
Abian melihat wajah istrinya, perkataan istrinya seperti menyadarkan akan dirinya jika suatu saat Aneska hamil, dia pasti akan merasakan hal yang sama.
"Baiklah sesuai permintaan istriku hukuman mami.."
Nyonya Rona sudah ketakutan dia memikirkan hukumannya bertambah lebih berat.
"Mami tidak akan keluar dari sini." Ucap Abian.
Nyonya Rona langsung bernafas lega.
"Tapi uang belanja mami tetap tidak aku berikan selama enam bulan." Ucap Abian tegas.
Nyonya Rona langsung mendengus kesal sambil melihat ke arah menantunya. Pikirannya selalu jelek terhadap Aneska.
"Untuk kamu, siapa nama kamu." Ucap Abian sambil menunjuk ke Anggela.
"Anggela."
"Ya, untuk kamu wanita jadi-jadian." Semua tersenyum lucu mendengar julukan baru yang di berikan Abian, hanya Anggela yang manyun.
"Kamu lari keliling istana sampai lima puluh kali." Ucap Abian tegas.
"Apa lima puluh kali." Gerutu Anggela.
"Kalau tidak mau aku ganti dengan membersihkan kamar mandi semua istana, bagaimana apa kamu mau?" ucap Abian sambil tersenyum menyeringai.
"Ih jorok, aku pilih lari aja, anggap aja aku seorang atlet." Ucap Anggela sambil mulai berlari mengelilingi istana dengan mengangkat tangannya agar dapat menutupi wajahnya.
Abian menatap sepasang suami istri yang masih berdiri di depan mereka.
"Berikan bukti berobat kalau kamu hamil." Ucap Abian sambil menyodorkan tangannya ke arah Tanisa.
Tanisa pucat dan ketakutan begitu pun dengan Farid, mereka tidak memikirkan jika Abian akan menanyakan perihal kandungan.
"Abian, kata dokter, kandungan Tanisa tidak berkembang jadi dokter menyarankan harus di angkat." Jelas maminya.
"Aku tidak bertanya sama mami!" ucap Abian marah.
Nyonya Rona langsung menundukkan kepalanya, amarah anaknya dapat mengakibatkan hukumannya bisa bertambah.
"Yang di katakan mami benar kandunganku tidak berkembang jadi harus di angkat." Ucap Tanisa pelan.
__ADS_1
"Tanisa Tanisa... Aku tidak bodoh, setiap orang berobat mempunyai buku kontrol atau sejenisnya berikan itu kepadaku, cepat!" teriak Abian.
Tanisa melihat ke arah suaminya, dia berharap suaminya membantunya tapi kenyataannya Farid hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa? apa kalian tidak mempersiapkan semuanya, huh! Lain kali pikirkan secara matang tentang rencana kalian."
"Kamu tidak hamil dan aku tau itu, kalian sengaja merekayasa cerita ini agar kalian tidak aku depak dari istana ini, benar kan!" ucap Abian dengan suara cukup keras.
"Tidak Abian." Ucap Tanisa lagi.
"Tidak apa! masih berani berkelit!" sindir Abian.
Tanisa langsung menangis.
"Iya aku berbohong tentang kehamilanku, semua ini kulakukan agar aku tidak kamu tendang dari istana ini, apa salah aku bertahan di rumah tempat kita kecil sampai sekarang ini, salah!" ucap Tanisa menangis.
Nyonya Rona kaget mendengar anaknya mengatakan tentang kehamilan yang hanya rekayasa, tapi dia merasa kasihan melihat Tanisa melakukan itu hanya untuk dapat bertahan di istana.
"Salah!" Teriak Abian.
"Karena kamu sama busuknya dengan suami kamu! Berapa pria yang telah tidur denganmu berapa!" teriak Abian.
Tanisa yang tadinya menangis tambah menangis sembari ketakutan, nyonya Rona tambah kesal dengan sikap anaknya yang menuduh anak sulungnya tanpa adanya bukti.
Abian tersenyum sinis melihat maminya.
"Mami mau sampai kapan mata hati mami tertutup, anak kesayangan mami sama seperti suaminya, mereka berdua berselingkuh." Ucapan Abian membuat Tanisa dan Farid langsung mengangkat kepalanya dan saling pandang. Nyonya Rona melihat anak dan menantunya membutuhkan penjelasan dari suami istri itu.
