Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 81


__ADS_3

Alarm di ponsel Aneska berdering, dia buru-buru mengambil ponselnya yang ada di nakas.


Langsung bergegas ke kamar mandi, setelah memakai seragam kerjanya. Aneska membangunkan suaminya.


"Suamiku bangun." Ucap Aneska sambil menyentuh lengan suaminya.


"Hemm." Abian membuka matanya secara perlahan dan langsung membelalakkan matanya melihat istrinya sudah memakai seragam.


"Ini hari minggu, apa kamu juga mau berangkat kerja." Ucap Abian bingung.


"Iya, kalau perawat waktu liburnya tidak seperti karyawan kantoran, ayo bangun." Aneska menarik tangan suaminya.


"Sudahlah enggak usah kerja lagi. Ini masih gelap tapi kamu sudah berangkat kerja." Ucap Abian kasihan.


"Rumah sakit jauh dari rumah kita, jadi mau enggak mau harus berangkat pagi buta, ayo bangun." Ucap Aneska.


Abian bangun dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Aneska menghubungi Koki untuk menyiapkan sarapan mereka.


Abian keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono handuk dan mendapati istrinya sedang menikmati sarapannya.


"Sayang mari makan." Ucap Aneska.


Abian mendekati istrinya.


"Kamu bilang apa tadi." Tanya Abian


"Mari makan." Jawab Aneska sambil menyuapi suaminya.


"Jawab dulu tadi kamu panggil aku apa?"


"Sayang." Jawab Aneska singkat sambil mengunyah makanannya.


"Apa kamu menyayangiku." Tanya Abian.


"Tentu aku menyayangimu, kamu kan suamiku. Cinta itu tumbuh karena adanya kasih sayang." Jelas Aneska.


"Terima kasih sayang, karena sudah mencintaiku." Abian menciumi istrinya.


"Udah buruan pakai baju, kita mau berangkat." Ucap Aneska menyudahi ciuman suaminya.


Abian melangkahkan kakinya menuju ke ruang ganti.


"Sayang sebentar lagi kamu selesai mens kan." Teriak Abian dari ruang ganti.


"Iya, kok kamu tau." Teriak Aneska.


"Aku menghitungnya, biar aku bisa menusuk kamu lagi." Teriak Abian.


Pipi Aneska merona merah. Abian datang kembali menghampirinya, memakai celana panjang dan hanya menyisakan badannya yang sengaja di biarkan terbuka.


Aneska buru-buru memalingkan wajahnya. Dia tidak kuasa melihat bentuk tubuh suaminya yang sangat atletis.


"Kamu kenapa." Tanya Abian sambil memegang dagu istrinya agar melihat ke arahnya.


"Aku akan mengambilkan pakaian untuk kamu." Ucap Aneska sambil beranjak dari sofa.


Abian menahan tangan istrinya.


"Aku belum mengizinkan kamu beranjak dari sini. Jawab aku kenapa kamu selalu memalingkan wajah kalau aku tidak memakai pakaian." Tanya Abian.


"Karena kamu seksi." Jawab Anes jujur.


"Seksi? apa kamu ingin menyentuh badanku." Goda Abian.

__ADS_1


"Hahaha terima kasih suamiku, lain kali aku akan menyentuhmu." Ucap Aneska menghindar sambil berlari kecil masuk ke ruang ganti.


"Aduh kenapa aku jadi terangsang seperti ini." Gumam Aneska sambil mengambil pakaian suaminya di dalam lemari.


Abian sedang menikmati sarapannya. Aneska meletakkan pakaian suaminya di sebelah Abian.


Dia memilih duduk di atas kasur.


"Sayang duduk sini." Ucap Abian sambil menepuk sofa.


"Aku di sini saja. Cepat habiskan sarapannya, kita mau berangkat." Ucap Aneska.


Abian bukan aku menolak duduk dekat dengan kamu, tapi malu kalau sebenarnya aku terpikat denganmu.


Aneska melamun sambil membayangkan malam pertamanya. Dia merasa malu dengan kejadian itu tapi dia menikmati setiap sentuhan yang di berikan suaminya.


"Ayo berangkat." Ucap Abian.


Aneska masih melamun sambil membaringkan tubuhnya di kasur. Dia memeluk guling layaknya sedang memeluk Abian.


"Oh Abian." Ucap Aneska sambil memejamkan matanya dan memeluk guling.


"Aneska kamu kenapa?" ucap Abian.


"Abian? sejak kapan kamu di sini." Tanya Aneska.


"Aneska aku udah dari tadi di kamar ini, apa kamu masih mengantuk? kalau ngantuk tidak usah kerja." Ucap Abian bingung.


Aneska menggaruk kepalanya dan langsung duduk di kasur.


"Eh Abian, ayo kita berangkat." Ucap Aneska gugup.


Aneska menggandeng tangan suaminya keluar kamar.


"Kamu kenapa?" ucap Abian bingung.


