
Tiara dan Tami masih menimbang ucapan temannya. Sedangkan Aneska menghampiri tiga pria itu.
"Hai dok." Sapa Aneska dan langsung merangkul lengan suaminya.
"Iya." Sahut dokter Arif.
"Saya dengar dokter dan mbak Tami sedang atau pernah ya." Aneska berpikir sejenak.
"Entahlah saya juga kurang jelas." Ketiga pria itu masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Aneska.
"Sayang kalau bicara jangan muter-muter, cukup komedi putar yang muter." Ujar Abian.
"Iya sayang."
"Dok apa benar anda dan mbak Tami sedang menjalin hubungan?"
Abian langsung menoleh ke arah sahabatnya.
"Ternyata tadi malam ajang pencarian jodoh untuk kalian." Ujar Abian tersenyum.
"Maksud kamu?" tanya dokter Arif bingung.
"Enggak usah pura-pura ****. Zidan udah dapat calon dan kamu juga, iya kan?" tanya Abian.
"Bukan seperti itu ceritanya. Aku kemarin di paksa mami kamu untuk menikah dengan Tanisa. Jadi dengan terpaksa aku bilang saja, kalau Tami kekasihku. Kan enggak mungkin aku bilang Zidan kekasihku." Jelas dokter Arif.
"Dokter saya tidak suka gagang, saya pria normal." Sahut Zidan.
"Saya juga tidak mau sama kamu!" seru dokter Arif jijik.
"Stop jangan berdebat." Abian menjadi penengah untuk keduanya.
"Tapi dok, apa yang anda lakukan sama mbak Tami sangat tidak baik. Dia seorang wanita dan saya wanita. Pasti dia sedih karena anda hanya menjadikannya alat." Jelas Aneska seraya melirik Tami dan Tiara.
"Mbak, ngomong-ngomong apa yang sedang di bicarakan mereka?" tanya Tiara.
Tami hanya mengedikkan bahunya. Dia tidak tau apa yang di bicarakan tiga pria itu beserta Aneska.
"Benar yang di ucapkan istriku. Tanpa sengaja kamu telah menyakiti perasaannya." Timpal Abian.
"Betul sekali, langsung saja lamar. Urusan perasaan jangan di pikirkan. Kita bisa bercermin pada sepasang suami istri ini." Ujar Zidan seraya menunjuk Abian dan Aneska dengan gerak kepalanya.
Dokter Arif di salahkan atas perlakuannya ke Tami. Pria itu hanya bisa diam. Dia tidak memiliki perasaan dengan Tami. Hubungan mereka hanya rekan kerja. Dan karena ulahnya dia telah menyakiti perasaan seorang wanita.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya dokter Arif bingung.
"Apa dokter sudah minta maaf?" tanya Aneska.
"Sudah dan sepertinya Tami belum memaafkan saya." Sahut dokter Arif.
"Dok, kalau saya jadi anda. Pasti udah saya nikahi. Buktinya Tiara akan segera saya nikahi." Timpal Zidan yang penuh semangat.
Semua langsung menoleh ke arah Zidan. "Tunggu, seingatku, tadi pagi kamu tidak melakukan pembelaan atas tuduhan yang kami layangkan ke kamu dan Tami. Jangan-jangan kamu memang sengaja melakukan itu semua." Tebak Abian.
__ADS_1
Zidan tersenyum dan yang menjawab video dan hasil jepretan dokter Arif. Aneska dan Abian langsung membelalakkan matanya.
"Wah ternyata kamu udah naksir sama Tiara lebih dulu." Ujar Aneska.
"Mbak, apa yang sedang mereka lihat?" tanya Tiara penasaran.
"Mana mbak tau, kalau penasaran lihat aja sendiri." Sahut Tami. Dan tanpa pikir panjang Tiara langsung menghampiri tiga pria itu dan Aneska.
"Apa ada video yang viral?" tanya Tiara. Abian dan Aneska langsung diam. Mereka buru-buru menyerahkan ponsel itu ke pemiliknya.
"Dok, saya boleh lihat?" tanya Tiara meminta izin.
"Kamu enggak usah lihat, kita pulang." Zidan langsung menarik tangan Tiara. Gadis itu bingung dan harus berjalan cukup lebar agar bisa mengimbangi langkah Zidan.
Mereka menuju mobil Zidan. Dan Tami langsung bergegas mengekor keduanya.
"Aku enggak mau naik mobil ini." Tiara memberontak dengan cara melepaskan tangannya dari genggaman Zidan.
"Jadi kamu mau aku ganti mobil dulu." Zidan membuka pintu mobilnya.
"Ya enggak, aku mau pulang sama dokter Arif aja." Sahut Tiara menolak untuk duduk di mobil Zidan.
Pria itu menoleh ke arah Tami.
"Tami? apa yang kamu lakukan?" tanya Zidan.
