
Tiara membersihkan badannya yang seharian lengket dan melupakan kepenatannya.
Setelah selesai mandi, dia langsung memilih untuk tidur dan ponselnya berdering.
Tiara mengambil ponselnya yang berada tidak jauh dari tempat tidur. Tertera nomor asing di layar ponselnya.
Tiara memilih menolak panggilan itu karena nomor itu tidak terdaftar dalam ponselnya.
Ponselnya terus berdering, karena kesal akhirnya Tiara menjawab panggilan itu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidur silahkan hubungi satu tahun lagi." Ucap Tiara.
"Tiara jangan di matikan, ini saya Zidan." Ucap Zidan dari ujung ponselnya.
"Hah bapak lagi?" Tiara memijat pelipisnya, dia benar-benar lelah menghadapi pria satu ini.
"Bapak mau apa?" tanya Tiara yang bingung karena pria itu baru menemuinya beberapa menit yang lalu dan sekarang pria itu kembali menghubunginya.
"Will you merry me?"
"Apa!" Tiara langsung teriak.
"Ini ketiga kalinya bapak mengatakan itu, sekali lagi bapak mengatakan itu saya kasih payung cantik." Tiara berujar dengan nada kesal.
"Saya hanya membutuhkan jawaban iya dari kamu, setelah itu saya tidak akan mengganggu kamu." Ucap Zidan dari ujung ponselnya.
Tiara menghela nafasnya, dia bisa mendengar kalau Zidan masih berada di mobil.
"Saya kasih tau ya, bapak saya galak banget, memangnya anda berani?" Tiara sengaja mengatakan itu agar pria itu mundur dan tidak mengejarnya untuk menikah.
"Saya tidak takut, berikan saja alamat rumah kamu." Ucapan Zidan membuat Tiara takut.
"Hahaha saya hanya bercanda, sebaiknya urungkan niat bapak. Kembali lamar saya kalau anda sudah membuat saya jatuh cinta selamat malam." Tiara langsung menutup panggilannya sepihak, dia tidak ingin mendengar bujuk rayu Zidan.
***
Selama dalam perjalanan pulang dia terus memikirkan ucapan Tiara.
"Baiklah aku akan membuat kamu jatuh cinta." Gumam Zidan pelan dan memikirkan caranya.
"Bagaimana caranya. Apa aku tanya tuan Abian... Oh tidak bisa di ejek aku nanti." Zidan tau kepada siapa dia harus bertanya.
Mobil melaju di gelapnya malam, memecahkan kesunyian dengan deru mobilnya.
Hampir satu jam dia baru tiba di istana Bassam dan langsung mecari Anggela. Hanya wanita itu yang bisa di ajaknya bicara.
Zidan mengetuk pintu kamar Anggela dan tidak ada sahutan dari dalam kamar itu. Dia menempelkan kupingnya ke pintu tapi tetap tidak ada sahutan ataupun pergerakkan dari dalam kamar.
Zidan memberanikan diri dan mencoba mengintip, dia melihat Anggela sedang duduk meringkuk di bawah tempat tidur.
__ADS_1
"Anggela..." Ucap Zidan seraya masuk ke kamar wanita itu.
Mata Anggela sembab, dia menangis seharian.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan.
"Zidan, hiks hiks..." Dia menangis dan langsung memeluk tubuh pria di depannya.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan lagi.
"Aku baru mendengar kalau Farid telah melakukan perbuatan kriminal."
Zidan menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan wanita itu.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Zidan bingung.
"Ibu Tatik marah, dia bilang aku sama busuknya dengan Farid, dia bilang aku harus masuk penjara bersama Farid, apa itu benar?" tanya Anggela.
"Tidak, itu tidak benar, kalau kamu melakukan tindakan kriminal pasti kamu masuk penjara tapi kenyataannya tidak kan." Ucap Zidan seraya melepaskan tangan Anggela dari badannya.
"Duduklah." Zidan menuntun wanita itu untuk duduk di tempat tidur.
"Apa kamu tenang sekarang?" tanya Zidan.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Zidan menyerahkan segelas air putih yang berada tidak jauh dari tempat tidur. Anggela menegakkan minuman itu.
"Hemm, kamu ke sini mau apa?" tanya Anggela.
"Jatuh cinta sesungguhnya belum tapi kalau suka banyak." Ucap Anggela seraya tersenyum. Zidan langsung mengerutkan dahinya, menurutnya Anggela wanita yang membingungkan.
"Oh gitu." Ucap Zidan singkat.
