Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 98


__ADS_3

Zidan menggelengkan kepalanya, dongeng sebelum tidur yang di ceritakan Anggela membuatnya geli dan lucu.


"Ibu asuh yang buruk, hahaha." Zidan tertawa.


"Hahaha, akhirnya kamu bisa tertawa." Anggela ikut tertawa. Farid juga ikut tertawa bersamaan dengan Anggela.


Zidan mengerutkan dahinya.


"Kenapa tertawa kamu seperti bapak-bapak." Ucap Zidan.


Anggela langsung menutup mulutnya.


"Aku sedang batuk." Ucap Anggela berbohong.


Zidan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam satu malam.


"Jika sudah selesai, silahkan keluar." Titah Zidan.


"Tapi.." Anggela melirik tas yang belum di sentuhnya.


"Silahkan Anggela." Zidan menunjuk pintu kamarnya.


Anggela menggigit bibir bawahnya, rencananya gagal. Dia beranjak dari tempat tidur ketika sampai di dekat pintu Anggela pingsan.


"Anggela." Zidan mengangkat tubuh wanita itu ke kasur.


"Anggela sadar." Ucap Zidan menepuk pelan pipi anggela.


Zidan bingung harus melakukan apa, dia ingat oma Zulfa pernah menyadarkan Aneska dengan minyak angin.


Farid yang sedang berada di bawah tempat tidur ikut panik dan khawatir dengan keadaan Anggela.


"Tapi aku tidak punya minyak." Gumam Zidan, dia berlari keluar kamar mencari minyak.


Farid keluar dari bawah tempat tidur.


"Anggela sadar." Farid meletakkan jarinya di bawah hidung Anggela.


Anggela langsung memukul Farid.


"Aku belum mati, sekarang kamu keluar."


"Tapi kertasnya." Farid ingin menyentuh tas Zidan.


"Kamu keluar, urusan kertas itu serahkan padaku, cepat." Farid berlari keluar kamar menuju kamarnya.


Anggela mengambil kesempatan untuk mengambil kertas yang ada di tas Zidan dan meletakkan di dalam bra.


Anggela kembali berakting pura-pura pingsan. Zidan masuk ke dalam kamarnya dan mengolesi minyak ke bawah hidung Anggela.


Anggela langsung membuka matanya.


"Akhirnya kamu sadar syukurlah."


"Kamu olesi apa ke hidungku." Tanya Anggela.


"Bukan hidung tapi bawah hidung." Jelas Zidan.


"Iya tapi apa?" tanya Anggela lagi.

__ADS_1


"Kata oma kalau pingsan olesi minyak angin tapi karena oma sudah tidur jadi aku olesi minyak jelantah dan ternyata ampuh." Jelas Zidan.


"Apa! minyak jelantah! Aaaaa." Anggela teriak Zidan menutup mulut wanita di depannya dengan tangannya.


"Anggela jangan teriak, ini sudah malam jangan bangunkan semua penghuni istana." Zidan masih menutup mulut Anggela, wanita itu langsung menarik tangan Zidan dari mulutnya. Dia memukuli Zidan.


"Gara-gara kamu aku bau ikan." Rengek Anggela dan beranjak dari tempat tidur, dia membuka selimut yang melingkar di pinggangnya dan melemparkan ke arah Zidan.


"Tapi kamu sadar kan." Ucap Zidan.


"Iya tapi kenapa minyak jelantah, aaaa..." Rengek Anggela sambil membuka jaket, tapi di urungkannya karena ada kertas di dalam branya. Wanita itu keluar dari kamar sambil menghentakkan kakinya.


"Anggela jaketnya." Teriak Zidan dari depan pintu.


"Untukku." Ucap Anggela sambil merengut.


Zidan tersenyum lucu, mengingat dongeng yang di ceritakan Anggela. Dia kembali tidur tanpa melihat isi tasnya.


Farid masuk ke kamar secara perlahan. Ruangan itu gelap tanpa ada pencahayaan sama sekali.


Tiba-tiba lampu nyala. Ada Tanisa sedang duduk di kasur.


"Dari mana saja kamu?" tanya Tanisa ketus.


"Sayang kamu belum tidur." Farid menghampiri istrinya yang sedang duduk di kasur dan mengelus pipi Tanisa.


"Jawab aku dari mana saja kamu!" Tanisa menepis tangan Farid.


"Aku menyendiri di taman." Ucap Farid bohong.


"Tapi tadi aku lihat di layar kamera tidak ada."


