Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 79


__ADS_3

Nyonya Rona dan Anggela berjalan menuju ruang kerja.


"Anggela nanti usahakan dekatin Abian." Bisik nyonya Rona.


"Baik tante." Jawab Anggela.


"Buat dia jatuh hati sama kamu. Kalau perlu peluk dia." Ucap nyonya Rona.


"Peluk?" Anggela bingung.


"Iya peluk, wanita itu awalnya juga memeluk Abian, dari pelukan itu Abian langsung suka sama perawat itu." Ucap nyonya Rona.


"Ok akan aku lakukan." Ucap Anggela.


Di ruang makan.


Oma Zulfa langsung mendekati Aneska.


"Aneska, susul Abian ke ruang kerja." Ucap oma.


"Kenapa oma? Abian masih sibuk di sana, aku khawatir nanti dia terganggu dengan kehadiranku." Ucap Aneska.


"Aduh Aneska, udah buruan ke ruang kerja sekarang, apa kamu mau Abian di ambil wanita itu." Ucap oma.


"Iya kak, buruan susul kak Abian." Timpal Ila.


Aneska hanya tersenyum sambil memikirkan ucapan oma dan adik iparnya, lama-lama perasannya jadi tidak tenang. Aneska beranjak dari kursi makan menuju ruang keluarga.


"Bagus Aneska." Ucap oma menyemangati.


Di ruang kerja.


Abian duduk di kursi kerjanya sambil membelakangi Zidan yang masih berdiri di depan meja kerja. Karena kursi kerja yang sangat besar tubuh Abian tidak terlihat dari belakang.


Nyonya Rona langsung masuk beserta Anggela. Zidan menoleh ke belakang.


"Abian, aku sepupu Farid senang bertemu dengan kamu." Anggela menyalami Zidan lalu memeluk pria itu.


"Anggela." Bisik nyonya Rona.


Wanita itu tidak mendengar bisikan nyonya Rona. Dia masih sibuk memeluk Zidan.


"Nona maaf." Ucap Zidan bingung.


"Zidan segera luncurkan produk baru kita?" ucap Abian sambil memutar kursi kerjanya.


Abian mengerutkan dahinya melihat ada wanita yang memeluk Zidan. Wanita itu kaget karena ada satu pria lagi di depannya. Anggela buru-buru melepaskan pelukannya malu karena salah orang.


"Zidan dia siapa?" tanya Abian sambil menunjuk dengan penanya.


Zidan mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau.


"Dia sepupu Farid." Timpal nyonya Rona.


"Hai Abian, kenalkan nama aku Anggela." Anggela mengulurkan tangannya di hadapan Abian. Tapi Abian hanya melihat tangan wanita itu tanpa mau menyambutnya.


Anggela malu dengan sikapnya. Dia menarik kembali tangannya.


"Abian, Anggela baru tiba dari luar kota, dia datang ke sini mau menjenguk Farid, izinkan Anggela menginap beberapa hari di sini." Ucap nyonya Rona.

__ADS_1


Di luar ruang kerja, Aneska mencoba menguping pembicaraan mertuanya.


"Istana ini bukan hotel." Ucap Abian tanpa melihat ke arah Anggela. Dia sibuk dengan berkas yang di bawa Zidan.


"Abian jangan seperti itu, dia ini masih saudara kita."


"Mungkin saudara mami tapi bukan aku." Jawab Abian ketus.


Anggela dan nyonya Rona langsung menelan salivanya. Ucapan Abian membuat keduanya tidak bisa berkata-kata.


Pintu ruangan di ketuk.


"Permisi?" ucap Aneska sambil memasukkan sebagian kepalanya ke dalam ruang kerja. Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu.


"Sayang ke sini." Ucap Abian melambaikan tangannya ke arah istrinya. Aneska masuk ke dalam ruangan itu dan berdiri di samping suaminya.


"Duduk sini." Ucap Abian sambil menepuk pahanya. Tanpa ragu Aneska langsung duduk di pangkuan suaminya. Zidan langsung memalingkan wajahnya. Begitupun dengan Anggela hanya nyonya Rona yang melihat kemesraan itu dengan tatapan marah dan benci.


"Pilihkan salah satu nama yang cocok untuk produk terbaru kami." Ucap Abian menunjukkan beberapa nama ke hadapan istrinya.


"Ini untuk produk apa." Tanya Aneska.


"Ini produk kosmetik terbaru kami." Jawab Abian.


"Hemmm, ini bagus lorekal." Ucap Aneska.


"Ok Zidan, fix ya lorekal." Ucap Abian.


