Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 174


__ADS_3

Paman dan ibunya Dimas masih bersimpuh di kaki Abian. "Bu pak silahkan berdiri saya bukan raja." Ujar Abian.


Kedua pria dan wanita paruh baya itu kembali berdiri. "Tapi kata Dimas, tuan pemilik istana? pemilik istana kan raja." Ujar ibu Iin.


"Bukan bu." Sahut Abian singkat tanpa perlu menjelaskan siapa dirinya.


Abian ingin menyelesaikan masalah kakaknya tapi mendengar ucapan ibu Iin, membuatnya harus menyelesaikan masalahnya dengan Dimas.


"Saya mau bicara dengan Dimas." Ujar Abian.


"Silahkan." Sahut pamannya. Abian masih menatap pria dan wanita paruh baya itu.


"Bisa tinggalkan kami sebentar." Ujar Abian lagi. Ibu Iin khawatir jika Abian ingin mencelakai anaknya.


"Dimas jangan di sakiti." Ujar ibu Iin. Mendengar ucapan ibunya membuat Dimas dan Aneska berpikir kalau Abian akan menghajar Dimas.


"Saya bukan mau menyakiti anak ibu, saya hanya mau bicara berdua dengannya." Ujar Abian tegas.


Pamannya Dimas berbincang dengan adiknya. "Enggak mungkin dia menyakiti Dimas. Apa motifnya untuk mencelakai Dimas? berciuman tidak membuat hamil." Ujar pria paruh baya itu. Wanita paruh baya itu manggut.


"Silahkan bicara di dalam." Ujar ibu Iin. Dimas Abian dan Aneska masuk ke dalam ruangan yang ada di bagian dalam salon. Dan yang berada di depan Tanisa dan ibunya Dimas beserta pamannya.


Ada pelanggannya datang ke salon. "Bu rebonding ya." Ujar pelanggannya.


"Bisa besok enggak, hari ini ibu tutup." Ujar wanita paruh baya itu yang menolak rezeki untuk dapat menyelesaikan masalah anaknya.


Abian menatap ke Aneska dan Dimas. "Jelaskan padaku, apa kalian pernah menjalin kasih?" tanya Abian.


Dengan cepat keduanya menggelengkan kepalanya. "Lalu kenapa ada foto kamu sama dia?" tanya Abian ke istrinya.


"Mana aku tau." Sahut Aneska dan menoleh ke arah Dimas.


"Dari mana kamu dapat fotoku?" tanya Aneska.


"Itu foto jadul Nes, aku mengambilnya diam-diam pada saat kamu di kantin." Sahut Dimas jujur. Kejujuran itu membuat Abian mencengkram leher Dimas.


"Kamu bisa di penjara karena mengambil foto istriku diam-diam!" seru Abian marah.


"Sayang jangan." Aneska memegang tangan suaminya agar melepaskan tangannya dari leher Dimas.


"Tuan, dulu Aneska belum menikah, kalau dia sudah menikah mana mau saya mengambil fotonya. Dan bukan hanya saya yang mengambil foto Aneska diam-diam, ada banyak perawat pria yang naksir dengan Aneska." Sahut Dimas.


"Banyak!" Abian tidak melepaskan cengkeramannya tapi malah semakin kuat.


"Sayang jangan, nanti Dimas mati. Aku tidak mau menunggu kamu jika kamu masuk penjara." Ujar Aneska.

__ADS_1


Abian langsung melepaskan tangannya dari cengkraman leher Dimas.


"Ambil semua foto istriku yang ada di kamarmu." Berujar tegas.


Dimas langsung lari secepat kilat. Paman dan ibunya bingung karena Dimas langsung keluar salon.


"Loh Dimas mau kemana?" tanya ibunya.


"Mau pulang sebentar." Sahut Aneska.


Abian duduk di seberang kakaknya. Sedangkan Aneska duduk di kursi salon. Dimas kembali dengan membawa foto Aneska di tangannya.


Abian melihat foto istrinya dan melihat penampilan Aneska sekarang. Yang di ucapkan Dimas benar, foto yang di ambil Dimas foto jadul, dimana Aneska masih mode rambut dengan mode kuda poni.


Abian menyerahkan foto itu ke Aneska. Waktunya dia menyelesaikan masalah yang tengah di hadapi kakaknya.


"Saya adik dari Tanisa. Dan saya akan jadi wali nikah untuk kakak dan adik saya." Semua mendengarkan Abian seperti mendengarkan seseorang berpidato.


"Tanisa telah melakukan kesalahan, dia hanya ingin membalas perbuatan Dimas karena telah menciumnya. Dan kami tidak meminta pertanggung jawaban dari Dimas." Ujar Abian tegas.


