Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 33


__ADS_3

"Apa acaranya sudah bisa di mulai." Tanya petugas KUA.


"Sudah pak."Jawab Zidan.


Aneska duduk di sebelah Zidan, pria di sampingnya terus memandang penampilan gadis itu. Perawat itu penampilannya sangat mempesona. Ibu Aneska duduk bersama adiknya. Wanita paruh baya itu memperhatikan nyonya Rona dan keluarganya.


"Cyra, siapa mereka semua." Bisik ibu Desi.


"Enggak tau bu, sepertinya keluarga mempelai pria." Bisik Cyra lagi.


"Tapi kenapa mereka tidak menyapa kita ya, apa kita yang menyapa terlebih dahulu." Bisik ibunya lagi.


"Mungkin bu." Ucap Cyra. Ibu Desi berdiri dari kursi dan menyapa keluarga Bassam.


"Selamat siang bu, saya keluarga mempelai wanita." Ucap ibu Desi sambil mengulurkan tangannya ke arah nyonya Rona.


Nyonya Rona tidak membalas uluran tangan itu, dia memalingkan wajahnya. Ibu Desi mengerutkan dahinya, dia tidak suka dengan kesombongan wanita di depannya. Wanita paruh baya itu mau mendamprat nyonya Rona tapi anaknya Cyra sudah keburu membawanya menjauh dari keluarga itu.


"Ibu kita duduk di sana saja." Ucap Cyra.


"Orang kaya sombong." Gerutu ibu Desi sambil mencibir ke arah nyonya Rona.


Oma Zulfa mendatangi keluarga Aneska.


"Boleh saya bergabung duduk di sini." Ucap oma Zulfa.


"Silahkan ini bukan kursi kami." Jawab ibu Desi ketus. Di perlakukan seperti itu oma Zulfa tidak marah, dia malah menyodorkan tangannya ke arah orang tuanya Aneska.


"Saya oma Zulfa, yang tadi itu Rona anak saya. Dia memang sombong, tapi kalian tidak usah memusingkannya." Ucap oma Zulfa.


"Oh jadi nenek sihir itu anak ibu." Ucap ibu Desi lagi.


"Hahaha, kamu mirip sekali dengan Aneska." Ucap oma Zulfa sambil tertawa.


"Bukan saya yang mirip Aneska, tapi anak saya yang mirip ibunya." Ucap ibu Desi memperbaiki kalimat wanita sepuh itu.


Di meja ijab kabul, pihak KUA masih melihat berkas dan kelengkapan lainnya.


"Seharusnya yang akan menikah dengan Aneska cucu saya." Ucap oma Zulfa pelan.


"Maaf oma, mempelai pria bukan cucu oma." Timpal Cyra.


"Bukan, dia orang kepercayaan keluarga kami." Ucap oma.


"Oh bulat." Ucap ibunya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Puji dan syukur kehadiran Allah subhanahu wataala yang mana telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya untuk kita menghadiri acara akad nikah anak Zidan dan Aneska, untuk mempersingkat waktu acara akan di mulai." Ucap Host.


Pihak KUA memberikan arahan kepada mempelai pria dan orang tua Aneska. Kedua tangan mereka saling berpegangan.


"Saudara Zid." Tiba-tiba bapaknya Aneska diam. Karena ada suara seseorang yang sangat menggelegar.

__ADS_1


"Abian, bukan Zidan." Teriak Abian.


"Abian, apa-apaan ini." Ucap nyonya Rona marah.


"Kamu siapa." Ucap bapaknya Aneska bingung.


"Saya calon menantu bapak, dia hanya pemeran pengganti." Ucap Abian sambil menunjuk ke arah Zidan dengan lirikan matanya.


Di kursi tamu oma Zulfa tersenyum senang.


"Itu cucu saya." Ucap oma kepada ibu Desi dan Cyra.


"Aneska siapa sebenarnya calon suami kamu." Tanya bapaknya bingung.


"Bukan keduanya." Ucap Aneska cepat.


"Kalau bukan keduanya kenapa kamu mau menikah." Ucap bapaknya penasaran.


Saksi dan pihak KUA sedang berunding kepada bapaknya Aneska.


"Pernikahan kita batalkan." Ucap pihak KUA.


"Tidak ada pembatalan, lanjutkan pernikahan ini. Dan kamu pemeran pengganti silahkan geser dari tempat duduk itu." Ucap Abian sambil memegang bahu Zidan.


"Maaf tuan, saya tidak bisa." Ucap Zidan.


