
Tiara Tami dan temannya belum bisa masuk ke dalam acara itu. "Pak kami teman istrinya tuan Abian." Ujar Tami menjelaskan.
"Maaf jika tidak ada undangan tidak di izinkan untuk hadir di sini." Sahut para penjaga dengan setelan jas.
"Udah kelamaan, hubungi Aneska." Titah Aldo.
Tiara segera menghubungi nomor temannya. Tapi dia kembali menyimpan ponselnya.
"Kenapa di simpan?" tanya Dimas dan Aldo.
"Pulsaku habis kuota juga, hehehe." Sahut Tiara dengan senyum tanpa dosa.
"Buat malu saja, Dimas hubungi Aneska." Titah Aldo.
"Kamu kan tau ini tanggal tua, pulsaku juga habis. Nyuruh aja, kamu hubungi sendiri." Titah Dimas.
"Sudah diam." Tami mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Aneska.
"Bagaimana?" tanya semua temannya.
"Masuk sih tapi enggak di jawab. Mungkin karena berisik jadi tidak terdengar." Sahut Tami.
Dimas dan Aldo menoleh ke arah Tiara. "Kenapa kalian melihatku?" tanya Tiara bingung.
"Hubungi pak Zidan, dia calon suami kamu." Titah kedua pria itu.
"Kan udah aku bilang kalau pulsaku habis." Sahut Tiara judes. Tami masih menyimpan nomor ponsel dokter Arif. Dia segera menghubungi.
"Mbak telepon siapa?" tanya Tiara.
"Dokter Arif." Sahut Tami.
"Suit suit priwit." Aldo dan Dimas mulai jahil. "Kalau enggak mau ya sudah." Ujar Tami meletakkan kembali ponselnya.
"Tami ini sudah dua kali kamu ngambek semoga dokter Arif tidak kewalahan menangani calon istri yang tukang ngambek seperti ini." Sindir Dimas.
"Kalian kenapa sih, dari kemarin menjodohkan ku dengan dokter Arif. Aku dan dokter Arif tidak ada hubungan apapun." Jelas Tami.
Aldo mengangkat tangannya ke atas.
"Tuhan jangan kabulkan doa si Tami, jodohkan Tami dengan dokter Arif. Karena umurnya paling tua dari kami. Segera satukan mereka." Ujar Aldo berdoa.
"Aamiin." Sahut Tiara dan Dimas bersamaan.
"Kalian kenapa sih." Gerutu Tami dan jalan masuk ke dalam tempat acara. Para penjaga mengejarnya tapi Tami tetap berjalan.
"Ayo tunggu apalagi, Tami sedang pengalihan isu." Ujar Dimas mengajak temannya segera masuk ke area pesta.
Para penjaga mengejar Tami. "Maaf nona anda tidak di izinkan masuk." Ujar para penjaga menghadang jalan Tami dengan cara merentangkan tangan.
Tami melihat sekelilingnya. Dia mencari keberadaan Aneska. Karena sosok Aneska tidak terlihat hanya sosok Abian yang sedang ngobrol dengan para tamu undangan.
"Bapak tau pria yang memakai jas itu." Tami menunjuk ke arah dokter Arif. Para penjaga melihat arah tangan Tami.
"Iya kenapa?" tanya penjaga.
"Saya datang dengannya katakan kalau Tami mencarinya." Titah Tami.
__ADS_1
Seorang penjaga menghampiri dokter Arif sedangkan Tiara dan temannya berhasil lolos dengan cara bersembunyi di dalam kerumunan para tamu undangan yang lain.
"Mana teman kamu yang lain?" tanya seorang penjaga yang masih berdiri di depan Tami. Tami tidak menjawab karena dia bisa melihat dari jauh dokter Arif berjalan mendekat.
"Ada apa ini?" tanya dokter Arif ke penjaga.
"Apa nona ini bersama bapak?" tanya penjaga.
Dokter Arif melihat penampilan Tami yang anggun berbeda dari biasanya. "Iya, dia dan temannya bersama dengan saya. Mereka perawat saya." Jelas dokter Arif.
"Maaf kalau begitu." Ujar penjaga meminta maaf. Tami langsung mencibir ke arah para penjaga. Dia berjalan bersama dokter Arif menuju area pesta.
"Mana yang lain?" tanya dokter Arif seraya melebarkan pandangan mencari para perawatnya.
"Mungkin mereka bersembunyi, kami dari tadi tidak di izinkan masuk, karena tidak bawa undangan. Maaf dok saya lancang tadi." Ujar Tami menundukkan kepalanya.
Dokter Arif tersenyum seraya memperhatikan penampilan Tami. "Kamu sangat berbeda malam ini." Puji dokter Arif. Tami tersipu malu dan terus menundukkan kepalanya.
"Terima kasih gaunnya dok." Ujar Tami pelan.
"Gaun?" dokter Arif bingung.
"Iya gaun? kata pak Zidan gaun ini dari dokter." Jelas Tami.
Dokter Arif tidak pernah menitipkan gaun untuk Tami. Tapi dia paham Zidan melakukan ini semua agar Tiara mau memakai gaun pemberiannya.
Zidan melihat sosok yang sangat di kenalnya yaitu Tami. "Tami ada tapi yang lain mana." Gumam Zidan dan mencari keberadaan Tiara.
