Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 54


__ADS_3

Ucapan Abian membuat Aneska tidak bisa berkata-kata. Perasaannya masih bimbang, dia masih meragukan ucapan Abian. Karena masih ingat di benaknya tentang pernikahan rekayasa yang di buat suaminya untuk menjemput kembali Vania.


"Aku lapar." Ucap Aneska agar suaminya melepaskan pelukannya.


Abian melepaskan pelukannya.


"Aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi." Ucap Aneska menghindari tatapan Abian yang teduh.


Aneska belari kecil menuju kamar mandi, dia mengisi bathtub dengan air hangat dan memberikan beberapa tetes minyak esensial. Dia berharap aroma minyak itu dapat menenangkan suaminya.


"Apa kepalanya baru ke bentur?" gumam Aneska sambil melihat dirinya dari cermin.


"Enggak Aneska, jangan sampai kamu jatuh hati dengan Abian." Gumam Aneska lagi.


"Tapi dia baik, aduh aku bisa gila kalau mengingat kejadian tadi." Aneska menutup keran air yang sudah memenuhi bathtub. Dia keluar kamar dan mendapati suaminya sedang berdiri di balkon.


"Air hangatnya sudah siap." Aneska membalikkan badannya. Abian kembali menarik tangan istrinya. Dia memeluk erat tubuh istrinya.


"Abian kamu kenapa?" ucap Aneska.


"Bagaimana perasaan kamu kepadaku?" ucap Abian.


Deg, pertanyaan yang selalu menjadi momok menakutkan buat Aneska. Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulut Abian.


Aneska diam, dia tidak tau dengan perasaannya.


"Jawab." Desak Abian.


"Hemmm, kamu baik malah sangat baik. Memang pertama melihat, aku pikir kamu singa, hahaha julukan itu ternyata keluar juga dari mulutku." Ucap Aneska sambil tertawa.


"Anes bukan itu." Ucap Abian.


"Lalu apa." Aneska pura-pura oon.


"Apakah kamu mencintaiku." Tanya Abian.


"Apa!" Aneska kaget. Abian menatap wajah istrinya tapi tetap melingkarkan tangannya di pinggang Aneska.


"Heemm, kita sama." Ucap Aneska pelan.


"Sama apa?" Abian penasaran.


"Kamu minta di ajarkan cara mencintai aku, dan akupun sama." Ucap Aneska.


Abian menghela nafasnya.


"Apa kamu tidak suka denganku." Tanya Abian lagi.


Kalau aku jujur dan mengatakan aku tidak suka sama dia, pasti bukan hanya parang yang akan di lempar ke wajahku. Mungkin keluarganya pandai besi akan melayang ke tubuhku.


"Abian lebih baik kamu mandi, pikiran kamu masih kacau." Ucap Aneska menghindar.

__ADS_1


"Aku butuh jawaban darimu." Ucap Abian tegas.


Aneska mencari aman.


"Iya aku suka." Ucapan Aneska belum selesai. Abian sudah menciuminya.


"Hei belum selesai."


Abian berhenti mencium istrinya, dia kembali menatap wajah Aneska.


"Suka dan cinta itu dua kata yang berbeda. Aku suka sama kebaikan kamu tapi belum cinta." Ucap Aneska jujur.


Abian menghela nafasnya yang berat. Dia melepaskan tangannya dari pinggang istrinya. Abian melihat pemandangan yang ada di depannya.


Melihat tingkah suaminya yang diam. Aneska ketakutan, dia membayangkan akan hukuman yang di terimanya.


Abian membalikkan badannya dan melihat Aneska.


"Aku tidak akan memaksa kamu untuk mencintaiku. Tapi aku akan membuat kamu tergila-gila padaku." Ucap Abian sambil mengecup bibir istrinya dan berjalan masuk ke dalam kamar.


"What! aku tergila-gila padanya tidak mungkin." Gerutu Aneska.


Abian keluar lagi.


"Apa lagi." Tanya Aneska.


"Tiga minggu lagi aku akan ulang tahun, dan kado darimu sebuah ucapan cinta bukan yang lain." Ucap Abian sambil tersenyum dan masuk kembali ke kamar.


"Wah ini namanya pemaksaan, dia minta aku mengajarinya untuk mencintaiku. Giliran aku harus langsung mencintainya. Aduh kenapa harus tiga minggu sih, tiga abad gitu." Gerutu Aneska


***


Farid langsung di tangani di ruang IGD. Tanisa dan nyonya Rona terlihat khawatir dengan keadaan Farid. Pihak dokter menanyakan apa yang menyebabkan wajah pasiennya sampai hancur dan babak belur.


