
"Aw." Ucap Aneska meringis sambil memegang kepala belakangnya.
Abian sudah masuk ke dalam kamar perawat itu, dia melihat Aneska sudah terduduk dan meringis sambil memegang kepalanya.
"Kamu enggak apa-apa." Tanya Abian.
"Apanya yang enggak apa-apa. Kepalaku sakit tau." Jawab Aneska ketus.
"Mari aku bantu." Abian mencoba memegang tangan perawat itu untuk membantu agar bisa bangun dan pindah ke tempat tidur.
"Jangan sentuh, aku tidak sudi di sentuh pria seperti kamu." Ucap Aneska ketus sambil berusaha bangun sendiri.
"Aku kan sudah ngomong baik-baik mau mengantarkan makan malam samamu. Tapi kamu sendiri yang menolak jadi bukan salahku kalau aku mendorong pintu kamar. Tinggal bilang terima kasih susah banget, makan ini." Ucap Abian ketus.
"Aku enggak mau makan dari tanganmu, bisa saja itu ada jampi-jampi pengikat, iya kan?" Ucap Aneska ketus.
"Hahaha, benar sekali. Aku selama berada di dalam kamar menguasai jampi-jampi pengasih." Ucap Abian.
"Memang bisa bertapa di dalam kamar?" Ucap Aneska penasaran.
"Bisalah, ayo makan." Perintah Abian.
"Setelah kamu berkata jujur ada jampi di dalam piring ini masih berani menyuruh aku makan? sorry lebih baik aku kelaparan dari pada terpikat dengan pria brengsek sepertimu." Ucap Aneska ketus.
"Cepat makan, aku tidak mau kamu mati kelaparan. Kalau kamu mati rencanaku bisa gagal." Ucap Abian.
"Bawa kembali piringmu ini, aku tidak akan memakannya." Jawab Aneska lagi.
Abian tidak putus asa, dia malah membaringkan kepalanya di atas paha Aneska, spontan gadis itu langsung berdiri.
"Jangan macam-macam kamu." Ucap Aneska sambil mencari sesuatu untuk melindungi dirinya. Aneska hanya menemukan sisir, dia memegang sisir itu dengan kedua tangannya.
"Sisir itu senjata kamu? hahaha, cari senjata yang lebih seram." Ucap Abian sambil tertawa.
Aneska meletakan sisirnya, dia mengambil botol parfumnya.
"Cepat keluar, kalau tidak akan aku semprot mata kamu pakai ini." Ucap Aneska marah.
"Semprot saja, paling-paling aku buta, terus nenek lampir minta ganti rugi sama kamu. Karena tidak ada uang akhirnya kamu di jebloskan ke penjara."
Waduh kalau beneran buta, bisa habis hidupku di penjara. Tapi kalau aku makan makanan itu terus aku tergila-gila sama dia bagaimana dong.
"Baik aku akan makan tapi dengan satu syarat kamu harus makan duluan." Ucap Aneska.
"Hahaha, kamu ingin makan satu sendok denganku ya, apa kamu menikmati ciuman dariku, kalau kamu mau aku bisa memberikan ciuman gratis tanpa paksaan." Ucap Abian sambil tersenyum sumringah.
"Jangan kegeeran, aku menyuruhmu makan agar jampi yang ada di dalam piring itu hilang." Ucap Aneska masih dengan senjatanya yaitu botol parfum.
"Baik akan aku makan." Abian menyuapkan satu sendok makanan kedalam mulutnya setelah di kunyah, dia menunjukkan mulutnya ke arah Aneska.
"Aaaaaak, nah sekarang kamu." Abian menunjukkan mulutnya yang kosong dari makanan.
__ADS_1
Aneska mengambil sendok bekas Abian dan membawanya ke kamar mandi.
"Hey mau di bawa kemana sendok itu." Ucap Abian bingung.
"Mau aku mandikan." Jawab Aneska ketus, dia membersihkan sendok bekas Abian dengan sabun mandi, setelah cukup yakin di bawanya kembali ke kamarnya.
"Kamu terlihat jijik makan bekasku." Ucap Abian.
"Iyalah, mana sudi aku makan bekas pria brengsek sepertimu."
"Walaupun brengsek, aku calon suamimu."
"Sudah aku katakan, aku tidak mau menikah denganmu. Kamu cari saja wanita yang bisa di jadikan boneka." Jawab Aneska ketus.
"Terserah, yang jelas pilihanku sudah bulat. Kamu calon istriku. Habiskan makanan ini." Ucap Abian sambil keluar dari kamar Aneska.
Aneska langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya.
"Dasar pria gila." Gerutu Aneska sambil melihat piring yang berisi makanan yang sangat lezat.
"Duh perut udah lapar lagi, kalau enggak di makan mubazir, di makan kena pelet. Tapi kalau sampai besok aku enggak makan bisa mati kelaparan." Gumam Aneska.
"Baik aku makan saja, tapi aku harus baca surat-surat, pasti kalau sudah ku baca mantranya akan hilang." Gumam Aneska sambil memulai membaca surat-surart, setelah cukup yakin dia mulai makan makanannya.
