
Hari telah petang, para penghuni istana tengah bersiap dengan penampilan mereka. Pria dan wanita tetap ingin menunjukkan penampilannya. Terbukti dari para pekerja pria yang sangat senang mendapatkan pakaian Farid.
Abian telah bersiap dengan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya dan dasi kupu-kupu untuk menyempurnakan penampilannya. Sepatu hitam yang sangat mengkilap dikenakannya dan tatanan rambut yang sangat rapih.
Aneska belum bersiap sama sekali, dia tidak tau caranya berdandan. "Sayang, kamu keluar dulu sapa semua tamu." Ujar Aneska yang masih berada di kamar mandi.
"Baiklah aku tunggu di luar ya. Jangan lama." Sahut Abian dari depan pintu kamar mandi. Abian keluar kamar dan menuju pekarangan istana, di pelataran istana telah di penuhi tamu undangan. Dia menghampiri semua tamu undangan.
Sama halnya dengan Aneska, ibu Desi dan Cyra belum berhias. Mereka tidak tau namanya berhias, hanya lipstik yang di kenakan agar tidak terlihat pucat.
Ibu Desi dan Cyra keluar dari kamar dan berpapasan dengan oma. "Desi Cyra." Oma memperhatikan penampilan orang tua dan adik Aneska.
"Iya oma." Sahut ibu Desi.
"Kenapa kalian tidak berhias?" tanya oma.
"Kami tidak bisa berhias." Sahut ibu Desi.
"Hemm, oma tau siapa yang bisa membantu kalian." Oma membawa ibu Desi dan Cyra ke kamar Anggela. Kamar Anggela tidak di kamar yang dulu, kamarnya sekarang telah di pindah di kamar pelayan.
Oma mengetuk pintu kamar dan dengan cepat pintu terbuka. "Anggela, kamu belum bersiap?" tanya oma.
"Enggak oma, aku tidak ikut dalam acara Abian." Sahut Anggela. Ibu Desi bingung karena kamar Anggela sangat kecil dan di tempatkan bersama dengan pelayan.
"Bukannya kamar kamu ada di atas?" tanya ibu Desi.
Oma dan Anggela tidak menjawab. Wanita tua itu fokus ke Anggela. "Anggela lebih baik kamu bersiap dan bantu oma untuk merias mereka." Titah oma.
"Merias?" tanya Anggela bingung.
"Iya, kamu oma lihat pintar make up, jadi tidak salahnya membantu mereka." Sahut oma seraya menunjuk ke arah ibu Desi dan Cyra.
"Baiklah, aku suka merias. Ayo masuk." Anggela mulai merias Cyra dan oma meninggalkan ibu dan anak di kamar Anggela.
Di sela-sela merias anak bungsunya, ibu Desi bertanya tentang pindahnya kamar Anggela. Dia merasa penasaran dengan perubahan Anggela yang tidak memakai pakaian glamor.
"Anggela kenapa kamu berada di kamar ini?" tanya ibu Desi di sela-sela Anggela merias Cyra.
"Panjang bu ceritanya, intinya karena perbuatan Farid. Tapi aku senang walaupun dapat kamar kecil setidaknya aku tidak di usir." Jelas Anggela.
Ibu Desi tidak bertanya lagi, menurutnya Anggela banyak berubah dari Anggela yang dulu di kenalnya.
Cyra telah selesai di rias, dan tiba giliran ibu Desi. "Pasti Aneska belum berias." Gumam ibu Desi.
"Aku bisa merias Aneska." Sahut Anggela yang mendengar gumaman wanita paruh baya itu.
Dalam beberapa menit Anggela telah selesai merias ibu Desi. Ibu Desi melihat bayangannya dari dalam cermin.
__ADS_1
"Apa ini ibu?" tanya ibu Desi tidak percaya.
"Iya, kalau jarang berias akan terlihat beda dan tentunya memalingkan." Sahut Anggela.
"Nah itu baru benar, enggak seperti tadi, alis mirip tikungan tajam mata seperti kena tonjok dan bibir...." Cyra diam karena ibunya langsung menyela omongannya.
"Cyra diam jangan kamu keluarkan tanduk ibu." Ujar ibunya yang sedang bercermin.
Cyra memonyongkan bibirnya dan tidak melanjutkan mengejek ibunya.
"Anggela sepertinya kamu harus membantu Aneska." Pinta bu Desi.
"Apa Aneska mau kalau saya yang merias?" tanya Anggela yang terlihat ragu. Dia tau hubungannya dengan Aneska tidaklah baik. Apalagi semenjak dia di perintahkan nyonya Rona untuk menjebak dan merayu Abian. Dan perbuatan Farid ke Aneska membuatnya sungkan untuk beramah tamah dengan istri dari pemilik istana.
"Udah nanti ibu yang bilang." Anggela membawa semua alat make upnya ke kamar Aneska.
Pintu kamar di ketuk di depan kamarnya ada ibunya dan Cyra dan tidak terlihat ada Anggela di situ.
"Wah ibu cantik banget." Puji Aneska.
