Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 142


__ADS_3

Aneska melihat ada baju bapaknya yang berada di atas meja.


"Apa kamu yang membawa baju bapak ke sini?" tanya Aneska.


"Iya, celanaku robek." Jelas Abian.


"Robek? kok bisa?" tanya Aneska bingung.


"Tadi aku mau cuci piring, aku langsung jongkok seharusnya aku menarik celanaku, jadinya begini." Jelas Abian dan menunjukkan celananya yang robek


"Cuci piring? siapa yang menyuruh kamu untuk melakukan itu?" tanya Aneska penasaran, karena menurutnya tidak mungkin Abian dengan sukarela mau melakukannya.


"Apa ibu yang menyuruh kamu melakukannya?" tanya Aneska curiga.


"Bukan, ini kemauanku sendiri." Sahut Abian bohong. Dia tidak ingin kehadirannya membuat hubungan ibu dan anak itu renggang, cukup dia yang bermasalah dengan mertuanya.


Aneska tidak percaya dengan jawaban suaminya. Dia berusaha untuk bangun dari posisi berbaringnya.


"Sayang kamu jangan banyak gerak dulu." Abian menahan tubuh istrinya untuk tetap berbaring.


"Aku mau bicara sama ibu." Ujar Aneska kekeh ingin bangun dari posisinya.


"Sayang jangan, aku dapat menginap di sini saja sudah suatu hal yang bagus, kalau kamu marah sama ibu nanti ibu tambah benci samaku. Aku harap jangan memancing amarah ibu lagi." Abian berujar dengan penuh kelembutan.


Yang di katakan Abian benar, tidak seharusnya dia menambah kemarahan ibunya terhadap suaminya.


"Baiklah kamu benar." Aneska melihat pakaian bapaknya.


"Apa pakaian bapak cukup sama kamu?" tanya Aneska kurang yakin.


"Enggak tau." Abian membuka setelan jasnya dan mulai memakai kaos bapak mertuanya. ,


"Hahahah." Melihat penampilan suaminya Aneska tertawa terpingkal.


"Sayang kamu seperti penari perut." Ejek istrinya. Badan Abian sangat tinggi sedangkan bapak mertuanya mempunyai badan yang pendek dengan otomatis pakaian yang dikenakannya terangkat ke atas.


"Lalu aku pakai apa?" tanya Abian bingung.


Aneska mulai memikirkan sesuatu.


"Aku ada ide, kamu pakai gamis ibu aja."

__ADS_1


"Ngawur bisa di parang beneran aku sama ibu kamu." Sahut Abian tidak terima.


"Bercanda sayang mana mungkin aku menyuruh kamu pakai gamis ibu, bisa-bisa di cincang ibu kita berdua." Ujar Aneska dengan gelak tawanya.


Di luar kamar pak Mirza dan ibu Desi mendengar suara tertawa yang berasal dari kamar anaknya.


"Coba ibu dengar, Aneska dapat tertawa lagi. Kehadiran Abian itu obat untuk anak kita." Ujar pak Mirza.


Ibu Desi hanya bisa diam karena yang di katakan suaminya benar. Abian seperti obat untuk anaknya.


"Apa ibu yakin mau menjadi penghalang untuk hubungan mereka." Lagi dan lagi ibu Desi hanya bisa diam.


"Apa ibu tega membuat anak kita menangis setiap hari." Pak Mirza terus mengatakan kemungkinan yang terjadi untuk kedepannya. Dia berharap istrinya mendengar dan memahami sekaligus membayangkan semuanya.


Ibu Desi langsung beranjak dari tempat duduknya, wanita paruh baya itu memilih meninggalkan suaminya dan merenung di dalam kamarnya. Pak Mirza sudah paham dengan watak istrinya. Istrinya akan menghindar dengan melakukan sesuatu dan sekarang wanita paruh baya itu menghindar dengan cara meninggalkan suaminya.


Abian mencoba mengenakan celana pendek bapak mertuanya. Biasanya celana pendek itu jika di gunakan pak Mirza panjangnya di bawah lutut tapi Abian yang mengenakan celana itu panjangnya di atas lutut malah lebih naik ke paha.


"Buahahha." Aneska kembali tertawa.


"Apa aku terlalu jelek sampai kamu menertawai ku." Ujar Abian seraya bercermin.


"Sayang celana itu bukan jadi celana pendek tapi seperti dalaman kalau kamu yang mengenakannya." Ejek Aneska.


Aneska melihat sarung. "Pakai aja sarung itu, kamu bisa menggunakan singlet kamu untuk atasannya.


Akhirnya Abian setuju dengan ide istrinya, memakai sarung dan singlet untuk malam ini tapi tidak tau untuk besok.


"Kamar mandi di mana?" tanya Abian yang sudah kebelet.


