Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 73


__ADS_3

Abian langsung kembali ke mobilnya, dia tidak menghiraukan ponselnya lagi.


Dia menyusuri jalan raya dan mencari taksi yang platnya sesuai yang di sebutkan sekuriti.


"Aneska kamu di mana." Gumam Abian cemas sambil melihat semua taksi yang lalu lalang di depannya.


Abian menekan pedal gas dengan kecepatan penuh. Pikirannya membayangkan wajah istrinya yang kelelahan karena menunggunya.


Dia menyalip beberapa mobil yang ada di depannya. Mobil terus melaju di jalan raya, dia memperhatikan dua kendaraan di depannya salah satunya taksi. Abian mencari kesempatan untuk menyalip mobil yang ada depannya. Ketika ada kesempatan, dia berhasil menyalip mobil tersebut. Posisi mobilnya ada di belakang taksi. Dia memperhatikan nomor plat taksi tersebut.


"Itu pasti Aneska." Gumam Abian sambil menekan klakson mobil.


Tin tin tin.


"Orang kaya sekarang memang enggak mau mengalah. Kalau mau menyalip silahkan." Gerutu supir taksi sambil memberikan kesempatan untuk mobil di belakangnya.


Aneska tidak menghiraukan ucapan supir taksi. Dia memilih untuk menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.


Mobil Abian sekarang berada di depan taksi. Dia kembali menekan klakson.


Tin tin tin.


"Ini orang kaya memang ngajak ribut, udah di kasih kesempatan untuk menyalip malah menekan klakson lagi, padahal di depannya kosong." Gerutu supir taksi.


Abian memperlambat laju mobilnya. Beberapa mobil yang berada di belakang taksi menyalip mobilnya dan taksi.


Abian melajukan mobilnya dengan kencang, dia tau harus menunggu di mana.


"Akhirnya orang kaya itu pergi." Gumam supir taksi.


Taksi memasuki kawasan yang sepi dari kendaraan. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan itu.


"Mbak yakin rumahnya masuk sini." Tanya supir taksi.


"Iya pak ikuti aja jalan ini, setelah itu belok kanan." Jelas Aneska.


Taksi sudah berada di ujung jalan dan membelokkan mobilnya ke kanan.


"Mbak ini hutan." Ucap supir taksi seram. Dari jauh ada mobil yang melintang dengan sorot lampu masih menyala.


"Apa lagi ini." Ucap supir taksi takut. Karena ada seorang pria sedang bersandar di mobil sambil merokok


"Mbak jangan turun, sepertinya kita mau di rampok." Ucap supir taksi mengingatkan.


"Apa!" Aneska melihat sorot lampu dari mobil yang melintang itu. Supir taksi memberhentikan mobilnya tidak jauh dari mobil Abian.


Abian melangkahkan kakinya dan mengetuk kaca mobil sambil tetap merokok.


Supir taksi mencari sesuatu untuk melindungi dirinya dan penumpangnya. Supir taksi tidak mau membuka kaca mobilnya.


"Abian." Ucap Aneska pelan sambil keluar dari taksi.


"Mbak jangan keluar." Teriak supir taksi.


Abian melihat istrinya keluar dari mobil dan menghampirinya.


"Aneska sayang." Ucap Abian ingin memeluk istrinya.


"Jangan peluk aku." Ucap Aneska mundur. Aneska dan Abian berdebat, supir taksi hanya melongo dan bingung.

__ADS_1


"Apa mbak itu sedang bernegosiasi." Gumam supir taksi.


"Maafkan aku sayang. Aku mengkhawatirkan kamu." Ucap Abian sambil mendekati istrinya.


"Menjauh dariku. Aku lagi marah sama kamu." Ucap Aneska sambil naik ke taksi kembali.


Abian menarik pinggang istrinya.


"Pulang sama aku." Ucap Abian sambil membawa istrinya ke mobilnya. Melihat seperti itu supir taksi merasa geram. Dia turun dari mobilnya.


"Hei lepaskan dia." Teriak supir taksi.


Abian dan Aneska melihat ke arah supir tersebut.


"Kalau kamu mau membawa mbak itu lawan aku dulu." Ucap supir taksi lantang.


"Dia kenapa?" ucap Abian bingung sambil melihat ke arah Aneska.


"Abian lepaskan aku." Ucap Aneska.


"Kamu lebih memilih supir taksi itu dari aku." Ucap Abian.


"Kamu ngomong apa sih!" gerutu Aneska sambil berusaha melepaskan badannya dari tangan suaminya.


"Lepaskan dia." Ucap supir taksi.


"Abian lepas, aku mau bayar ongkos taksiku." Ucap Aneska sambil mengambil dompet di dalam tasnya.


