
Nyonya Rona masih berada di kamar anak sulungnya. "Tanisa sudah mami katakan jangan pernah menangisi pria bejat itu!" seru nyonya Rona marah.
"Aku harus bagaimana mam? sangat sulit melupakannya." Ujar Tanisa jujur.
"Lupakan dia dan membuka pria lain untuk diri kamu."
"Maksud mami apa?" tanya Tanisa bingung.
Nyonya Rona mendekati anak sulungnya dan tersenyum sumringah.
"Mami ingin menjodohkan kamu dengan Arif."
"Apa Arif? enggak! usiaku lebih tua darinya dan aku masih resmi menjadi istri Farid." Tanisa menolak.
"Usia kamu hanya terpaut dua tahun dari dia. Jadi menurut mami tidak masalah, dan mengenai status kamu jangan khawatir pengacara akan mengurus perceraian kamu secepatnya." Jelas nyonya Rona. Dan Tanisa menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Ayolah Tanisa, Arif sudah mapan dan mami yakin dia bisa membahagiakan kamu." Rayu nyonya Rona.
"Mami, dia kenal aku sudah lama, dan dia tau watakku tidak mungkin dia mau denganku, apalagi aku bekas Farid dan..." Tanisa diam.
"Bekas kekasih kamu gitu? awas kalau kamu masih dekat dengan pria bule itu, mami akan kurung kamu di kamar." Ancam nyonya Rona.
"Mami kenapa mami selalu menjodohkan aku dengan pria pilihan mami, kenapa enggak mami saja yang menikah dengan pilihan mami." Ujar Tanisa ketus.
Plak.....
Nyonya Rona menampar anak kesayangannya.
"Mami..." Tanisa marah dan langsung keluar dari kamarnya. Dia kecewa dengan sikap maminya.
Tanisa duduk di taman masih memegang pipinya yang kena tamparan maminya. Nyonya Rona duduk di sebelah anaknya. Tanisa buru-buru memalingkan wajahnya.
"Apa sakit?" tanya nyonya Rona. Tanisa tidak menjawab sama sekali.
"Mami akui kalau mami salah karena telah menjodohkan kamu dengan Farid tapi Arif berbeda, kita sudah mengenalnya lama. Masa kecilnya dulu di habiskan di sini. Dia anak yang pekerja keras, terbukti jika dia dapat mendapatkan posisi penting di rumah sakit dan dia dapat menyelesaikan sekolah spesialisnya dalam waktu cukup singkat." Jelas nyonya Rona.
Tanisa mendengarkan kata demi kata yang di ucapkan maminya. "Status kamu sebentar lagi janda, janda biasanya menikah sama orang yang lebih tua dari kamu atau sama pria duda hanya itu pilihannya. Dan mami tidak mau jika kamu menikah sama duda pasti akan sulit bagi kamu masuk ke lingkungan keluarga suami kamu tapi kalau sama Arif berbeda. Dia tidak punya keluarga dan tidak sulit untuk kamu dan dia beradaptasi." Jelas nyonya Rona.
Tanisa hanya diam, ada benarnya yang di ucapkan maminya. Janda biasanya menikah dengan duda dan tidak mungkin mendapatkan atau memilih pria yang masih muda kecuali memang jodohnya.
Akhirnya Tanisa buka suara. "Aku tidak yakin apa Arif mau menerima wanita sepertiku." Ujar Tanisa putus asa.
"Kamu belum coba, jika kalian sering bertemu mami yakin Arif akan mulai mencintai kamu." Nyonya Rona memeluk anaknya. Dia tidak ingin anaknya mendapatkan pria yang tidak di kenalnya. Bersama Farid pembelajaran buatnya.
***
Oma dan Ila sedang bersiap-siap di kamar masing-masing. Keduanya akan berangkat ke kampung Aneska guna menghadiri acara resepsi Abian dan Aneska.
Setelah semua keperluan telah berada di dalam koper. Keduanya memerintahkan pelayan untuk membawa koper ke depan.
__ADS_1
Oma dan cucunya jalan beriringan sampai pintu utama. Mereka menunggu supir di depan pintu utama.
Setelah mobil berada di depan, keduanya langsung bergegas naik ke mobil. Oma dan Ila duduk di baris kedua.
"Ayo jalan." Titah oma.
"Nyonya dan nona Tanisa bagaimana?" tanya supir.
"Mereka tidak akan ikut, udah jalan." Titah oma lagi. Tapi supir belum menyalakan mesin mobil.
"Apa lagi yang kamu tunggu?" tanya oma bingung.
"Itu." Supir menunjuk ke arah spion. Oma dan Ila membalikkan badannya karena ada anaknya dan cucunya yang sedang mendekati mobil.
Nyonya Rona langsung duduk di samping kemudi supir dan Tanisa duduk di baris kedua sebelah oma.