"Baik tuan." Zidan mengambil file yang ada di atas meja sambil diam-diam melirik Aneska.


"Kenapa kamu kesini." Tanya Abian.


"Ayo kita makan, tapi cium aku dulu." Ucap Abian sambil menunjuk bibirnya.


Tanpa ragu Aneska mengecup bibir suaminya di hadapan mertuanya, Anggela dan Zidan. Semua yang ada di ruangan itu langsung memalingkan wajahnya.


"Ayo." Ajak Aneska.


"Abian bagaimana dengan Anggela." Tanya nyonya Rona sambil mengikuti langkah anaknya.


"Cari tempat tinggal lain jangan di sini." Ucap Abian ketus sambil menggandeng istrinya keluar dari ruang kerjanya.


Bagaimanapun Anggela harus tinggal di sini.


Nyonya Rona melihat Zidan yang sibuk dengan filenya.


"Zidan." Ucap nyonya Rona.


"Iya nyonya." Ucap Zidan.


"Bisa kamu rayu Abian, agar mengizinkan Anggela tinggal beberapa hari di sini." Ucap nyonya Rona.


"Saya? oh tidak nyonya. Tuan Abian tidak mungkin mau mendengar ucapan saya." Ucap Zidan menolak.


"Tapi kamu belum mencobanya." Ucap nyonya Rona.


Zidan menghela nafasnya.


"Baiklah akan saya coba, tapi jika tidak di izinkan saya angkat tangan." Ucap Zidan.

__ADS_1


Nyonya Rona menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Abian dan Aneska sudah berada di meja makan. Di meja makan sudah ada Tanisa, Farid, oma dan Ila. Mereka sudah mulai makan siang.


"Kamu mau makan apa?" tanya Aneska.


"Aku mau makan satu piring sama kamu." Ucapan Abian di dengar semua orang yang ada di meja makan. Dia sengaja mempertontonkan kemesraannya di depan keluarganya.


Nyonya Rona, Anggela dan Zidan menyusul ke meja makan. Wanita paruh baya itu memerintahkan Anggela duduk di sebelah kiri Abian.


"Siapa yang memerintahkan mami untuk mengatur tempat duduk untuknya." Tanya Abian ketus.


Anggela tidak jadi duduk, dia kembali berdiri.


"Tuan izinkan nona ini untuk tinggal beberapa hari di sini." Ucap Zidan.


Abian menoleh ke arah Zidan dengan mimik wajah bingung. Dia mencoba mengaitkan peristiwa di dalam ruang kerjanya.


"Apa permintaan kamu ini ada kaitannya tentang pelukan kamu dan dia." Ucap Abian.


Farid kaget tanpa sengaja dia menjatuhkan sendoknya. Semua orang menoleh ke arahnya.


"Maaf." Ucap Farid mengambil sendoknya yang jatuh dan mengganti dengan yang baru.


Tanisa terus memperhatikan sikap suaminya. Dia menaruh curiga atas sikap suaminya yang tiba-tiba kaget.


"Tidak tuan." Ucap Zidan membantah.


"Kalau ada kaitannya aku izinkan." Ucap Abian.


Nyonya Rona langsung memberi kode ke Zidan, untuk mengiyakan ucapan Abian.


"Iya tuan." Ucap Zidan cepat.


"Baiklah karena itu alasanmu aku izinkan. Mana tau kamu berjodoh dengannya." Ucap Abian sengaja agar Zidan melupakan Aneska.


Lagi-lagi Farid membuat ulah. Dia langsung tersedak.


"Farid! mami perhatikan dari tadi kamu bersikap aneh. Tanisa bawa suami kamu ke kamar, biarkan dia istirahat." Ucap nyonya Rona.


"Tidak usah mi, aku mau makan di sini." Ucap Farid sambil melirik Anggela.


"Ingat Zidan, izin yang aku berikan bukan tanpa alasan. Kalau sampai dia, melakukan kesalahan kamu akan menanggung akibatnya." Ucap Abian tegas.


"Saya!" Zidan bingung.


"Apa maksud kamu dengan melakukan kesalahan." Tanya nyonya Rona.


"Tidak ada yang boleh menyentuh tubuh istriku, sekecil apapun tidak aku izinkan!" ucap Abian tegas.


"Iya Abian, Anggela tidak akan menyentuh Aneska, iya kan Anggela." Ucap nyonya Rona sambil melihat ke arah Anggela.


"Iya tante." Jawab Anggela gugup.


"Semuanya!" bentak Abian.


"Baik Abian." Ucap semua orang yang ada di meja makan secara bersamaan hanya IIa dan oma yang tidak menjawab ucapan Abian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2