
Ibu Desi masih berada di rumah sakit, dia tidak ingin kembali ke istana.
"Ibu sebaiknya beristirahat di istana, di sini tidak nyaman untuk beristirahat." Ucap Abian menasehati mertuanya.
"Menantu-menantu rumah sakit memang tidak nyaman untuk beristirahat, ibu hanya ingin bersama dengan Aneska, lebih baik kamu pulang biar ibu yang jaga Aneska."
Abian melihat ke arah istrinya, di mana Aneska menganggukkan kepalanya setuju.
"Ibu tetap akan memaksa, jadi lebih baik kamu beristirahat." Ucap Aneska ke suaminya.
"Tapi aku ingin di sini." Abian menolak.
"Aduh menantu, serahkan sama ibu, tidak akan ada satu nyamuk pun yang akan menggigit Aneska." Ucap ibu Desi.
Dengan terpaksa Abian kembali ke istana bersama dengan adik-adiknya. Sementara di ruang IGD, Zidan terlihat cemas karena cairan infus tinggal sedikit sedangkan waktu hampir menunjukkan jam sembilan malam. Yaitu waktu pertukaran ke shift malam.
Dia terus memikirkan cara agar dapat di rawat di rumah sakit. Melihat sekelilingnya ketika cukup aman Zidan memasukkan tangannya ke dalam tenggorokan dengan otomatis dia muntah.
"Uwek uwek...." Perawat langsung berhamburan seraya mendekati Zidan.
"Bapak muntah lagi?" tanya perawat.
Zidan hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau saya muntah lagi bagaimana?" tanya Zidan.
Perawat diam, seorang perawat langsung memberitahukan hal itu kepada dokter IGD.
Dokter langsung menghampiri tempat tidur pasiennya.
"Untuk menghindari yang tidak di inginkan, sebaiknya bapak di rawat satu malam di sini." Jelas dokter.
Zidan menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum bahagia karena perjuangan tidak sia-sia.
Zidan di pindahkan ke ruang perawatan. Dia duduk di kursi roda dan perawat mendorongnya menuju ruang perawatan.
Ruang untuk Zidan telah di siapkan, dia meminta ruangan VIP. Di mana ruangan itu satu deret dengan ruangan VIP lainnya di antaranya ruang perawatan Aneska dan Tanisa.
Zidan berbaring di tempat tidur, sebenarnya tubuhnya merasa jauh lebih baik dari sebelum muntah, tapi mengingat akan bertemu Tiara. Dia harus rela untuk di tusuk punggung tangannya.
Zidan di tinggalkan di ruangan sendirian, perawat itu menyerahkan status pasien ke bagian perawatan.
Tidak berapa lama datang dua orang perawat ke dalam ruangan itu. Tiara kaget karena yang di rawat adalah Zidan.
"Ba.." Tiara tidak melanjutkan kalimatnya karena dia sedang bersama Tami.
"Bapak kenapa?" tanya Tami yang prihatin dengan keadaan Zidan.
"Saya tadi mau bunuh diri." Ucap Zidan seraya melirik Tiara.
"Bunuh diri! tapi kenapa pak?" tanya Tami dengan ekspresi kaget.
Zidan mulai melakukan dramanya. Dia menunjukkan wajah sedih.
"Saya melamar seorang gadis tapi gadis itu menolak." Zidan berujar dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Wah sepertinya ada kesalahan di bapak." Timpal Tiara.
"Huss, kamu ngomong apa sih." Bisik Tami.
"Kenapa harus bunuh diri pak, masih ada jalan untuk menyelesaikannya.
" Tami berujar menasehati.
"Saya hanya mau membuktikan kalau lamaran saya bukan main-main." Zidan masih melirik Tiara, untuk melihat ekspresi perawat itu.
"Yang bapak lakukan salah, kalau bapak meninggal sama saja anda tidak bisa menikahinya." Ucapan Tami membuat Zidan diam.
"Betul itu, malahan gadis itu bisa menikah dengan pria lain." Timpal Tiara.
"Tidak, saya tidak akan membiarkan dia menikah dengan orang lain." Zidan berujar dengan nada mengancam seraya menatap tajam ke arah Tiara.
Tiara langsung buru-buru keluar, dia merasa takut dengan sikap Zidan.
"Ya betul dia hypersex, tapi..." Tiara mulai memikirkan julukan yang tepat untuk Zidan.
"Jangan-jangan dia psikopat." Gumam Tiara yang langsung masuk ke dalam ruang perawatan temannya.
"Tiara." Ucap Aneska senang.
"Ibu kapan datang?" tanya Tiara ke ibu Desi seraya menyalami wanita paruh baya itu.
"Beberapa jam yang lalu." Sahut wanita paruh baya itu.
"Kamu belum tidur?" tanya Tiara seraya duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.
Ibu Desi merasa lapar. Dia hanya mengisi perutnya tadi siang.
