Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 77


__ADS_3

"Bagaimana dengan Vania? apa kamu juga mencintainya." Tanya oma


"Oma Vania masa laluku. Sekarang dan untuk selamanya hanya dengan istriku." Jawab Abian.


Oma Zulfa menghela nafasnya.


"Oma senang kalau kamu benar-benar mencintainya. Tapi kalau sampai kamu meninggalkan Aneksa hanya demi Vania, oma lawan kamu." Ancam oma lantang sambil berlalu meninggalkan cucunya.


Abian kembali membawa istrinya menuju meja makan. Aneska melayani suaminya dengan penuh kasih sayang.


"Aku tidak mau makan pakai sendok, suapi aku layaknya seperti anak kecil." Ucap Abian.


"Sok manja." Ucap Aneska.


"Kan enggak salah kalau aku manja sama istri sendiri apa kamu mau aku bermanja ria sama bu Tatik." Ucap Abian.


"Hahaha bu Tatik? kamu mau bermanja ria dengan bu Tatik?" ejek Aneska.


"Eh enggaklah mana mau aku sama orang tua satu itu." Ucap Abian membela diri.


"Malu nih? ada yang malu." Ejek Aneska.


Oma berlari kecil menuju ruang makan.


"Abian." Ucap oma ngos-ngosan.


"Oma kalau marathon jangan di sini." Ejek Abian.


Oma Zulfa mengatur nafasnya, setelah nafasnya kembali normal, oma melanjutkan kembali ucapannya.


"Abian, Tanisa dan Farid sudah kembali dari rumah sakit." Ucap oma.


"Apa!" Abian marah dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


Aneska juga kaget, dia ikut berdiri, seingatnya wajah Farid belum sembuh sempurna. Abian melangkahkan kakinya menuju ruang tamu di ikuti Aneska dan oma Zulfa. Tanisa dan Farid baru pulang dari rumah sakit bersama dengan nyonya Rona.


"Siapa yang mengizinkan mereka masuk ke rumahku!" ucap Abian dengan suara yang sangat menggelegar.


Nyonya Rona, Tanisa dan Farid langsung menoleh ke arah Abian.


"Abian." Tanisa berlari ke arah adiknya.


"Stop!" Ucap Abian tegas.


Tanisa berhenti, dia tidak berani mendekati adiknya.


"Abian, kasihan Tanisa dan Farid, mereka belum punya rumah." Ucap nyonya Rona sambil berjalan secara perlahan mendekati anaknya.


"Bukan urusanku! keluar kalian dari rumahku!" teriak Abian.


"Abian, maafkan aku." Ucap Farid sambil mendekati adik iparnya.


"Aneska maafkan aku, aku kemarin khilaf." Ucap Farid juga.


"Tidak ada pintu maaf untukmu!" Ucap Abian tegas.


"Aneska." Tanisa berlari ke arah Aneska dan langsung memeluk perawat itu.


Aneska bingung dengan sikap Tanisa yang tiba-tiba sok ramah.


"Kamu mau ngapain." Ucap Aneska berusaha melepaskan pelukan Tanisa.


"Maafkan aku adik ipar. Aku sudah berbuat jahat sama kamu selama ini, hiks hiks." Tanisa pura-pura menangis sambil tetap memeluk Aneska.


Aneska bingung harus melakukan apa. Tapi dia bukanlah orang yang pendendam, Aneska orang yang sangat pemaaf.


"Sudahlah Tanisa, jangan di ungkit lagi masalah yang lalu." Ucap Aneska sambil berusaha melepaskan pelukan Tanisa.

__ADS_1


Abian hanya memperhatikan tingkah kakaknya.


"Apa kamu sudah memaafkanku." Tanya Tanisa lagi.


"Iya sudah." Ucap Aneska.


"Makasih adik ipar." Tanisa senang.


"Kalau sudah selesai silahkan kalian keluar dari sini sekarang!" bentak Abian.


"Abian kenapa kamu bersikap seperti itu, Aneska saja sudah memaafkan kakak kamu." Ucap nyonya Rona.


"Aneska dan aku berbeda, kalau dia sudah memaafkan tapi aku tidak!" jawab Abian.


"Cepat keluar!" usir Abian.


"Mami." Rengek Tanisa.


Nyonya Rona mendekati menantunya.


"Aneska kamu sudah memaafkan Tanisa dan Farid. Izinkan mereka untuk tinggal di sini, mami mohon." Nyonya Rona memohon di hadapan menantunya.


Aneska bingung, dia melirik ke arah suaminya dan oma Zulfa.


"Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Aneska.


Nyonya Rona tidak mempunyai pilihan lain selain bersimpuh di kaki menantunya. Dia harus memanfaatkan menantunya untuk merayu Abian agar tidak mengusir anak kesayangannya.


"Aneska mami mohon, jangan usir Tanisa dan Farid." Ucap nyonya Rona sambil bersimpuh.


"Nyonya jangan lakukan seperti ini." Aneska berusaha mengangkat tubuh mertuanya.


