Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 119


__ADS_3

Zidan menanyakan kejadian yang menimpa Tanisa. Nyonya Rona menceritakan apa yang dia tau, karena dia mengetahui dari Abian.


"Cerita lengkapnya Abian yang tau." Ucap nyonya Rona seraya melihat anaknya.


"Di mana tuan Abian?" tanya Zidan.


"Dia ada di rumah sakit ini, kata Arif, Aneska di operasi." Jelas oma.


"Operasi?" Zidan merasa prihatin dengan keadaan Aneska.


"Saya akan menghubungi tuan Abian." Zidan keluar dari ruang perawatan Tanisa dan langsung mengambil ponselnya, dia menghubungi Abian. Panggilan terhubung.


"Tuan, saya dengar Aneska di operasi?" tanya Zidan yang berada tepat di depan kamar Aneska dan Tanisa.


"Iya, sekarang kami di ruangan x." Ucap Abian.


Zidan melihat kamar yang ada di depannya. Dia langsung masuk ke kamar itu.


"Maaf tuan saya baru mendengar kabar itu." Ucap Zidan seraya melihat ada dua perawat yang sedang duduk di pinggir tempat tidur tempat Aneska terbaring.


Abian hanya melihat istrinya dengan tatapan sedih.


"Tuan apa yang terjadi?"


Abian menceritakan kejadian tadi siang, dengan suara yang pelan tapi tetap dapat di dengar kedua teman Aneska.


"Tuan sebaiknya anda melaporkan kejadian itu, bawa saksi, semua bukti ada di ruang monitor pasti Farid akan cepat di jatuhi hukuman." Abian tidak memikirkan sampai sejauh itu, dia hanya ingin menghajar Farid.


"Kenapa aku tidak memikirkan sejauh itu." Ucap Abian pelan.


"Saya tau, tuan panik dan stres karena Aneska terluka, sebaiknya laporkan sekarang."


"Siapa yang akan menjaga Aneska?"


"Kami." Ucap dua perawat itu.


Zidan mengenal satu orang perawat yaitu Tami dan satu perawat lagi seperti pernah di lihatnya.


"Baiklah saya percaya sama kalian." Dua perawat itu menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu tau dimana Tanisa di rawat?" tanya Abian ke Tanisa.


"Ada di depan tuan." Sahut Zidan.


"Aku serahkan Tanisa dan Aneska sama kamu." Ucap Abian seraya keluar dari ruangan perawatan itu.


Abian pergi dengan maminya ke kantor polisi. Mereka tidak pernah terlihat akur, tapi hari ini keduanya terlihat bersahabat walaupun hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun dari mulut keduanya, tapi kejadian ini membuat keduanya berada satu mobil. Kejadian yang langka dan sekarang terjadi.


Zidan terus memperhatikan perawat yang satunya. Tiara buru-buru memalingkan wajahnya, dia mengingat pria yang pernah di kerjainnya sekaligus pria yang telah membantunya memenangkan taruhan dari Aldo.


"Tami."


"Iya pak." Sahut Tami seraya menoleh ke arah Zidan.


"Bapak?" gumam Tiara.


"Apa kamu tidak ingin mengenalkan teman kamu dengan saya." Ucapan Zidan membuat Tiara langsung menoleh ke arah Zidan.

__ADS_1


"Oh iya, ini teman saya, namanya Tiara. Dia mirip dengan Aneska." Ucapan Tami langsung di potong Tiara.


"Sstt mbak Tami apa-apaan sih, jangan buka aib." Gerutu Tiara sambil tersenyum kaku ke arah Zidan.


Tami melihat jam di tangannya.


"Kamu jaga Aneska dulu, mbak mau menyerahkan status pasien yang keluar hari ini." Ucap Tami seraya keluar dari ruangan itu.


"Tapi..." Tiara tersenyum kaku sambil menggaruk lehernya. Dia merasa bersalah dengan pria di depannya.


Zidan terus menatap lekat ke arah perawat itu.


"Maafkan saya pak." Ucap Tiara sambil bersimpuh di hadapan Zidan.


"Hei, apa yang kamu lakukan? berdiri jangan seperti ini." ucap Zidan bingung dengan tingkah wanita di depannya.


"Bapak maafkan saya dulu, nanti saya berdiri."


"Iya-iya." Tiara berdiri dan tersenyum. Dia kembali duduk di kursi sambil menghadap Aneska.


"Jelaskan kepadaku, kenapa kamu pura-pura pusing ketika di lift?" tanya Zidan penuh selidik.


"Oh itu, ceritanya saya lagi taruhan sama teman, kalau dapat berfoto dengan seorang pria maka saya dapat uang sebesar lima ratus ribu." Jelas Tiara.


