
Di dalam mobil.
"Abian, aku boleh minta sesuatu?" ucap Aneska pelan.
"Hemm, apa." Ucap Abian sambil tetap menyetir.
"Kamu takut kalau aku di istana sendiri, bagaimana kalau aku kembali bekerja sebagai perawat." Ucap Aneska pelan.
Critttt, Abian mengerem mendadak.
"Abian kamu mau mati." Ucap Aneska kaget karena suaminya baru menghentikan mobilnya.
"Apa kamu bilang tadi?" Abian melihat ke arah istrinya.
"Mau kembali kerja." Ucap Aneska sambil memainkan tas jinjingnya.
"Enggak!" seru Abian dan kembali menyetir.
"Ayolah, dengan seperti itu kamu tidak mengkhawatirkan aku lagi. Boleh ya." Aneska merayu suaminya sambil mengedipkan mata imutnya.
"Kamu kelilipan?" ucap Abian.
"Abiaannn!" Teriak Aneska sambil mencubit lengan suaminya.
"Aw." Abian tertawa sedangkan Aneska memalingkan wajahnya melihat ke arah luar jendela mobil.
"Kamu jahat." Gerutu Aneska.
"Kamu baru tau kalau aku jahat ya? aku itu pria yang sangat bengis bahkan tidak pernah mau mengalah." Jelas Abian.
"Iya aku tau, kamu singa yang di kurung di istana. Tapi jangan kurung aku juga." Gerutu Aneska.
Abian mengelus rambut istrinya, Aneska langsung menepis tangan suaminya. Abian melakukanya kembali dan Aneska menepis secara berulang.
"Kalau kamu kerja? kapan waktu kamu mengurusku." Ucap Abian sambil mengambil dan mengecup tangan istrinya.
"Aku janji, walaupun aku kerja, tugasku sebagai istri tetap menjadi prioritas utama." Aneska mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Termasuk melayani di kasur?" ucap Abian genit.
"Aaaaah." Aneska merengek sambil memukul lengan suaminya.
"Hahaha, seharusnya itu yang utama. Mau sampai kapan kita tidur di tempat terpisah." Ucap Abian sambil tertawa.
"Sampai aku siap." Jawab Aneska tegas.
"Halo baby, aku tidak akan memaksa kamu untuk memberikan hakku, tapi seandainya aku sudah tidak tahan jangan salahkan kalau aku jadi singa yang kelaparan." Ucap Abian menakuti istrinya.
Aneska langsung membelalakkan matanya.
Dia marah saja sudah sangat menakutkan apalagi kalau dia kelaparan akan tubuhku. Aduh aku tidak bisa bayangkan sekali tusuk pasti langsung gol.
"Abian boleh ya." Rayu Aneska lagi.
"Nanti aku pikirkan." Ucap Abian.
"Ye, makasih sayang." Aneska spontan menyebut kata sayang dan mengecup pipi suaminya. Abian sampai kaget dengan perlakuan istinya yang tidak biasa.
Ponselnya Abian berdering. Dia langsung menggeser ke tombol hijau.
"Iya halo." Ucap Abian.
"Baik, ok satu jam lagi kami sampai." Ucap Abian panggilan terputus.
"Siapa?" ucap Aneksa.
"Dari Zira boutique, pemiliknya bersedia mendesain gaun untuk kamu." Jelas Abian.
"Oh gitu." Jawab Aneska singkat.
***
__ADS_1
Di rumah sakit.
Zidan membawa tas yang berisi pakaian Farid dan Tanisa. Dia masuk ke dalam lift. Di dalam lift ada satu orang perawat yang memperhatikannya. Tiba-tiba perawat itu pusing dan oleng, dia menangkap tubuh perawat itu dan membaca name tagnya.
"Kamu kenapa?" ucap Farid khawatir.
"Kepala saya pusing." Ucap perawat itu.
"Tiara, nama kamu Tiara kan?" ucap Zidan.
Tiara menganggukkan kepalanya.
"Apa yang harus saya perbuat." Ucap Zidan.
"Tidak ada, terima kasih." Tiara langsung berdiri sigap dan mematikan video ponselnya.
Zidan bingung dengan tingkah perawat itu.
"Makasih om, saya sedang di hukum sama teman saya. Dan om targetnya, bye." Ucap Tiara sambil keluar dari lift.
"Kamu!" ucap Zidan bingung.
"Om?" Zidan menggaruk kepalanya sambil berkaca di dalam lift.
Di ruang koridor rumah sakit Tiara menunjukkan hasil videonya sama Aldo.
"Lihat nih, aku berhasil berakting sesuai permintaan kamu."
"Gila kamu, ini rumah sakit!" seru Aldo.
"Iya tau, kapan lagi dapat om-om yang ganteng seperti itu." Ucap Tiara sambil menunjuk dengan gerak kepalanya.
"Ayo bayar." Tiara menyodorkan tangannya ke arah temannya. Aldo menyerahkan uang lima ratus ribu kepada Tiara, dengan wajah tidak ikhlas.
"Ye aku berhasil." Ucap Tiara senang sambil berbalik dan melihat Zidan sedang mencari ruang rawat inap Farid.
"Tiara itu bukannya pria yang ada di dalam lift." Ucap Aldo.
"Permisi? ruangan venus di mana?" ucap Zidan kepada Aldo dan Tiara. Zidan memperhatikan perawat wanita di depannya yang sedikit aneh.
"Ruang Venus ada di ujung." Jawab Aldo.
"Maaf, apa teman anda sehat." Tanya Zidan lagi. Aldo melihat temannya, Tiara membuat bibirnya miring ke kiri.
"Sehat sekali." Ucap Aldo singkat sambil menarik tangan temannya.
