
Bukan hanya di kamar Farid dan Tanisa yang berisik tapi di kamar lainnya yaitu kamar Abian terjadi suara gaduh yang berasal dari tempat tidur. Abian bukan hanya menggoncangkan dunia, tapi menggoncang tubuh Aneska dan tempat tidur.
Dari selesai penandatangan surat perjanjian sampai pukul dua pagi Abian masih mengotak-atik tubuh istrinya. Entah berapa ronde yang jelas Aneska sudah terkapar bukan hanya kakinya yang gemetar tangannya ikut gemetaran.
"Abian cukup aku tidak tahan lagi." Ucap Aneska yang sedang dalam posisi tengkurap.
"Sebentar lagi sayang." Ucap Abian yang fokus memasukkan keris sakti ke dalam sarungnya. Setelah beberapa kali guncangan akhirnya Abian menyelesaikan kegiatannya. Dia masih sanggup beberapa jam lagi tapi Abian khawatir istrinya tidak bisa jalan.
"Terima kasih sayang." Ucap Abian sambil mengecup dahi istrinya dan menutupi tubuh Aneska dengan selimut.
Aneska merubah posisinya, dia mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi.
"Sayang apa yang kamu lakukan." Ucap Abian bingung.
"Biar proses pembuahannya masuk." Ucap Aneska tanpa malu sama sekali.
"Hahaha, kamu ingin cepat punya anak ya." Ucap Abian.
"Iya, aku tidak sanggup jika tiap malam kamu bongkar mesinku, bisa-bisa aku pakai tongkat kalau jalan." Ucap Aneska sambil masih mengangkat kakinya.
"Hahaha, sayang tidak perlu di angkat tinggi-tinggi cukup di tekuk saja." Abian memperagakan cara menekuk kakinya.
Aneska ikut melakukan seperti suaminya.
"Suamiku, dari mana kamu tau tentang tekuk menekuk ini." Ucap Aneska masih tetap menekuk kakinya.
"Dari guuling, aku membaca semuanya agar proses pembuahan berhasil dengan cara seperti itu. Tapi selain itu ada lagi, kamu harus minum susu sebelum hamil." Jelas Abian.
"Iya juga, seharusnya aku minum susu sebelum hamil yang mana dapat membantu kesuburan." Ucap Aneska.
Aneska mulai mengantuk, dia beberapa kali menguap.
"Tidurlah, kamu harus istirahat yang cukup." Ucap Abian sambil mengelus pipi istrinya.
Abian melupakan sesuatu.
"Penerbangan kalian jam berapa?" tanya Abian sambil tetap mengelus istrinya.
"Jam tujuh malam." Jawab Aneska sambil tetap memejamkan matanya.
"Bagus, jadi kamu bisa istirahat full. Kita bertemu di bandara, kalian pergi dengan supir." Jelas Abian.
"Kamu tidak mengantar kami?" tanya Aneska sambil membuka matanya lagi.
"Waktunya tidak cukup sayang, jika aku keluar dari kantor jam lima sampai istana mungkin jam enam atau jam setengah tujuh, pasti jalanan macet. Jadi kita ketemu di bandara. Kabari aku begitu sampai bandara." Abian mengambil kartu di dalam dompetnya dan menyerahkan ke Aneska.
"Kartu lagi? bukannya kartu yang kemaren masih ada." Ucap Aneska bingung.
"Yang kemaren tidak bisa kamu gunakan di luar negeri tapi kartu ini bisa."
__ADS_1
"Tapi aku sudah menukar uang cash." Ucap Aneska menolak dia mengkhawatirkan uang suaminya habis.
"Kalau aku bawa ini kamu bawa apa?" tanya Aneska lagi.
Abian mengambil dompetnya dan menunjukkan deretan kartu yang memenuhi dompetnya.
"Ya ampun kamu kolektor kartu." Ucap Aneska sambil melihat satu persatu kartu yang ada di dompet suaminya.
"Hahaha iya sayang." Ucap Abian tertawa melihat wajah istrinya yang sedang membaca nama-nama kartu, dengan bulu mata yang lentik bergerak naik turun membuat Abian gemas dengan wajah istrinya.
"Wah ada bang toyib juga. Ternyata bang toyib enggak pulang-pulang ternyata jadi kartu." Gurau Aneska.
"Hahaha dudah tidur, kalau belum capek aku lanjut lagi buat anaknya."
"Ampun Roma adek tidak sanggup." Ucap Aneska.
"Hahaha, kamu lucu." Abian menarik hidung istrinya.
Mereka akhirnya tertidur tanpa memakai pakaian sama sekali hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya.
Pagi hari udara terasa begitu sejuk, daun-daun berterbangan tertiup angin. Karena cuaca yang mendung mentari tidak menunjukkan cahayanya. Para pelayan sudah berkerja di tempatnya masing-masing.
