Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 143


__ADS_3

Abian membaringkan tubuhnya di tempat tidur kecil itu. Dia tidak mau memikirkan kejadian yang barusan terjadi. Karena ukuran tempat tidur yang kecil dan badannya yang besar jadi untuk berdua tidak akan cukup. Jadi Abian mengakalinya dengan cara tidur miring sambil menatap istrinya.


"Sayang, sudah berapa lama rumah ini?" tanya Abian yang menatap wajah istrinya.


"Kata ibu dari aku umur setahun rumah ini sudah ada, dulu rumah ini jelek. Lantainya masih semen dan atapnya langsung pakai seng, mana ada triplek seperti sekarang ini." Ujar Aneska menunjukkan langit-langit kamarnya yang terlihat rapi dari sebelumnya.


"Kamar mandi juga sama?" tanya suaminya.


"Iya, kamar mandi dari dulu di situ hanya sekarang sudah di keramik dan semua itu karena kamu." Aneska menarik hidung suaminya gemes.


"Makasih sayang."


Abian tesenyum. "Kalau seandainya aku renovasi rumah kalian bagaimana?" tanya Abian meminta pendapat istrinya.


"Untuk apa, rumah ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Enggak usah boros." Ujar Aneska menolak.


"Iya bagus, tapi bangunan ini tidak semuanya dari batu, sebagian menggunakan kayu. Menurut aku untuk merenovasi total rumah ini tidak menghabiskan uang banyak." Ujar Abian mengetuk dinding kamar istrinya yang bagian atasnya masih menggunakan kayu.


"Udahlah tidak perlu." Aneska tetap menolak.


"Sayang, aku khawatir jika orang tua kamu tinggal di rumah ini."


"Tapi kenyataannya orang tuaku baik-baik saja. Mereka nyaman tinggal di rumah kecil ini." Aneska kekeh tidak mau jika suaminya merenovasi rumah ibunya, dia tidak mau jika keluarga suaminya mempermasalahkan hal itu nantinya.


"Iya aku tau, setidaknya bangunan rumah ini full dari bata. Jadi aku bisa tenang." Aneska tersenyum menurutnya Abian adalah sosok suami yang sangat menyayangi keluarganya.


"Keputusan ada di tangan bapak, tapi menurutku akan sulit jika kamu mengatakan sekarang karena ibu pasti menolak." Jelas Aneska. Abian langsung diam, menurutnya sangat susah mengambil hati mertuanya.


"Jangan di pikirkan. Yuk tidur." Aneska menutup matanya dan Abian masih memandang wajah istrinya.


Kamar itu tempat asing untuk Abian tidak mudah baginya untuk dapat terlelap seperti istrinya. Apalagi tidak ada pendingin ruangan yang membuat Abian tambah susah untuk tidur.


"Duh panas." Abian melepaskan sarung yang dikenakannya. Hanya ada singlet dan celana dalam yang ada di badannya.


"Enggak apa-apa untuk sementara aku jadi tarzan kamar." Gumam Abian mencari sesuatu yang dapat digunakannya untuk mengipasi badannya yang besar.


Abian menemukan buku dan dia mulai mengipasi dirinya dan istrinya. Lama-lama matanya terasa berat dan Abian mulai tertidur masih dengan posisi miring.


Belum sampai satu jam gubrak. Abian terjatuh badannya membentur lantai.


"Aw..." Abian meringis kesakitan. Pada saat Abian tidur tanpa sadar dia terlentang dengan otomatis dia jatuh. Karena hanya sebagian badannya yang berada di kasur sebagian lagi tidak.


"Aduh mana mata sudah berat, tidur di mana." Abian melihat sekeliling kamar mencari alas untuk di buatnya tidur di lantai.


"Tidak ada, tapi kalau tidak salah di ruang tamu ada tikar." Tiba-tiba bulu kuduknya meremang, Abian tidak berani jika harus ke ruang tamu.


***


Keesokan paginya suara ayam berkokok terdengar cukup nyaring di pagi hari. Aneska membuka matanya dan tidak menemukan Abian di sampingnya.

__ADS_1


Aneska mencoba bangun dan melihat suaminya sedang duduk di lantai sambil menekuk lututnya. Dan yang membuat Aneska tercengang suaminya tidur dalam keadaan duduk sambil menekuk lutut tanpa memakai sarung.


"Ya ampun kasihan." Aneska mengelus tangan suaminya.


"Hei pergi hantu." Ujar Abian mengigau.


Aneska tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Sayang pindah." Aneska menggoyang tubuh suaminya.


"Apa?" Abian menguap dan melihat sekeliling kamar.


