
Dokter Arif masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan Farid berhasil kabur dan bersembunyi untuk waktu yang lama.
Supir tiba di istana dengan mengendarai mobil. Tubuh Tanisa sudah berada di dalam mobil. Ketika melihat supir Abian, nyonya Rona dan oma langsung menghampiri pria itu.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya oma dengan perasaan cemas.
"Iya oma, tadi tuan Farid mau di tabrak tuan Abian, tapi dia lari ke hutan ternyata dia hanya mengecoh tuan Abian dan berhasil kabur ketika tuan Abian sudah jauh ke dalam hutan." Jelas supir itu.
"Apa yang terjadi dengan Aneska?" tanya nyonya Rona yang ikut penasaran dengan keadaan menantunya.
"Tadi nona Aneska menunggu tuan Abian di mobil, tapi ketika saya kembali mobil berhenti di tempat yang berbeda dan pintu mobil dalam keadaan terbuka. Tapi saya tidak menemukan tuan Abian dan istrinya." Jelas pria itu.
Setelah menjelaskan pria itu permisi untuk beristirahat. Oma Zufa dan nyonyo Rona langsung menuju rumah sakit.
***
Abian meletakkan tubuh istrinya di tempat tidur yang ada di ruang IGD. Perawat langsung memberikan pertolongan ke pasiennya.
Dokter menanyakan tentang kejadian yang menimpa pasiennya. Setelah mendengarkan penjelasan dari Abian, dokter langsung bertindak cepat.
"Pasien harus di CT scan untuk melihat apakah ada benturan di tengkorak kepala." Jelas dokter. Abian tidak banyak bicara, dia menyerahkan sepenuhnya ke tim dokter.
Tubuh Aneska di bawa ke ruang CT scan kepala agar memberikan hasil yang lebih detail. Setelah melakukan serangkaian pemerikasaan akhirnya dokter mendapatkan hasilnya.
"Pasien mengalami pembengkakan otak." Ucap dokter spesialis menunjukkan hasil CT scan.
"Apa!" ucap Abian panik dan cemas.
"Tenang Abian, biarkan dokter menjelaskan terlebih dahulu." Ucap dokter Arif menenangkan sahabatnya.
"Bagaimana cara menyembuhkan istri saya?" tanya Abian dengan perasaan marah, kesal stres dan sedih.
"Pembengkakan bisa di sembuhkan, dan berhubung ini masih baru dengan memberikan obat dan memberikan sayatan kecil di bagian kepala yang bengkak dapat mengurangi dan menghilangkan bengkak itu." Jelas dokter.
"Jadi maksud dokter istri saya di operasi?" tanya Abian dengan perasaan cemas.
"Iya, tapi ini operasi kecil bisa saja tidak di lakukan operasi tapi saya mengkhawatirkan efek samping di kemudian hari."
"Apa efek sampingnya dok?" tanya Abian.
__ADS_1
"Jika kita tidak memberikan sayatan kecil, pasien akan sering mengalami pusing, susahnya konsentrasi dan yang lebih parah hilangnya kesadaran." Jelas dokter.
Abian melihat temannya yang duduk di sebelahnya. Dia membutuhkan pendapat dokter Arif.
"Tenang, ini hanya sayatan kecil untuk mengurangi dan menghilangkan pembengkakan." Setelah cukup yakin akhirnya Abian setuju.
Tubuh Aneska di bawa ke ruang operasi. Abian menunggu bersama dokter Arif di depan ruang operasi.
Ponselnya dokter Arif berdering. Dia melihat ponselnya.
"Mami kamu." Ucap dokter Arif seraya menunjukkan ponselnya ke Abian.
"Katakan ke mami, aku di sini."
Dokter Arif menganggukkan kepalanya dan pergi ke ruang IGD.
Dokter Arif kaget, wajah Tanisa babak belur dan dari kepalanya mengalir darah. Dokter IGD mengarahkan hal yang sama dengan Aneska, di mana Tanisa akan melakukan serangkaian pemeriksaan salah satunya CT scan.
Tanisa mengalami nasib hampir sama dengan Aneska. Di mana dia tidak mengalami pembengkakan di kepala bagian dalam. Pembengkakan hanya di bagian luar, tapi Tanisa membutuhkan pendonor darah. Karena banyaknya darah keluar menyebabkan dia membutuhkan tambahan darah.
