Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 85


__ADS_3

Anggela dan nyonya Rona ikut bergabung dengan yang lainnya di ruang makan. Nyonya Rona melirik dan melihat penampilan menantunya yang berbeda dari biasnya.


"Aneska kamu kenapa? kedinginan." Tanya nyonya Rona.


"Enggak nyonya jawab Aneska cepat.


"Kalau enggak sakit kenapa leher semua di tutupi." Tanya mertuanya lagi.


Aneska tidak menjawab pertanyaan mertuanya, dia lebih memilih menikmati makan malamnya. Wanita paruh baya itu merasa matanya sakit, karena kain yang menempel di leher Aneska tidak matching dengan pakaiannya, itu yang membuat nyonya Rona merasa risih.


Nyonya Rona beranjak dari kursi makan dan menghampiri menantunya, dia membuka selendang Aneska.


"Aneska, leher kamu akan tercekik jika memakai selendang seperti ini." Ucap nyonya Rona sambil membuka selendang menantunya.


"Tapi.. " Aneska berusaha memegang selendang yang menempel di lehernya, tapi nyonya Rona tetap membuka balutan selendang itu.


Ketika selendang sudah di lepaskan, semua yang ada di meja makan langsung melihat ke arah Aneska, lehernya yang penuh tato bibir membuat semuanya membelalakkan matanya. Tidak dengan Abian, dia hanya tersenyum melihat semua orang serba salah mau melihat istrinya.


Nyonya Rona kembali ke kursinya, dan ketika hendak duduk dia melihat leher menantunya merah-merah. Wanita paruh baya itu buru-buru kembali mendekati Aneska mengalungkan selendang ke leher menantunya.


"Lebih baik kamu pakai, urusan tercekik saya harap kamu bisa mengatasinya." Ucap nyonya Rona sambil memakaikan selendang ke leher Aneska.


Aneska merasa malu, semua orang curi-curi pandang ke arahnya dan ke Abian.


"Suamiku, aku malu." Bisik Aneska.


"Kenapa malu? kamu istriku menurutku wajar kalau ada bibirku di situ karena kamu itu milikku, coba kamu lihat semuanya menundukkan kepala mereka karena malu. Terutama mami lihat dia serba salah mau ngapain." Bisik Abian.


Aneska melihat semua yang ada di meja makan, nyonya Rona memegang sendoknya tapi bukan di letakkan di piring, dia meletakkan di gelas yang berisi air putih, karena grogi wanita paruh baya itu mengaduk gelas yang berisi air putih dengan sendok. Aneska melirik ke arah oma Zulfa, wanita sepuh itu menundukkan kepalanya sambil meletakkan salah satu tangannya di dekat dahinya, oma sengaja meletakkan tangannya agar tidak melihat Aneska.


Aneska melirik Anggela, wanita itu mengigit sendoknya dan tidak berkedip melihat ke arahnya.


Walaupun dia malu tapi dia merasa lucu dengan semua orang yang berada di ruang makan itu.


Abian dan Aneska meninggalkan ruang makan, mereka lebih cepat makan dari yang lainnya.


"Mami apa yang mami lakukan." Ucap Tanisa.


"Mana mami tau kalau leher Aneska seperti itu." Ucap nyonya Rona.


"Sudah jangan di bahas lagi, dan kamu Rona jangan sok jadi stylish, biarkan Aneska bergaya sendiri." Ucap oma ketus.

__ADS_1


"Apa mami tidak lihat! penampilan Aneska membuat mataku sakit, selendangnya berwarna oranye bajunya berwarna hijau lumut." Gerutu nyonya Rona.


"Aduh Rona, Aneska pasti tau cara memadu padankan pakaiannya, dia sengaja menutupi lehernya dengan selendang karena ada bercak merah di lehernya." Ucap oma.


"Bercak merah? ih oma bahasanya aneh, kesannya seperti darah di leher kak Aneska." Timpal Ila.


"Ah samalah itu, oma mau tidur. Anggela jangan lupa besok bantu oma di kebun." Ucap oma sambil berlalu meninggalkan ruang makan di ikuti Ila.


Anggela langsung manyun, dia khawatir kukunya benar-benar patah dan rusak.


"Mami selanjutnya apa?" ucap Tanisa.