"Do, makanan di sini lezat semua." Ujar Tiara yang sedang memakan cake dengan ukuran kecil.
Dimas dan Aldo segera menyingkir dari dekat Tiara. Mereka melihat sosok Zidan sedang berdiri di belakang Tiara.
"Bapak!" seru Tiara bengong karena Zidan terlihat sangat tampan. Zidan tidak menjawab dia memakan cake yang ada di tangan Tiara.
"Cantik manis." Ujar Zidan.
"Siapa?" tanya Tiara yang tersenyum karena senang di puji.
"Cakenya." Sahut Zidan.
"Hah!" Tiara langsung manyun dan segera pergi meninggalkan Zidan. Tapi tangannya di tahan Zidan.
"Pak lepaskan." Tiara memberontak.
"Ikut saya." Sahut Zidan.
"Kemana?" tanya Tiara yang berjalan mengikuti Zidan dengan tangan yang masih tergenggam.
"Ke KUA." Sahut Zidan.
"Apa!" Tiara menahan tangannya.
Zidan membalikkan badannya dan tersenyum. "Mana ada kantor KUA buka malam hari." Ujar Zidan dan Tiara kembali tersenyum.
Zidan terus menggenggam tangan Tiara. "Terus kita mau kemana?" tanya Tiara bingung karena mereka berjalan mendekati para tamu yang sedang berdansa.
Zidan berhenti di tempat dansa. "Pak kenapa kita di sini." Bisik Tiara.
__ADS_1
"Kita mau berdansa." Sahut Zidan.
"Waduh, saya enggak bisa dansa pak." Ujar Tiara seraya melihat ke sampingnya. Dimana para tamu undangan berdansa dengan pasangannya.
"Kamu injak kaki saya." Zidan mendekatkan badannya ke Tiara. Tiara langsung mundur dan menabrak tamu undangan yang sedang berdansa.
"Hei." Seorang wanita paruh baya marah ke Tiara.
"Maaf." Tiara kembali mendekat ke Zidan.
"Pak, saya tidak bisa dansa." Sahut Tiara menolak.
"Gampang, lihat kaki mereka bergerak ke kanan dan ke samping hanya itu." Ujar Zidan menunjuk ke arah tamu undangan yang sedang berdansa. Tiara mengingat gerakan itu dan menghitung.
"Oh gampang ternyata." Zidan mendekat lagi tapi ketika Tiara mundur pria itu telah memegang pinggang Tiara. Gadis itu sontak kaget dengan jantung yang berubah iramanya.
Menggenggam tangan Tiara sebelah kiri. Tiara menolak tapi Zidan menggelengkan kepala seraya menunjuk ke arah tamu undangan yang sedang berdansa.
Tiara bingung meletakan tangannya yang satu lagi. "Letakkan di bahu seperti mereka." Dengan ragu Tiara meletakkan tangannya. Posisi badan mereka sangat dekat. Tiara merasa jantungnya tidak normal, karena ini kali pertama dia di peluk dan berdiri cukup dekat dan dalam posisi sadar. Beda halnya ketika di rumah Aneska, dia tidak dalam keadaan sadar.
Teman-temannya memperhatikan Tiara dan Zidan. Tami tersenyum dia senang jika temannya dapat menemukan calonnya.
"Apa kamu ingin berdansa." Ajak dokter Arif.
"Oh tidak, saya hanya menonton saja." Sahut Tami.
"Ayo temani saya dansa, tidak ada orang yang bisa saya ajak berdansa." Jelas dokter Arif.
"Tanisa ada dok." Tami menunjuk ke arah Tanisa yang sedang duduk di kursi dengan pakaian seksinya.
"Saya sudah jelaskan antara Tanisa dan saya tidak ada hubungan apapun." Sahut dokter Arif.
Aldo menghampiri dokter Arif dan Tami. "Hei dok, bisa minta tolong." Ujar Aldo membisikkan sesuatu.
Dokter Arif memicingkan matanya. "Please dok." Aldo memohon.
"Baiklah." Dokter Arif meninggalkan Tami. Aldo menarik tangan Tami ke tempat dansa.
"Do, mbak gak bisa dansa." Ujar Tami menolak.
"Udah ikut aja." Aldo tidak menjelaskan. Sedangkan dokter Arif menghampiri Ila yang sedang berdiri bersama Cyra.
"Ila mau berdansa." Dokter Arif mengulurkan tangannya ke gadis belia itu.
Nyonya Rona memperhatikan dari jauh. "Katanya dia menganggap keluarga tapi sekarang dia merayu Ila." Bergumam marah dan kecewa.
Ketika di tempat dansa bukan dokter Arif yang berdansa dengan Ila melainkan Aldo.
"Silahkan." Ujar dokter Arif ke Aldo.
"Dok apa ini?" tanya Ila bingung.
Tami mengerti tentang rencana Aldo membawanya ke tempat dansa. Dia keluar dari tempat dansa dan dokter Arif menghadangnya.
"Ayo kita dansa. Melupakan sejenak rutinitas di rumah sakit." Dokter Arif menarik Tami untuk kembali ke tempat dansa. Hanya Dimas yang masih mencari teman untuk di ajak dansa.
Bersambung...
__ADS_1
🌹🌹🌹
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014