Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 44


__ADS_3

Pagi hari Aneska sudah bangun lebih dulu dari Abian, mereka tidur terpisah. Aneska di kasur Abian di sofa, itu semua permintaan Aneska agar tidak terjadi sundulan dari suaminya.


Membersihkan diri di pagi hari setelah itu membangunkan suaminya. Aneska memegang lengan suaminya. Tapi pria itu masih tetap tidur.


"Bangun cepat, ibu sama bapak mau pulang." Ucap Aneska.


Abian tidak menjawab, dia hanya menunjuk pipinya.


"Kenapa dengan pipi kamu? enggak ada jerawat." Ucap Aneska sambil melihat pipi suaminya.


"Kamu itu enggak ngerti atau pura-pura lupa." Gerutu Abian kesal.


"Apaan sih?" Aneska bingung. Abian langsung memeluk Aneska dan mengecup kedua pipi dan dahi istrinya, ketika Abian mau mendaratkan ciuman ke bibir istrinya Aneska buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya.


"Iya, jangan di praktekan aku betul-betul lupa." Ucap Aneska gugup.


"Ayo lakukan." Ucap Abian mendekatkan pipinya ke arah mulut istrinya.


"Hehehe, lebih baik kamu mandi dulu. Kemaren aku mencium kamu selepas mandi jadi kita ikuti peraturan di awal ya." Ucap Aneska gugup.


"Ok." Ucap Abian sambil beranjak dari sofa menuju kamar mandi. Abian keluar lagi.


"Jangan keluar kamar tanpa aku." Ucap Abian mengingatkan istrinya untuk menunggunya.


"Iya." Jawab Aneska sambil memonyongkan bibirnya. Sambil menunggu Abian selesai mandi, Aneska menyibukkan diri dengan memilih pakaian untuk suaminya.


"Aku rasa ini cocok untuknya." Ucap Aneska sambil memandang pakaian yang ada di tangannya.


"Muaaaah." Abian mengecup kembali pipi istrinya. Sontak Aneska kaget.


"Kenapa kamu menciumku berkali-kali?" Gerutu Aneska sambil mundur.


"Kenapa? apa salah mencium istri sendiri." Jawab Abian santai.


"Salah, aku takut kamu jatuh cinta kepadaku." Ucap Aneska pelan.


"Kenapa takut? seharusnya kamu senang dan berharap aku jatuh cinta kepadamu. Jadi pernikahan kita sempurna." Ucap Abian sudah memojokkan Aneska di dinding, dia tidak bisa bergerak tangan Abian sudah menghalangi geraknya.


"Cium aku." Ucap Abian kembali menyentuh pipinya. Aneska mencium kedua pipi dan dahi suaminya secara singkat. Abian menunjuk bibirnya ke arah istrinya. Aneska malu untuk melakukan itu, pipinya langsung merona merah Abian paham. Dia mengambil alih dengan memeluk pinggang istrinya dan mencium bibir istrinya. Aneska berusaha untuk tidak membalas ciuman itu, tapi dia tak kuasa ketika lidah suaminya sudah menembus pertahanannya. Aneska membalas ciuman itu, ciuman itu terjadi cukup lama sampai Aneska tersadar dengan semuanya.


"Cukup." Aneska mengalihkan wajahnya. Abian melepaskan pinggang istrinya.


"Makasih atas morning kissnya. Terima kasih juga atas ciuman hotnya." Goda Abian. Pipi Aneska semakin merona dia mendorong tubuh Abian. Aneska malu sambil menghentakkan kakinya. Ketika mau keluar kamar Abian berteriak.


"Lihat dulu penampilan kamu baru keluar." Teriak Abian. Aneska memutar badannya berjalan menuju meja rias. Dia melihat lipstiknya yang sudah tidak berbentuk lagi.

__ADS_1


"Ya ampun, ini lipstik kenapa bisa marathon segala." Gerutu Aneska. Abian selesai memakai pakaian pilihan istrinya. Dia berjalan dengan dada yang terbuka.


Jangan mendekat, aku enggak kuat lihat badannya yang sixpack.


Aneska bergumam dalam hatinya sambil memperbaiki lipstiknya. Abian ikut melihat tubuhnya dari dalam cermin.


"Bibir kamu ada lipstik." Ucap Aneska pelan sambil menunjuk ke arah bibir suaminya.


"Bersihkan." Ucap Abian sambil menempelkan tubuhnya ke tubuh Aneska.


"Enggak usah dekat-dekat kali." Gerutu Aneska sambil menghindar.


"Kenapa? kita sudah halal." Ucap Abian.


"Udah deh jangan banyak tanya kenapa segala. Aku akan membantumu mencari Vania, rumah tangga kita harus segera berakhir." Ucap Aneska sambil membersihkan bibir suaminya dengan tisu.


Abian tidak ada ekpresi sama sekali. Untuk beberapa saat dia melamunkan omongan istrinya.


"Ayo kita makan." Ucap Aneska menarik tangan Abian. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan, siapapun yang melihat akan berpikir kalau keduanya telah saling jatuh cinta, terutama Zidan, dia merasa terbakar. Suasana pagi yang seharusnya tenang. Tiba-tiba Zidan menggebrak meja. Semua yang ada di meja makan menoleh kearahnya.