"Kamu belum bersiap?" tanya ibunya yang tengah memperhatikan anaknya masih mengenakan kimono handuk.
"Belum bu, Anes bingung." Aneska malu jika penampilannya akan membuat suaminya malu.
"Enggak usah bingung ibu ada solusinya." Ibu Desi menggerakkan kepalanya agar Anggela segera mendekat.
"Aku memohon Abian untuk tidak mengusirku dan dia setuju dengan syarat aku harus memancing Farid untuk keluar dari tempat persembunyiannya." Jelas Anggela.
Aneska masih menatap tajam wanita yang ada di depannya. Dia belum bisa mempercayai Anggela sepenuhnya.
"Aduh Aneska jangan bengong, acara udah mau di mulai. Tapi kamu belum juga berdandan. Anggela rias Aneska sekarang." Ujar ibu Desi.
Melihat penampilan ibu dan adiknya yang cantik tidak ada alasan untuk Aneska menolak karena dia juga bingung cara merias wajahnya.
"Baiklah mari masuk." Anggela masuk ke kamar sedangkan ibu Desi dan Cyra menuju pelataran istana.
"Sebelum aku rias, boleh aku lihat gaun yang akan kamu kenakan?" tanya Anggela.
Aneska menunjukkan gaun pemberian butik Zira. Warna hitam tanpa lengan dengan model basahan.
"Menurutku, make upnya harus lebih berani dan rambut akan aku sanggul, bagaimana?" tanya Anggela.
"Baiklah yang penting jangan menor." Sahut Aneska.
Anggela sedang merias Aneska di kamar. Dan keadaan istana sangat ramai dari semua kalangan. Nyonya Rona memperkenalkan teman sosialitanya ke Abian. Dengan wajah yang terpaksa Abian mencoba tersenyum walaupun dia enggan untuk beramah tamah dengan para ibu-ibu yang selalu menghabiskan uang suami hanya untuk mengikuti gaya berpakaian geng sosialitanya.
"Abian jadi mantu tante aja ya." Ujar salah satu teman maminya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Abian. Melihat ekspresi anaknya yang berubah, nyonya Rona buru-buru mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Jeng kita cicipi kudapan dulu yuk." Ajak nyonya Rona ke semua geng sosialitanya.
Dokter Arif baru tiba dan dia menghampiri Abian. "Selamat ulang tahun bro." Dokter Arif menyalami dan memeluk temannya. Di tempat yang sama tidak jauh dari tempat berdirinya Abian dan dokter Arif. Ada Zidan yang terus melihat jam di tangannya.
Dia menunggu kehadiran calon istrinya. Seperti sebuah doa yang terjawab, Tami Tiara dan temannya Aldo Dimas telah tiba. Menggunakan mobil sejuta umat. Ketika memarkirkan mobil di deretan mobil mewah membuat Aldo minder.
"Ya ampun, mobilku paling murah di antara yang lain." Gerutu Aldo.
"Do bersyukur masih banyak orang susah jangan lihat ke atas tapi lihat ke bawah." Ujar Tami menasehati.
"Iya mbak, menurutku cukup ceramahnya. Selama perjalanan mbak terus menasehati kami. Apa enggak capek." Sindir Aldo.
"Bener ya! awas kalau curhat." Ancam Tami ngambek dan segera turun dari mobil.
"Mbak tunggu." Tiara berteriak dan mengikuti Tami.
Melewati para pria yang memakai setelan jas.
"Bisa tunjukkan undangannya?" tanya para pria yang di tugaskan pihak istana untuk menjaga keamanan pesta.
"Aduh, kami teman istrinya tuan Abian. Kalau bapak tidak percaya bisa tanyakan ke Aneska." Jelas Tiara.
Aneska mengundang temannya hanya lewat ucapan dan ternyata memasuki pesta itu tidak segampang yang mereka pikirkan.
"Permisi, beri tempat untuk tamu undangan yang lain." Ujar pria berjas agar Tiara dan temannya bergeser tempat.
Tamu undangan mulai menunjukkan undangan dan menulis di buku tamu. Dan ada sosok pasangan suami istri yang mencuri perhatian mereka.
"Itu tuan Ziko dan pasti itu istrinya." Ujar Tami.
"Ziko siapa?" tanya temannya bingung.
"Kalian tidak tau? Beliau itu pemegang saham tertinggi di rumah sakit kita. Dan ternyata kita bisa melihat beliau dengan istrinya." Jelas Tami yang kagum dengan pasangan itu.
"Istrinya cantik banget ya, beda sama Aneska bulukan." Ujar Dimas.
Ketiga temannya langsung menoleh ke arah Dimas.
"Awas kami laporkan ke Aneska, buluk tapi pernah naksir kan." Sindir Tiara.
"Hehehe bercanda, mana mungkin Aneska buluk, cuma yang aku heran kenapa orang kaya selalu dapat pasangan yang cantik-cantik. Apa tidak kasihan sama pria seperti aku yang hanya naik motor butut." Ujar Dimas iri dengan nasib orang kaya yang sangat beruntung menurutnya.
Bersambung...
🌹🌹🌹
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
__ADS_1