"Oh gitu." Abian mendatangi supir taksi itu dan memegang saku celana bagian belakang.


"Ampun pak, jangan tembak saya. Saya hanya ingin mengantarkan mbak ini pulang." Ucap supir taksi sambil bersujud di depan Abian.


"Berdiri." Ucap Abian.


Supir taksi berdiri sambil menutup matanya, dia merasa ketakutan.


"Tunjukkan telapak tangan kamu." Ucap Abian.


Supir taksi menunjukkan telapak tangannya di hadapan Abian, tangannya gemetaran.


"Ini ongkos karena telah mengantarkan istriku." Ucap Abian sambil menyerahkan satu gepok uang ke telapak tangan supir itu.


Supir itu membuka matanya secara perlahan.


"Uang." Pria itu bingung.


"Kenapa? kurang?" Abian menyerahkan satu gepok lagi ke tangan pria itu.


"Itu untuk jasa kamu karena mau mengorbankan nyawa untuk istriku." Ucap Abian lagi.


Aneska merasa terharu karena suaminya sangat memperhatikannya.


"Istri?" supir taksi bingung.


"Iya dia istriku." Ucap Abian sambil memeluk pinggang istrinya.


"Terima kasih pak." Ucap supir taksi karena baru mendapatkan rezeki nomplok.


"Iya sana balik." Ucap Abian.

__ADS_1


Pria itu kembali ke taksinya. Abian membawa istrinya ke dalam mobilnya.


"Masalah kita belum selesai." Ucap Aneska.


"Ok, kita bicarakan lagi nanti." Ucap Abian sambil melajukan mobilnya.


Hanya lima belas menit mereka sudah sampai di istana. Aneska langsung berlari masuk ke dalam istana.


"Ya ampun jam sembilan." Gerutu Aneska.


Dia menghubungi koki istana. Abian melihat istrinya sedang memesan makan malam untuk mereka berdua.


Setelah selesai Abian menarik tangan istrinya. Dan memeluk erat istrinya.


"Abian lepaskan, aku bau rumah sakit." Ucap Aneska sambil melepaskan pelukan suaminya.


"Apa kamu masih marah." Tanya Abian.


"Iya aku masih marah sama kamu, aku sudah menunggumu di rumah sakit hampir satu jam terus di kantor kamu juga. Di hubungi tidak di jawab. Mau kamu apa sih? mau balas dendam!" ucap Aneska marah.


"Kamu kalau marah tambah cantik." Ucap Abian sambil berusaha mencium istrinya.


"Abian, sekarang bukan saatnya merayu."


"Ok, akan aku jelaskan. Tadi sore aku ada meeting mendadak. Setelah meeting aku langsung keluar dan menjemputmu. Tapi aku melupakan ponselku yang ada di kantor." Jelas Abian.


"Alasan! kenapa tidak kirim pesan kalau kamu terlambat, tadi pagi saja aku buat pesan untuk kamu." Ucap Aneska jutek.


"Bagaimana mau kirim pesan, ponselku ada di dalam ruangan." Jelas Abian.


"Ah sudahlah, aku mau mandi." Ucap Aneska sambil melepaskan tangan suaminya dari badannya.


"Sebagai penebus salahku, aku siap memandikanmu." Ucap Abian genit.


"Hahaha, terima kasih suamiku. Aku bisa mandi sendiri. Tapi kalau mau lihat darah boleh." Ucap. Aneska mengingatkan suaminya.


"Kalau begitu tidak jadi." Abian melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya.


Aneska membersihkan tubuhnya yang sangat lengket. Mereka mandi secara bergantian.


Koki telah mengantarkan makan malam ke kamar mereka. Abian dan Aneska menikmati makan malamnya dengan lahap. Karena memang mereka sangat lapar.


Pintu kamar di ketuk Aneska buru-buru membuka kamarnya.


"Oma?"


"Oh Aneska, oma pikir kamu kabur." Ucap oma sambil memeluk Aneska.


"Kabur?" Aneska bingung.


"Iya, tadi pagi kamu tidak sarapan sama kami, siang juga malam pun begitu." Ucap oma khawatir.


Aneska menarik tangan oma Zulfa agar masuk ke dalam kamarnya.


"Oma, ngapain malam-malam di sini? jangan bilang oma mau tidur sama kami." Goda Abian.


"Cucu sialan, oma itu mengkhawatirkan Aneska, oma pikir dia hilang." Ucap oma.


"Tenang oma, tadi pagi dia kabur tapi aku sudah berhasil menemukannya. Dan kuharap dia tidak mengulanginya lagi." Sindir Abian.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2