
🌷🌷🌷
Memenuhi janji untuk kalian semua🥰
🌷🌷🌷
Tanisa jalan dengan santainya dan melewati teman-teman Aneska yang pria. Kedua mata pria itu langsung melotot.
"Busyet." Ujar Dimas spontan.
"Gila bener model handuk lewat." Sahut Aldo.
"Iya do." Dimas teringat tentang kejadian tadi malam.
"Do, aku heran kenapa tadi malam wanita seksi itu ada di sebelahku." Bisik Dimas.
"Woi bangun jangan mimpi." Aldo tidak percaya, dia merasa temannya sedang mengigau.
"Bener Do, ngapain juga aku bohong yang aku heran kenapa dia di sebelah ku, apa jangan-jangan dia..." Dimas melihat wajah temannya.
"Aku pun memikirkan yang sama." Sahut Aldo semangat.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dimas penasaran.
"Kamu mimpi, hahahah." Aldo berujar dengan gelak tawanya.
"Bener Do, apa dia menyukaiku." Gumam Dimas.
"Apa! Jangan mimpi untuk menikahi bidadari. Kamu dan dia tidak selevel." Aldo mulai berpikir sesuatu dan membisikkan ke temannya.
Dimas menggelengkan kepalanya. "Mau enggak?" tanya Aldo lagi.
"Baiklah akan aku lakukan." Sahut Dimas semangat.
Semua pagar bagus telah mengenakan seragamnya komplit dengan kain jarik, blangkon dan sepatu.
Sedangkan pagar ayu masih mengantri untuk di rias. Dokter Arif ngobrol dengan Zidan. Dia menunjukkan sesuatu ke pria itu.
"Apa!" Zidan sontak kaget dan ingin merebut ponsel dokter Arif.
"Tenang ini kenang-kenangan buat kamu dan Tiara." Di dalam ponsel itu terdapat video yang memperlihatkan awal mula Zidan menggeser Aldo sampai Tiara mendekat ke badan Zidan dan akhirnya keduanya berpelukan.
"Wah hapus cepat." Bisik Zidan.
"Ngapain di hapus, ini akan menjadi kado pernikahan buat kalian." Ujar dokter Arif senang.
"Ternyata dokter merekam semuanya."
"Hahaha, aku tidak bisa tidur, apalagi suara si Aldo yang mendengkur membuatku susah memejamkan mata." Jelas dokter Arif.
__ADS_1
Di kamar Aneska.
Tami dan Tiara telah berhias mengenakan kebaya yang warnanya senada dengan seragam pagar bagus. Kedua perawat itu keluar dari kamar dan di sambut dengan tatapan pagar bagus yang sangat cantik.
"Calon istriku cantik sekali." Ujar Zidan dengan suara yang cukup nyaring sehingga membuat Tiara langsung menatap tajam ke Zidan seraya mengepalkan tangannya ke arah pria itu.
Nyonya Rona berdebat dengan dukun manten. Dia tidak ingin mengenakan seragam yang sama dengan keluarga Aneska. Dengan alasan seragam itu di pakai banyak orang.
"Saya tidak mau pakai seragam itu." Ujar nyonya Rona menolak.
"Apa ibu mau pakai seragam pagar ayu." Sindir dukun manten. Karena pagar ayu hanya untuk wanita lajang yang belum menikah.
Abian mendengarkan semuanya dan tentu membuatnya kesal sekaligus geram.
"Kalau dia tidak mau tidak usah di paksa." Ujar Abian menyela perdebatan antara dukun manten dengan maminya.
"Tapi Abian, mami kamu harus duduk di pelaminan juga." Timpal oma Zulfa.
"Biarkan saja pakaiannya berbeda nanti jika tamu bertanya akan aku katakan kalau mami bukan ibu kandungku melainkan ibu tiri." Ucapan Abian membuat semua orang membuka mulutnya lebar-lebar. Tamparan untuk nyonya Rona.
Karena ucapan itu dengan tidak ikhlas nyonya Rona mau menggunakan seragam itu.
Acara di mulai di mana pengantin wanita dan pengantin pria melakukan serangkaian acara salah satunya balangan gantal atau sirih yang di ikat oleh benang putih akan di lemparkan Aneska dan Abian. Di lanjutkan dengan acara ngidak tagan atau menginjak sebutir telur ayam mentah yang di lakukan Abian sebagai harapan akan mendapatkan keturunan kemudian Aneska membasuh kaki suaminya sebagai bentuk kasih sayang. Semua prosesi acara di lakukan dari dulangan sampai sungkeman.
Acara yang terakhir adalah sungkeman yaitu berlutut di depan kedua orang tua masing-masing. Aneska berlutut di depan orang tuanya dengan meminta izin sekaligus meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Dan giliran Abian yang bingung harus melakukan apa di depan oma dan maminya. Untuk oma dia hanya mencium tangan keriput itu dan tidak mengatakan sepatah katapun. Hanya terdengar suara dari oma. "Semoga pernikahan kalian langgeng terus." Ujar oma pelan.