"Oh jadi kamu memanfaatkan aku gitu." Zidan menekan intonasinya.


"Kan saya sudah minta maaf, kok bapak masih marah sih." Gerutu Tiara mulai sewot.


"Maaf kalau kelakuan saya kurang sopan, mungkin karena saya hubungan bapak dengan istri bapak jadi renggang."


Apa aku setua itu sampai di pikirannya sudah mempunyai istri.


"Aku belum menikah." Ucap Zidan ketus.


"Hah? belum menikah? apa bapak suka sesama jenis?"


"Apa!" Zidan langsung berdiri.


"Sstt ini rumah sakit jangan teriak." Tiara meletakkan jari telunjuknya di bibirnya memberikan isyarat agar pria yang ada di ruangan itu tidak membuat kebisingan.


Zidan kembali duduk dan sesekali melirik perawat itu.


"Aku maafkan, tapi ada syaratnya." Ucap Zidan seraya melihat ponselnya agar terkesan cool.


"Apa syaratnya?" tanya Tiara penasaran.


"Berapa nomor ponsel kamu?" pertanyaan Zidan membuat Tiara langsung berpikiran jelek.


"Saya tidak pakai ponsel pak." Sahut Tiara bohong.


"Wah, kamu hidup di jaman apa? sampai tidak punya nomor ponsel. Apa perlu saya bilang ke dokter Arif kalau perawatnya telah mengambil foto keluarga pasien diam-diam." Zidan mengancam Tiara.


"Waduh pakai mengancam dia." Gumam Tiara pelan.


"Bagaimana?" tanya Zidan lagi.


"Iya-iya." Tiara menyebutkan nomor ponsel ibu Susan.

__ADS_1


Zidan langsung menghubungi nomor itu.


"Pak jangan di hubungi sekarang, ponsel saya lagi enggak aktif." Ucap Tiara bohong. Zidan tidak menggubris ucapan perawat itu, dia langsung menghubungi nomor yang di berikan Tiara.


"Ya halo." Ucap seseorang dari ujung sana.


"Ini nomor ponselnya..." Tiara langsung mengambil ponsel itu dari tangan pemiliknya dan langsung menutup panggilan itu.


"Kamu membohongi saya, hukuman kamu bertambah." Zidan mengulurkan tangannya ke arah Tiara.


"Saya berikan sekarang nomor ponsel saya tapi maafkan semua perlakuan saya." Ucap Tiara seraya mengembalikan ponsel Zidan. Dia terus melihat ke arah pintu berharap Tami datang agar dia bisa kabur dari pria di depannya.


Tiara menyebutkan nomor ponselnya.


"Untuk apa nomor ponsel saya?" tanya Tiara bingung.


"Tidak ada, saya hanya mengoleksi nomor ponsel orang lain." Jawab Zidan santai seraya menyimpan nomor ponsel Tiara.


"Idih, jadi operator telepon sono." Tiara menjulurkan lidahnya ke arah Zidan. Mengejek pria itu.


Zidan tersenyum simpul.


"Hukuman kamu tetap berlanjut, nanti malam saya tunggu kamu di depan loby rumah sakit." Ucap Zidan.


"Hahaha untuk apa pak? saya pulang pagi." Tiara tertawa.


Zidan tersenyum.


"Saya kenal dokter Arif dan tau semua jadwal semua staf dan perawat di rumah sakit ini, jadi kalau menurut saya kamu pulang malam."


Tiara tidak bisa berkata-kata, ucapannya Zidan benar.


"Baiklah siapa takut." Ucap Tiara berani dan pintu kamar Aneska terbuka. Tami masuk ke dalam ruangan itu.


"Ah syukurlah mbak datang." Tiara bernapas lega.


"Memangnya kenapa?" tanya Tami.


"Tidak ada." Sahut Tiara pelan seraya melirik Zidan.


"Mbak, kalau ada pria yang menunggu kita di loby dan pria itu tidak kita kenal sebaiknya di apakan?" tanya Tiara seraya melirik Zidan. Dia sengaja mengatakan itu, agar Zidan membatalkan niatnya.


"Siapa yang menunggu kamu?" tanya Tami.


"Enggak ada, aku hanya tanya saja." Ucap Tiara gugup.


"Sebaiknya jangan mau, apalagi kamu tidak mengenal pria itu." Zidan mendengar percakapan dua perawat itu tapi dia membuat kesibukan sendiri dengan ponselnya.


"Oh gitu, tapi pria itu ngebet banget."


Tami langsung menatap tajam Tiara.


"Kamu sedang membicarakan diri kamu sendiri kan?" tanya Tami.


"E enggak mbak.... " Tiara gugup dan di kursi pria itu tersenyum mengejek ke arahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2