"Mau ikut pulang." Sahut Tami.
"Maaf Tami, kamu pulang sama dokter Arif. Dokter Arif rabun senja. Dan kamu harus jadi mata untuknya." Ujar Zidan.
"Kenapa bisa seperti ini? sepertinya mata dokter Arif baik-baik saja." Ujar Tami.
"Oh itu menurut kamu. Biasanya dia pakai softlens tapi dia lupa membawa softlensnya." Jelas Zidan asal. Dia sengaja melakukan itu agar dirinya bisa berduaan dengan Tiara.
"Kok aneh ya mbak." Tiara ikut buka suara.
"Sstt kamu masuk." Titah Zidan.
"Enggak mau." Tiara menolak.
"Kalau tidak mau saya angkat." Ancam Zidan dan dengan posisi ingin mengangkat Tiara.
"Stop, iya aku naik dan jangan sentuh." Tiara langsung naik ke mobil sedangkan Tami masih diam.
"Udah sana, temani dokter Arif. Apapun masalah kalian lupakan sejenak. Kan kasihan kalau dokter idola kalian numbruk." Zidan menakuti.
Tami memutar badannya dan segera berjalan menghampiri Aneska dan Abian beserta dokter Arif. Sedangkan Zidan telah melajukan mobilnya.
"Dok, kita pulang sekarang." Titah Tami. Dan langsung mendapatkan tatapan dari semuanya.
"Ehem." Aneska berakting.
"Nes, enggak usah akting." Ujar Tami jutek.
__ADS_1
"Ye mbak Tami tensi. Tenggorokanku lagi gatal loh mbak." Aneska berakting dengan memegang tenggorokannya.
"Cepat dok, jaga kesehatan anda. Tidak baik kalau pulang terlalu malam. Saya akan menjadi mata untuk anda."
Semua orang mengerutkan dahinya seraya menatap Tami. Di pikiran Aneska, sahabatnya sangat perhatian ke dokter Arif. Sedangkan pikiran Abian dan dokter Arif berbeda. Keduanya bingung dengan istilah akan menjadi mata.
"Tunggu maksud kamu apa?" tanya dokter Arif bingung.
"Dokter rabun senja kan?" tanya Tami.
"Apa!" dokter Arif sontak kaget.
"Dok, jangan teriak jantung saya entar copot." Cibir Tami karena pria itu berbicara cukup kencang.
"Siapa yang mengatakan ke kamu kalau Arif rabun senja?" tanya Abian.
"Pak Zidan." Sahut Tami. Abian dan Aneska mengerti rencana Zidan, begitupun dokter Arif tau jika dia sedang di kerjain Zidan agar dapat berduaan dengan Tami.
"Oh iya, dokter Arif memang rabun senja malah semakin malam semakin parah. Jadilah mata untuknya." Jelas Abian yang sedang menahan tawanya.
Ucapan Abian membuat dokter ganteng itu langsung melototi sahabatnya.
"Udah sana pulang." Abian mengusir dokter Arif dengan mendorong punggung pria itu agar segera beranjak.
"Mbak hati-hati ya." Ujar Aneska.
Akhirnya dokter Arif dan Tami pulang bersama. Abian dan Aneska masih berdiri di tempat yang sama.
"Semoga mereka berjodoh." Gumam Abian dengan merangkul bahu istrinya.
"Sayang, bagaimana ultah kamu?" tanya Aneska dan sekarang telah berada di depan suaminya.
"Kamu di minta mami untuk merayuku?" tanya Abian.
"Enggak ada, memang ada syarat untuk mendapatkan restu salah satunya mengajak kamu untuk datang ke ultah. Tapi kalau kamu tidak mau enggak apa-apa. Aku juga senang jika kita di sini." Aneska memeluk pinggang suaminya.
"Tapi..." Aneska melanjutkan kembali ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Abian dan melepaskan tangan istrinya dari pinggangnya. Dia ingin melihat wajah cantik istrinya di bawah sinar rembulan.
"Aku telah menyiapkan kado untuk kamu, dan kadonya ada di istana." Sahut Aneska.
"Kalau kamu yang memintaku untuk hadir di acaraku. Aku akan datang." Abian mengelus pipi dan memegang dagu istrinya.
"Ini adalah ultah kamu yang telah sekian lama tidak pernah di rayakan, dan aku ingin kamu memperkenalkan aku ke semua tamu undangan aku adalah istri kamu." Ujar Aneska.
"Aku kabulkan." Abian memegang dagu istrinya dan ingin mengecup bibir istrinya. Dan ada seseorang yang menepuk bahu Abian. Sontak Abian kaget.
"Ibu?" Abian menoleh kebelakang
"Tontonan hanya untuk umur di atas tujuh belas tahun, jangan tunjukkan adegan itu di kampung ibu." Berujar dengan tatapan tajam.
Bersambung...
__ADS_1
🌹🌹🌹
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014