"Apa dengan ini kamu bisa?" Abian menyodorkan pistol ke arah Zidan. Pria itu otomatis langsung beranjak. Suasana di rumah danau terlihat cukup mencekam karena Abian sedang memegang pistol.


Oma Zulfa tidak menjawab, dia juga khawatir kalau cucunya membunuh seseorang. Posisi sekarang berubah, Abian berada di kursi mempelai pria.


"Halo bapak mertua, nikahkan kami." Ucap Abian.


"Tidak, aku tidak mau menikahkan anak gadisku sama penjahat seperti kamu." Ucap bapaknya Aneska lantang.


"Ok, kalau tidak mau cara halus saya pakai cara kasar." Abian menyodorkan pistol ke arah Aneska.


Ibu Desi melihat anak gadisnya di sodorkan pistol langsung pingsan.


"Abian stop, mami tidak akan pernah merestui pernikahan kamu." Teriak nyonya Rona.


"Ssttt." Abian meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Dia tidak suka dengan omelan maminya.


"Lupakan mereka kita lanjutkan." Ucap Abian. Pak Mirza melihat anak gadisnya yang sudah keringat dingin, dia tidak punya pilihan lain selain menikahkan anaknya dengan Abian.


"Abian, kamu tidak bisa menikah, karena seorang mempelai pria harus mempunyai mahar. Dan mana maharmu." Ucap Farid lantang.


"Maaf apa yang di katakan benar, tuan harus ada mahar." Ucap pihak KUA takut.


"Tenang semuanya, mahar untuk mempelai wanita sedang dalam perjalanan." Ucap Abian kencang.


Keluarga Bassam sedang menebak-nebak apa mahar yang akan di berikan Abian kepada Aneska.

__ADS_1


Abian membisikkan kepada pihak KUA dan saksi tentang maharnya.


Saksi, pihak KUA dan bapaknya Aneska saling pandang.


"Jangan kebanyakan mikir cepat nikahkan kami." Ucap Abian.


Abian memegang tangan calon mertuanya. Dia memberi kode kepada pria paruh baya itu untuk menikahkan anaknya.


"Siapa nama kamu." Tanya bapaknya Aneska. Abian memberitahukan nama panjangnya.


Bapaknya Aneska menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum memulai ijab kabul.


"Saudara Abian Ansel Bassam bin Bassam, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Aneska Afia Mirza binti Mirza dengan mas kawin dua puluh lima persen kekayaan Bassam secara tunai."


"Saya terima dan nikahnya Aneska Afia Mirza binti Mirza dengan mas kawin tersebut tunai." Ucap Abian.


"Sah." Ucap saksi.


Nyonya Rona dan keluarganya langsung sewot. Mereka tidak terima dengan mas kawin yang di berikan Abian kepada Aneska.


"Ini tidak sah, mas kawin itu tidak ada di sini." Ucap nyonya Rona lantang.


"Siapa bilang tidak sah, surat-surat sudah ada di sini." Ucap seorang pria paruh baya yang baru tiba di rumah danau, dia adalah pengacara keluarga Bassam.


Pengacara itu menyerahkan surat-surat yang menjadi hak Aneska. Melihat itu nyonya Rona langsung pingsan.


"Mami sadar." Ucap Tanisa menyadarkan orang tuanya. Surat-surat mas kawin di cek para saksi. Dan mereka menyatakan kalau Abian dan Aneska sah menjadi suami istri.


Abian mengambil rokok yang ada di sakunya, dia menyalakan dengan pistolnya.


"Jadi itu bukan pistol beneran." Gerutu bapaknya Aneska.


"Terima kasih bapak mertua telah menikahkan kami." Ucap Abian menyalami tangan bapaknya Aneska.


Pria itu mendatangi ibu mertuanya yang baru sadar dari pingsan.


"Saya Abian menantu ibu." Ucap Abian menyalami ibu Desi.


"Kamu!" ibu Desi kembali pingsan. Aneska buru-buru menghampiri Abian.


"Ini semua karena ulahmu." Gerutu Aneska sambil menuding Abian dengan jari telunjuknya.


Abian langsung menangkap tangan Aneska. Dia mengecup punggung tangan istrinya di saksikan semua orang.


"Apa-apaan kamu." Ucap Aneska bingung.


"Kamu sekarang istriku, apa seperti itu caramu berbakti kepada suami." Sindir Abian sambil menyodorkan tangannya ke arah Aneska. Wanita itu bingung mau melakukan apa, akhirnya dia mencium tangan Abian layaknya seorang istri yang berbakti sama suami, dan suaminya membalas dengan mengecup dahinya.


Bersambung.


Silahkan vote sebanyaknya ya, agar tambah semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2