
Aneska dan Abian mengantarkan keluarganya sampai depan pintu istana. Dia berkali-kali memeluk ibu dan adiknya. Air matanya berlinang karena Aneska harus berpisah kembali dengan keluarganya.
"Ingat pesan ibu, jangan lembek. Kalau mertua kamu berbuat jahat di lawan." Bisik ibu Desi.
"Iya bu." Ucap Aneska kemudian memeluk adik bungsunya.
"Rajin belajar ya, doakan agar uang kakak cepat terkumpul." Bisik Aneska.
"Kakak enggak usah repot-repot. Aku enggak mau menyusahkan kakak." Ucap Cyra.
"Hus, ngomong apa sih. Kamu adik kakak satu-satunya. Kakak tidak pernah mempermasalahkan itu semua." Ucap Aneska.
"Iya kakakku sayang." Jawab Cyra.
Aneska memeluk bapaknya.
"Bapak jangan capek-capek ya." Ucap Aneska.
"Iya nak, hormati suamimu, dia pria yang baik." Ucap pak Mirza.
Abian menyalami ibunya Aneska.
"Ibu titipkan anak ibu sama kamu, jangan pernah membuatnya menangis, kalau sampai ada air mata keluar dari bola matanya, awas kamu!" Ibu Desi mengepalkan tangannya ke arah Abian. Abian mundur satu langkah sambil mengerutkan dahinya. Setelah menyalami semuanya, keluarga Aneska pergi meninggalkan istana keluarga Bassam. Aneska melambaikan tangannya melepas kepergian keluarganya. Tidak terasa bulir air matanya keluar. Abian langsung memeluk dan mengusap bulir air mata istrinya.
"Jangan menangis, ada aku di sini bersamamu. Kamu kalau nangis jelek." Bisik Abian.
"Aaah kamu." Rengek Aneska.
"Ayo." Abian menarik tangan istrinya.
"Aku enggak mau masuk ke istana, aku mau duduk di taman." Ucap Aneska sambil menahan tangan suaminya.
"Aku mau membawamu ke suatu tempat, ayo bersiap-siap." Ucap Abian menarik tangan istrinya. Mereka masuk ke dalam istana. Abian dan Aneska mempersiapkan diri di kamar.
Di tempat lain di ruang kerja. Nyonya Rona sedang mendengarkan laporan anak sulungnya.
"Mami tau tidak, Abian sudah mentransfer sejumlah uang sama keluarga perawat itu." Lapor Tanisa.
"Apa!" nyonya Rona kaget.
"Iya mi, aku dengar sendiri kalau uang itu untuk membayar hutang keluarganya. Abian mengirim dalam jumlah besar. Asal mami tau, Abian akan mentransfer setiap bulan ke keluarganya." Ucap Tanisa.
"Kurang ajar, ternyata benar dugaan mami, dia dan keluarganya sedang bersekongkol untuk menggerogoti harta kita." Nyonya Rona marah, dia beranjak dari kursi kerjanya.
"Mami mau kemana?" Tanisa menahan maminya.
"Mami mau ketemu sama Abian." Ucap nyonya Rona marah.
"Jangan mi, mami tau sendiri Abian itu susah di bilangin. Biarkan saja, sekarang kita fokus untuk mengambil harta kita sama perawat itu." Ucap Tanisa.
"Mami lama-lama bisa gila kalau lihat kelakuan si Abian, heran kenapa dia terlihat perduli sama wanita itu." Ucap nyonya Rona.
"Apa mungkin Abian sudah jatuh cinta." Ucap Tanisa.
"Kalau jatuh cinta tidak mungkin, cinta Abian hanya untuk Vania." Ucap nyonya Rona.
"Mami lihat reaksi Abian ketika kita menyebut nama Vania, dia sama sekali tidak perduli bahkan cenderung cuek." Ucap Tanisa.
__ADS_1
Nyonya Rona memikirkan ucapan anaknya. Wanita paruh baya itu menjatuhkan badannya di sofa sambil menghela nafasnya.
"Mungkin dia melakukan itu karena menjaga perasaan wanita itu." Ucap nyonya Rona sambil memijat dahinya.
"Mungkin juga, kalau cinta tidak mungkin. Apalagi wanita itu belum lama di sini." Ucap Tanisa.
Abian membawa Aneska dengan mobilnya.
"Kita mau kemana?" ucap Aneska bingung.
"Aku berjanji kepadamu mau membelikan cincin pernikahan kita." Ucap Abian.
"Jadi? sebaiknya tidak usah. Pernikahan kita tidak akan lama, kamu hanya membuang uang saja." Ucap Aneska.
"Kenapa kamu selalu mengatakan tidak akan lama? kamu mau menyudahi pernikahan kita?" ucap Abian kesal.
"Iya, aku enggak mau terlalu lama bersama denganmu." Ucapan Aneska membuat Abian mengerem mendadak.
"Kenapa berhenti?" ucap Aneska bingung.
"Jangan pernah mengatakan itu lagi, karena aku enggak suka." Ucap Abian marah.
"Jadi aku harus bicara apa?" ucap Aneska bingung.
"Kamu!" Tin tinnnn suara klakson di belakang mobilnya berbunyi membuat Abian melajukan kembali mobilnya.
Abian kesal, dia memukul setir berkali-kali. Aneska takut kalau Abian yang dulu kembali lagi. Dia langsung memegang lengan suaminya.