Di kamar mandi Farid tersenyum penuh kemenangan, Anggela bisa di manfaatkannya.


"Tanisa Tanisa, kamu seharusnya mengecek layar monitor beberapa jam yang lalu." Gumam Farid.


Pria itu kembali ke kamar dan masih melihat istrinya dengan posisi yang sama.


"Kamu tidak tidur?" ucap Farid sambil membaringkan tubuhnya di sebelah Tanisa.


"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Tanisa merubah posisinya menghadap Farid.


"Besok aja, aku capek." Farid menutup wajahnya dengan selimut. Tanisa menarik selimut yang menutupi suaminya.


"Tidak bisa di tunda ini penting." Ucap Tanisa sambil melihat suaminya dengan tatapan serius.


"Apa?" Farid merubah posisinya dengan duduk dan bersandar di bagian kepala tempat tidur.


"Aku tidak hamil." Ucap Tanisa pelan.


"Apa! Jadi kamu berbohong?"


"Iya, aku lakukan ini agar kita tidak di usir." Ucap Tanisa sambil menundukkan kepalanya.


"Tanisa kenapa kamu lakukan ini? Abian bisa curiga jika melihat perut kamu tidak membesar." Farid marah.


"Kenapa kamu marah, semua ini karena kamu kalau saja kamu tidak menyalahgunakan jabatan pasti tidak akan seperti ini." Teriak Tanisa.


Pasangan suami istri itu adu urat, tidak ada yang mau mengalah dan di salahkan.

__ADS_1


"Diaaaam!" teriak Tanisa.


Farid diam sambil mendengus kesal.


"Masih ada waktu untuk ku hamil." Tanisa membuka semua bajunya tanpa ada sehelai benang.


"Tanisa apa yang kamu lakukan." Ucap Farid bingung karena Tanisa sudah ada di atas badannya.


"Aku mau hamil, malam ini harus jadi." Ucap Tanisa sambil melucuti baju suaminya. Farid memegang tangan istrinya.


"Stop Tanisa, aku tidak bisa." Farid mendorong tubuh istrinya. Dia turun dari tempat tidur dan duduk di sofa.


"Apa maksud kamu tidak bisa? biasanya kita melakukannya tapi kenapa sekarang kamu bilang tidak bisa." Tanisa marah.


"Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa!" Farid mengacak rambutnya dengan kedua tangannya.


"Apa kamu tidak ingin mempunyai keturunan dariku?" ucap Tanisa yang masih duduk di atas tempat tidur, dia menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Bukan itu Tanisa." Farid bingung harus mengatakan apa.


"Apa karena kamu tidak mencintaiku?" Ucap Tanisa.


"Bukan itu Tanisa, tapi aku tidak bisa." Ucap Farid lagi.


"Dari tadi tidak bisa tidak bisa! jelaskan padaku apa arti kata itu!" teriak Tanisa.


Farid mendekati istrinya yang sedang duduk di tempat tidur.


"Aku sudah steril sebelum kita menikah." Bisik Farid.


"Apa? jadi kamu melakukan vasektomi?" teriak Tanisa.


Farid menganggukkan kepalanya.


"Kamu jahat." Tanisa memukuli suaminya.


"Maafkan aku Tanisa." Farid memeluk istrinya tapi Tanisa mendorong tubuh suaminya.


"Jangan sentuh aku!" teriak Tanisa menangis.


Farid telah mengambil keputusan yang salah. Dengan vasektomi dia bisa melakukan hubungan kepada gadis manapun tanpa harus khawatir pasangannya hamil tapi di saat seperti ini dia tidak bisa berbuat apapun.


"Aku benci sama kamu, hiks hiks." Tanisa menangis sejadi-jadinya. Bayang-bayang meninggalkan istana akan segera terjadi.


"Semua karena kamu! Aku menyesal menikah dengan kamu! Aku akan bilang ke mami kalau aku mau kita berpisah." Teriak Tanisa.


"Apa!" Mata Farid merah, rahangnya mengeras. Dia mencengkram leher istrinya.


"Jangan pernah katakan cerai kepadaku, kalau kamu tidak mau jadi mayat." Ancam Farid sambil mencengkram leher istrinya.


"Paham!" teriak Farid


Tanisa menganggukkan kepalanya sambil menangis. Farid mendorong tubuh istrinya.


"Minta kekasih kamu untuk menghamili." Ucap Farid.


Bersambung...


Sesuai janji author tambah updatenya karena rangking vote sudah masuk 10 besar, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2