"Enak." Makanan yang ada di piring sudah bersih tanpa ada sisa sama sekali.
"Perasaanku sama si pria gila itu masih sama yaitu benci berarti pengaruh mantranya sudah hilang." Aneska mencari botol minumnya.
"Ya habis." Gumam Aneska.
"Semoga aku tidak bertemu dengan si Tatik." Gumam Aneska. Sesampai di dapur dia tidak menemukan siapapun di dalam ruangan itu. Aneska mengisi botol minumannya dengan air mineral dan meminum seteguk untuk melegakan tenggorokannya. Dia mau kembali ke kamarnya tapi dia melirik kamar mbak Tami yang tidak jauh dari dapur.
"Sebaiknya aku ke kamar mbak Tami. Aku harus mengatakan sebenarnya kepada mbak Tami." Gumam Aneksa.
"Tapi kalau aku ketangkap karena keluyuran gimana dong." Gerutu Aneska bingung.
Dia memikirkan cara, jawaban apa kiranya yang akan diberikannya kepada para penjaga.
"Aha aku tau." Aneska jalan menyusuri lorong yang mana sederet lorong itu sebagian kamar para pekerja, beda dengan kamarnya. Kamar Aneska ada di depan dekat dari ruang makan. Sedangkan para pekerja lainnya ada di kamarnya dekat dengan dapur.
Tok tok tok.
"Siapa." Tanya mbak Tami pelan.
"Ini aku Aneska." Jawab Aneska pelan. Tami buru-buru membuka pintu kamarnya dan menyuruh temannya langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu tidak takut berkeliaran." Ucap mbak Tami.
"Takut sih, cuma aku harus menemui mbak Tami." Ucap Aneska sambil duduk di atas tempat tidur temanya.
"Kenapa? apa kamu mau mengatakan tentang rencana tuan muda mempersuntingmu menjadi istrinya.
__ADS_1
"Ah enggak usah ngomong pria brengsek itu, aku tidak sudi nikah dengannya." Ucap Aneska.
"Lalu, apa yang mau kamu katakan?"
"Aku mau kabur malam ini, dan hanya mbak Tami yang tau." Ucap Aneska.
"Apa niat kaburmu ini agar terhindar dari pernikahan itu." Tanya Tami.
Aneska menganggukkan kepalanya cepat.
"Anes, kamu lihat mbak pernah kabur dan akhirnya tertangkap juga. Sia-sia kamu kabur." Jelas Tami.
"Itu kalau sendiri, tapi aku kabur atas pertolongan orang lain." Ucap Aneska lagi.
"Siapa? jangan bilang kalau kamu di bantu ibu Tatik." Tebak Tami.
"Dia? hahaha mana mungkin dia mau membantuku kabur, dia malah orang yang pertama kali mengatakan kepada nenek lampir." Ucap Aneska.
"Nenek lampir?" Tami bingung.
"Rona pipiku." Ucap Aneska dengan gelak tawanya.
"Sstt jangan berisik nanti kita ketahuan." Bisik Tami. Aneska menutup rapat mulutnya, dia juga khawatir kalau tertangkap.
"Lalu siapa yang membantumu? jangan bilang dokter Arif." Tebak Tami lagi.
"Bukan ini bukan dokter Arif, ini si Zidan." Ucap Aneska.
"Zidan? untuk apa dia membantumu. Dia tangan kanan nyonya Rona. Aku tidak percaya kalau dia dengan sukarela membantumu, sesuatu yang patut di curigai." Ucap Tami.
"Awalnya aku kurang percaya, tapi dia menyakinkanku kalau dia akan membantuku kabur dari sini." Jelas Aneska.
"Hemmm, apa dia juga terpikat dengan pesonamu." Tebak Tami.
"Ya enggaklah, dia membantuku karena kasihan saja, tidak lebih." Jelas Aneska.
"Ok itu menurutmu, kalau ternyata dia juga terpikat denganmu bagaimana." Tanya Tami.
"Aduh mbak, jangan kasih pertanyaan seperti ini, aku enggak suka sama keduanya. Memang aku akui ganteng dan tampan. Kalau boleh memilih mending sama dokter Arif yang sudah cukup lama aku kenal." Jelas Aneska.
"Tapi ada baiknya kamu pikirkan, tidak mungkin dia hanya kasihan, kalau hanya faktor kasihan seharusnya dia juga mengasihani semua perawat yang di siksa Abian." Ucap Tami.
Aneska mendengarkan nasehat temannya.
"Jam berapa kamu akan kabur." Tanya Tami lagi.
"Jam sebelas." Jawab Aneska.
Tami melihat jam dinding yang ada di kamarnya.
"Sekarang sudah hampir jam setengah sebelas malam, kamu harus bersiap. Semoga kamu selamat, jika selamat sampaikan salamku sama kedua orang tuaku." Ucap Tami. Kedua sahabat itu saling peluk, mereka harus berpisah kembali untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Bersambung.
Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih