
Aneska terlihat sibuk menyiapkan pakaian yang akan di bawanya ke negeri singa.
"Sayang, aku tidak ingin kamu pergi ke singapura. Aku bisa kesepian di sini." Abian memeluk pinggang istrinya dari belakang. Aneska masih menyusun pakaiannya ke dalam koper.
"Aku khawatir sama ibu. Kamu tau sendiri bahasa inggris ibu hanya tau yes dan no." Jawab Aneska tanpa membalikkan badan menghadap suaminya.
"Iya kamu benar, tapi bagaimana dengan keris saktiku." Rengek Abian sambil meletakkan kepalanya di bahu istrinya.
Aneska melepaskan tangan suaminya dari pinggangnya. Dia membalikkan badannya menghadap suaminya. Aneska mengalungkan tangannya di leher suaminya. Dan Abian memeluk pinggang istrinya.
"Bagaimana kalau kamu ikut sama kami, sekalian kita bulan madu." Ucap Aneska genit.
"Wah istriku genit." Salah satu tangan Abian menarik hidung Aneska dan tangan yang lainnya masih memeluk pinggang istrinya.
"Aku ingin ikut tapi kamu lihat sendiri masalah perusahaan yang aku hadapi, tidak mungkin aku meninggalkan perusahaanku yang sedang krisis." Abian meletakkan kepala istrinya di dada bidangnya.
"Iya kamu benar, terus bagaimana? apa aku batalkan saja pernerbanganku ke singapura. Tapi bagaimana ibu? nanti kalau Cyra dan Ila lomba? ibu bagaimana?" Aneska memikirkan ibunya. Abian melihat wajah istrinya ada rasa khawatir tentang keadaan ibunya di negeri singa itu.
"Ya sudah kamu temani ibu dan adik-adik, tapi sebelum pergi kita guncangkan dunia dulu." Abian mengangkat tubuh istrinya dan langsung menjatuhkan ke kasur.
Dia menciumi bibir istrinya tidak memberi celah sedikitpun untuk Aneska menolak, posisi Abian sudah di atas tubuh istrinya. Abian menendang koper yang ada di atas kasur. Dia ketagihan dengan tubuh istrinya.
Tok tok tok
"Abian ada yang mengetuk pintu." Ucap Aneska menghindari ciuman ganas dari suaminya.
"Salah kamar mungkin." Jawab Abian sambil memegang gunung kembar Aneska.
Tok tok tok.
"Abian, benar kamar kita ada yang ngetuk." Ucap Aneska lagi.
"Biarkan nanti capek diam sendiri." Ucap Abian kembali membuat tato di dada indah istrinya.
"Aneskaaaa!" teriak seseorang dari depan pintu kamar.
"Ibu, Abian itu ibu." Aneska mengangkat kepala suaminya agar menghentikan aksi selanjutnya.
"Ha? ibu?" Abian menjatuhkan tubuhnya di kasur. Aneska merapikan pakaian dan rambutnya, dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
"Ibu-ibu katanya memberikan kesempatan untuk pengantin baru. Tapi masih di ganggu aja." Gerutu Abian sambil memandang langit-langit kamar.
Aneska membuka pintu.
"Ibu? ada apa?" Aneska melihat ibunya sedang membawa sesuatu di tangannya.
Ibu Desi langsung masuk ke dalam kamar anaknya dan melihat menantunya sedang berbaring di tempat tidur. Ibu Desi mengerutkan dahinya melihat pakaian yang berantakan dan ada koper di sebelahnya.
"Ibu." Ucap Abian sambil berpindah ke sofa.
"Ya ampun Anes, kamu tidak bisa menyusun pakaian di dalam koper." Ibu Desi merapikan pakaian anaknya.
"Tadi udah rapi bu tapi.." Aneska melirik suaminya yang manyun.
__ADS_1
"Jadi istri itu harus pintar berbenah." Ibu Desi merapikan pakaian anaknya dan memasukkan pakaian itu ke dalam koper.
"Biar Anes sendiri bu." Aneska mengambil pakaiannya dari tangan ibu Desi. Dia menyusun kembali ke dalam koper.
"Ada yang ingin ibu bicarakan?" ucap Aneska sambil merapikan kopernya.
"Oh iya ibu lupa, kata Cyra di singapura enggak ada musim salju, memang benar Nes?"
"Memang benar, singapura sama seperti kita ada dua musim, musim kemarau dan musim hujan." Jawab Aneska.
"Owalah ibu sudah repot-repot bawa ini." Ibu Desi menunjukkan tentengannya.
"Apa ini bu." Aneka membuka tentengan ibunya.
"Jaket, ibu pinjam sama bapak, seingat ibu ada musim salju. Eh enggak taunya enggak ada." Ucap ibu Desi sedih.
"Ibu, di sana memang tidak ada musim salju, musim salju lebih banyak di eropa tapi waktunya juga tertentu." Jelas Abian.
"Ibu ngapain bawa jaket bapak yang bulukan gini." Aneska protes.
"Taunya ibu ada musim salju makanya ibu bawa ini." Jelas ibu Desi.
"Iya ibu, kalaupun di sana ada musim salju mana cocok ibu pakai jaket itu." Ucap Aneska lagi.
"Memangnya jaket ini lebih cocok di pakai kapan?" ucap ibu Desi sambil menunjukkan jaket suaminya.
"Ngeronda dan ngojek." Jawab Aneska.
"Ya ampun ternyata jaket bapak jelek banget ya."
"Selamat malam tuan, surat perjanjian sudah siap di buat." Ucap Zidan dari depan pintu kamar.