"Maaf." Ucap Aneska sambil mengelus lengan suaminya. Abian masih menatap Aneska dengan tatapan tajam.
Dia buru-buru menenangkan suaminya. Karena masih ingat di benaknya ketika dia di pukul oleh Abian. Dia sadar suaminya orang yang temperamental, Aneska berusaha menenangkan suaminya.
"Hembuskan nafas kamu secara perlahan lakukan secara berulang." Ucap Aneska. Abian mengikuti saran istrinya.
"Good boy." Ucap Aneska sambil mengelus kepala suaminya. Abian suka dengan sentuhan Aneska, dia merasa sangat di perhatikan.
Aneska menyudahi sentuhannya kepada Abian. Tapi Abian melarangnya.
"Jangan berhenti, lakukan terus." Ucap Abian.
"Hah?" Aneska bingung.
"Lakukan lagi, aku suka." Ucap Abian jujur.
"Lagi?"
"Iya lagi." Ucap Abian sambil fokus menyetir.
Aneska mengelus rambut suaminya terus menerus.
"Dia yang di elus kenapa aku yang menguap." Gumam Aneska. Aneska terus mengelus sampai dia tertidur di bahu Abian, dan salah satu tangannya masih di kepala suaminya.
"Ya ampun, gampang banget kamu molor." Ucap Abian memperhatikan istrinya masih tidur di bahunya.
Abian tidak membangunkan istrinya, dia menikmati momen itu dan melajukan mobilnya secara perlahan. Abian sesekali mengelus pipi dan rambut istrinya.
"Kenapa aku bisa mengajakmu menikah? aku sendiri tidak tau, kenapa bisa menikah sama kamu. Apa daya tarikmu yang membuat aku langsung mengajak kamu menikah?" gumam Abian. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang di kemudikan Abian sampai. Dia memarkirkan mobil di basement yang ada di lantai atas. Abian sengaja tidak memarkirkan mobilnya di bawah karena dia tidak mau Aneska kepanasan karena teriknya matahari yang akan mengganggu tidur istrinya.
__ADS_1
Abian masih menyalakan mesin mobil dan pendingin, tapi Aneska langsung membuka matanya.
"Kita di mana?" ucap Aneska sambil mengusap mulutnya.
"Busyet Nes, kamu ngeces di bajuku." Ucap Abian menunjuk bajunya yang basah.
"Oh iya, tenang aja ilerku wangi parfum." Ucap Aneska sambil melihat sekelilingnya.
"Kamu kalau tidur cantik banget tapi jangan pakai ngences." Gerutu Abian. Aneska tidak menghiraukan ucapan suaminya. Dia membuka seat belt dan turun dari mobil. Abian buru-buru keluar dari mobil dan langsung menggandeng istrinya.
"Aku bisa jalan sendiri." Ucap Aneska.
"Iya aku tau, tapi aku mau menggandeng tangan kamu." Ucap Abian menggandeng tangan istrinya dan membawa masuk ke dalam mall. Aneska membelalakkan matanya melihat kemegahan mall itu.
"Bagus banget." Ucap Aneska senang.
"Kamu belum pernah ke sini."
"Belum." Jawab Aneska singkat.
"Ini ada di pusat kota dan dekat dari rumah sakit, apa kamu tidak pernah main ke sini." Tanya Abian lagi sambil menyusuri mall.
"Enggak pernah, aku itu sering di ajak temanku kalau lagi off kerja, tapi aku enggak ada uang. Gaji lima juta, empat juta aku kirimkan sama ibu sisanya untuk makanku. Lagian kalau belanja di mall pasti harganya mahal. Jadi untuk apa menghamburkan uang." Ucap Aneska jujur.
"Mulai sekarang kamu bisa setiap hari ke sini." Ucap Abian.
"Enggak ah, walaupun aku senang dengan desain mall ini tapi aku bukan wanita yang suka berbelanja." Jelas Aneska.
"Mungkin karena dulu kamu belum ada uang sekarang kamu telah menjadi istriku. Jadi mulai sekarang jangan pernah mempermasalahkan uang." Ucap Abian.
"Suamiku, itu sama saja dengan menghamburkan uang, aku tidak suka, lebih baik uang kamu di gunakan untuk membantu orang yang susah." Ucap Aneska.
"Kamu bilang apa tadi." Tanya Abian.
"Menghamburkan uang."
"Bukan, sebelumnya." Ucap Abian lagi.
"Suamiku." Jawab Aneska.
"Iya, aku suka kamu memanggilku dengan kata itu. Kita terlihat seperti pasangan suami sungguhan." Ucap Abian.
"Hahaha, aku tadi hanya keceplosan. Sepertinya lucu kalau memanggil dengan kata itu." Ucap Aneska menolak.
"Anes!" Abian menatap istrinya.
"Iya-iya, aku panggil apapun asal abang senang." Gerutu Aneska.
"Abang juga boleh." Ucap Abian.
"Boleh tapi aku tambahin kata belakangnya jadi abang becek." Ucap Aneska.
"Abang becek?"
"Plesetan dari abang becak, gitu aja enggak tau." Gerutu Aneska.
"Hahaha, kamu lucu istriku." Abian mengelus rambut istrinya di depan orang banyak membuat Aneska malu, karena semua mata melihat ke arah mereka berdua. Dari jauh ada yang melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
Bersambung.