
Tiara mulai mengerti apa saja yang harus dilakukannya ketika berhadapan dengan Zidan.
"Pak Zidan masuk rumah sakit, apa kamu tau?" tanya Tiara.
"Masuk rumah sakit?" tanya Aneska dengan wajah tidak percaya.
"Iya." Tiara menganggukkan kepalanya.
"Tadi siang, Zidan sehat-sehat saja. Malah dia datang ke ruangan ini dua kali. Tapi setelah itu tidak terlihat lagi." Jelas Aneska.
Tiara mulai berpikir apa penyebab Zidan di rawat. Dia masih menunggu ibu Desi kembali dari kantin. Setelah ibu Desi kembali Tiara langsung pamit untuk kembali ke ruangan perawat.
Dia berlari kecil menuju ruangan perawat. Ada beberapa teman sejawatnya yang sedang menyiapkan obat yang di letakkan di atas meja instrumen medis.
Tiara langsung mencari status Zidan. Dia membaca penyebab di rawatnya Zidan.
"Obat cacing." Gumam Tiara pelan. Dia langsung keluar dari ruangan itu menuju ruang perawatan Zidan.
Kala itu Zidan sedang tertidur. Tiara tidak berniat mengganggu pria itu tapi ketika dia berbalik hendak keluar dia menabrak meja.
"Aw...." Tiara meringis.
Zidan langsung membuka matanya. Dia ingin turun dari tempat tidur tapi terhalang botol infus.
"Stop, bapak jangan turun." Ujar Tiara melarang seraya memegang lutut kakinya yang baru saja terbentur.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan khawatir.
"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa terbentur, dari terbentur meja, terbentur tembok bahkan terbentur tiang pernah saya dapatkan." Jelas Tiara yang masih berdiri menjauh dari Zidan.
"Tapi terbentur perasaan saya belum kan?" ucapan Zidan membuat Tiara malu. Dia canggung harus berhadapan dengan pria itu.
"Kenapa anda minum obat cacing?" tanya Tiara mengalihkan pembicaraan agar pria itu tidak terus menatapnya.
"Oh, kamu sangat perhatian, sampai hasil pemeriksaan saya kamu baca. Kamu wanita idaman dan cocok jika di jadikan seorang istri." Ucapan Zidan lagi-lagi membuat Tiara habis kata-kata. Dia tidak tau cara menjawab ucapan pria itu.
"Bukan itu, saya membaca karena memang kewajiban seorang perawat untuk membaca status pasien." Jelas Tiara membela diri.
"Oh ya, tapi kamu ke sini hanya seorang diri. Bukan itu suatu perhatian." Zidan berbicara dengan tutur kata lembut.
"Saya tidak mau berdebat dengan bapak, hanya saja mau menyampaikan ke bapak kalau tindakan bapak itu salah." Jelas Tiara.
"Iya saya akui salah dan ini saya lakukan hanya ingin berjumpa dengan kamu." Jelas Zidan.
Tiara langsung diam. Dia tidak tau harus mengatakan apa ke pria itu.
"Kapan kamu libur?" tanya Zidan.
"Saya tidak ada libur, jadwal saya bulan ini full." Ujar Tiara bohong.
"Baiklah akan saya hubungi Arif." Zidan mengambil ponselnya.
"Jangan pak, lusa saya libur. Memangnya kenapa bapak bertanya jadwal libur saya? jangan bilang kalau bapak mau di rawat seperti suami Aneska." Tebak Tiara.
Zidan mengerutkan dahinya seraya berpikir.
"Bagus juga ide kamu, akan saya bilang ke Arif untuk mengirim kamu ke rumah saya." Ucap Zidan.
__ADS_1
"Apa!" Tiara langsung takut.
"Saya tadi hanya bercanda pak, jangan ya please." Tiara memohon seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Baiklah, saya pria yang tidak mau memaksa. Lusa saya jemput ke mes." Ucap Zidan seraya tersenyum.
"Jemput! Tidak bisa, cucian saya banyak kalau libur." Ucap Tiara bohong.
Tidak memaksa, tapi ngajak kawin maksa.
Tiara mendengus kesal di dalam hatinya.
"Apa kamu punya pekerjaan sampingan?" tanya Zidan penasaran.
"Maksud bapak apa? saya buruh cuci gitu?" tanya Tiara balik.
"Saya tidak mengatakan kamu buruh cuci, kamu sendiri yang mengatakannya kepada saya."
Tiara diam, seraya menatap tajam wajah pria itu. Dia mengingat pesan Aneska untuk bersikap wajar agar Zidan tidak menyakitinya.