Tanisa senang karena tidak ada yang menyela ucapan adiknya. Adiknya mempunyai kharisma yang membuat semua orang terpana ketika berbicara.


"Tapi Dimas telah mencium Tanisa, itu sama saja dengan menodai. Di dalam agama tidak boleh." Ujar ibu Iin.


Abian melihat ke arah kakaknya. "Katakan permintaan maaf kepada keluarga Dimas atas kesalahpahaman ini." Titah Abian.


Paman dan ibunya Dimas masuk ke dalam ruangan bagian dalam salon. "Kak, aku senang dengan Tanisa, kalau pikiranku mereka cocok. Memang caranya salah. Lagian umur Dimas udah tidak muda lagi. Belum pernah ibu dengar dia macam-macam sama cewek. Memang dia suka dengan Aneska tapi sepertinya tidak berlanjut." Ujar ibu Iin.


Keduanya kembali bergabung bersama dengan Abian Aneska dan yang lainnya.


"Ibu manggilnya tuan apa nak Abian ya?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


"Panggil Abian aja." Sahut Abian.


Ibu Iin menganggukkan kepalanya. "Ibu dan pamannya Dimas telah berembuk, kalau kami akan melamar Tanisa." Ujar ibu Iin.


"Apa!" Dimas dan Tanisa sontak kaget bersamaan.


"Tanisa jangan menolak Dimas, memang kalian belum saling mencintai tapi ibu yakin kalian akan mencintai satu sama lain." Ujar ibu Iin.


Abian tidak bisa membantah ataupun menolak karena ada orang baik yang mau melamar kakaknya.


Sebelum melanjutkan ataupun menjawab ucapan ibu Iin, Abian mengatur nafasnya agar yang di ucapkannya tidak membuat wanita paruh baya itu shock.


"Saya akan mengatakan dengan jujur. Jadi setelah saya mengatakan ini ada baiknya pikirkan lagi."

__ADS_1


Aneska dan Tanisa tau apa yang akan di ucapkan Abian. Tapi keluarga Dimas tidak bisa berasumsi apa yang akan di katakan Abian.


"Tanisa seorang janda." Ujar Abian. Dimas melongo tapi pria dan wanita paruh baya itu saling pandang dan tidak kaget ataupun menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Berapa anak kamu?" tanya pamannya ke Tanisa.


"Belum ada." Sahut Tanisa.


Pria paruh baya itu manggut. Giliran ibunya Dimas yang mengajukan pertanyaan. "Janda tinggal mati apa janda cerai?" tanya ibunya.


"Janda cerai." Sahut Tanisa pelan.


"Sudah berapa lama jadi janda dan berapa lama menikah." Ibu Iin mengajukan pertanyaan beruntun.


Tanisa mengatakan dengan jujur berapa lama dia menikah dan sejak kapan dia menjadi janda.


"Baru beberapa hari ini." Sahut Tanisa.


"Janda anget kak." Ujar ibu Iin ke kakaknya.


Dimas kaget, dia berpikir Tanisa masih gadis tapi kenyataannya seorang janda.


"Kami telah mengambil keputusan akan tetap melamar Tanisa." Ujar ibu Iin.


"Apa!" Dimas yang kaget.


"Udah enggak usah kaget. Bapak kamu dulu dapat ibu juga janda, tapi bedanya janda di tinggal mati." Ujar ibunya.


"Tapi bu..." Sahut Dimas. "Udah Mas, kamu itu mirip bapak, jodohnya janda. Tanisa juga masih cantik. Janda berpengalaman tau." Ujar ibu Iin tanpa malu mengatakan itu.


Aneska menahan tawanya. Menurutnya akan jadi bahan gosip baru nantinya.


"Baiklah kalau begitu, jika ibu dan bapak berniat melamar kakak saya. Pintu akan terbuka lebar." Ujar Abian segera beranjak dari tempat duduknya.


"Lusa malam kami akan melamar Tanisa." Ujar ibu Iin.


Setelah pembicaraan itu Abian dan Aneska pamit di ikuti Tanisa.


Tanisa mengikuti adiknya. "Abian kenapa kamu mengizinkan mereka melamarku!" seru Tanisa marah.


Abian membalikkan badannya, menatap kakaknya dengan lekat. "Ini semua ulah kamu, kalau kamu tidak egois, masalah ini tidak ada. Tapi aku berpikir mungkin ini memang sudah di jalankan Sang Kuasa. Bersyukur ada orang baik mau melamar kamu, mau menerima kekurangan itu yang utama." Ujar Abian tegas.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2