Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 88


__ADS_3

Ibu Desi langsung menarik telinga anak sulungnya.


"Kamu ya, seneng banget menaikkan ibu tinggi-tinggi, terus udah naik di dorong." Gerutu ibu Desi.


"Maksud ibu apa sih?" ucap Aneska bingung.


"Itu." Ibu Desi menunjuk perut anaknya.


"Ih ibu, Anes memang enggak hamil oma aja yang ngada-ngada." Jelas oma.


"Huh, awas ibu mau ke kebun lagi." Ibu Desi meninggalkan anak sulungnya. Aneska baru mengingat sesuatu.


"Ibu tunggu." Aneska berlari mengejar ibunya.


"Bu, temani Aneska yuk." Ucap Aneska sambil berjalan di samping ibunya.


"Temani kemana?" ucap ibu Desi sambil terus berjalan menuju kebun bunga.


"Ke mall." Ucap Aneska singkat.


Ibu Desi berhenti dan melihat anak sulungnya.


"Ayuk." Ucap ibu Desi sambil menarik tangan anaknya.


Mereka berjalan masuk ke dalam istana dan berpapasan dengan nyonya Rona.


"Kamu? ngapain kamu di sini?" ucap nyonya Rona ketus.


"Mau dugem, huh." Jawab ibu Desi ketus sambil memalingkan wajahnya.


Aneska mengikuti ibunya dari belakang.


"Kurang ajar, pertama anaknya yang tinggal di sini, sekarang ibunya, lama-lama semua keluarganya pindah ke sini." Gerutu nyonya Rona.


Aneska dan ibunya menaiki anak tangga menuju lantai kamar mereka.


"Ibu tau dari mana dugem?" selidik Aneska.


"Dari tadi." Jawab ibu Desi singkat sambil tetap menaiki anak tangga.


"Ih ibu, Anes serius, ibu tau dari mana kata dugem." Tanya Aneska lagi.


Ibu Desi berhenti dan melihat ke anaknya.


"Ibu dengar kata dugem itu dari tetangga, kata tetangga kita, dugem itu tempat orang stres karena kalau joget hanya kepalanya yang gerak seperti ini." Ucap ibu Desi sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Aringkingking arikingking." Ucap ibu Desi sambil menggerakkan kepalanya.


"Bu aringking king itu apa?" ucap Aneska bingung.


"Itu musiknya loh Nes, yang ibu dengar kalau musik aringkingking itu di putar, kepala pada goyang semua." Ibu Desi sambil menggerakkan kepalanya.


"Stop bu, ibu kalau seperti itu seperti ayam yang baru kena potong." Ucap Aneska sambil berlalu dan kembali menaiki anak tangga.


"Iyakah." Ibu Desi mengikuti anaknya menaiki anak tangga lagi.


"Ibu kenapa harus naik tangga lift kan ada." Ucap Aneska ngos-ngosan.


"Naik tangga itu bagus, selain menyehatkan badan juga dapat memperbesar betis." Ucap ibu Desi.

__ADS_1


"Idih ibu, mau di besarin seperti apa lagi betis ibu, betis udah seperti kesebelasan gitu masih mau di perbesar." Ucap Aneska ngos-ngosan.


"Nes, kalau kamu enggak kuat, naik lift sana, ibu tetap mau naik tangga." Ucap bu Desi.


"Iya bu, Anes tunggu ibu di bawah setengah jam lagi." Ucap Aneska meninggalkan ibunya menuju lift.


Dalam waktu beberapa menit Aneska sudah sampai di lantai lima, dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur.


Aneska melihat ponselnya, dia masih menunggu panggilan atau pesan dari suaminya.


"Apa dia sibuk? sampai-sampai tidak menghubungiku." Gumam Aneska sambil menuju kamar mandi.


***


Abian baru mendapatkan informasi tentang kontrak kerja sama perusahaan Bassam dengan Permata grup, di mana kerja sama itu fiktif dan mengenai dokumen perusahaan tersebut palsu.


"Pak ada meeting." Ucap sekertarisnya.


"Hemm, panggil Zidan ke ruangan." Perintah Abian.


Sekertaris keluar dari ruangan bosnya dan menghubungi nomor extension ruangan Zidan. Dalam beberapa menit pria itu sudah ada di ruangan bosnya.


"Iya tuan." Ucap Zidan.


Abian menunjukkan berkas kerja sama itu ke Zidan.


"Apa ini tuan." Tanya Zidan.


"Itu kontrak kerjasama palsu yang di buat Farid. Dia telah memanfaatkan jabatannya dengan mengalirkan dana ke perusahaan itu." Jelas Abian.