"Apa kamu bilang?" tanya Abian ke istrinya.


"Pindah ke atas." Ujar Aneska lagi.


"Enggak cukup sayang, tempat tidur itu tidak cukup untuk kita." Abian menolak dia tidak sadar jika sekarang telah pagi.


"Cukup, aku akan membantu ibu di dapur." Ucapan Aneska membuat Abian menoleh ke arah jendela.


"Udah pagi?" tanya Abian.


"Iya, tidurlah pasti semalam kamu tidak bisa tidur."


Yang di katakan istrinya benar, dia memang tidak bisa tidur. Tapi Abian tidak mau mengatakan ke istrinya jika tempat tidur ataupun kamar istrinya tidak nyaman untuknya.


"Pinggang kamu kenapa?" tanya Aneska yang ikut memegang pinggang istrinya.


"Tadi makam aku jatuh." Sahut Abian.


"Aku minta ibu untuk memijat kamu." Aneska beranjak dari kamar tapi suaminya menahan tangannya.


"Tidak usah, nanti sembuh sendiri. Aku tidak mau merepotkan ibu." Abian melihat kondisi istrinya yang jauh lebih baik dari kemarin.


"Bagaimana kondisi kamu?" tanya suaminya.


"Sudah mendingan, memang masih ada rasa nyeri tapi tidak terlalu sakit seperti kemarin." Jelas Aneska.


"Yuk kita sarapan." Aneska memegang tangan suaminya. Di dapur telah berkumpul keluarga istrinya.


"Bagaimana tidur kamu nak Abian?" tanya bapak mertuanya.


"Nyenyak pak." Sahut Abian bohong.


"Oh syukurlah, kalau gitu tinggallah lebih lama di sini, nanti bapak bawa berkeliling kampung." Abian hanya tersenyum kik kuk, dia tidak sanggup jika harus tidur duduk seperti semalam.


Abian pergi ke kamar mandi. Dia baru tau tanaman yang ada di sekitar kamar mandi adalah tanaman cabe, tomat dan sayuran.


"Seminggu waktu yang lama, nanti malam saja aku tidak bisa membayangkan jika tengah malam aku kebelet pipis." Gumam Abian menuju kamar mandi.

__ADS_1


***


Tanisa telah keluar dari rumah sakit, oma menyambut kehadiran cucunya di istana.


"Selamat datang kembali." Ujar oma dan mengecup cucunya.


Tanisa tersenyum dan menuju kamarnya, nyonya Rona memperhatikan istana yang tidak terdengar suara besannya.


"Mana manusia udik itu?" tanya nyonya Rona ke maminya.


"Kata Ila pulang." Sahut oma Zulfa dan berlalu meninggalkan anaknya.


"Pulang, acara ulang tahun Abian sebentar lagi tapi dia pulang. Tapi syukur jika tidak ada dia." Gumam nyonya Rona.


Nyonya Rona melihat pelayan membawa koper dari kamar Abian. "Mau di bawa kemana koper itu?" tanya nyonya Rona.


"Pak Zidan yang menyuruh kami melakukannya." Sahut pelayan.


Nyonya Rona mencari keberadaan Zidan dan dia dapat menemui pria itu di ruang tamu.


Wanita paruh baya itu melihat penampilan Zidan yang tidak memakai jas.


"Zidan, apa kamu tidak bekerja?" nyonya Rona bertanya dengan penuh selidik.


"Untuk hari ini tidak nyonya." Sahut Zidan.


Nyonya Rona menganggukkan kepalanya dan pelayan datang menemui Zidan dan di tangan pelayan itu ada koper.


"Pak kopernya mau di letakkan di mana?" tanya pelayan.


"Masukkan ke bagasi mobil." Titah Zidan.


"Maaf nyonya saya harus pergi." Zidan melangkahkan kakinya.


"Tunggu..." Nyonya Rona menghampiri Zidan yang telah berdiri di luar istana.


"Mau di bawa kemana koper itu?" tanya nyonya Rona.


"Mau di bawa ke kampung." Sahut Zidan. Dia kembali berjalan menuju mobilnya.


"Kampung?" nyonya Rona masih penasaran. Dia kembali mengikuti Zidan.


"Kampung apa maksud kamu?" tanya nyonya Rona.


"Kampung Aneska." Sahut Zidan singkat.


"Apa!" sontak membuat nyonya Rona kaget. Dia memikirkan hal jelek jika semua ini rencana keluarga Aneska untuk mengambil perlahan demi perlahan harta keluarganya tapi di mulai dari barang milik Abian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2