
π·π·π·
Terima kasih atas votenya. Kadang author heran dengan kalianπ€, tapi sudahlah sesuai janji akan author tambah updatenya jika berada di sepuluh besar.
π·π·π·
Nyonya Rona dan Tanisa mengganti baju mereka dengan baju tidur. Sedangkan Tanisa memakai celana yang sangat pendek dan baju tanpa lengan.
"Mami, aku yakin malam ini aku tidak akan bisa tidur." Ujar Tanisa yang terus mengipasi wajahnya.
"Mami juga, mana mungkin kita bisa tidur di ruangan kecil seperti ini, masih bagus kamar pelayan di istana." Gerutu nyonya Rona memandangi ruangan dengan cat yang telah memudar.
"Mami, aku kebelet pipis." Bisik Tanisa.
"Kamar mandi di mana?" tanya Tanisa lagi.
"Mana mami tau, ini juga pertama kalinya mami menginjakkan kaki ke rumah ini."
Wanita paruh baya itu mengingat ucapan besannya yang mengatakan kalau kamar mandi ada di belakang.
"Sepertinya ada di belakang." Ujar nyonya Rona dan mulai beranjak dari kamar menuju dapur.
"Ih jijiknya, berantakan banget." Gerutu nyonya Rona melihat banyaknya bahan makanan dan peralatan makan yang hanya tersusun di meja makan.
"Sepertinya itu." Tanisa menunjuk ke arah pintu yang terbuat dari alumunium. Keduanya membuka pintu itu dan langsung membelalakkan matanya.
"Mami..... Aku takut." Ujar Tanisa ketakutan membayangkan seremnya jika mereka harus keluar dan adanya pohon dan terpal yang di gunakan warga untuk memasak.
"Jorok, berantakan lagi." Gumam nyonya Rona.
"Mami sebaiknya buang air kecilnya besok aja." Tanisa memilih menahan dari pada harus keluar rumah.
"Lebih baik kita minta temani sama Zidan atau Arif." Nyonya Rona dan Tanisa kembali ke ruang tamu dan melihat Zidan sedang memandang seseorang yang sedang tidur begitupun dokter Arif belum bisa tidur. Dia terlihat sedang memainkan ponselnya.
"Arif sini." Panggil nyonya Rona.
"Iya tante." Dokter Arif segera beranjak dan menghampiri dua wanita itu.
"Bisa kamu temani kami ke kamar mandi." Rayu Tanisa.
"Oh, ayo...." Arif berjalan lebih dulu dari kedua wanita itu.
Nyonya Rona dan Tanisa berebut sendal yang paling bagus untuk di gunakan mereka.
__ADS_1
"Mami, aku yang ambil itu duluan." Ujar Tanisa seraya memegang sendal itu.
"Iya mami tau, tapi yang lebih dulu lahir mami, itu tandanya kamu harus mengalah. Pakai sendal yang lain." Ujar nyonya Rona yang tidak mau mengalah sama sekali.
"Tapi yang lain jelek udah gitu jorok lagi." Gerutu Tanisa.
"Kalau gitu kamu tunggu mami, kita gantian." Arif mendengar percakapan itu dan dia hanya menggelengkan kepalanya.
Nyonya Rona masuk lebih dulu ke dalam kamar mandi. Ketika berada di kamar mandi dia muntah. Dia merasa jijik melihat kamar mandi itu. Karena banyaknya warga yang menggunakan sehingga bu Desi lupa untuk membersihkan.
Dengan cepat wanita paruh baya itu langsung menyelesaikan kegiatannya tanpa mau melihat ke arah mana pun.
"Mami muntah?" tanya Tanisa karena dia dapat mendengar suara maminya dari luar kamar mandi.
"Aduh Tanisa, kamar mandinya seperti wc umum, jorok, mami jijik. Besok mami enggak mau mandi." Nyonya Rona mengedikkan bahunya jijik. Dan langsung bergegas masuk ke kamar.
Tanisa masih diam di depan pintu dapur dan Arif masih sabar menunggunya.
"Tanisa ayo cepat, tunggu apa lagi." Ujar Arif.
"Iya." Tanisa bergegas ke kamar mandi dan sama halnya dengan maminya, dia muntah. Dengan segera menyelesaikan kegiatannya.
"Kamu muntah juga?" tanya Arif menghampiri Tanisa.