"Jadi maksud tuan perusahaan itu sudah tidak beroperasi lagi." Tanya Zidan lagi.


"Hemmm, ternyata apa yang saya pikirkan benar. Selanjutnya bagaimana tuan." Ucap Zidan lagi.


"Kita lihat nanti." Ucap Abian.


***


Aneska dan ibu Desi pergi ke mall di antarkan seorang supir. Selama perjalanan ibu Desi melihat pemandangan yang indah di sebelah kanan jalan.


"Nes, suami kamu cari rumah jauh banget, kenapa enggak di pinggir jurang sekalian." Ucap ibu Desi.


Aneska hanya tersenyum sambil menutup matanya.


"Nes, ke mall mau ngapain." Tanya ibunya lagi.


"Mau cari kado untuk Abian." Ucap Aneska sambil tetap memejamkan matanya.


"Kado? apa abian ulang tahun?" ucap ibu Desi antusias.


"Ho oh." Jawab Aneska singkat.


"Ibu mau cari kado juga buat menantu singa ibu."


Aneska langsung membuka matanya.


"Ih ibu, Abian udah enggak singa lagi." Ucap Aneska.


"Idih suaminya di bela, pasti kamu sudah jatuh cinta sama Abian?" selidik ibunya.

__ADS_1


"Sok tau ibu." Ucap Aneska menghindar pertanyaan ibunya.


"Anes, ibu itu pernah muda, awalnya kamu jutek sama Abian tapi sekarang sepertinya kalian sudah akur, apa karena Abian hebat di ranjang." Ucap ibu Desi ceplas ceplos.


"Ibu." Aneska menutup mulut ibunya dengan tangannya sambil melirik pak supir.


Ibu Desi menarik tangan anaknya.


"Pak pakai penutup telinga." Perintah ibu Desi.


"Maaf bu, penutup telinga itu apa? saya hanya punya penutup kepala." Ucap pak supir sambil membuka topinya.


Ibu Desi langsung mengernyitkan alisnya.


"Pak pakai lagi tuh topinya, kasihan botaknya kedinginan." Ceplos ibu Desi.


Aneska menahan tawanya, sedangkan pak supir kembali memakai topinya. Mobil sudah sampai di mall terbesar di kota itu.


"Bapak pulang aja, nanti kami naik taksi pulangnya." Ucap Aneska.


"Tapi nanti tuan Abian marah." Ucap supir khawatir.


"Hemmm, gini aja bapak pulang, nanti saya mampir ke kantor Abian, kami pulang bareng Abian." Jelas Aneska.


"Baik non." Supir itu sudah meninggalkan pelataran mall. Aneska menggandeng tangan ibunya memasuki mall tersebut.


"Nes ini mall apa hotel keren banget." Ucap ibu Desi mengagumi mall tersebut.


"Keren kan bu, Anes tau mall ini karena Abian, kalau bukan karena dia mungkin Anes enggak pernah menginjakkan kaki ke sini." Ucap Aneska sambil berjalan mengelilingi mall.


"Kasihan kita ya Nes, syukurnya suami kamu itu baik dan enggak pelit." Puji ibu Desi.


Aneska memasuki setiap toko dia mencari kado yang cocok dan unik untuk suaminya.


"Kamu mau cari apa?" ucap ibunya bingung karena anaknya masuk dan keluar toko tanpa mau memilih sesuatu.


"Enggak tau bu, Abian sudah mempunyai segalanya. Jam bermerk, sepatu tas baju semuanya sudah punya. Aneska enggak tau mau cari kado apa." Ucap Aneska sedih.


"Anes jangan patah semangat, bagaimana kalau kamu memasak saja untuk Abian." Ucap ibunya.


"Ibu kalau masak enggak mungkin Anes bungkus pakai kertas kado yang ada malah basi." Jelas Aneska bingung.


Ibu Desi memikirkan kado yang cocok untuk menantunya. Wanita paruh baya itu membisikkan sesuatu ke telinga anaknya.


Aneska langsung senyum sumringah, kemudian kembali manyun.


"Kenapa manyun?" ibu Desi memegang pipi anaknya.


"Waktunya tidak akan cukup bu." Ucap Aneska.


"Cukup Nes, nanti ibu bantu." Ucap ibu Desi menyemangati anaknya.


"Benar ya bu?" ucap Aneska senang.


"Iya ibu bantu, bantu doa." Ucap ibu Desi lagi.


"Ih ibu." Gerutu Aneska.


Ibu Desi menarik tangan anak sulungnya untuk membeli keperluan kado menantunya. Mereka kembali memasuki semua toko dan berhenti karena ada yang memanggil nama Aneska.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2