Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 122


__ADS_3

Tiara merasa pendengarannya salah seraya melihat pria di depannya.


"Selera humor bapak tinggi, hahaha." Ucap Tiara menghindari tatapan Zidan.


"Saya serius! apa kamu tidak bisa membedakan kalau yang saya ucapkan ini benar dan bukan main-main." Ucapan Zidan membuat Tiara langsung mengatupkan mulutnya.


"Orang kaya aneh, baru kenal udah ngajak kawin." Gerutu Tiara pelan.


"Bagaimana? apa kamu siap?" tanya Zidan lagi yang terus menatap lembut Tiara.


"Hahaha sayangnya tidak." Tolak Tiara.


"Tidak, kenapa? apa ada yang salah dariku sampai kamu menolakku?" tanya Zidan bingung.


"Salahnya bapak banyak, pertama kita baru kenal, kedua saya bukan tempat pelarian anda dan yang ketiga menikahlah dengan orang yang bapak cintai." Jelas Tiara.


Zidan menelaah kata demi kata yang terlontar dari mulut Tiara, helaan nafasnya terdengar cukup keras.


"Baik akan saya jelaskan, memang kita baru saling mengenal, tapi menikah akan menjadi tahap awal untuk kita saling memahami karakter kita masing-masing." Jelas Zidan.


"Saya tidak setuju." Ucapan Tiara langsung di patahkan Zidan.


"Persetujuan kamu tidak di terima di sini!" ucap Zidan tegas.


"Apa!" Tiara langsung sewot.


"Tunda dulu marah kamu, aku akan menjelaskan semuanya. Kamu bukan pelarian, memang aku akui pernah mencintai seorang wanita dan sekarang aku ingin move on dan kamu wanita yang tepat untuk aku miliki."


"Uhuk-uhuk." Tiara yang sedang minum langsung tersedak.


"Itu sama saja saya sebagai tempat pelarian anda! mohon maaf bapak yang terhormat pernikahan bagi saya sangat sakral dan bukan candaan jadi candaan anda sangat tidak tepat." Tiara beranjak dari tempat duduknya.


"Dan satu lagi, saya hanya ingin menikah dengan pria yang saya cintai." Tiara keluar dari private room itu dan meninggalkan Zidan yang masih duduk memahami arti cinta sebenarnya.


Zidan tersadar jika Tiara sudah tidak di depannya, setelah melakukan pembayaran, dia berlari keluar dan mencari keberadaan Tiara. Dia tersenyum melihat perawat itu bersandar di pintu mobilnya.


"Aku pikir kamu kabur dan pulang sendirian." Ucap Zidan tersenyum seraya membuka mobilnya.


"Sebenarnya saya mau pulang sendiri tapi mengingat sudah malam, jadi yang bertanggung jawab di sini bapak. Bapak yang membawa saya pergi dan mengembalikan saya ke tempat semula." Ucap Tiara tegas seraya naik mobil Zidan.


"Saya pria yang bertanggung jawab." Zidan menyalakan mesin mobil dan langsung melaju meninggalkan restoran.


Pria itu sekilas melirik Tiara yang terus memalingkan wajahnya.


"Apa kamu marah?" tanya Zidan seraya tetap menyetir mobilnya.


"Ah marah? ngapain saya marah seharusnya bapak yang kecewa karena telah saya tolak." Ucap Tiara.


"Asal kamu tau, yang saya ucapkan benar dan saya akan melamar kamu setiap hari."


"Apa! setiap hari? bapak stres?" Tiara meletakkan tangannya di dahi Zidan.


"Stres sama demam beda Tiara." Ucapan Zidan membuat Tiara tertawa.


"Hahaha iya benar." Tiara tertawa dan menarik tangannya dari dahi Zidan.

__ADS_1


"Kalau kamu ingin tetap meletakkan tangan di dahi saya silahkan, saya tidak akan marah." Ucap Zidan dan menarik kembali tangan Tiara dan meletakkan di dahinya kembali.


"Hah?" Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sepertinya anda perlu ke psikiater." Ucap Tiara dengan tangan masih menempel di dahi Zidan.


"Saya tidak perlu psikiater, yang saya perlukan hanya jawaban dari kamu."


"Hah?" lagi-lagi Tiara hanya bengong dan bingung dengan sikap pria di sampingnya. Tiara pelan-pelan menurunkan tangannya dari dahi Zidan.


"Saya tidak meminta tangan kamu turun."