"Menantu saya, baru di keroyok." Ucap nyonya Rona.


"Ibu bisa membuat laporan ke polisi tentang kejadian ini." Ucap dokter.


"Eh iya, nanti akan kami laporkan. Sekarang tolong sembuhkan dulu menantu saya." Ucap nyonya Rona gugup.


"Mami, kenapa enggak bilang saja kalau Abian yang melakukan ini." Bisik Tanisa.


"Kamu pikir segampang itu, ingat yang memulai pertama Farid dan dia juga menghajar Abian. Satu lagi kalau sampai Abian masuk penjara, harta kita akan ikut di penjara sama Abian." Bisik nyonya Rona.


"Ibu silahkan daftar dulu di bagian registrasi." Ucap perawat.


"Baik." Nyonya Rona dan Tanisa ke loby rumah sakit dan mendaftarkan Farid. Dokter Arif baru keluar dari lift, sekilas dia melihat ada sosok yang di kenalnya yaitu keluarga Bassam. Dokter ganteng itu memastikan penglihatannya. Ketika yakin, dia menghampiri keduanya.


"Nyonya Rona, Tanisa? apa yang kalian lakukan di sini." Tanya dokter Arif.


Tanisa dan nyonya Rona melihat asal suara yang memanggil nama mereka.

__ADS_1


"Arif, syukurlah ketemu kamu di sini." Ucap nyonya Rona lega.


"Ada apa? siapa yang sakit?"


"Farid." Jawab Tanisa.


"Farid kenapa?" ucap dokter Arif lagi.


"Dia baru berkelahi dengan Abian. Wajahnya sampai babak belur."Jawab Tanisa.


Dokter Arif langsung menuju IGD, di ikuti nyonya Rona dan Tanisa. Dokter Arif mengerutkan dahinya, menurutnya wajah Farid susah di kenali.


"Ceritakan kepadaku." Tanya dokter Arif.


"Sebaiknya kita bicarakan ini di luar." Ucap nyonya Rona.


Dokter Arif setuju, mereka kembali ke loby rumah sakit.


"Abian marah dan memukul Farid." Ucap Tanisa tidak membicarakan yang sesungguhnya.


"Kenapa? pasti ada alasannya." Tanya dokter Arif lagi.


"Mungkin masalah kerjaan." Timpal nyonya Rona bohong.


Dokter Arif kurang yakin dengan jawaban dua wanita di depannya. Karena dia tau tentang karakter keduanya.


"Abian bukannya sudah sembuh?" ucap dokter Arif lagi.


"Siapa yang bilang? pasti perawat itu." Ucap nyonya Rona.


Dokter Arif menganggukkan kepalanya.


"Dia belum sembuh, kalau sembuh tidak mungkin dia memukul suamiku sampai seperti itu." Timpal Tanisa ketus.


"Arif, sembuhkan Farid." Ucap Tanisa.


"Tenang Tanisa, rumah sakit ini banyak dokter-dokter hebat. Aku akan rekomendasikan sama dokter Diki." Ucap dokter Arif kembali ke IGD dan mengatakan kepada dokter jaga agar dokter Diki yang menangani Farid.


Setelah mengatakan kepada dokter yang ada di IGD dokter Arif pamit pulang, karena jadwalnya di rumah sakit itu sudah habis.


Zidan masuk ke loby rumah sakit sambil menghubungi nyonya Rona. Karena sebelumnya wanita paruh baya itu sudah menyuruhnya ke rumah sakit.


"Nyonya anda di mana?" ucap Zidan.


"Kami di IGD." Jawab nyonya Rona. Zidan berlari ke IGD. Ketika melihat wajah seseorang yang hancur, Zidan tidak bisa menebak siapa itu. Tapi karena ada Tanisa yang berdiri di samping tempat tidur, Zidan langsung tau kalau yang sakit Farid.


"Apa yang terjadi." Tanya Zidan. Nyonya Rona membawa Zidan ke luar IGD. Dia menceritakan semuanya kepada orang kepercayaannya, beda halnya dengan Arif, wanita paruh baya itu menyimpannya rapat-rapat.


"Apa telah terjadi sesuatu di kantor." Tanya nyonya Rona.


"Enggak ada, saya di tugaskan untuk menggantikan tuan Farid." Zidan mencoba mengingat omongan karyawan yang membicarakan kejadian di dalam ruangan direktur pemasaran.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2