"Tiara kantin di mana?" tanya ibu Desi.
"Ada di lantai dasar bu, di dekat parkiran." Jelas Tiara.
"Ibu titip Anes ya." Ibu Desi beranjak dari tempat duduknya.
"Ih titip, Anes seperti barang saja pakai di titip segala." Gerutu Aneska.
"Lalu ibu bilang apa? Tiara ibu minta tolong jaga Anes, gitu? seperti sampah aja." Gerutu ibu Desi.
"Kok sampah bu?" tanya Aneska bingung.
"Iya sampah, jagalah kebersihan yang berarti di larang buang sampah." Jelas ibu Desi.
"Ibu, kebersihan bukan hanya tentang sampah. Kebersihan diri juga harus di jaga." Jelas Aneska.
"Ya sudah kamu mau pilih kata titip apa jaga terserah kamu, ibu lapar." Wanita paruh baya itu langsung berlalu meninggalkan ruang perawatan anaknya.
"Ibu Desi memang kocak." Ucap Tiara kagum.
Aneska kenal Tiara cukup lama, dia tau jika temannya sedang ada masalah.
"Kamu kenapa?" tanya Aneska.
__ADS_1
"Hemmm gak ada." Tiara tidak ingin mengatakan ke temannya. Menurutnya belum saatnya teman-temannya tau, dia khawatir jika Zidan hanya sedang mengerjai orang susah sepertinya.
"Bohong."
Tiara tersenyum kik kuk, dia memang tidak bisa berbohong di depan Aneska.
"Nes, bagaimana kamu bisa menikah dengan tuan Abian?" tanya Tiara.
"Panjang ceritanya, tunggu kenapa kamu yang bertanya? seharusnya kamu menjawab pertanyaanku." Gerutu Aneska.
Tiara menghela nafasnya, dia khawatir jika yang di ucapkannya akan tersebar ke teman sejawatnya.
"Sepupuku baru kenal dengan seseorang kalau tidak salah dia baru bertemu dengan pria itu dua kali." Ucap Tiara bohong dengan mengatasnamakan sepupunya.
"Lalu?" tanya Aneska singkat.
"Dia di lamar sama pria itu." Sahut Tiara.
"Apa di lamar! wow keren dong." Ucap Aneska senang.
"Kok keren? bukannya seharusnya takut, baru kenal sudah main lamar, bisa jadi pria itu psikopat atau sejenisnya. Apalagi sekarang banyak orang jahat." Jelas Tiara.
Aneska menganggukkan kepalanya mengerti.
"Lalu sepupu kamu jawab apa?" tanya Aneska penasaran.
"Aku menolaknya."
"Kamu menolaknya? kenapa kamu yang menolak?" tanya Aneska lagi.
"Eh bukan itu, maksudku aku suruh dia menolak pria itu. Dengan alasan tidak ada cinta dan tidak mengenal kepribadian pria itu." Jelas Tiara gugup.
"Oh seperti itu, dari mana kamu eh sepupu kamu berpikiran kalau pria itu psikopat?" tanya Aneska.
"Dia hari ini mau bunuh diri dengan alasan mau membuktikan cintanya."
"Mati enggak?" tanya Aneska.
"Idih kamu, malah tanya mati apa enggak, kan aku tidak ada bilang mati." Gerutu Tiara.
"Ya tapi dari mana sepupu kamu menyimpulkan kalau pria itu psikopat. Percobaan bunuh diri bukan termasuk psikopat tapi yang jelas oon."
"Iya aku tau, tadi dia akan mengancam akan membatalkan siapapun yang akan menikahi sepupuku." Jelas Tiara lagi.
Aneska diam dia mulai memikirkan kesimpulan yang menyebutkan pria itu psikopat.
"Itu tidak membuktikan apapun, memang menakutkan kalau pria suka mengancam seperti itu tapi mungkin dia memang menyukai sepupu kamu. Saran aku jangan bersikap kasar, jika dia kembali melamar katakan saja kita berteman dulu agar bisa memahami karakter masing-masing. Karena pria yang di tolak cintanya kadang bisa berbuat menakutkan." Penjelasan Aneska membuat Tiara merinding.
"Kalau berteman terus dia melakukan perbuatan yang tidak senonoh atau bersikap kasar bagaimana?" tanya Tiara lagi.
"Tunggu, selama bertemu dua kali, apa pria itu pernah melakukan perbuatan kasar atau pelecehan?" tanya Aneska.
Tiara langsung menggelengkan kepalanya. Dia teringat tentang makan malamnya dengan Zidan. Di mana sama sekali tidak ada perlakuan yang kasar ataupun pelecehan seksual.
Bersambung.
__ADS_1
Mana votenya? kalau rangkingnya masih di bawah 20 besar besok tidak update ya. Vote hanya suatu apresiasi dari readers, jika readers saja tidak mau vote bagaimana author mau melanjutkan ceritanya 😢