Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 47


__ADS_3

"Selamat datang ada yang bisa di bantu." Ucap penjaga toko.


"Kami mau mencari cincin pernikahan." Jawab Abian.


"Silahkan, kami ada beberapa desain baru untuk pasangan yang mau mengikat janji suci." Ucap penjaga toko ramah.


"Kami bukan mau mengikat tapi sudah terikat." Abian memperjelas dengan menekan nadanya. Aneska langsung menarik tangan suaminya.


"Apa?" ucap Abian.


"Enggak usah di perjelas kali, lihat ekspresi embaknya bingung. Dia pasti mikir, udah nikah tapi kenapa baru cari cincin." Bisik Aneska.


"Maaf mbak calon suami saya memang suka begitu." Ucap Aneska gugup.


"Calon? aku calon kamu?" Abian melihat istrinya.


"Aduh, kamu itu susah amat di bawa kerja sama. Udah ikuti aku saja dan bilang iya." Bisik Aneska.


"Hai mbak, kalau boleh tau perhiasan di sini asli apa palsu?" ucap Aneska.


"Asli bu, kami bisa buktikan kalau perhiasan kami asli semua." Ucap penjaga toko.


Wanita itu menunjukkan cara mengecek berlian dengan pantulannya.


"Ibu lihat, pantulannya berwarna putih bahkan cenderung abu-abu, kalau warna pantulannya berwarna pelangi kemungkinan besar berlian mempunyai kualitas rendah atau palsu." Jelas penjaga toko.


"Berlian asli tidak mudah retak atau tergores, dan berlian yang asli tidak mengapung di air." Ucap penjaga toko.


Aneska dan Abian menganggukkan kepalanya mengerti.


"Jadi yang mana pilihan ibu dan bapak." Ucap penjaga toko.


Apa gue terlihat terlalu tua, sampai dia memanggilku ibu.


"Kamu mau yang mana?" ucap Abian.


"Hemmm, yang palsu aja." Ucap Aneska cepat.


"Apa!" penjaga toko dan Abian mengucapkan secara bersamaan.


Capek-capek menjelaskan minta yang palsu.


Penjaga toko menggerutu sambil tetap tersenyum. Walaupun hatinya jengkel tapi dia memberikan senyum terbaiknya kepada calon pembeli.


"Tidak usah dengarkan, tunjukkan kepada saya cincin berlian yang paling mahal." Ucap Abian.


"Baik pak." Penjaga toko mencari ke etalase yang lain. Aneska punya kesempatan memarahi suaminya.


"Jangan aneh deh, untuk apa beli yang mahal." Gerutu Aneska.


"Ya udah kamu pilih." Jawab Abian.


"Kalau aku enggak mau?" ucap Aneska.


"Kita bermalam di sini." Ucap Abian sambil duduk di sofa meninggalkan Aneska di depan etalase.


"Pak, ini berliannya." Ucap penjaga toko.


"Tunjukkan sama dia." Ucap Abian sambil melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Sebentar mbak." Aneska menghampiri Abian.


"Aku enggak mau milih, kita bertahan saja sampai malam di sini." Ucap Aneska menantang Abian. Aneska duduk di sebelah suaminya, dia mengikuti cara suaminya duduk tegak sambil melipatkan tangan di dada, salah satu kakinya di naikkan ke atas pahanya.


Penjaga toko bingung dengan calon pembelinya. Keduanya hanya duduk tanpa berkata-kata. Tiga puluh menit berlalu, Abian mulai bosan. Dia beranjak dari sofa dan berjalan menuju etalase kaca.


"Berapa harga cincin ini." Ucap Abian sambil menunjuk salah satu cincin yang ada dalam box kecil.


"Satu karatnya, seratus lima puluh juta. Karena beratnya sepuluh jadi totalnya satu milyar lima ratus juta." Jelas penjaga toko.


"Apa!" Aneska kaget langsung berlari menghampiri suaminya.


"Mbak jangan memeras suami saya ya." Ucap Aneska sewot. Abian senang dengan tingkah istrinya yang memproklamirkan sendiri hubungannya sama orang lain.


"Enggak bu, memang segitu harganya beda kalau emas. Kalau emas dengan jumlah segitu ibu bisa beli puluhan emas." Ucap penjaga toko.


"Kamu jawab dong jangan senyum-senyum sendiri, kayak orang stres aja." Gerutu Aneska sama suaminya.


"Udah bungkus yang itu. Eh bawa sini cincinnya." Ucap Abian sambil memasukkan cincin berlian ke tangan istrinya.


"Aku enggak mau." Aneska meletakkan tangannya di belakang badannya.


Abian menarik tangan istrinya. Tapi Aneska mengepalkan tangannya agar cincin itu tidak di masukkan ke jari tangannya. Penjaga toko yang lainnya bingung dengan tingkah pasangan itu.


"Kalau enggak mau, aku cium." Ancam Abian lagi. Dengan terpaksa Aneska membuka kepalan tangannya. Abian memasukkan cincin berlian itu ke jari manis istrinya.


"Kebesaran." Ucap Abian.


