
Abian masuk ke kamarnya dan melihat istrinya terbaring di kasur.
"Aneska." Abian menggenggam tangan istrinya.
"Oma apa yang terjadi." Tanya Abian.
"Oma tidak tau penyebabnya apa, cuma oma dengar teriakan. Oma dan pelayan mencari asal suara itu, ternyata Tami yang meminta tolong." Jelas oma.
"Pasti dia melampiaskan kemarahannya sama Aneska." Gumam Abian.
"Kenapa? apa terjadi sesuatu antara kamu dan Farid." Tanya oma.
"Aku baru menghajarnya di kantor, mungkin itu penyebabnya dia marah." Ucap Abian sambil melihat pipi, dahi dan leher istrinya yang memerah.
Abian sangat marah, dia mengambil telepon yang ada di nakas.
"Suruh Tami ke ruanganku." Ucap Abian.
"Kenapa kamu menghajar Farid? apa dia melakukan sesuatu." Tanya oma.
Abian tidak menjawab pertanyaan omanya. Dia tidak ingin masalah Farid di ketahui keluarganya. Menurutnya pemukulan itu pelajaran buat kakak iparnya.
Kamar di ketuk oma membuka pintu kamar.
"Iya tuan." Ucap Tami sambil meletakkan gelas yang berisikan teh panas di atas nakas.
"Ceritakan kejadiannya." Tanya Abian. Tami menceritakan semuanya dari Aneska di tampar terus terjatuh lalu di cekik.
"Dahinya kenapa merah? apa dahi Aneska di pukul sama Farid?" ucap Abian.
"Bukan tuan, itu perbuatan nona Tanisa." Tami menceritakan lagi kejadian sebelumnya.
"Kurang ajar." Abian mengepalkan tangannya keluar ruangan.
"Tami jaga Aneska, olesi minyak angin di bawah hidungnya, kalau sudah sadar beri teh panas itu sama Aneska." Ucap oma panik.
"Oma mau kemana." Tanya Tami.
"Oma mau mencegah perang dunia." Ucap oma panik sambil mengikuti Abian.
"Farid!" Teriak Abian. Dia mencari di kamar kakaknya. Tapi Farid tidak ada, Abian kembali mencari di kamar nyonya Rona dan Farid tidak kembali di temukan.
"Abian tenang." Oma Zulfa menenangkan cucunya.
Abian tidak menghiraukan ucapan omanya. Dia mengecek semua ruangan dari lantai lima sampai lantai dua. Abian dan oma Zulfa menuju lantai satu.
"Abian, jangan bunuh Farid atau Tanisa. Oma enggak mau kamu masuk penjara." Ucap oma Zulfa mengikuti langkah cucunya.
Di ruang musik.
"Mami lakukan sesuatu." Ucap Tanisa ketakutan.
"Mami harus melakukan apa." Tanya nyonya Rona juga ketakutan.
"Kunci ruangannya." Ucap Farid sambil berlari mengunci ruang musik itu.
__ADS_1
Ruangan yang belum di cek Abian ruang musik. Oma dan Abian sudah di depan ruangan tempat Ila menghabiskan waktunya.
Abian memegang handle pintu ruang musik. Tapi ruangan di kunci dari dalam.
"Ila, buka pintu." Teriak Abian.
"Ila jangan bilang kakak di sini, please." Tanisa ketakutan.
"Ada apa kak." Teriak Ila dari dalam ruangan.
"Buka pintu kakak mau masuk." Teriak Abian lagi.
"Ila bilang, kalau kamu tidak mau di ganggu." Ucap nyonya Rona.
"Kak, jangan ganggu Ila." Ila mengikuti perintah maminya. Tidak ada suara Abian lagi. Nyonya Rona, Tanisa dan Farid lega.
Abian pergi ke belakang gudang dia mencari parang.
"Abian untuk apa parang itu." Tanya oma Zulfa.
"Untuk memotong kepala Farid dan mengiris tangan Tanisa." Jawab Abian marah.
"Abian, mungkin Farid dan Tanisa sudah pergi." Ucap oma ketakutan sambil mengikuti langkah cucunya.
"Dia masih ada di istana." Jawab Abian.
"Dimana? semua ruangan sudah kita cari."
"Ila menyembunyikan sesuatu dariku." Jawab Abian dan mulai memukul pintu dengan parang.
"Mami, Abian balik lagi." Tanisa dan Farid keringat dingin.
"Mami menyerah, kalian tau sendiri bagaimana kalau Abian marah." Nyonya Rona memijat pelipisnya.
Abian masih mengayunkan parangnya ke pintu.
"Mami, aku tidak ikut campur." Ila juga takut.
Farid mencari sesuatu untuk melindungi dirinya.