"Kenapa ini?" tanya oma bingung.
"Udahlah mam, enggak usah di tanya ada apa mau kemana dan kenapa." Gerutu nyonya Rona. Wanita paruh baya itu memerintahkan supir untuk segera melajukan mobil.
Oma Zulfa tidak bertanya lagi, dia sudah dapat jawabannya. Wanita tua itu senang karena anaknya mau ikut dengannya.
***
Di rumah orang tua Aneska
Keluarga terlihat sangat sibuk, ibu Desi sibuk di bagian belakang sedangkan pak Mirza sibuk di depan bersama dengan warga.
Ada sebuah mobil dengan merek sejuta umat berhenti di depan rumah warga. Terlihat Tiara, Tami, Aldo beserta Dimas turun dari mobil itu.
"Aneska." Teriak Tami ketika melihat Aneska sedang berdiri di depan rumahnya.
"Aaaaa." Aneska teriak senang dan langsung menghampiri teman-temannya.
Abian melihat kebahagian istrinya jika bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya.
"Apa kalian izin?" tanya Aneska.
Semua temannya menggelengkan kepalanya. "Lalu? apa kalian bolos?" tanya Aneska penasaran.
"Bukan tapi kami ambil cuti secara bersamaan." Jelas Aldo.
"Wah, pasti bu Susan kelimpungan tidak ada kalian." Tebak Aneska.
"Seperti itu." Jawab temannya bersamaan dengan gelak tawa mereka. Dimas melihat sosok yang gagah, berdiri di dekat pintu masuk rumah keluarga Aneska.
"Apa itu suami kamu?" tanya Dimas.
"Iya, gantengkan." Ujar Aneska memuji suaminya seraya melirik Abian.
__ADS_1
"Kalau badan hampir sama denganku, hanya wajahnya saja yang kurang perfect." Ujar Dimas seraya memperhatikan Abian dari jarak tidak terlalu jauh.
Semua temannya langsung menoleh ke arah Dimas. "Kamu bilang kurang perfect? cowok maco gitu di bilang masih ada yang kurang." Gerutu Tami dan Tiara.
"Hei dengar dulu penjelasanku, memang aku akui dia ada rupa dan tahta tapi dia tidak semenarik diriku." Ujar Dimas menunjuk tahi lalat yang ada di wajahnya.
"Tahi lalat di banggakan." Celetuk Tiara.
"Harus di banggakan dong, buktinya lalat aja mau buang air besar di wajahku itu tandanya apa?"
"Tandanya wajah kamu mirip wc." Sahut Aneska di iringi dengan gelak tawa teman-temannya.
"Yuk masuk, kalian di sini bukan tamu." Ajak Aneska.
Aneska menghampiri suaminya bersama teman-temannya. Semua temannya menyalaminya kemudian mereka masuk ke dalam rumah.
"Memang tangan orang kaya itu beda ya." Celetuk Aldo.
"Beda kenapa?" tanya teman-temannya.
"Mulus gak ada kasar sama sekali, beda sama kita, tangan pada kepalan semua." Celetuk Aldo.
"Lah iyalah, orang kaya hidupnya senang tinggal tunjuk dan tunjuk makanya jarinya mirip model." Timpal Dimas.
Semuanya tertawa mendengarkan celotehan dua pria itu. Semua sahabat Aneska di beri tugas untuk melipat tisu.
"Ya ampun Nes, kami jauh-jauh datang di suruh melipat tisu, apa gak ada kerjaan yang lebih menantang?" tanya Aldo.
"Ada, yuk kebelakang." Aneska mengajak Aldo dan Dimas ke belakang.
"Itu kerjaan yang sangat menantang." Aneska menunjuk ke arah bapak-bapak yang sedang menyembelih ayam.
Kedua pria itu takut dan ngeri membayangkan kepala si ayam.
"Nes, lebih baik kami melipat tisu aja." Kedua pria itu kembali ke depan bergabung dengan temannya.
"Kok balik?" tanya Tiara yang sedang melipat tisu.
"Ngeri lebih baik kami di sini menjaga kalian." Sahut Aldo.
Dan di luar tepatnya ada dua orang yang sangat di kenal Aneska. Kedua pria yang baru datang ikut masuk ke dalam ruang tamu. Ikut duduk di lantai yang hanya beralaskan tikar.
"Dokter Arif." Bisik Aldo. Sedangkan Tiara langsung membelalakkan matanya karena ada Zidan yang ikut duduk di dalam ruangan itu.
"Ayo ngomong dari tadi bising kenapa sekarang diam." Bisik Tami.
"Serem ada pawang di sini." Sahut Aldo yang sedang menyibukkan dirinya di depan dokter mereka.
Bersambung..
__ADS_1
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014