Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 150


__ADS_3

🌷🌷🌷


Sebenarnya mau update tidak semangat, karena rangking vote novel ini turun drastis. Banyak yang minta lanjut tapi tidak vote, apalah daya author hanya manusia biasa, vote hanya bentuk apresiasi dari kalian. Jadi jika besok rangkingnya masih di bawah dua puluh besar mohon maaf saya istirahat sejenak. Harap memaklumi kesusahan para author.


🌷🌷🌷


Tanisa dan maminya datang dengan kehebohannya. Heels keduanya selalu menancap di tanah.


"Ini kampung apa enggak pernah di perhatikan pemerintah." Ujar nyonya Rona kesal karena harus mengangkat kakinya dengan sekuat tenaga agar heelsnya dapat lepas dari tanah.


"Duh mami sepatu mahalku rusak nih." Gerutu Tanisa.


"Kamu pikir mami enggak. Kalau tau jalannya jelek pasti mami pakai sepatu bot." Gerutu nyonya Rona.


Pak Mirza menghampiri besannya dan menawarkan bantuan. Tapi wanita paruh baya itu menolak.


Akhirnya perjuangan mereka selesai. Keduanya sampai di depan pintu rumah keluarga Aneska. Semua yang ada di ruang tamu melihat ke arah dua wanita yang mengenakan kaca mata hitam.


"Itu siapa lagi?" tanya Aldo dengan cara berbisik ke Tami.


"Yang tua, mertuanya Aneska dan yang satunya kakak iparnya." Jelas Tami tetap berbisik.


"Bodynya mantap Do." Bisik Dimas ke Aldo.


"Yang mana yang tua?" bisik Aldo lagi.


"Mata kamu katarak. Jelas yang satu lagi dong." Ujar Dimas lagi yang terdengar oleh dua sahabatnya lagi.


"Tadi bukannya kalian bilang enggak suka yang tua, sukanya daun muda." Sindir Tiara.


"Kalau yang body seperti ini kami enggak akan menolak tapi kalau body seperti kalian ogah, gitar bukan, biola bukan." Ujar Aldo.


"Lalu body kami seperti apa?" tanya Tami.


"Cangkir." Ucap kedua pria itu dengan gelak tawanya. Dan kedua sahabat itu mendapatkan pukulan dari Tami dan Tiara. Yang mana membuat Zidan cemburu.


Nyonya Rona masih berdiri bersama Tanisa. Tidak ada yang menyambut mereka. Hanya pak Mirza yang bersikap ramah. Sedangkan ibu Desi masih menyiapkan makan malam untuk semua keluarganya.


"Silahkan masuk nyonya." Ujar pak Mirza ramah. Dan hanya di sambut dengan tatapan datar dari wanita paruh baya itu.


"Maaf rumah kami kecil." Ujar pak Mirza.

__ADS_1


Bukan kecil saja tapi jelek.


Nyonya Rona bergumam dalam hati. Kedua wanita itu masuk tanpa melepaskan sepatu dan membuat semuanya langsung melongo.


"Dimana kami duduk?" tanya Tanisa.


"Itu di tikar." Sahut pak Mirza menunjuk ke arah tikar.


"Aduh mami, lantai istana saja lebih bagus dari ini." Ujar Tanisa yang dapat di dengar semua yang ada di dalam ruang tamu.


"Do untuk kamu aja, aku enggak mau, lantai rumahku juga jelek mana mau dia samaku." Bisik Dimas.


"Ah aku enggak mau, cantik tapi sombong mending sama gadis belia aja lah." Tami dan Tiara langsung berbisik.


"Makanya jangan lihat dari casingnya walaupun bodinya seperti gitar tapi tidak menjamin hatinya ori." Ujar Tami.


"Saya akan ambilkan kursi." Pak Mirza mau mengambil kursi tapi Abian melarang.


"Pak tidak usah, biarkan mereka duduk di bawah bersama kami." Ucapan Abian membuat pak Mirza tidak jadi mengambil kursi.


"Mami bagaimana?" tanya Tanisa berbisik.


"Tapi aku jijik duduk di bawah." Gerutu Tanisa pelan.


"Kamu pikir mami enggak jijik, nanti baju ini kita buang mama yakin kumannya masih lengket walaupun sudah di cuci berulang kali." Jelas maminya.


Akhirnya dua wanita itu duduk dengan tetap memakai sepatu yang penuh tanah di tapak dah heels sepatu mereka.


Tidak perduli dengan semua tatapan yang mengarah ke arah mereka. Bu Desi datang bersama beberapa ibu-ibu dengan membawa hidangan untuk makan malam keluarganya.