"Mami mohon Aneska." Ucap nyonya Rona.


"Abian." Ucap Aneska sambil menunjuk mertuanya dengan gerak kepalanya.


"Nyonya silahkan berdiri. Jangan seperti ini, aku akan membicarakan hal ini sama Abian." Ucap Aneska.


Nyonya Rona berdiri kemudian memeluk menantunya sambil membisikkan sesuatu.


"Hanya kamu yang bisa meredakan emosi Abian." Bisik nyonya Rona kemudian melepaskan pelukannya.


Aneska mendekati suaminya.


"Abian, manusia memang tidak pernah luput dari salah dan dosa, maafkan mereka, Allah saja maha pemaaf." Ucap Aneska pelan.


"Tidak mungkin aku membiarkan orang yang mencoba membunuhmu tinggal satu atap sama kita." Ucap Abian dengan suara keras. Semua yang ada di ruangan itu bisa mendengarkan suaranya.


"Abian, aku yakin mereka tidak akan berani mencelakaiku lagi. Jangan hukum mereka dengan rasa bersalah. Mereka saudara kamu." Ucap Aneska.


"Ah terserah, kalau sampai kalian menyakiti istriku lagi, siap-siap keluar dari istana ini! termasuk mami!" Ancam Abian.


Nyonya Rona langsung menelan salivanya, dia merasa ketakutan dengan ancaman anaknya.


"Enggak Abian, aku tidak akan menyakiti Aneska." Ucap Tanisa.


"Aku juga Abian, maafkan aku Aneska." Timpal Farid.


"Mami pun." Ucap nyonya Rona gugup.


Abian menarik tangan istrinya meninggalkan tiga orang itu menuju ruang makan di ikuti oma Zulfa.


Nyonya Rona dan Tanisa senang mereka saling berpelukan.


"Ingat jangan sakiti perawat itu, kita gunakan cara yang halus. Kita dekati dia pelan-pelan kita singkirkan dari istana ini." Bisik nyonya Rona.


"Iya ma, ternyata perawat itu lemah, gampang saja percaya, hahaha." Bisik Tanisa sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Mami, Tanisa ayo masuk aku ingin segera berbaring. Kita bicarakan rencana selanjutnya di kamar." Ucap Farid.


"Iya kamu benar, di sini tidak nyaman." Ucap nyonya Rona sambil berjalan menuju lift.


Di ruang makan.


Abian tidak selera lagi untuk menghabiskan makanannya. Aneska memperhatikan wajah suaminya yang berubah tidak ceria.


"Suamiku kamu kenapa? ayo makan." Ucap Aneska menyuapi suaminya.


"Napsu makanku sudah hilang." Ucap Abian.


"Aaaaak, buka mulutnya." Ucap Aneska.


Abian menggelengkan kepalanya. Aneska langsung cemberut sambil memalingkan wajahnya.


"Kalau kamu enggak makan aku juga tidak mau makan, nanti aku kurus kerempeng huh baru tau rasa." Ancam Aneska.


"Iya-iya aku makan, aaaaak." Abian membuka mulutnya lebar-lebar. Aneska langsung menyuapi suaminya.


"Good boy." Ucap Aneska sambil mengelus pipi suaminya.


Ila datang menghampiri mereka berdua.


"Suit-suit mesranya." Goda Ila.


"Eh Ila, kamu sudah makan." Tanya Aneska.


"Sudah kak." Jawab Ila.


"Kak." Ucap Ila pelan.


"Hemm." Jawab Abian sambil mengunyah makanannya.


"Aku boleh ikut kompetisi piano." Tanya Ila pelan.


"Kompetisi piano?" Abian bingung.


"Iya akan di adakan international Piano competition yang mana pesertanya dari manca negara." Jelas Ila.


"Bagus, kakak izinkan." Ucap Abian.


"Tapi di adakan bukan di sini." Ucap Ila pelan.


"Dimana?" tanya Abian.


"Di negara singa." Jawab Ila.


"Luar negeri no no. Siapa yang akan menjaga kamu di sana." Ucap Abian khawatir.


"Kakak tapi ini suatu ajang bergengsi, please." Ila mengatupkan kedua tangannya di hadapan Abian.


"Enggak boleh titik." Jawab Abian tegas.


"Kak Anes, bantu aku untuk membujuk kak Abian, aku mohon kak." Ila mengatupkan tangannya kehadapan Aneska.


Aneska langsung merubah posisi duduknya dan menatap wajah suaminya.


Aneska membuat wajah imutnya dan mengedipkan matanya secara berulang.


"Suamiku, izinkan ya?" rayu Aneska sambil mengedipkan matanya secara berulang.


"Sayang mata kamu awas terkilir." Ucap Abian.


"Aaaa." Rengek Aneska sambil mencubit suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


Untuk para penggemar novel "Menikah Karena Ancaman" mohon maaf saya tidak bisa update season tiga di sini dengan alasan tertentu. Untuk lanjutan season tiga dengan judul "Double Zi" hanya ada di youtube terima kasih harap memaklumi keputusan author.


__ADS_2