Abian berlutut di depan maminya. Keduanya hanya saling menatap. "Silahkan." Bisik dukun manten."
Nyonya Rona memegang pundak anaknya. "Undangan telah tersebar, mami harap kamu bisa datang dan tidak membatalkan acara ultah kamu." Bisik nyonya Rona. Abian langsung mengangkat kepalanya dan menatap tajam maminya.
Dia tersadar ketika di perintahkan dukun manten untuk sungkem ke mertuanya. Sekarang giliran Aneska sungkem di depan oma. Oma mengatakan hal yang sama dengan yang diucapkannya ke Abian. Wanita paruh baya itu mencium pipi Aneska sebagai tanda sayangnya.
Dan tiba di depan nyonya Rona. Wanita paruh baya itu enggan memberikan tangannya ke Aneska.
"Rona apa yang kamu lakukan." Bisik oma.
"Aku tidak pernah merestui hubungan mereka." Sahut nyonya Rona berbisik.
"Jangan rusak acara ini, nanti Abian semakin benci sama kamu." Bisik oma lagi.
"Enggak apa-apa oma, walaupun restunya tidak ada tapi setidaknya mahar Abian telah di tanganku." Ujar Aneska dengan senyum liciknya.
Dengan cepat wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya. "Kamu mendapatkan restuku tapi dengan dua syarat." Bisik nyonya Rona. Aneska masih tetap menundukkan kepalanya.
"Syarat?" tanya oma dan Aneska.
"Iya, katakan ke Abian untuk hadir dalam acara ultahnya dan syarat yang kedua serahkan mahar itu kepadaku." Bisik nyonya Rona.
Aneska diam dan bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
"Baiklah aku penuhi syarat kamu." Ujar Aneska dan mengangkat kepalanya dari tangan mertuanya.
Nyonya Rona langsung tersenyum senang. Begitupun Aneska tersenyum.
"Tapi setelah mendapatkan persetujuan dari Abian." Ujar Aneska seraya bangkit dari posisi berlututnya.
Nyonya Rona langsung menunjukkan ketidaksukaannya ke Aneska. Menurutnya Aneska lebih licik dari yang dipikirkannya. Sedangkan oma menahan tawanya agar tidak terdengar para tamu undangan.
Abian dan Aneska kembali duduk di pelaminan dan di apit kedua keluarga. Tamu undangan mulai menikmati hidangan di meja prasmanan. Tidak terlihat jika pesta di adakan di kampung, karena pelaminan terlihat sangat indah. Jalanan yang tadinya hanya tanah telah di tutupi karpet.
"Apa yang di katakan mami ke kamu?" tanya Abian di atas pelaminan.
"Biasa, tapi aku sudah mengatasinya." Sahut Aneska.
Organ tunggal mulai menghibur tamu undangan. Biduan mulai menyanyikan lagu jawa. Para pagar ayu dan pagar bagus masih di tempatnya yaitu sebagai penerima tamu.
"Di, ayo sekarang." Bisik Aldo.
Dimas menghela nafasnya dan mulai naik ke panggung kecil tempat organ tunggal berada. Dimas meminta mikrofon ke biduan.
"Tes satu dua tiga." Ujar Dimas dan semua tamu undangan langsung menoleh ke arah Dimas. Begitupun dengan Tiara dan Tami ikut melihat ke arah panggung.
"Si Dimas mau nyanyi?" tanya Tami.
"Menurut kalian? dia mau ngapain?" tanya Aldo lagi.
"Sebaiknya suruh turun suaranya akan merobohkan panggung." Timpal Tiara.
"Udah dengar aja dulu." Semua masih menunggu apa yang akan di ucapkan Dimas.
"Selamat menempuh hidup baru Aneska dan tuan Abian." Pengantin tersenyum.
"Aku selalu mengutarakan isi hatiku ke Aneska tetapi selalu di tolak." Abian langsung menoleh ke arah istrinya.
"Dia mantan kamu?" tanya Abian.
"Enggak, dia memang sering mengungkapkan isi hatinya tapi menurutku itu hanya gurauan saja." Jelas Aneska agar suaminya tidak berpikir negatif tentangnya dan Dimas.
"Tapi aku tau cintaku memang bukan untuk Aneska dan cintaku untuk kamu." Ujar Dimas dan menunjuk ke arah Tanisa.
Tatapan semua orang beralih ke arah Tanisa.
"Aku mencintai kamu, will you marry me?" Dimas mengulurkan tangannya di hadapan Tanisa. Dan tentu saja sikap dan ucapan Dimas membuat Tanisa malu, sekaligus geram dengan tingkah pria itu.
Nyonya Rona mulai memegang dadanya rasanya jantungnya mulai berhenti seketika. Dia tidak sanggup jika semua anaknya menikah dengan orang kampung.
Bersambung...
🌷🌷🌷
__ADS_1
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014