Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 114


__ADS_3

Anggela masih terus memukuli Zidan, dia tidak ikhlas dengan perubahan wajahnya. Oma Zulfa datang ke kamar itu dan melihat Zidan dan Anggela main pukul-pukulan.


"Katanya pingsan, nyatanya sedang bermain." Gumam oma Zulfa.


Zidan melihat ada oma yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


"Ada oma." Zidan sengaja mengatakan itu agar Anggela selesai menyiksanya.


Anggela menoleh ke arah pintu.


"Oma." Ucap Anggela melepaskan tangannya dari badan Zidan.


"Katanya pingsan." Ucap oma.


"Iya oma, tadi dia pingsan tapi aku sudah menyadarkannya." Ucap Zidan bangga.


"Bagus kalau gitu." Begitu oma masuk ke dalam kamar itu Zidan langsung kabur untuk menyelamatkan diri.


Oma melihat wajah Anggela.


"Wajah kamu glowing banget." Ucap oma penasaran.


"Ah oma." Rengek Anggela sambil berlari ke kamar mandi. Dia merasa sedang di ejek oma.


"Pakai perawatan apa?" tanya oma yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. Oma melihat Anggela membersihkan wajahnya dengan serangakaian perlengkapan wajahnya.


"Oma ngejek ya." Ucap Anggela sambil mencuci wajahnya.


"Serius, oma mau seperti wajah kamu, glowingnya seperti senter." Ucap oma sambil memegang wajahnya. Anggela langsung memakai masker di wajahnya. Dia tidak mau wajahnya berubah seperti ikan.


Setelah selesai mengolesi masker ke wajahnya. Anggela mendekati nakas yang ada mangkuk kecil. Dia menyerahkan mangkuk itu ke oma.


"Apa ini?" tanya oma.


"Oma cium kira-kira apa itu." Ucap Anggela sambil merapatkan giginya karena masker yang di pakainya sudah mulai mengering.


Oma mendengus ke arah mangkok yang di pegangnya.


"Kenapa baunya seperti bau ikan asin?" tanya oma sambil tetap mendengus ke dalam mangkuk.


"Itu minyak jelantah oma."


"Oh iya minyak jelantah, ternyata ada perawatan murah meriah yang bisa di dapatkan di dalam istana." Ucap oma senang.


"Bukan oma, itu bukan perawatan yang oma maksud, tadi Zidan menyadarkanku dengan memakai itu." Jelas Anggela.


"Hah? Zidan menyadarkan kamu dengan pakai minyak ini? sepertinya itu ilmu baru. Oma akan menggunakan ilmu baru ini." Ucap oma senang.


"Bukan oma, maksud aku.." Belum selesai Anggela menyelesaikan kalimatnya. Oma sudah memotong pembicaraannya.


"Akan oma praktekkan nanti." Ucap oma semangat.


Anggela malas untuk menjelaskan ke wanita tua yang ada di depannya. Dia bertekad tidak akan pingsan lagi.


Oma memperhatikan warna kulit Anggela yang mulai berubah.

__ADS_1


"Apa kamu baru di hukum Abian?" tanya oma.


Anggela menganggukkan kepalanya.


"Kamu itu selalu mengikuti semua ucapan Rona." Ucap oma kesal.


Anggela hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"Jawab oma, kesalahan apa yang sedang kamu perbuat dan yang lainnya?" tanya oma. Anggela melihat oma dan langsung menutup pintu kamarnya.


"Oma jangan marah ya." Anggela menceritakan tentang perbuatan rona mencampurkan obat kuat ke dalam minuman Abian, dan juga menceritakan tentang dirinya yang mengintip ke kamar Abian. Semua diceritakannya.


Wajah oma langsung memerah karena menahan marah.


"Ibu seperti apa yang tega memisahkan anaknya dengan istrinya." Ucap oma marah.


"Oma jangan marah samaku, aku melakukan ini karena perintah tante Rona." Jelas Anggela.


"Jadi kalau Rona memerintahkan kamu makan kotoran kamu makan, terus dia suruh terjun ke laut kamu juga ikut." Ucap oma marah.


"Enggak oma, aku kapok. Cukup terakhir aku mengikuti semua perintah tante." Ucap Anggela takut.


"Lain kali di pikir. Abian itu mencintai istrinya jangan jadi pelakor dalam rumah tangganya. Kalau sampai kamu jadi perusak rumah tangganya, oma gundul rambut kamu." Ancam oma.


"Idih oma serem."


"Jadi wanita baik-baik biar agar kamu di hargai pria, mau sampai kapan kamu seperti ini?" Oma melampiaskan amarahnya ke Anggela. Wanita itu hanya mendengarkan tanpa berani menjawab ataupun membantah. Karena semua yang di ucapkan oma semuanya benar.


