Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 69


__ADS_3

"Hahaha, kamu bercandanya mengagetkanku." Ucap Aneska sambil mencubit kedua pipi suaminya.


Abian memegang tangan Aneska sambil menatap wajah istrinya.


"Apa wajahku terlihat seperti bercanda." Tanya Abian.


"Hehehe." Aneska tersenyum kaku sambil melihat ke arah temannya.


"Kalau tidak mau ya sudah." Abian kembali terlihat sibuk dengan laptopnya.


Aneska mendatangi temannya yang duduk di sofa.


"Mbak sudah malam, besok kita berangkat pagi." Aneska menarik tangan temannya agar segera keluar dari kamarnya.


"Tapi kamu belum mencium tuan Abian." Ucap Tami.


Abian mendengarkan percakapan istrinya dengan Tami, dia hanya tersenyum simpul.


"Aduh mbak, enggak usah di dengar syarat darinya. Nanti kebiasaan sedikit-sedikit pakai syarat udah gitu syaratnya selalu melibatkan aku." Gerutu Aneska.


"Ayo Nes bantu mbak Tami, please." Tami mengatupkan kedua tangannya di hadapan Aneska, melihat seperti itu dia tidak sampai hati dengan sahabatnya itu.


"Aduh gimana nih." Aneska mondar mandir sambil melihat tajam ke arah suaminya.


Aneska kembali menghampiri suaminya.


"Suamiku, seandainya aku hanya mengecup saja bagaimana." Tanya Aneska.


"Heemmm, boleh tapi dia hanya seminggu di mes setelah itu balik ke sini lagi." Jawab Abian.


"Apa!" Aneska menggerutu marah. Dia kembali mendatangi Tami.


"Mbak, sepertinya aku tidak bisa." Ucap Aneska.


"Kenapa Nes?" Tami bingung.


"Pokoknya enggak bisa." Aneska malu jika mencium suaminya di saksikan temannya.


"Ayolah Nes." Rayu Tami lagi.


"Aduh mbak, suamiku itu kalau ciuman pakai gaya tarik tambang." Ucap Aneska keceplosan.


"Ye ketahuan, kamu sudah sering melakukannya. Ayo Nes, anggap aja mbak batu yang tidak mengerti sama sekali." Ucap Tami lagi.


"Nanti kalau mbak pingin gimana." Tanya Aneska.


Tami menggaruk kepalanya, dia juga bingung harus menyalurkan ke siapa.


"Nah bingung kan."


"Hemmm tenang Nes, mbak bisa menahannya." Ucap Tami asal.


Aneska masih menimbang ucapan temannya antara memenuhi persyaratan suaminya atau tidak. Tapi melihat wajah temannya dia kasihan, jadi dia memikirkan cara agar temannya tidak ngences.


Aneska ke ruang ganti mengambil sesuatu dari dalam tasnya kemudian dia menyerahkan kepada Tami.


"Permen? untuk apa permen ini." Tanya Tami bingung.

__ADS_1


"Biar enggak ngences, atau anggap saja permen itu mulut suami mbak." Ucap Aneska berjalan menghampiri suaminya kemudian balik lagi mendekati Tami.


"Mbak tahan nafas ya."


"Mati dong." Jawab Tami.


"Udah ikuti saja, oh iya jangan bilang sama siapapun tentang kejadian ini." Ucap Aneska lagi.


"Ok, rahasia kamu aman sama mbak."


Aneska mendatangi suaminya.


"Suamiku." Ucap Aneska pelan sambil melirik ke Tami.


"Heemm." Abian fokus dengan laptopnya.


"Aku aku mau mencium kamu." Ucap Aneska pelan.


"Apa?" Abian pura-pura tidak mendengar perkataan istrinya.


"Aku mau mencium kamu!" teriak Aneska.


Abian menutup telinganya karena suara istrinya terlalu nyaring di telinganya.


"Duduk di sini." Abian menepuk pahanya.


"Apa!" Aneska membelalakkan matanya sambil melihat ke arah Tami. Temannya langsung mengatupkan kedua tangannya. Aneska menghembuskan nafasnya, dia duduk di paha suaminya di saksikan temannya.


Tami langsung menelan salivanya dengan kasar, jantungnya berdetak kencang sama halnya dengan Aneska jantungnya juga tak tentu iramanya.


Abian memeluk pinggang istrinya.


"Ya sudah kamu mau pakai gaya apa." Tanya Abian.


"Gaya batu." Ucap Aneska cepat.


"Iya terserah." Aneska terihat ragu mau mencium suaminya. Dia menutup matanya dan mendekatkan bibirnya ke arah suaminya.