"Kamar mandinya jorok." Sahut Tanisa.
Walaupun di jelaskan Tanisa tetap merasa jijik. Tanisa kembali ke kamar dan melihat maminya hanya duduk di atas tempat tidur tanpa memejamkan matanya.
"Mami enggak tidur?" tanya Tanisa.
"Lebih baik mami terjaga sepanjang malam dari pada harus tidur di atas tempat tidur jelek ini." Gerutu nyonya Rona.
Akhirnya Tanisa melakukan hal yang sama yaitu duduk di sebelah maminya.
"Apa tidak ada kipas di sini." Gumam nyonya Rona.
"Mami sepertinya aku melihat kipas di ruang tamu." Tanisa bergegas ke ruang tamu. Kipas di letakkan di pojok khususnya di dekat para pria tidur.
Tanpa rasa bersalah dia melangkahi temannya Aneska dan mengangkat kipas. Dan ketika mau berbalik kakinya di peluk temannya Aneska.
"Uh kenapa lagi ini." Gumam Tanisa dan berusaha untuk melepaskan kakinya dari tangan Dimas.
"Ini anak kenapa sih." Gerutu Tanisa dan melihat sekeliling ruangan yang telah memejamkan mata.
__ADS_1
Tanisa jongkok dan melepaskan tangan pria itu dari kakinya. Tapi ketika tangannya sedang melepaskan tangan Dimas, pria itu langsung duduk dengan mata tertutup.
Dia mencium pipi Tanisa dan kembali berbaring. Tanisa langsung menampar pipi Dimas sontak membuat pria itu kaget dan langsung bangun.
"Ada apa?" tanya Dimas yang tidak sadar dengan kelakuannya.
"Kenapa kamu menciumku." Bisik Tanisa.
"Mencium?" Dimas menggaruk kepalanya.
"Jangan sok oon jawab." Tanisa merapatkan giginya. Dia khawatir jika suaranya dapat membangunkan semuanya yang pasti akan membuatnya malu.
"Anda mengigau nona." Racau Dimas yang dengan mata tertutup dan langsung berbaring kembali.
Tanisa tidak tinggal diam, dengan sengaja dia menginjak betis pria itu dan membuat Dimas berteriak.
"Aw..." Teriak Dimas yang membuat semuanya bangun.
"Hei kenapa teriak!" ucap temannya dan langsung menimpuk Dimas dengan bantal. Sedangkan Tanisa telah kembali ke kamar tanpa membawa kipas angin.
"Mana kipasnya?" tanya maminya.
"Rusak." Sahut Tanisa jutek. Dia marah dengan tingkah Dimas tapi maminya menjadi tempat pelampiasan.
Setelah kebisingan yang terjadi di ruang tamu mereda. Semua kembali tidur hanya Zidan yang tidak bisa tidur lagi.
Dia melihat Tiara yang di sebelahnya ada Tami dan Aldo. Zidan menarik pria itu dan memindahkan posisi Aldo kembali ke tempatnya. Sekarang posisi berpindah, Zidan berada di sebelah Tiara.
Tidur seperti mayat, di pindahkan enggak tau.
Zidan bergumam dalam hatinya. Membayangkan besok pagi tentang berubahnya posisi Aldo. Tiara tidur membelakangi Zidan, dia tidur menghadap Tami.
Malam semakin larut dan udara mulai terasa dingin, tanpa di sadari Tiara membalikkan badannya dan tidur menghadap Zidan. Angin malam serasa masuk ke dalam tulang, tidur hanya beralaskan tikar membuat semuanya meringkuk. Tanpa di sadari Tiara tidur di dalam pelukan Zidan.
***
Pagi hari suara ayam berkokok membangunkan semua orang. Tiara mengerjapkan matanya dan kaget ketika ada badan pria di dekatnya.
Dan ketika melihat ke arah depan semua orang berdiri mengelilingi mereka. Termasuk Abian dan Aneska ikut mengelilingi Tiara dan Zidan.
Tiara menepuk pipi Zidan dan sontak membuat pria itu bangun. Sama halnya dengan Tiara, Zidan kaget ketika melihat semua mata melihat ke arah mereka. Dan semuanya berkacak pinggang dengan tatapan yang tajam.
Bersambung...
__ADS_1
π·π·π·
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014