mami dan Tanisa belum tau. Aku masih menyelidiki kakakku juga." Ucap Abian pelan.
"Ada apa dengan Tanisa?"
"Kata Farid, Tanisa juga melakukan hal yang sama." Ucap Abian.
"Ya ampun suami istri kenapa bisa begitu." Gumam Aneska dalam kamar.
"Sampai segitunya kamu marah Bian." Ucap dokter Arif.
"Jelas aku marah, setelah aku campakkan dia mau membunuh Aneska."
"Apa!" dokter Arif kaget.
"Kenapa Tanisa dan mami kamu tidak bilang." Tanya dokter Arif.
"Kamu seperti tidak kenal mami dan Tanisa, mana mau mereka mengatakan yang sebenarnya." Jawab Abian.
"Tapi kenapa Farid mau membunuh Aneska apa alasannya? apa dia marah karena Aneska yang menyembuhkan kamu."
"Sepertinya begitu." Jawab Abian singkat.
"Baiklah, aku sudah mendengar semua penjelasan dari kamu. Untuk menghindari kejadian seperti kemaren, jadi aku mau meminta izin sama kamu untuk membawa kedua perawatku Tami dan Aneska." Ucap dokter Arif.
"Yes." Aneska di dalam kamar senang.
"Apa!" sekarang Abian yang kaget.
"Kamu sudah sembuh jadi untuk apa perawatku di sana." Ucap dokter Arif lagi.
"Aku tidak mengizinkan." Ucap Abian tegas.
"Kenapa? dua perawatku sangat handal dan kami para dokter membutuhkan perawat seperti mereka." Ucap dokter Arif.
Abian mendengarkan penjelasan temannya.
"Sayang kalau bakat mereka harus di biarkan. Mereka sekolah tinggi-tinggi untuk bisa mewujudkan impiannya." Jelas dokter Arif.
"Baik, aku izinkan Tami dan Aneska kembali bekerja tapi ada syaratnya." Ucap Abian.
"Apa?"
"Tidak ada masuk malam, dan pulang tidak boleh lebih dari jam lima." Ucap Abian.
__ADS_1
"Apa!" Dokter Arif kaget dan bingung. Dia berpikir yang punya rumah sakit Abian atau tim dokter.
Bersambung.