"Zidan kamu kenapa?" ucap nyonya Rona.


"Mulai hari ini saya tidak makan di sini." Jawab Zidan sambil beranjak dari kursi. Dia langsung melangkahkan kakinya ke tempat lain. Abian tidak memperdulikan sikap Zidan, tapi Aneska merasa serba salah, suasana berubah ketika dia menginjakkan kaki di istana itu pikirnya.


"Dia lagi dia lagi." Sindir nyonya Rona.


Ibu Desi tidak memperdulikan kicauan besannya. Dia sudah tidak menganggap besannya ada.


Pelayan meletakkan serbet putih di atas paha semua orang yang ada di ruang makan. Makanan mulai di hidangkan. Suasana sarapan cukup tenang, tidak ada yang perang mulut. Sampai suasana berubah ketika Tanisa berbicara.


"Abian, aku kemaren melihat Vania." Ucap Tanisa.


Aneska yang seharusnya masih mengunyah makanannya langsung di telannya. Dia melirik ke arah suaminya. Abian tidak bergeming ataupun merespon, dia fokus dengan sarapannya.


"Di mana kamu melihatnya." Tanya nyonya Rona.


"Di pusat perbelanjaan." Jawab Tanisa.


"Kabari mami kalau kamu ketemu lagi dengannya." Ucap nyonya Rona.


"Mami mau ngapain lagi sama Vania." Tanya Farid.


"Mami mau minta maaf, mami telah menyakitinya, hiks hiks." Nyonya Rona bersandiwara. Dia dan anaknya merencanakan itu semua untuk membuat pendirian Abian berpindah kepada Vania. Karena jika Vania yang ada di posisi Aneska akan dengan mudah mereka menyingkirkannya tapi untuk Aneska mereka sulit, belum lagi ibunya Aneska yang sangar membuat nyonya Rona sedikit ketar ketir.


"Baik mi, nanti aku cari di mana tempat tinggalnya." Ucap Tanisa akting.

__ADS_1


Aneska bolak balik melirik suaminya. Dia ingin melihat ekspresi suaminya.


"Mami baru menyadari kesalahan yang telah mami perbuat sama kamu Abian dan Vania, hiks hiks." Nyonya Rona mengusap air mata palsunya.


"Besan kamu sedang nangis atau sedang tertawa? air mata kamu enggak ada noh." Ucap ibu Desi. Abian langsung mengangkat kepalanya, menatap tajam wajah maminya yang sedang pura-pura.


"Kamu!" nyonya Rona menunjuk jarinya ke arah ibu Desi.


"Jangan marah besan, aku hanya mengajari kamu cara menangis yang benar." Sindir ibu Desi.


"Siapa yang mengizinkan kamu untuk bicara, hah!" nyonya Rona marah.


"Maaf bu." Ucap pak Mirza tidak enak hati dengan besannya.


"Suruh mulut istri bapak diam! ini urusan keluarga kami, dia tidak boleh ikut campur!" nyonya Rona marah.


"Kalau kamu tidak mau aku ikut campur jangan bicarakan ini di depan kami! kamu sengaja ingin merusak rumah tangga anakmu, benar kan!" Teriak ibu Desi.


Nyonya Rona gelagapan, kartunya baru saja di buka di depan anaknya. Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan ruang makan dengan perasaan marah dan benci, rasa bencinya kepada menantu dan besannya semakin memuncak. Dia bertekad harus memisahkan Abian dengan Aneska.


"Ibu sudah cukup, bapak enggak mau ribut." Ucap pak Mirza mengingatkan istrinya.


"Pak, ibu enggak mau ribut, tapi bapak dengar sendiri kalau singa betina itu sengaja ingin merusak rumah tangga anak kita." Jelas ibu Desi. Tanisa dan suaminya berusaha untuk tetap bertahan di meja makan, sebenarnya mereka sudah muak dengan kehadiran Aneska dan keluarganya.


"Nak Abian, setelah ini kami izin pulang." Ucap pak Mirza.


"Iya pak, nanti supir yang akan mengantar bapak, ibu dan Cyra pulang." Ucap Abian.


Tanisa dan Farid berusaha bersorak karena deking Aneska akan pergi.


"Terima kasih atas transferannya, semoga rezeki kamu lancar." Ucap ibu Desi.


"Transferan?" Aneska melihat ke arah orang tuanya. Bukan hanya Aneska, Tanisa dan Farid langsung menoleh mendengar kata transfer.


"Iya, tadi malam Abian datang ke kamar bapak sama ibu, tanya nomor rekening katanya untuk bayar hutang kita." Ucap ibunya. Aneska langsung menoleh tajam ke arah suaminya.


"Menantu, tapi yang kamu transfer sangat banyak, sisanya bagaimana." Ucap ibu Desi polos.


"Ibu dan bapak bisa pergunakan sisanya untuk keperluan hidup di kampung, bapak tidak perlu bekerja lagi setiap bulan akan saya transfer." Ucap Abian.


Oma Zulfa dan Ila senang dengan sifat dermawan Abian yang sangat mirip dengan almarhum papinya.


Aneska ingin marah dengan sikap Abian, tapi dia melihat ada raut bahagia dari wajah kedua orang tuanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2