Farid bangun lebih awal dari Tanisa, dia keluar dari kamarnya masih mengenakan piyama menuju kamar Anggela.
Dia mengetuk pintu kamar secara berulang tapi tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda Anggela membukakan pintu.
"Kenapa? apa kalian tidak tau kalau Anggela sepupuku." Ucap Farid ketus sambil berlalu meninggalkan lorong itu.
Ruang makan utama sudah tertata rapih. Aneka jenis makanan sudah tersusun di atas meja. Koki menyajikan makanan yang dapat menghangatkan tubuh para pemilik istana salah satunya makanan soto. Karena cuaca yang gerimis sangat mendukung untuk menikmati kuliner itu dengan potongan daging sapi, kuah kaldu dan bahan lainnya membuat citarasa soto sangat khas.
Oma Zufla sudah duduk di ruang makan bersama dengan cucunya Ila. Menanti semua keluarga untuk menikmati makanan itu. Nyonya Rona datang dan duduk di kursinya. Selanjutnya ibu Desi dan anaknya Cyra.
Mereka masih menunggu keluarga lainnya.
"Tatik." Panggil nyonya Rona. Wanita paruh baya itu berlari kecil mendekati majikannya.
"Di mana yang lainnya?" tanya nyonya Rona.
"Mungkin masih tidur nyonya, apalagi cuacanya sangat mendukung." Jawab ibu Tatik.
"Panggil yang lainnya." Titah nyonya Rona.
Wanita paruh baya itu memerintahkan para pelayan untuk memanggil yang lainnya. Salah satu pelayan mengetuk kamar Anggela, begitupun dengan yang lainnya juga mengetuk kamar Zidan, Tanisa dan Abian tapi tidak ada jawaban sama sekali. Para pelayan melaporkan kembali ke ibu Tatik.
Ibu Tatik melaporkan balik ke nyonya Rona.
"Maaf nyonya, pelayan sudah mengetuk pintu kamar secara berulang tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana." Jelas ibu Tatik.
Mendengar penjelasan kepala pelayan, jantung ibu Desi langsung berdebar, dia memikirkan yang aneh-aneh. Ibu Desi beranjak dari kursinya dan berlari kecil menuju kamar anaknya.
__ADS_1
"Ibu mau kemana?" teriak Cyra.
"Mau memastikan ada kehidupan tidak di kamar kakak kamu." Teriak ibu Desi sambil terus berlalu.
Ibu Desi meletakkan telinganya ke pintu, dia ingin memastikan ada suara atau tidak.
Wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamar anaknya secara keras dan berulang. Tapi tetap tidak ada jawaban sama sekali.
Ibu Desi mencari sesuatu yang bisa di gunakannya untuk merusak pintu itu. Dia melihat sepanjang lorong.
"Kalau aku pakai vas itu pasti nenek sihir marah lebih baik aku gunakan kursi itu." Gumam ibu Desi sambil berjalan mengambil kursi yang terbuat dari kayu jati.
Ibu Desi mengangkat kursi itu dan memukulkan ke pintu kamar secara berulang.
"Rusak-rusak yang penting anakku." Gumam ibu Desi sambil tetap memukulkan kursi ke pintu.
Brokkk brokkk brokkk. Keluarga yang ada di ruang makan bingung karena mereka mendengar ada suara kebisingan yang tidak jauh dari ruang makan.
"Tatik coba cek apa itu." Titah nyonya Rona.
"Baik nyonya." Ibu Tatik mencari asal kebisingan itu sambil menyusuri lorong.
Di dalam kamar Aneska terbangun karena kaget. Dia melihat suaminya masih tertidur di sampingnya.
"Abian suara apa itu." Ucap Aneska sambil membangunkan suaminya.
"Hah?" tanya Abian dengan mata setengah tertutup.
"Itu ada tukang di depan kamar kita." Ucap Aneska lagi.
"Tukang?" ucap Abian sambil membuka matanya.
"Ho oh, coba dengar pintu kamar kita seperti mau di dobrak pasti tukang yang melakukannya." Ucap Aneska.
"Sayang pakai baju kamu." Aneska mengenakan baju tidurnya begitupun Abian mengenakan celana boxernya.
"Hei apa yang kamu lakukan." Teriak ibu Tatik.
"Anakku di dalam, aku mau mendobrak pintu ini memastikan kalau ada kehidupan di dalam." Jelas ibu Desi.
"Pintunya rusak tau!" ibu Tatik menarik kursi yang ada di tangan ibu Desi, begitupun ibu Desi menarik kembali kursi itu.
Abian membuka pintu kamar.
"Lihat bukan tukang, mereka lagi senam tarik kursi." Ucap Abian ke istrinya sambil menutup kembali pintu kamar.
Abian menarik tangan istrinya untuk kembali tidur.
Bersambung...
__ADS_1