"Baik, saya akan ke sana. Panggil semua penghuni istana menuju ruang kerja." Titah Abian.
"Pelayan juga tuan." Tanya Zidan lagi.
"Iya semuanya." Titah Abian.
"Apa aku juga harus ikut." Tanya Aneska sambil duduk di sebelah suaminya.
"Kalau kamu masih sibuk sama ibu, tidak usah ikut."
"Menantu kami sudah selesai." Sahut ibu Desi.
"Ya sudah ayo kita ke ruang kerja." Ajak Abian.
Mereka bersama-sama menuju ruang kerja. Sebelum sampai di sana, Aneska membisikkan sesuatu ke ibunya.
"Bu jaketnya simpan dulu." Bisik Aneska.
"Memangnya kenapa Nes?" ucap ibu Desi bingung.
"Ibu kalau bawa tentengan gitu seperti bawa bekal." Jelas Aneska sambil berjalan menyusuri lantai lima menuju ruang kerja.
__ADS_1
"Ya udah ibu pakai saja." Ibu Desi memakai jaket tebal milik suaminya.
"Ih ibu, kenapa di pakai? ibu seperti orang gunung." Goda Aneska.
"Ah kamu kebanyakan komplain." Gerutu ibu Desi. Mereka sampai di ruang kerja. Semua para pekerja kumpul di ruangan itu. Ruangan terlihat padat oleh semua penghuni istana Bassam.
"Nes, kalau gini kenapa kesannya seperti mau demo minta gaji ya." Bisik ibu Desi.
"Sstt ibu." Aneska dan ibunya masuk ke dalam ruang kerja itu dari pintu sampai mendekati meja kerja sudah di padati para perkerja dan pihak keluarga ada di depan meja kerja.
Aneska berdiri di samping suaminya. Abian melihat satu persatu penghuni istana.
"Saya memanggil kalian ke sini karena ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Yang pertama Farid akan menyerahkan perusahaannya malam ini kepada saya." Para pelayan bertepuk tangan riuh, Farid hanya bisa mendengus kesal mendengar penjelasan adik iparnya.
"Kalian di sini sebagai saksi atas perjanjian yang telah kami sepakati, apa kalian setuju?" tanya Abian.
"Setuju." Jawab semua penghuni istana kecuali Farid dan Anggel yang hanya diam dan tidak memberikan ekspresi sama sekali.
Abian melirik Zidan. Pria itu meletakkan surat perjanjian di atas meja dan menyerahkan pena terlebih dahulu ke Farid. Dengan perasaan marah dan terpaksa, Farid menandatangani perjanjian itu kemudian di lanjutkan dengan Abian.
Setelah penandatanganan surat perjanjian Zidan menyimpan surat itu ke dalam tas kerjanya. Farid memperhatikan tas itu, dia merencanakan sesuatu untuk mengambil atau mengganti surat itu dengan surat yang lain.
"Setelah kepemilikan berpindah tangan, maka semua gaji kalian akan di tambah sebesar dua puluh lima persen." Ucapan Abian di sambut bahagia oleh semua pekerja, di mana selama dia sakit, nyonya Rona tidak pernah sekalipun memberikan kenaikan gaji selama beberapa tahun. Tapi begitu Abian sembuh kenaikan itu lebih besar dari tahun-tahun sebelum Abian sakit.
Nyonya Rona mendekati anaknya. Dia membisikkan sesuatu.
"Abian, bukannya perusahaan kita sedang goyang tapi kenapa kamu malah memberikan kenaikan gaji?" bisik nyonya Rona.
"Jika kita banyak memberi maka kita akan lebih banyak menerima, aku yakin pepatah itu." Ucap Abian. Nyonya Rona tidak berkata-kata lagi.
"Yang kedua yang ingin saya sampaikan, minggu depan ulang tahun saya jadi persiapkan penampilan kalian." Ucap Abian.
"Maaf tuan, maksud anda apa?" ucap ibu Tatik bingung.
"Kalian di undang dalam acara saya, kalian bukan pekerja atau pelayan pada saat acara itu, kalian tamu undangan." Aneska tersenyum dan bangga mempunyai suami yang berhati mulia tanpa membedakan status sosial seseorang.
"Abian kalau mereka di undang siapa yang akan menyajikan hidangan untuk para tamu?" tanya nyonya Rona lagi.
"Tenang mami, aku sudah mengatur semuanya, dekor hidangan semua sudah di atur. Biarkan mereka ikut merayakan kesenangan yang aku rasakan." Jelas Abian.
"Apa semua sudah paham?"
"Paham tuan." Ucap pelayan secara bersama-sama. Abian mempersilahkan semua pelayan kembali ke ruangannya masing-masing.
Pelayan berbisik-bisik mengenai pakaian yang akan mereka kenakan pada saat pesta itu sambil meninggalkan ruang kerja.
Anggela mendekati nyonya Rona.
"Tante, katanya mau membuat pesta kejutan untuk Abian, tapi nyatanya Abian sudah merencanakan pestanya sendiri." Bisik Anggela.
Nyonya Rona hanya melirik Anggela dan meninggalkan gadis itu, rencananya untuk memberi pesta kejutan sekaligus untuk menarik perhatian Abian gagal, dia berharap kado yang akan di berikannya membuat hubungan antara ibu dan anak membaik.
Bersambung...
__ADS_1
Jika masuk 10 besar author akan update lebih, vote merupakan bentuk penghargaan dan prestasi atas karya author dan tentunya memberi semangat untuk tetap melanjutkan bab berikutnya. Terima kasih.