"Iya memang anda tidak minta tapi tangan saya pegal." Sahut Tiara yang langsung menyilang kan tangannya di dadanya.


Zidan tersenyum dan kembali fokus menyetir mobilnya.


***


Abian terus menggenggam jari jemari istrinya, rasa bersalah terus menghantuinya.


"Abian aku belum mengabari ibu." Ucap Aneska.


"Jangan katakan ke ibu kalau kamu seperti ini nanti ibu sedih." Ucap Abian yang memikirkan keadaan ibu mertuanya.


"Pasti ibu sedang menungguku." Ucap Aneska sedih.


"Aku akan menghubungi ibu, jangan katakan kalau kamu sedang di rawat." Aneska menganggukkan kepalanya setuju.


Panggilan terhubung. Abian menghubungi adiknya Ila.


"Halo kak." Sahut Ila dari ujung ponselnya.


"Sebentar kak." Ila berada dalam satu kamar dengan Cyra dan ibu Desi. Dia menyerahkan ponselnya ke wanita paruh baya itu.


"Ya menantu ada apa? Jam berapa pesawat kalian?" tanya ibu Desi.


"Hemm Aneska tidak jadi berangkat bu."


"Kenapa?" ucap ibu Desi bingung.


"Hemm, aku kesepian bu." Sahut Abian.


"Kesepian? bukannya kamu berangkat sama Aneska ke sini. Bagaimana ceritanya kesepian?" gerutu ibu Desi bingung.


"Tidak seharusnya kamu mengatakan seperti itu." Sayup-sayup ibu Desi mendengar ada suara seseorang.


"Menantu, ibu mau bicara sama Aneska." Ucap ibu Desi tegas.


Abian menyerahkan ponselnya ke istrinya.


"Iya bu." Sahut Aneska gugup.


"Kamu kenapa?" tanya ibunya yang curiga akan sikap anaknya.


"Aku tidak apa-apa bu." Jawab Aneska bohong.

__ADS_1


"Anes, ibu adalah orang yang telah melahirkan kamu, firasat ibu mengatakan telah terjadi sesuatu dengan kamu, benar kan?" tanya ibunya langsung.


Aneska bingung, dia tidak tau harus mengatakan apa ke ibunya.


"Kalau sampai ibu tau dari orang lain tentang kamu, awas." Ancam ibunya.


Aneska langsung menelan salivanya, ancaman ibunya lebih menakutkan dari teror bom.


"Anes baru mengalami kecelakaan." Ucap Aneska pelan.


"Ya Allah Anes? kok bisa sih, bukannya ada supir bagaimana ceritanya bisa kecelakaan." Ucap ibunya marah.


"Besok ibu balik." Ibunya langsung menutup panggilan sepihak.


Di kamar hotel.


"Ila, Cyra perlombaan piano kalian sudah selesai kan?" tanya ibu Desi kepada dua gadis belia yang sedang bersantai di atas tempat tidur kamar hotel.


"Sudah bu, besok pengumuman pemenangnya." Jelas Cyra.


"Kita pulang besok." Ucap ibunya tegas.


"Kok besok bu, bukannya masih ada beberapa hari lagi kita di sini." Timpal Ila.


"Iya, tapi Aneska baru saja mengalami kecelakaan."


"Apa!" kedua gadis itu sontak kaget.


"Ingat setelah juara di umumkan kita pulang."


"Iya bu." Ucap kedua gadis belia itu bersamaan.


***


Zidan memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang mes.


Tiara buru-buru turun, badannya terasa lelah.


"Terima kasih atas makan malamnya." Ucap Tiara.


"Maukah kamu menikah denganku." Ucap Zidan kembali.


"Hah? lagi?" Tiara menggaruk kepalanya. Pria di depannya tidak pantang menyerah.


"Saya sudah bilang akan melamar kamu setiap hari dan akan berhenti ketika kamu menerima lamaran saya." Ucap Zidan sungguh-sungguh.


"Iya saya tau dan jawaban saya tidak. Terima kasih pak." Tiara langsung memasuki pekarangan mes, meninggalkan Zidan yang masih diam terpaku di depan gerbang.


Tiara berlari kecil menuju kamarnya dan langsung menutup pintu kamarnya. Dia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Aku baru nemu pria aneh sekarang ini, ngebet banget mau kawin."


Tiara membayangkan yang aneh-aneh.


"Jangan-jangan dia hypersex." Tiara menjadi takut membayangkan jika Zidan jadi suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


Terima kasih atas votenya ya


__ADS_2