Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 37


__ADS_3

Hari semakin larut, Abian sudah terlelap dengan pulasnya. Aneska tidak bisa menutup matanya, dia membayangkan kejadian yang baru saja terjadi, di mana dia harus menikah dengan pria yang pernah memukulnya. Mengingat hal itu membuat Aneska geram dengan sikap kasarnya Abian. Tapi ada rasa senang di mana Abian membela keluarga istrinya di bandingkan keluarganya sendiri.


Aneska mencoba membuka lemari kaca yang isinya ada banyak buku, dia tidak tau buku apa saja itu, tapi Aneska ingat kalau dirinya pernah di minta untuk membacakan cerita oleh Abian.


"Lebih baik aku membaca buku, semoga dengan membaca aku bisa tertidur dengan pulas." Gumam Aneska membawa satu buku dan berjalan dengan memegang pinggangnya. Sakit di pinggangnya masih terasa.


Aneska menghidupkan satu lampu yang ada di dekat sofa, dia membaca buku cerita itu. Kilauan cahaya lampu membuat Abian terbangun, dia membuka perlahan matanya dan melihat istrinya sedang membaca buku.


Abian tidak bisa tidur jika ada cahaya lampu, jadi dia hanya menutup matanya dengan bantal. Sampai tiga puluh menit Abian hanya membolak balikkan badannya, dia bangun dari posisi berbaringnya ingin menegur istrinya, tapi istrinya sudah tertidur sambil memegang buku.


Abian turun dari kasur dan mengambil buku yang ada di tangan istrinya dan meletakkan kembali ke lemari buku. Melihat kondisi istrinya yang tidur di sofa, dia merasa kasihan. Abian membopong tubuh istrinya dan meletakkan di atas kasur. Dia memperhatikan wajah dan tubuh istrinya yang mulus.


Abian merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya, dia menikmati wajah cantik Aneska.


"Cantik, wajar Zidan menginginkanmu juga. Kamu itu bawel tapi aku suka." Gumam Abian sambil memegang bibir istrinya dengan jarinya. Tiba-tiba Aneska bergerak, Abian langsung sembunyi di bawah kasur, setelah tidak ada pergerakan Abian kembali melihat istrinya.


Abian membaringkan tubuhnya di sebelah Aneska, dia memandang wajah istrinya, ketika melihat paha istrinya, kejantanannya langsung siap gerak. Abian buru-buru mengambil selimut untuk menutupi tubuh Aneska. Abian tidak mau melihat lagi wajah istrinya, dia takut setannya akan muncul.


"Tidur Abian, tidur junior jangan sekarang." Gumam Abian sambil membelakangi istrinya.


Denting detik terdengar cukup nyaring di malam yang sunyi, Abian mencoba menutup matanya dan mulai tertidur kembali.


Waktu terus berputar dan cahaya matahari mulai masuk dari celah jendela. Aneska membuka matanya perlahan dan betapa kaget ketika melihat dirinya sudah di atas tempat tidur. Aneska buru-buru meraba tubuhnya dan melihat celana dalamnya, dia mencari keberadaan Abian.


"Tidak ada nyeri, berarti dia tidak melakukannya." Gumam Aneska sambil melihat sekeliling kamar.


"Di mana dia? mungkin dia sudah keluar kamar. Lebih baik aku mandi sebelum dia masuk kembali ke kamar." Gumam Aneska sambil berjalan memegang pinggangnya. Dia masuk ke dalam ruang ganti dan langsung masuk ke kamar mandi. Kemudian Aneska buru-buru keluar kamar mandi.


"Aduh, kenapa lagi dia masih di kamar mandi, enggak di kunci lagi. Aduh harta pusakanya kelihatan lagi." Gerutu Aneska sambil menjedutkan kepalanya di lemari. Aneska menutup matanya sambil menghadap lemari. Ketika dia berbalik ada Abian di belakangnya.


Aneska pangling dengan penampilan suaminya, rambutnya sudah di potong, brewoknya sudah bersih.


Ya ampun ganteng banget, meleleh adek bang.


Aneska ingin menghindar tapi tangan Abian sudah berada di lemari.


"Mau apa sih." Gerutu Aneska.


Abian tidak menjawab, dia hanya mengelus pipinya.


"Kenapa? gatal?" Ucap Aneska lagi.


"Ini kode tau." Ucap Abian.

__ADS_1


"Kode apa?" Ucap Aneska bingung.


"Cih, kamu itu harus tau maksudku." Gerutu Abian.


"Mana aku tau istilah kodemu." Jawab Aneska.