"Abian stop kendalikan diri kamu." Ucap oma. Emosi Abian sudah tak terkendali. Tidak ada yang bisa menghentikannya.
Bagian tengah pintu sudah rusak, salah satu tangan Abian masuk dan memutar kunci. Posisi pintu terbuka. Abian langsung melemparkan parang ke arah kakak iparnya. Farid berhasil menghindar.
"Abian hentikan nak." Teriak nyonya Rona sambil menangis.
Begitupun Ila juga ikut teriak. Abian tidak memperdulikan siapapun. Dia memukul wajah kakak iparnya, Farid berusaha untuk melawan dan membalas, mereka saling memukul. Wanita yang ada di ruangan itu hanya bisa teriak.
Perkelahian terus berlanjut, tapi Farid mendapat pukulan paling banyak dari Abian.
Wajah Farid sudah babak belur, darah sudah mengucur dari wajahnya.
"Abian, aku mohon hentikan, hiks hiks." Tanisa menangis sambil memeluk kaki adiknya. Abian mendorong tubuh Tanisa hingga membentur tembok. Farid tidak bisa melawan lagi, tubuhnya sudah tergeletak di lantai. Abian mengambil parang, tangan kananya sudah menggenggam parang. Oma Zulfa, nyonya Rona dan Ila tidak berani melihat kebengisan Abian.
"Abian hentikan." Teriak Aneska dari depan pintu di belakangnya ada Tami. Abian masih tetap memegang parang. Dia sudah hilang kendali.
__ADS_1
"Abian, jangan lakukan perbuatan yang bisa merugikanmu." Ucap Aneska sambil berjalan menghampiri suaminya.
Aneska berdiri di samping suaminya.
"Suamiku, aku di sini." Aneska memegang tangan suaminya dan memeluk tubuh Abian. Pria itu langsung melepaskan parang di tangannya. Aneska langsung menendang parang itu agar jauh dari jangkauan Abian.
Aneska membawa Abian keluar. Nyonya Rona dan Tanisa mendekati Farid.
"Bawa ke rumah sakit sekarang." Ucap nyonya Rona. Oma Zulfa dan Ila memanggil pelayan untuk menggotong tubuh Farid ke mobil.
Ruang musik telah porak poranda, darah Farid memenuhi lantai ruangan.
Aneska membawa suaminya ke kamar. Dia memberikan teh yang ada di nakas.
"Minumlah." Ucap Aneska sambil membantu suaminya.
Aneska mencari peralatan kesehatan yang ada di kamar Abian. Dia mengobati luka di tangan suaminya. Posisi Aneska berada dibawah, sedangkan Abian berdiri dengan kedua lututnya.
Abian menatap wajah istrinya.
"Maafkan aku." Ucap Abian pelan.
"Ssttt." Aneska meletakkan jari telunjuknya di bibir Abian.
"Kamu tidak bersalah, aku senang karena kamu sangat perhatian dan baik samaku." Ucap Aneska sambil memberikan obat luka di tangan suaminya.
"Apa leher kamu sakit?" Abian mengangkat dagu istrinya dan melihat bekas merah di leher Aneska.
"Aku sudah tidak apa-apa. Aku sempat berpikir kalau tadi ajalku." Ucap Aneska.
"Ssttt." Gantian Abian yang meletakkan jarinya di bibir istrinya.
"Jangan katakan tentang ajal atau apapun yang berhubungan dengan kematian." Ucap Abian
"Oke, sudah siap." Aneska beranjak dari posisinya. Tapi Abian langsung memeluknya.
"Jangan pergi dariku." Ucap Abian sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Hello boy, aku hanya mau mengembalikan peralatan ini ke tempat semula." Ucap Aneska tersenyum.
"Aku tidak siap jika kamu pergi meninggalkanku. Mungkin aku akan benar-benar gila." Ucap Abian.
Aneska terdiam, dia tidak mengerti maksud ucapan suaminya.
"Kamu kenapa?" Aneska bingung.
"Kamu harus berjanji kepadaku, untuk tidak meninggalkanku." Ucap Abian masih memeluk erat tubuh istrinya. Aneska mencoba melonggarkan pelukan suaminya.
"Aku di sini dan tidak akan pergi kecuali kamu yang meminta aku pergi." Ucap Aneska pelan.
"Jangan pergi Aneska, ajari aku untuk mencintai kamu dan memiliki kamu sepenuhnya." Ucap Abian pelan.
Jantung Aneska langsung berdetak, dia tidak tau harus mengatakan apa. Dan dia bingung dengan ucapan Abian yang mengatakan tentang cinta.
Cinta adalah suatu misteri yang tidak bisa di duga, ketika cinta datang akan memberikan nafas baru, ketika cinta pergi akan menciptakan nestapa.
__ADS_1
Bersambung.