"Kalau sehat kenapa bibirnya seperti orang kena stroke." Tanya Zidan lagi.
"Dia baru di kutuk om, permisi." Jawab Aldo sambil berjalan meninggalkan Zidan.
"Om lagi? apa aku terlalu tua sampai semua orang memanggilku om. Apa mungkin ini penyebabnya yang membuat Aneska menghindariku." Gumam Zidan.
"Kenapa bibirmu kamu buat miring." Tanya Aldo.
"Aku khawatir kalau dia ingat wajahku dan marah. Jadi aku miringkan saja bibirku. Tapi aktingmu bagus juga mengatakan aku kena kutuk." Ucap Tiara senang.
"Iya, tapi uangku melayang." Rengek Aldo.
"Ah uang segitu untukmu tak seberapa. Orang tua kamu kan tajir." Ucap Tiara.
Keduanya masuk ke dalam ruang perawat. Ada dokter Diki di dalam ruagan itu.
"Aldo dan Tiara hari ini jadwal kalian ikut visit menemani dokter Diki." Ucap ibu Susan.
"Baik bu." Jawab keduanya sambil membawa riwayat pasien dan keperluan lainnya.
***
Abian memarkirkan mobilnya di sebuah restoran. Aneska bingung kenapa mereka tidak ke Zira boutique.
"Kamu bilang kita mau ketemu sama desainer Zira boutique." Tanya Aneska.
__ADS_1
"Masih ada waktu setengah jam. Kita makan dulu." Ucap Abian membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Kalau terlambat bagaimana." Ucap Aneska tidak enak.
"Butiknya dua blok dari sini. Jadi tidak usah khawatir terlambat." Abian menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam restoran. Pelayan langsung memberikan meja untuk keduanya. Dan meletakkan serbet putih di paha pengunjung restorannya. Abian membuka buku menu yang sudah ada di atas meja.
"Mau pesan apa." Tanya Abian.
"Spaghetti." Jawab Aneska singkat.
"Spaghetti dua." Ucap Abian. Pelayan mencatat lalu pergi ke dapur memberikan pesanan pengunjung. Aneska melihat berbagai macam sendok yang ada di meja. Dan memperhatikan pengunjung restoran yang mana kebanyakan orang asing.
Dalam waktu sepuluh menit pesanan mereka datang.
Aneska langsung mencicipi makanannya. Ekspresinya langsung berubah, Abian memperhatikannya.
"Kenapa?" ucap Abian bingung.
"Aku pesan ini karena penasaran sama rasanya. Aku pikir rasanya sama dengan mie goreng yang di jual di warung makan, ternyata rasanya seperti kue." Ucap Aneska.
"Kue?" Abian bingung.
"Ini ada keju di dalamnya, aku tidak suka keju." Ucap Aneska jujur.
"Ya sudah kamu mau makan apa." Tanya Abian lagi.
"Enggak ada, ini semua bukan lidahku. Aku lebih suka masakan rumahan." Jawab Aneska pelan.
"Tapi kamu harus makan." Ucap Abian khawatir.
"Kamu habiskan saja punyaku, nanti sebelum ke kantor kita mampir ke warung makanan yang enak." Ucap Aneska.
Abian menghabiskan makanannya langsung meletakkan beberapa lembar uang kertas di meja.
"Ayo, waktu kita tinggal sedikit." Abian mengajak istrinya keluar dari restoran menuju mobil. Mobil langsung menuju Zira boutique.
"Selamat pagi ada yang bisa di bantu." Ucap seseorang wanita yang bekerja di butik Zira.
"Saya ada janji dengan pemilik butik." Jawab Abian.
"Tunggu sebentar." Wanita tadi masuk ke dalam ruangan dan kemudian keluar dengan seorang wanita.
"Ada yang bisa di bantu."
"Anda pemilik butik." Tanya Abian.
"Bukan, saya asistennya nama saya Lina." Ucap Lina ramah.
"Saya Abian dan ini istri saya Aneska." Abian menyalami Lina.
"Oh tuan Abian, mari ikuti saya. Nona Zira ada di dalam ruangannya." Lina mengajak tamunya ke ruangan bosnya. Pintu di ketuk setelah ada sahutan Lina membuka pintu dan mengatakan kepada Zira.
"Suruh mereka masuk." Ucap Zira.
"Baik mbak." Lina keluar dari ruangan bosnya dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Selamat pagi, saya Zira." Ucap Zira sambil menyodorkan tangannya ke hadapan Abian dan Aneska.
Pasangan pengantin baru itu menyambut hangat perlakuan pemilik butik yang ramah. Abian menjelaskan maksud kedatangannya. Zira sudah paham dan memberikan beberapa desain.
Aneska di bantu pemilik butik untuk menentukan pilihannya. Dari bahan semuanya di bantu Zira. Pengukuran langsung di lakukan oleh Lina. Setelah selesai Abian baru menanyakan harga dari rancangan butik Zira.
"Hemm, sebenarnya saya baru melahirkan dan belum lepas hari. Tapi karena tuan mengharapkan desain dari saya, maka saya siapkan. Mengenai harga tidak ada nominalnya. Saya berikan percuma untuk kamu." Ucap Zira.
"Apa?" Aneska tidak enak hati.
"Tapi kenapa?" ucap Abian.
"Karena saya lagi senang, bayi kembar saya lahir dalam keadaan sehat dan selamat. Dan untuk semua yang memesan desain dari saya di bulan ini gratis." Jelas Zira.
Setelah percakapan itu pemilik butik langsung pulang. Karena tiga bayinya sudah menunggunya di rumah.
__ADS_1
Bersambung.