"Ini." Abian menunjuk pipinya lagi. Aneska mengerti dia langsung mengelus pipi suaminya.


"Udah!" Ucap Aneska ketus.


"Bukan di elus, tapi di cium." Ucap Abian santai.


"Enggak mau, kita menikah bukan karena cinta, ini hanya sandiwara aku enggak mau menciummu walaupun hanya pipi." Gerutu Aneska sambil menundukkan kepalanya agar bisa menghindar dari suaminya. Tapi tangan Abian sudah memegangnya.


"Mau kamu yang cium apa aku yang cium." Ucap Abian lagi.


"Iya, iya aku cium tapi lepaskan tanganku dulu." Ucap Aneska.


Aneska mengecup pipi suaminya.


"Udah."


"Yang ini belum." Abian menunjuk salah satu pipinya. Aneska mendengus kesal, tapi dia menuruti kemauan suaminya, dia mengecup kembali pipi suaminya.


"Dahinya belum." Ucap Abian lagi.


"Hei itu sudah cukup." Jawab Aneska ketus.


"Anes, mau aku cium apa kamu yang cium." Ucap Abian sambil merapatkan giginya. Aneska menghela nafasnya dan mendengus kesal.


"Tundukkan kepala kamu, aku tidak sampai." Ucap Aneska. Abian bukan menundukkan kepalanya dia malah menggendong tubuh Aneska.


"Hei turunkan." Ucap Aneska. Abian meletakkan tubuh istrinya di sebelah wastafel kamar mandi.


"Nah cium." Ucap Abian memberikan dahinya ke hadapan istrinya.


"Tinggal tunduk aja susah amat, muaahhh." Aneska mengecup dahi suaminya.


"Udah aku mau mandi." Ucap Aneska lagi.


"Belum siap, bibirnya belum." Ucap Abian sambil tersenyum menyeringai.


"Enggak ah, kamu bilang hanya pipi dan dahi kenapa bibir juga." Gerutu Aneska sambil menutup mulutnya dengan jari tangannya.

__ADS_1


"Kalau enggak mau tidak apa-apa. Aku akan tetap di sini menunggui kamu mandi." Ucap Abian lagi.


"Kamu!" Aneska membelalakkan matanya. Suaminya selalu membuatnya kalah berkata-kata.


"Sana mandi." Ucap Abian.


"Sini bibirmu." Ucap Aneska dengan wajah cemberut.


"Lebih baik mengecup bibir kamu dari pada mandi di tungguin." Gerutu Aneska.


Abian tersenyum, dia memberikan bibirnya ke hadapan istrinya. Aneska mengecup bibir suaminya, tapi Abian sudah mencium bibirnya sampai dalam. Aneska mendorong tubuh suaminya dan berusaha untuk melepaskan ciuman suaminya. Tapi kepalanya di tahan oleh tangan suaminya.


"Hei kamu bilang hanya kecup kenapa malah menciumku." Aneska berusaha untuk lepas tapi tidak bisa, mau tidak mau dia menggigit lidah suaminya.


"Aw, kenapa di gigit." Gerutu Abian sambil mengakhiri ciumannya.


"Kamu yang salah, kenapa terus menciumiku." Gerutu Aneska.


"Apa salah aku mencium istriku sendiri!" seru Abian.


"Salah, karena pernikahan ini hanya sandiwara." Jawab Aneska.


"Mungkin sandiwara tapi di mata hukum dan agama pernikahan kita sah." Ucap Abian tegas.


"Aku enggak mau kamu menciumku." Ucap Aneska lagi.


"Baik, kalau kamu tidak mau menciumku jangan paksa aku untuk meminta hakku sebagai suami." Ucap Abian kembali menciumi istrinya.


"Stop Abian stop, aku mohon jangan lakukan, aku belum siap lahir batin, hiks hiks." Aneska menangis.


Abian memeluk istrinya.


"Maafkan aku karena bersikap kurang ajar sama kamu, mandilah." Ucap Abian sambil mengecup dahi istrinya.


Abian mau pergi tapi Aneska menarik tangan suaminya, dia mengecup bibir suaminya sambil menangis.


"Jangan menangis, aku tidak mau kamu melakukannya karena terpaksa. Cepat mandi kalau tidak aku mandikan." Gurau Abian.


"Aaaahh." Rengek Aneska.


Bersambung.


Terima kasih telah mendukung author, seperti janji author jika masuk 10 besar author akan update dan memenuhi janji untuk kalian semua, love you all.

__ADS_1


__ADS_2