"Selanjutnya kita serahkan sama Anggela." Ucap nyonya Rona.


"Aku tante?" ucap Anggela sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, pepet Abian terus jangan kasih kendor." Ucap nyonya Rona.


"Caranya bagaimana?" Anggela bingung.


"Aduh Anggela gitu aja enggak tau, kamu cari perhatian sama Abian." Ucap nyonya Rona lagi.


Aneska bersandar di dada suaminya, sambil memainkan kancing baju Abian.


"Aku malu Abian." Ucap Aneska.


"Malu kenapa?" ucap Abian sambil mengecup punggung tangan istrinya.


"Tadi leherku kelihatan semua orang, semua langsung melihat ke arahku, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka." Ucap Aneska masih bersandar pada dada suaminya.


"Ngapain perduli dengan mereka, apapun itu yang jelas kamu sudah punya suami, kecuali kamu belum menikah." Jelas Abian.


***


Sang surya sudah menggantikan posisi rembulan. Aneska melihat suaminya tertidur pulas, dia beranjak dari kasur dan langsung membersihkan tubuhnya.


Abian meraba kasur sebelahnya, dia tidak menemukan istrinya. Abian mengetuk pintu kamar mandi secara berulang tapi tidak ada sahutan dari dalam. Abian memegang handle pintu.


"Tidak di kunci." Gumam Abian sambil masuk ke dalam kamar mandi. Dia melihat istrinya sedang berendam di bathtub dan di telinganya memakai headset.


"Pantesan enggak dengar ternyata dia sedang tertidur." Gumam Abian melihat tubuh istrinya bermandikan busa.

__ADS_1


"Bukannya dia sedang datang bulan, seharusnya dia tidak bisa berendam seperti ini. Atau jangan-jangan dia sudah bersih." Gumam Abian sambil menghitung masa mens istrinya.


"Hahaha kamu curang." Ucap Abian sambil melucuti pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub bersama istrinya.


Aneska membelalakkan matanya melihat suaminya sudah mencumbuinya.


"Abian aku sedang mens." Ucap Aneska bohong.


"Kamu bohong, membohongi suami itu dosa, apalagi menghindar untuk melayani suami." Ucap Abian sambil tetap menciumi istrinya.


"Maaf Abian, aku takut." Ucap Aneska jujur.


"Takut kenapa?" ucap Abian masih tetap menyentuh bagian sensitif istrinya.


"Aku takut sakit." Ucap Aneska.


"Enggak sayang, aku akan melakukan secara lembut." Ucap Abian sambil menarik sesuatu untuk mengeluarkan air dari bathtub. Setelah air kosong Abian tidak melewatkan kesempatan untuk menggauli istrinya. Tubuh indah istrinya mempunyai daya tarik sendiri.


"Kamu terlihat seperti bayi." Ucap Abian dan langsung melakukan beberapa sentuhan dan gerakkan yang membuat Aneska melayang. Abian memegang kendali, karena dia tau istrinya belum terlalu mahir dalam melakukan beberapa gerakkan. Setelah keris sakti masuk ke dalam sarungnya, Abian melakukan gerakkan beberapa kali dan berhenti ketika merasa puas.


Abian mengangkat tubuh istrinya yang lemas, dan memindahkan ke tempat mandi yang transparan.


"Aku mandi sendiri." Ucap Aneska menolak karena dia tau keris suaminya belum mau tidur.


"Sayang sekali lagi ya." Rayu Abian.


"Aku sudah tidak kuat." Rengek Aneska.


"Kamu diam saja." Abian membalikkan tubuh istrinya dan dia kembali memasukkan keris sakti ke dalam sarungnya. Dan berhenti kembali setelah merasa puas.


Setelah mandi bersih mereka kembali ke kamarnya. Dengan rambut yang masih basah Aneska kembali terkapar di kasurnya. Sedangkan Abian memakai pakaian kerjanya.


"Kamu mau sarapan di sini apa di ruang makan." Tanya Abian.


"Aku enggak sanggup jalan, kakiku gemetar semua." Ucap Aneska.


Abian melihat kedua kaki istrinya yang gemetar.


"Kamu kelelahan, ya sudah aku akan meminta koki memasakkan sarapan untuk kita." Ucap Abian sambil meninggalkan istrinya yang terkapar di kasur.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2