"Kami cari yang ukuran kecil pak." Ucap penjaga toko sibuk mencari model yang sama dengan ukuran lebih kecil.


"Kenapa jari kamu kecil sekali. Apa kamu enggak makan." Ucap Abian melihat jari jemari istrinya yang imut.


"Mau besar? besok aku ke tempat mak erot minta pijit jari supaya jariku jempol semua." Jawab Aneska.


"Berapa harganya?" timpal Aneska cepat.


"Yang ini satu milyar." Jawab penjaga toko.


"Busyet ada tidak yang harganya tidak pakai em eman atau ratusan, jutaan aja." Tanya Aneska.


"Ada." Ucap penjaga toko cepat.


"Mana?" tanya Aneska lagi.


"Itu." Penjaga menunjuk tempat duduk yang di duduki Aneska.


"Buahahah." Abian tak kuasa menahan gelak tawanya. Begitupun penjaga juga ikut tertawa.


Aneska manyun sambil memonyongkan bibirnya.


"Ya udah bawa sini cincin itu." Ucap Abian. Penjaga toko menyerahkan cincin ke tangan Abian, dia langsung memakaikan cincin itu ke tangan istrinya.


"Pas, dan cocok untuk jari kamu yang imut." Ucap Abian senang.


"Ini sempit aku susah membukanya." Ucap Aneska mencoba memutar cincin pemberian Abian.


"Bagus, jadi kamu tidak perlu melepasnya biarkan cincin itu melingkar di jari manis kamu." Abian membayar dengan kartunya. Mereka keluar dari toko sambil bergandengan tangan. Aneska terus memperhatikan jari manisnya.


"Mahal banget harga satu jariku." Gumam Aneska.

__ADS_1


"Kalau kamu mau ke sepuluh jari kamu bisa aku beri cincin berlian juga." Ucap Abian.


"Ogah, aku seperti toko berjalan kalau pakai semua." Ucap Aneska sambil melewati salah satu toko yang menjual alat-alat musik.


"Sebentar." Aneska menarik tangan Abian menuju toko tersebut. Di dalam beraneka ragam jenis alat musik di jual. Dari gitar, piano, drum dan lain sebagainya. Aneska melihat salah satu piano yang tidak terlalu besar, dan mengecek harganya. Sedangkan Abian melihat yang lain.


"Mahal banget, sampai ubanan enggak akan terkumpul duitku." Gerutu Aneska.


"Kamu mau piano?" Ucap Abian yang tiba-tiba ada di belakang Aneska.


"Eh enggak aku hanya lihat-lihat saja." Ucap Aneska.


"Ayo kita kelilingi mall ini." Ucap Aneska.


Setelah di luar toko, Aneska kebelet pipis.


"Aku mau ke toilet dulu." Ucap Aneska sambil berusaha melepaskan cincinnya.


"Kenapa dengan cincinnya." Tanya Abian bingung.


"Aku takut ada orang jahat yang mengincar ini." Ucap Aneska.


"Enggak ada, aku menunggumu di sini." Ucap Abian. Aneska memutar mata cincinnya, dia tidak mau cincinnya menjadi pusat perhatian semua orang. Setelah lima belas menit, Aneska keluar dari toilet tapi dia tidak menemukan Abian.


"Dia kemana?" gumam Aneska sambil celingak celinguk mencari keberadaan suaminya.


"Hayo kecarian ya?" Abian menepuk bahu istrinya dari belakang.


"Kamu mengagetkanku." Aneska memegang dadanya karena kaget.


"Ayo kita cari keperluan kamu." Ucap Abian menggenggam tangan istrinya.


"Keperluan apa maksud kamu?" Aneska bingung. Abian tidak menjawab, dia membawa Aneska ke salah satu butik terkenal yang ada di kota itu namanya Zira boutique.


"Selamat siang ada yang bisa di bantu." Ucap penjaga toko.


"Pilihkan beberapa pakaian untuk istri saya." Ucap Abian.


"Maaf kalau boleh tau pakaian seperti apa yang bapak cari." Tanya penjaga toko.


"Saya mau, istri saya sehari-harinya pakai dress." Ucap Abian.


"Oh baik, mari ikut kami." Ucap penjaga toko membawa ke rak yang memajangkan dress baik untuk acara formal maupun non formal.


"Mbak, Zira butik bukannya ada di jalan xxx." Tanya Aneska.


"Iya benar, di sana pusatnya." Jelas penjaga toko.


Abian teringat sesuatu tentang acara ultahnya.


"Bisa desainkan gaun untuk istri saya." Tanya Abian.


"Gaun? untuk apa?" bisik Aneska.


Abian tidak menjawab pertanyaan istrinya.


"Sepertinya tidak bisa pak, karena nona Zira baru melahirkan." Jelas penjaga.


"Tapi coba kamu tanyakan kepada beliau apa bersedia membuat gaun untuk istri saya. Berapapun akan saya bayar." Ucap Abian.

__ADS_1


"Baik pak, silahkan tinggalkan kartu nama atau nomor ponsel." Abian menyerahkan kartu namanya kepada penjaga toko.


Bersambung.


__ADS_2