"Di dapur di sebelah tempat cuci piring ada pintu dari bahan alumunium." Jelas Aneska.


"Di situ kamar mandinya?" tanya Abian.


"Bukan, itu pintu dapur nah kalau sudah di buka kamu tau di mana kamar mandinya." Jelas Aneska dan menyerahkan handuknya ke Abian.


Abian keluar dari kamar dan tidak menemukan siapapun di ruangan luar, baik ruang tamu maupun dapur. Lampu yang menyala hanya lampu dapur, lampu ruang tamu sudah di matikan.


"Mungkin semua sudah tidur." Gumam Abian seraya menuju dapur. Dia menemukan pintu yang terbuat dari bahan alumunium. Ketika pintu tengah terbuka Abian membelalakkan matanya. Secara kamar mandi berada di luar yang di kanan kirinya ada tanaman yang Abian tidak tau tanaman apa saja itu.


"Ya ampun, mau ke kamar mandi saja harus ngojek." Gumam Abian seraya berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


Dia masuk ke dalam kamar mandi itu. Melihat kebersihan kamar mandi itu. Kamar mandi sudah di perbaiki bapak dan ibu mertuanya, yang mana uang itu pemberian Abian untuk melunasi hutang keluarga Aneska, dan sisanya di gunakan untuk mengganti lantai rumah yang dulunya hanya semen halus sekarang telah berubah jadi keramik.


"Bersih, walaupun wc jongkok tapi bersih." Abian mencari shower di dalam kamar mandi itu tapi benda yang di cari tidak ada.


Abian menyiram menyiram kakinya dengan air. Dan dia langsung menggigil. "Ya ampun airnya dingin banget." Gumam Abian yang tidak jadi mandi. Dia lebih memilih untuk mencuci muka dan yang lainnya.


Abian kembali mengenakan sarungnya. Dia keluar dari kamar mandi dan ketika membuka pintu kamar mandi.


"Aaaaaa." Abian teriak dan menutup kembali pintu kamar mandi.


"Siapa tadi." Gumam Abian ketakutan. "Kenapa kamar mandinya di luar, ini yang paling aku takutkan." Gerutu Abian.


Di dalam kamar mandi Abian mengatur jantungnya yang berdetak cukup kencang. Sambil mencoba melupakan kejadian yang baru saja terjadi.


"Tadi bukan hantu, iya itu hanya halusinasi ku saja." Gumam Abian dan memberanikan diri membuka pintu sedikit demi sedikit setelah memastikan tidak ada sosok yang di lihatnya. Abian langsung berlari menuju pintu alumunium dan ketika berlari sarungnya melorot.


Abian tidak sadar akan hal itu, dia sadar ketika melihat corak sarung yang dikenakannya berubah jadi warna kulit.


"Waduh pakai acara melorot lagi." Abian melirik dapur dan syukurnya tidak ada yang melihatnya. Abian kembali keluar dan langsung menyambar sarung yang jatuh di tanah.


Abian lega karena sosok yang ada di depan kamar mandi tidak menampakkan wujudnya lagi. Dia berjalan menuju ruang tamu karena kamar Aneska di dekat ruang tamu, jadi dia harus melewati ruang tamu untuk sampai ke kamar istrinya.


Ketika melewati ruang tamu yang tidak ada pencahayaan sama sekali hanya ada cahaya dari lampu yang ada di depan rumah dan itu sangat membantu Abian untuk sampai di kamar istrinya.


Ketika memegang handle pintu Abian mencoba menoleh. Di pojok ruang tamu dia melihat sosok yang di lihatnya tadi yang mana tangannya menjulur ke depan.


"Aaaa." Abian teriak dan dia sadar jika sekarang dia ada di dalam rumah istrinya. Abian langsung menutup mulutnya dan membuka pintu kamar istrinya dengan cepat.


"Kamu berteriak?" tanya Aneska.


"Enggak." Sahut Abian bohong, dia tidak ingin istrinya tau jika dia sangat ketakutan.


Abian langsung berbaring tanpa mengatakan sepatah kata ke istrinya. Aneska hanya mengerutkan dahinya curiga dengan tingkah suaminya yang mendadak diam.


Di luar ibu Desi menahan tawanya. Dia berhasil mengerjai menantunya. Wanita paruh baya itu masuk ke kamar.


"Bu, siapa tadi yang berteriak?" tanya suaminya yang kaget mendengar suara seseorang berteriak.


"Enggak ada, bapak mimpi kali." Jelas istrinya yang sedang menahan tawanya. Pak Mirza memperhatikan pakaian istrinya.


"Ibu mau pengajian kemana malam-malam begini?" tanya suaminya heran.

__ADS_1


Ibu Desi mengenakan gamis putih, yang mana gamis itu seragam yang selalu dikenakannya pada saat pengajian.


Bersambung...


__ADS_2