"Kamu tau, aku suka sama siapa saja?" Anggela mengajukan pertanyaan balik ke Zidan.
Zidan mengangkat kedua bahunya.
"Aku suka kamu dan Abian." Anggela berkata jujur. Tapi kejujuran wanita itu membuat Zidan langsung mundur dan menghindari wanita itu.
"Zidan sini." Rengek Anggela seraya menarik tangan Zidan agar tidak menjauhinya.
"Anggela maaf." Pria itu langsung melepaskan tangan Anggela.
"Kenapa?" tanya Anggela bingung dengan sikap Zidan yang tidak seperti biasanya.
"Aku aku akan menikah dengan wanita lain." Zidan berujar seperti itu agar Anggela tidak menaruh harapan lebih kepadanya.
"Oh ya, siapa gadis itu?" tanya Anggela. Ekspresi Anggela membuat Zidan bingung.
"Hahaha kamu kenapa? aku suka sama kamu bukan cinta, kalau kamu mau menikah aku turut bahagia walaupun pinginnya aku jadi pengantin wanitanya." Anggela tertawa simpul tanpa ada rasa sakit hati.
__ADS_1
Zidan bernafas lega, pikirannya tentang Anggela salah.
"Kami sudah bertemu dua kali dan hari ini aku melamarnya." Jelas Zidan.
"Dua kali pertemuan langsung melamar oh so sweet." Anggela membayangkan dirinya yang di lamar Zidan.
"Anggela jangan berpikiran aneh." Ucap Zidan langsung yang membuyarkan lamunannya.
"Heheheh, iya iya. Aku sadar diri, wanita sepertiku akan mendapatkan pria yang sikap dan prilakunya sama denganku." Anggela menundukkan kepalanya, dia menginginkan sebuah pernikahan dan tentunya dengan pria yang baik.
"Anggela apa maksud kamu?" tanya Zidan bingung.
Anggela mengangkat kepalanya dan memandang langit-langit kamar.
"Aku bukanlah wanita baik-baik. Aku aku..." Anggela menangis lagi.
"Kamu kenapa?" Zidan bingung dengan sikap wanita di depannya yang berhenti menangis dan sekarang menangis kembali.
"Aku bukanlah wanita baik-baik, perawanku hilang karena ulah orang tuaku, aku di jadikan taruhan untuk judi orang tuaku." Tangisan Anggela pecah.
Zidan merasa iba, dia memeluk wanita itu memberikan ketenangan.
"Aku benci orang tuaku, karena mereka aku jadi wanita yang tidak punya harga diri." Anggela masih menangis sesegukan mengingat badannya di cumbui pria-pria hidung belang.
Zidan menelaah semua perkataan Anggela.
"Bukannya kamu sepupu Farid?" tanya Zidan.
"Bukan, aku dan dia bukan sepupu, sebenarnya dia yang menolongku, mungkin kalau tidak ada dia, tubuhku terus di jajakan ke setiap pria." Anggela berkata jujur, menurutnya tidak ada yang perlu di sembunyikannya lagi.
"Bagaimana cara Farid menyelamatkan kamu?" tanya Zidan penasaran.
"Dia membeliku dengan sangat mahal tapi..." Anggela diam dan merenung mengingat kejadian itu.
"Tapi apa?" Zidan merasa penasaran dengan masa lalu Anggela dan keburukan Farid.
"Dia membayarku mahal tapi aku harus jadi budak sexnya." Ucap Anggela dengan mata yang berkaca-kaca.
"Anggela kenapa kamu mengatakan ini?" tanya Zidan penasaran.
"Karena aku takut...."
"Takut kenapa?" tanya Zidan pelan seraya menatap wanita itu.
"Aku aku akan di usir dari sini dan pasti pria hidung belang mencariku kembali. Aku tidak mau lagi, hiks hiks."
"Aku paham, kalaupun kamu keluar dari istana ini carilah pekerjaan yang pantas jangan kembali ke dunia kelam itu." Zidan menasehati Anggela.
"Tidak Zidan, aku tidak mau. Aku takut, jangan usir aku dari sini, biarkan aku bekerja di istana ini dari pada harus keluar lebih baik aku jadi pembantu di sini."
__ADS_1
Anggela sebenarnya lahir dari keluarga berada, tapi harta orang tuanya habis karena berjudi. Dan dia di jadikan taruhan di atas meja judi orang tuanya. Karena dari keluarga berada dia tidak mengenal namanya pekerjaan rumah tangga. Akankah dia di usir dari istana Bassam?
Bersambung...