Golongan darah yang sesuai dengan darah Tanisa kosong. Nyonya Rona panik harus mencari ke mana.
"Apa ibu punya kerabat atau saudara? mungkin ibu bisa meminta mereka untuk mendonorkan darahnya." Ucap perawat.
"Baiklah nanti akan saya kabari jika sudah ada pendonor darah untuk anak saya." Ucap nyonya Rona seraya melihat anaknya yang terbaring di ruang perawatan.
"Hubungi Zidan." Titah oma. Nyonya Rona menghubungi Zidan dan mengatakan kejadian yang baru di alami keluarganya.
"Golongan darah saya tidak sama dengan Tanisa." Jawaban Zidan membuat nyonya Rona stres.
Dokter Arif ketika itu masuk dan melihat nyonya Rona menangis tidak tau harus melakukan apa.
"Kenapa oma?" tanya dokter Arif.
"Kami sedang mencari pendonor darah untuk Tanisa." Sahut oma.
"Apa golongan darah Tanisa?" tanya dokter Arif lagi.
"A." Timpal nyonya Rona.
__ADS_1
"Saya A." Ucap dokter Arif.
Nyonya Rona seperti baru menemukan malaikat penolong untuk anaknya. Dia langsung memeluk dokter Arif seperti memeluk anaknya sendiri.
Sikap dan perlakuan nyonya Rona membuat dokter Arif bingung dan heran, karena wanita paruh baya itu selalu bersikap dingin dengannya.
"Terima kasih Arif." Ucap nyonya Rona seraya mengelus pundak Arif. Pria itu menyunggingkan senyum yang tidak biasanya dilakukannya ketika berhadapan dengan wanita yang sangat sombong yaitu nyonya Rona.
Dokter Arif keluar dan langsung menghubungi pihak lab untuk mengambil darahnya. Di tempat lain tepatnya di depan ruang operasi Abian masih menunggu hasil operasi istrinya. Operasi berjalan singkat hanya dalam waktu tiga puluh menit dokter sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Bagaimana istri saya?" tanya Abian ketika melihat seorang dokter keluar dari ruang operasi.
"Operasi berjalan lancar sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruangan perawatan." Jelas dokter itu.
Abian terus memanjatkan syukur karena operasi istrinya berhasil. Tidak berapa lama dia melihat tubuh istrinya keluar dari ruang operasi. Aneska di letakkan di atas tempat tidur dan di dorong dua orang perawat menuju ruang perawatan.
Aneska dan Tanisa di letakkan di kamar yang berbeda tapi ruangan mereka bersebelahan.
"Berapa lama istri saya sadar?" tanya Abian.
"Sekitar satu jam lagi pak." Sahut perawat dan permisi keluar dari ruangan itu. Menyerahkan semua data pasien ke bagian ruang perawatan.
Tiara dan Tami sedang berada di ruangan perawat dan ketika mendapatkan status pasien baru mereka kaget karena ada nama Aneska di situ. Dan yang buat Tami kaget nama Tanisa juga ada di dalam status pasien baru.
"Sepertinya kita harus segera ke sana." Ucap Tami dan langsung berlari ke ruang perawatan tempat Aneska di rawat.
Tok tok tok Tami langsung membuka pintu ruangan dan dia langsung mendapati Abian di ruangan itu. Sebagai sahabat mereka cukup histeris ketika melihat Aneska mengalami banyak luka di tangan dan pipinya.
"Aneska kenapa tuan?" tanya Tami dengan mata berkaca-kaca.
"Aneska lompat dari dalam mobil." Sahut Abian pelan.
"Aneska hiks hiks." Kedua perawat itu langsung menangis dan memeluk temannya. Abian merasa bersalah, persahabatan istrinya telah di renggutnya ketika dia memaksa Aneska untuk menikah dengannya.
"Tuan, kenapa anda tidak menjaga Aneska dengan baik." Ucapan Tami seperti busur panah yang langsung menghujam jantungnya. Menurutnya dia tidak menjadi suami yang baik, selama menikah dengannya istrinya hampir meninggal dan ini untuk yang kedua kalinya.
Zidan baru tiba di rumah sakit dan dia langsung menuju kamar perawatan Tanisa. Sama halnya dengan dokter Arif, melihat wajah Tanisa, dia kaget.
Bersambung...
__ADS_1