"Kalau saya menolak bagaimana?" tanya Tiara lagi.
"Akan saya lamar kamu di depan loby rumah sakit." Ancam Zidan.
"Apa! jangan lakukan pak, saya mohon." Tiara kembali memohon dengan cara mengatupkan kedua tangannya.
"Ya sudah lusa saya jemput, bagaimana?" tanya Zidan balik.
Dengan terpaksa Tiara menganggukkan kepalanya.
Tiara keluar dari ruangan itu dan bertemu dengan teman sejawatnya, salah satu Tami.
"Kamu dari mana saja?" tanya Tami.
"Aku dari tempat Aneska." Sahut Tiara bohong.
"Yuk bantu kami mengontrol pasien." Ajak temannya yang lain seraya mendorong meja instrumen medis.
"Aku lagi kebelet." Tiara langsung berlari meninggalkan temannya. Menurutnya untuk hari ini cukup bertemu dengan Zidan.
***
Di istana
Setelah membersihkan tubuhnya. Abian berbaring di kasurnya. Dia melihat tempat tidur yang biasanya digunakan istrinya untuk beristirahat.
Membayangkan luka di sekujur tubuh Aneska dan Tanisa membuat Abian kembali marah. Dia kesal karena pria bejat itu masih bebas di luar sana.
Abian keluar dari kamarnya menuju kamar oma.
Tok tok tok pintu di ketuk. Tidak berapa lama pintu di buka.
"Hoaammmm." Oma menguap seraya memperhatikan ada cucunya.
"Abian, Aneska sama siapa di rumah sakit?" tanya oma khawatir.
"Sama ibunya." Sahut Abian singkat. Oma Zulfa memperhatikan wajah cucunya. Di mana rahang Abian mengeras, wanita sepuh itu tau jika cucunya sedang menahan amarahnya.
__ADS_1
"Ada apa Abian?" tanya oma pelan.
"Apa wanita itu masih di sini?" tanya Abian dengan nada ketus.
"Maksud kamu Anggela?" tanya oma balik.
"Iya, apa dia masih di sini?" tanya Abian lagi.
"Iya, Abian jangan usir dia. Oma kasihan sama Anggela." Ucap oma memohon.
"Panggil dia sekarang! aku tunggu di ruang kerja!" Abian berbicara cukup tegas, sehingga oma tidak bisa membantah perintah cucunya.
Oma langsung menuju kamar Anggela. Pintu kamar wanita itu di ketuk. Tidak lama bagi oma untuk menunggu pintu itu sampai terbuka.
"Oma?" tanya Anggela. Dia heran dengan wanita tua itu yang belum tidur. Padahal waktu telah menunjukkan jam sebelas malam, dan waktu itu biasanya oma sudah sampai ke alam mimpi.
"Ikut oma." Ucap oma tegas.
Anggela bingung tapi dia mengikuti wanita tua itu menuju satu ruangan yang dia tau ruang kerja Abian. Dia dan oma masuk ke dalam ruangan itu.
"Oma ngapain kita ke sini?" tanya Anggela bingung karena tidak ada orang lain selain mereka berdua.
Tidak berapa lama kursi kerja berputar dan mengarah kepadanya. Ada Abian yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Anggela ketakutan, dia tau Abian akan menyiksanya bahkan menghukumnya dan semua karena ulah Farid.
"Di mana Farid?" tanya Abian.
"Aku tidak tau." Sahut Anggela pelan.
Brakkk.....
Abian menggebrak meja. Membuat oma dan Anggela sontak kaget.
"Bohong!" bentak Abian.
"Benar Abian, Farid tidak ada menghubungiku. Aku juga tidak menghubunginya." Jelas Anggela jujur.
"Hubungi dia sekarang, pancing dia untuk segera keluar." Titah Abian.
Anggela berlari ke kamarnya seraya mengambil ponselnya. Dia kembali lagi ke ruang kerja.
Dia meletakkan ponselnya di atas meja kerja Abian.
"Hubungi dia sekarang!" bentak Abian lagi.
"A a aku bilang apa?" Anggela berbicara gugup.
"Tanya dimana dia sekarang, bilang ke dia kalau kamu di usir dari sini." Titah Abian lagi.
Anggela langsung menggelengkan kepalanya. Menggeleng bukan menolak untuk mengorek informasi keberadaan Farid, tapi menolak di usir dari istana Bassam.
Bersambung...
Terima kasih atas votenya. Author tinggal menunggu masuk 10 besar. Jika masuk 10 besar author tambah updatenya.
Silahkan follow ig author: anita_rachman83
__ADS_1