"Hahaha, mulut kamu seperti ikan koi." Ejek Abian.


"Ah kamu." Rengek Aneska.


"Tami, mulai besok kamu bisa kembali ke mes." Ucap Abian.


"Terima kasih tuan." Tami senang.


Abian menggerakkan tangannya, agar Tami keluar dari kamarnya. Aneska masih bengong, dia ingin beranjak dari paha suaminya tapi tangan suaminya masih memeluk pinggangnya.


"Tapi syaratnya?" Aneska bingung.


"Hahaha, itu hanya tes untuk kamu." Abian tertawa.


"Apa tes!" Aneska marah dan memukuli suaminya.


"Hahahaah, aku mengetes seberapa sayang kamu sama temanmu. Ternyata kamu mau melakukannya demi Tami. Padahal aku tau kamu pasti malu melakukannya." Ucap Abian dengan gelak tawanya.


Aneska ngambek dan hendak beranjak dari paha suaminya, tapi Abian sudah mencium bibirnya dengan lembut. Tidak ada perlawanan dari Aneska. Dia membalas ciuman suaminya. Ciuman itu cukup lama dan dalam. Sampai Aneska sendiri yang menyudahi.

__ADS_1


Abian membopong tubuh istrinya dan meletakkan di atas kasur.


"I love you." Abian membenamkan kepala istrinya di dadanya.


"Untuk seminggu ini kita istirahat tapi setelah itu kita lanjutkan pergumulan kita." Ucap Abian.


Pipi Aneska langsung merona merah. Tentang hubungan suami istri masih malu jika di bicarakan antara dia dan suaminya.


"Sebagai gantinya kita akan tidur sepanjang malam seperti ini."Jelas Abian.


"Iya." Jawab Aneska singkat. Tangan Abian memegang dada istrinya. Aneska buru-buru memindahkan tangan suaminya.


"Ssttt diam." Ucap Abian tegas sambil tetap meletakan tangannya di dada Aneska.


"Tapi."


"Udah diam aja, tangan suamimu ini memang tidak bisa nganggur." Ucap Abian sambil berpegangan pada dada istrinya. Aneska tidak membantah walaupun dia menolak pasti suaminya akan terus melakukannya.


Hari semakin larut Aneska sudah tertidur pulas di dada bidang suaminya. Berada di dekat suaminya membuatnya tenang dan nyaman. Entah ada daya tarik apa dari diri Abian tapi yang jelas Aneska sangat tentram dan selalu ingin dekat dengan suaminya sama halnya dengan Abian, dia merasa hal yang sama.


***


Alarm di ponsel berdering. Aneska buru-buru meraih ponselnya dan menonaktifkan alarmnya.


Dia mengangkat tubuh secara perlahan dari dada suaminya. Setelah itu langsung berlari ke kamar mandi. Aneska membersihkan tubuhnya secara cepat setelah itu langsung memakai pakaian seragamnya. Waktu masih menunjukkan jam enam pagi. Aneska merasa tidak tega jika membangunkan suaminya.


Dia mengambil kertas dan menulis pesan untuk suaminya dan meletakkan di atas nakas dekat ponsel suaminya.


Aneska memegang handle pintu sambil melihat suaminya. Dia kembali mendekati kasur, dan mengecup dahi suaminya.


Karena di meja makan belum ada makanan Aneska menuju dapur.


"Nona apa yang anda lakukan di sini." Tanya salah satu koki.


"Saya mau berangkat kerja, bisa berikan saya sarapan." Jawab Aneska.


"Bisa, kebetulan pagi ini kami masak nasi ayam hainan." Ucap koki.


Aneska menganggukkan kepalanya.


"Nona lebih baik anda duduk di ruang makan, tidak baik kalau nona duduk di sini." Ucap koki.


"Saya mau cepat pak, ambilkan saja satu porsi untuk saya tidak perlu di hidang." Ucap Aneska.


"Baik nona." Koki menyiapkan seporsi nasi ayam hainan untuk Aneska. Dia langsung melahapnya dengan cepat.


"Makasih pak." Ucap Aneska ramah dan berlalu meninggalkan dapur.


Aneska menghubungi ponsel Tami.


"Mbak aku tunggu di depan ya." Ucap Aneska setelah itu panggilan tertutup.


Aneska meminta supir untuk mengantarkan mereka. Mobil sudah meninggalkan istana.


"Mbak udah sarapan belum." Tanya Aneska.


"Belum Nes, jam makan untuk kami jam tujuh." Jawab Tami.

__ADS_1


Bersambung.


Untuk MKA season tiga akan segera rilis ya.


__ADS_2