Ketika melihat musuhnya datang dia kaget. "Wow ada penampakan di sini." Ujar ibu Desi lucu dan melirik ke arah besannya. Untuk yang lain mengerti maksud ucapan ibu Desi hanya tim perawat yang kurang mengerti kecuali Tami yang telah paham dengan ceritanya.


Semuanya berkumpul mengelilingi makanan yang telah terhidang di depan mereka. Dua wanita itu tidak sudi jika makan dari tangan yang tidak jelas kebersihannya.


Walaupun benci dengan besannya tapi bu Desi masih berbaik hati menawarkan makanan untuk besannya.


"Hai besan, apa kamu tidak lapar? di sini tidak ada restoran jadi lebih baik makan." Ujar bu Desi menawarkan makanan ke besannya.


"Aku tidak makan sembarangan apalagi kebersihannya tidak jelas." Sahut nyonya Rona.


"Anda benar sekali, makanan ini kami fermentasi selama beberapa jam dengan kotorannya agar rasanya nikmat." Jelas ibu Desi asal. Ucapan ibu Desi membuat semuanya tidak berani makan makanan itu.

__ADS_1


"Hei kalian kenapa? percaya saja dengan ucapan ibu, udah makan kalau mereka tidak mau makan biarkan." Semuanya tetap makan dan sesekali melihat nyonya Rona dan Tanisa.


Abian mengambil dua piring dan meletakkan nasi dan lauk di dalam piring tersebut dan meletakkan di depan mami dan kakaknya.


"Jika kalian tidak mau makan silahkan keluar dan pulang." Abian memberikan ultimatum untuk keduanya dan ultimatum itu membuat nyonya Rona dan Tanisa takut.


Tim perawat mulai mengerti jika hubungan antara ibu dan anak itu tidak baik.


Karena takut keduanya akhirnya makan. Ada rasa jijik ketika melihat piring kaca berwarna putih. Dan piring itu di dapat dari hadiah beli detergen. Beda dengan peralatan makan di istana yang mewah.


"Jangan sungkan, kalau kurang masih banyak di dapur." Ujar pak Mirza ramah.


Keduanya makan makanan kampung awalnya merasa jijik tapi ketika telah sampai di lidah rasanya sangat lezat. Keduanya dapat menghabiskan makanan itu dengan licin. Bu Desi ingin tertawa tapi dia masih berpikir waras untuk tidak merusak acara resepsi anaknya.


Tiara dan Tami ambil bagian untuk membawa piring kotor bersama dengan Cyra dan Ila. Karena malam sudah semakin larut semua keluarga berniat untuk istirahat segera.


"Kamar mandi ada di belakang, untuk oma, Ila, dan kalian." Ujar ibu Desi seraya menunjuk ke arah dua wanita itu yaitu nyonya Rona dan Tanisa.


"Kalian bisa tidur di kamar Cyra. Dan untuk yang lain tidur di ruang tamu." Jelas ibu Desi.


Semua mengantri untuk masuk ke kamar mandi. Begitupun Zidan dan dokter Arif ikut mengantri hanya Tanisa dan nyonya Rona masih duduk di tempatnya.


Zidan merasa senang karena dia dapat menikmati wajah Tiara ketika tidur. Setelah selesai dengan bersih-bersih, Tami dan Tiara mengambil posisi untuk tidur begitupun dengan Aldo dan Dimas sudah mengambil posisi di sebelah temannya.


"Hei cowok sebelah sana." Usir Tiara.


"Enggak ah, mana mungkin kami gabung dengan pawang, kalau aku mengigau terus peluk pawang habis kami nanti. Tapi kalau peluk kalian bolehlah." Ujar Aldo.


"Katanya tua, tapi mau peluk juga udah sana jangan di sini." Usir Tiara lagi dan percakapan itu di dengar Zidan.


Nyonya Rona dan Tanisa di ajak ke kamar Cyra. Keduanya langsung melotot ketika melihat kamar yang sangat kecil dan ada dua tempat tidur single di dalam. Yang mana punya Aneska lama dan Cyra.


"Duh mami tidur di mana." Gerutu Tanisa yang sedang mengipasi wajahnya pakai tangannya.


"Udah jangan berisik oma ngantuk." Oma mulai berbaring bersama Ila. Dan dua wanita itu membayangkan kasur mereka yang empuk di istana. Dan suhu ruangan yang bisa di atur sesuka mereka. Tapi sekarang mereka harus tidur seperti di dalam pemanggang.


Bersambung...


🌷🌷🌷


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014

__ADS_1


__ADS_2