Zidan ada di ruang kerja bersama dengan Abian. Mereka menyelesaikan pekerjaan untuk seminggu ke depan.


"Oh ya." Ucap Abian tanpa menoleh ke arah Zidan.


"Dia tamatan dari luar negeri dan bahasa asingnya sangat mahir." Jelas Zidan.


Abian mengangkat kepalanya sambil melihat ke arah Zidan.


"Apa dia seorang wanita?" tanya Abian.


"Bukan tuan, dia seorang pria namanya Langit." Jawab Zidan.


Abian tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Kenapa tuan tersenyum?" Zidan penasaran dengan senyuman bosnya.


"Kapan kamu move on dari istriku?" tanya Abian sambil mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Zidan.


"Maksud tuan apa?" tanya Zidan bingung.


"Aku tetap menganggap kamu musuhku jika kamu belum mempunyai kekasih tapi jika kamu sudah bisa move on dan mempunyai kekasih kita bisa bersahabat seperti dulu." Ucap Abian tegas.


Zidan diam, dia pelan-pelan sudah melupakan Aneska, dengan tidak curi-curi pandang ke Aneska, tapi untuk mempunyai kekasih dia memang belum memikirkan hal itu.


"Kenapa diam?" tanya Abian.


"Maaf tuan, saya sudah melupakan istri anda." Jawab Zidan.

__ADS_1


"Kalau kamu sudah melupakan seharusnya kamu sudah memiliki kekasih."


"Maaf tuan, saya bukan pria yang mudah jatuh cinta, saya punya prinsip kekasih sekaligus teman hidup selamanya. Dan saya belum menemukan sosok wanita seperti itu." Ucap Zidan sambil menatap ke bosnya.


Abian menganggukkan kepalanya mengerti akan perasaan Zidan. Cinta tidak bisa di paksakan.


"Kamu benar, tapi kamu harus membuka diri dengan wanita lain. Berdiam diri tidak akan menyelesaikan masalah."


Zidan lagi-lagi diam.


"Sepertinya kamu dekat dengan wanita itu." Ucap Abian.


"Wanita itu? maksud tuan siapa?" tanya Zidan bingung.


"Si pingsan." Jawab Abian singkat.


"Oh Anggela. Maaf tuan saya bukan dekat seperti yang tuan pikirkan. Saya hanya membantunya." Jelas Zidan.


"Ya aku tau, wanita itu menurutku tidak cocok dengan kamu. Carilah wanita yang sederhana, karena wanita sederhana cenderung lebih mencintai pria di bandingkan uangnya." Jelas Abian.


"Maksud tuan jangan wanita matre gitu."


"Nah itu, panjang banget penjelasanku." Abian dan Zidan tertawa dan kembali mengerjakan pekerjaannya.


Tanisa berada di kamar maminya. Dia terlihat mondar-mandir di depan maminya.


"Tanisa lebih baik kamu duduk, mami tambah pusing melihat kamu seperti itu."


Tanisa duduk di hadapan maminya.


"Mami bantu aku." Rengek Tanisa.


"Bantu apa? Mami tidak bisa membantu kamu untuk menetap di sini. Perbuatan kamu sudah membuat mami kecewa." Ucap nyonya Rona marah.


"Aku selingkuh karena mami." Ucap Tanisa marah.


"Mami? kenapa sekarang kamu menyalahkan mami, kenapa?"


"Mami yang menjodohkanku sama Farid padahal aku mempunyai seorang kekasih. Jadi semua karena mami."


"Kamu!" nyonya Rona menuding anaknya dengan jari telunjuknya.


"Lihat semua karena mami, Farid bukan pria yang baik mami. Dia banyak menyusahkan kita dan aku sudah menaruh curiga ketika dia mengambil alih perusahaan dan dugaanku benar."


Nyonya Rona diam dan menelaah semua ucapan anaknya.


"Farid bukan pria kaya yang seperti mami maksud. Perusahaannya mengalami kebangkrutan, dia mengandalkan perusahaan kita untuk perusahaannya. Dia tidak mencintaiku." Ucap Tanisa sambil menangis.


Nyonya Rona memeluk anaknya.


"Kalau kamu mau bercerai dengannya silahkan mami tidak akan menahan kalian lagi. Perbuatan Farid memang tidak bisa di maafkan." Ucap nyonya Rona sambil memeluk anaknya.


Di depan pintu Farid mendengar semua ucapan istrinya. Darahnya serasa panas. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Istrinya telah berani mengatakan rahasia yang seharusnya tidak di katakan kepada siapapun.


Bersambung...

__ADS_1


Ig Anita_rachman83


__ADS_2