"Eh siapa yang suruh lepas. Nih pegang tanganku lagi. Jangan di lepas." Ucap Abian.


Aneska terus memegang tangan suaminya. Abian mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


"Jam berapa nanti aku jemput." Tanya Abian.


"Jam enam." Jawab Aneska.


"Apa kamu tidak ada niat untuk tidak bekerja lagi." Ucap Abian.


"Suamiku, aku sangat menyukai profesiku sebagai perawat. Karena profesi ini aku bisa bertemu dengan kamu." Jelas Aneska.


"Iya kamu benar, tapi aku kasihan sama kamu."


"Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan pekerjaan ini." Ucap Aneska.


"Baiklah kalau memang itu kemauanmu, tapi kalau hamil. Kamu harus berhenti kerja." Ucap Abian.


Aneska langsung memalingkan wajahnya melihat ke arah luar jendela mobil, dia masih malu jika suaminya membicarakan tentang hubungan suami istri apalagi anak.


"Dua kali tusuk memang bisa hamil." Gumam Aneska.


"Aneska? apa kamu punya kelainan suka berbicara sendiri?" ucap Abian.


"Apa! aku normal, tadi aku hanya mengagumi pemandangan di luar." Ucap Aneska gugup sambil menoleh cepat ke arah suaminya.


Abian melihat pemandangan yang ada di jalan raya.

__ADS_1


"Kemacetan seperti itu kamu kagumi." Ucap Abian bingung.


"Oh eh iya, kemacetan lalu lintas sebuah pemandangan yang langka. Jarang terjadi jadi harus di kagumi." Ucap Aneska gugup.


"Aneska setiap hari jalanan selalu macet, apa kamu tidak tau." Jelas Abian.


"Oh ya, kenapa aku tidak tua." Ucap Aneska gugup sambil menggaruk rambutnya.


"Tau Aneska bukan tua." Ucap Abian memperbaiki ucapan istrinya.


"Nah itu maksud aku." Ucap Aneska gugup.


"Kenapa aku bisa grogi seperti ini." Gumam Aneska lagi.


"Nah kan, kamu bicara sendiri lagi." Ucap Abian.


"Bukan, ah sudahlah. Iya aku memang suka bicara sendiri kadang aku suka berhalusinasi akan menikah dengan pangeran kodok." Ucap Aneska ngambek.


"Jangan ngambek sayang, apapun yang kamu lakukan aku suka. Walaupun kamu suka bicara sendiri aku tetap cinta. Asal jangan tertawa sendiri." Rayu Abian sambil mengelus rambut istrinya.


"Kalau tertawa sendiri memangnya kenapa?"


"Takutlah." Ucap Abian singkat.


"Aaaa." Rengek Aneska.


Abian langsung mengecup punggung tangan istrinya, dia sangat suka sifat manja istrinya.


Mobil sudah sampai di rumah sakit.


"Apa kamu yakin masih mau bekerja." Ucap Abian memberhentikan mobilnya di depan loby.


"Iya dong, kapan lagi bisa bertemu dengan teman-temanku." Ucap Aneska semangat.


"Jadi bekerja hanya mau bertemu dengan teman kamu." Ucap Abian cemburu.


"Bukan sayang, aku memang ingin tetap bekerja sebagai perawat, dengan bekerja aku bisa berkumpul dengan temanku tanpa harus janjian untuk ketemu." Jelas Aneska.


"Jangan sampai aku lihat kamu berdua dengan perawat pria." Ancam Abian.


"Iya-iya. Aku kerja dulu ya. Bye sayang." Aneska mengecup pipi suaminya lalu turun dari mobil.


Abian tersenyum melihat perlakuan istrinya, dia merasa sangat di sayang. Aneska sudah masuk ke dalam rumah sakit. Abian melajukan mobilnya kembali ke istana Bassam.


"Aneska." Teriak Tari dan Tami. Dua sahabatnya berlari kecil mengikuti langkah Aneska.


"Duh yang di antar pangeran." Goda Tami.


Aneska hanya tersenyum simpul.


"Nes kapan-kapan bawa kami melihat kediaman suami kamu dong." Ucap Tiara.


"Kamu kali jangan ajak mbak." Ucap Tami.


"Kenapa mbak? takut di suruh balik lagi sama Abian." Goda Aneska.


"Iya, walaupun di sana istana tapi aku tidak bisa membayangkan betapa capeknya kalau harus pulang pergi dengan menghabiskan waktu satu jam sekali perjalanan." Ucap Tami.


"Tapi aku mau mbak, mana tau aku ketemu jodohku di istana Bassam." Ucap Tari menghayal.


"Tidak ada yang jomblo lagi di sana, eh tapi masih ada satu." Ucap Aneska.


"Nah yang satu itu kenalkan samaku. Siapa Nes dan apa kedudukannya di sana." Ucap Tiara penasaran.

__ADS_1


"Tukang sapu." Ucap Aneska diiringi gelak tawanya dan Tami.


Bersambung....


__ADS_2