Tanisa dan Farid berpikir jika yang mendengar pembicaraan mereka Abian atau Aneska. Mereka berdua melirik ke arah Aneska melihat reaksi wanita itu. Aneska tidak menunjukkan reaksi kaget, dia bersikap santai.
"Apapun rencana kalian sudah aku ketahui. Dan untukmu Farid, suami seperti apa yang bisa menyuruh istrinya hamil dari pria lain." Nyonya Rona langsung menoleh ke menantunya, ucapan anaknya seperti rekayasa untuk menyingkirkan Tanisa dan Farid.
"Dia dia." Tanisa ingin mengatakan tentang yang di alaminya tapi Farid langsung memotong pembicaraannya.
"Aku khilaf." Jawab Farid dengan wajah yang di buat sendu.
"Aku tidak akan berlama-lama dengan kalian, untuk kalian berdua." Ucap Abian sambil menunjuk ke Farid dan Tanisa.
"Kalian tidak akan keluar dari istana ini."
"Terima kasih Abian." Ucap keduanya senang.
__ADS_1
"Tapi..."
Pasangan suami istri yang tadinya senang langsung menunjukkan wajah bingung dan takut.
"Tapi apa Abian?" tanya maminya.
"Mereka bukan lagi pemilik istana ini, semua fasilitas yang ada di istana ini aku tarik. Mereka tidak tinggal di kamar yang sekarang mereka tempati, mereka akan bekerja sebagai pelayan di istana ini, bergabung dengan pelayan lainnya." Jelas Abian.
"Tidak Abian, itu sama saja kamu memperlakukan kami seperti pembantu." Ucap Tanisa menangis.
"Baiklah pilih mana tetap di sini tapi sebagai pembantu atau keluar dari istana sebagai gembel." Abian memberikan tawaran untuk keduanya.
"Abian itu pilihan yang sulit." Ucap maminya.
"Sstt mami diam, aku tidak membutuhkan saran mami." Ucap Abian tegas.
"Baiklah kami akan keluar dari istana ini asal persentase harta warisan Tanisa di berikan." Ucap. Farid.
Tanisa dan maminya langsung menoleh ke arah Farid. Mereka tidak menyangka Farid mau meninggalkan istana ini.
"Baik aku setuju." Ucap Abian sambil mengambil ponselnya dan menghubungi pengacaranya. Abian pergi menjauh dari semuanya hanya Aneska yang masih berada di depan keluarga suaminya.
"Apa yang kamu lakukan? kalau harta warisanku habis bagaimana? mau tinggal di mana kita?" ucap Tanisa marah.
"Tenang sayang, harta kamu akan aku investasikan ke perusahaan bonafit, biar kita cepat menghasilkan pundi-pundi rupiah.
"Farid kenapa kamu mau mengatakan seperti itu, Tanisa anak mami, dan mami tidak setuju dia keluar dari istana ini." Ucap maminya.
"Terus mami mau kami jadi pembantu melayani wanita miskin ini." Ucap Farid sambil melirik ke Aneska.
"Hahaha yang miskin siapa?" ucap Aneska tertawa mengejek.
"Apa kalian ingat kalau aku punya dua puluh lima persen kekayaan Bassam dan itu di berikan suamiku sendiri. Sekarang siapa yang lebih kaya di bandingkan kalian." Ucap Aneska sambil tersenyum. Ketiga orang yang ada di depannya langsung diam. Aneska berhasil menggertak lawannya.
"Kamu ya, akan kami bilang kalau kamu mengincar harta Abian." Ucap Tanisa marah.
"Apa aku ada bilang akan mengambil harta suamiku, huh! Hartaku saja masih banyak untuk apa mengharapkan harta yang lain, itu namanya serakah." Sindir Aneska.
"Dasar orang kampung, yang kamu miliki itu harta kami." Ucap nyonya Rona kesal.
"Tante tante sepertinya kamu tidak pernah jera atas perbuatan kamu, baiklah akan aku bilang ke Abian kalau hukuman kamu di tambah, tante mau sikat wc apa keluar dari istana?" tanya Aneska sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Kamu." Nyonya Rona ingin menjambak menantunya tapi Abian sudah menutup panggilannya dan berjalan ke arah mereka.
Bersambung...