Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 52


__ADS_3

"Farid!" Teriak oma.


Farid tetap saja mencekik Aneska, dia sudah kesetanan. Oma Zulfa mencari sesuatu yang ada di dekat situ. Wanita sepuh itu melihat ponsel di tangan Tami, oma merampas ponsel itu dan memukul ke kepala Farid secara berulang.


"Aw." Farid melepaskan tangannya dari leher Aneska.


"Oma!" Farid marah dan menatap wajah oma.


"Kenapa? mau membunuh oma? bunuhlah oma enggak takut mati." Oma menantang Farid. Pria itu bangun dari tubuh Aneska dan berjalan meninggalkan semuanya yang ada di situ dengan perasaan marah.


"Uhuk-uhuk." Aneska batuk. Tami dan oma Zulfa membantu Aneska untuk jalan.


"Bagaimana keadaan kamu." Tanya oma.


Aneska tidak menjawab, dia jalan sempoyongan dan langsung jatuh kembali.


"Aneska!" Tami berteriak. Oma Zulfa beserta pelayan mendekati tubuh Aneska.


"Sepertinya dia pingsan, bantu bawa Aneska ke kamar Abian." Perintah oma kepada pelayan lelaki. Dua orang pelayan pria menggotong tubuh Aneska, mereka mengikuti perintah oma Zulfa.


Farid masuk ke kamarnya dan melihat di dalam kamar ada istrinya dengan mata yang bengkak. Begitupun Tanisa kaget melihat penampilan suaminya.


"Farid? apa yang terjadi dengan kamu." Tanya Tanisa.


"Ini semua karena orang gila itu!" ucap Farid marah.


"Siapa?" Tanisa bingung.


"Adik kamu yang gila itu. Dia melakukan ini kepadaku." Ucap Farid ketus.


"Kenapa Abian melakukan itu sama kamu? apa kamu melakukan sesuatu yang membuat Abian marah?" ucap Tanisa lagi.


"Aku tidak melakukan apapun, dia datang ke ruanganku dan langsung memukulku habis-habisan." Ucap Farid bohong. Tanisa mengerutkan dahinya, walaupun dia tidak cocok dengan adiknya tapi Tanisa tau karakter adiknya.


"Kenapa dengan mata kamu." Tanya Farid sambil mengobati luka di wajahnya.


"Ini perbuatan si perawat itu, dia melemparkan jambu batu ke mataku." Jelas Tanisa.


"Tenang, aku sudah membalaskan perlakuannya kepadamu." Ucap Farid jengkel.


"Apa yang kamu lakukan sama perawat itu?" ucap Tanisa penasaran.


"Aku baru menamparnya dan hampir saja membunuhnya, kalau oma tidak memukulku dengan ponsel pasti dia sudah mati." Jelas Farid.


Tanisa langsung memukul lengan suaminya.


"Untuk penamparan itu aku setuju, tapi kalau sampai perawat itu mati bisa mati kamu di buat Abian." Ucap Tanisa marah.


"Sudah terlanjur, aku buta dan marah sama perlakuan Abian kepadaku. Aku melihat dia di pekarangan taman bersama dengan temannya. Melihatnya aku langsung emosi, ini semua karena ulahnya juga." Ucap Farid.

__ADS_1


"Ulah perawat itu? maksud kamu apa?" Tanisa bingung.


"Karena perawat itu Abian bisa sembuh, dan perawat itu juga yang mengambil harta warisan kalian, apa kamu ingat?" ucap Farid. Tanisa menganggukkan kepalanya.


"Apa Abian tau tentang perlakuanmu sama istrinya?" ucap Tanisa khawatir.


"Mana aku tau!" gerutu Farid.


"Pasti Abian bakalan tau, apalagi ada banyak orang di situ salah satunya oma, gawat ini semua gara-gara kamu." Tanisa memukuli badan suaminya.


"Pasti Abian akan mengusir kita dari istana ini." Tanisa menangis.


"Sialan! kenapa aku tidak bisa berpikir panjang." Farid memukul tembok dengan tangannya.


"Aku enggak mau Farid, hiks hiks." Tanisa menangis. Farid berpikir siapa yang bisa membantu mereka.


"Kita minta bantuan Mami." Farid dan Tanisa keluar kamar mencari keberadaan nyonya Rona. Wanita paruh baya itu sedang duduk di ruang baca.


"Mami, hiks hiks." Tanisa menangis langsung memeluk nyonya Rona.


"Ada apa ini? dan kenapa dengan kamu Farid." Tanya nyonya Rona bingung. Farid menceritakan pemukulan yang di lakukan Abian kepadanya tapi dia tidak menjelaskan sebab adik iparnya marah. Dan Farid juga menceritakan tentang perbuatannya kepada Aneska.


"Apa!" nyonya Rona kaget.


"Kamu gila Farid, mami tidak bisa menolong kalian, kalian tau sendiri kalau Abian tidak pernah mendengar perkataan mami." Ucap nyonya Rona panik.


"Mami harus bantu kami, aku enggak mau keluar dari istana." Rengek Tanisa sambil menangis. Nyonya Rona mencari akal agar bisa menyelamatkan anak sulungnya dan menantu kesayangannya.


"Sepertinya sia-sia kalau minta bantuan oma, tadi oma memukul kepalaku, mana mau oma membantuku." Jelas Farid.


"Terus siapa?" nyonya Rona juga panik dan bingung.


"Mam, bagaimana dengan Ila, Abian sayang sekali sama Ila." Ucap Tanisa.


Nyonya Rona memikirkan ide anaknya.


"Ok kita akan coba minta bantuan sama Ila, tapi kalau tidak berhasil jalan satu-satunya kalian harus minta maaf sama perawat itu." Ucap nyonya Rona.


"Kami minta maaf terus mengemis sama perawat itu? enggak bakalan aku mau minta maaf sama wanita itu, jijik aku." Ucap Tanisa.


"Terus bagaimana?" nyonya Rona putus asa.


"Mami, sebaiknya kita cari Ila, aku khawatir Abian datang." Ucap Farid.


"Baiklah ayo kita temui Ila, pasti dia sedang bermain dengan alat musik anehnya itu." Ucap nyonya Rona. Ketiganya pergi keluar ruang baca menuju tempat Ila biasa menghabiskan waktunya.


Ila sedang bermain piano, dia sangat suka dengan alat musik itu. Tapi nyonya Rona tidak mendukungnya dengan alasan yang kurang jelas. Ketiganya masuk ke dalam ruang musik Ila.


"Ila, mami dan Tanisa butuh bantuan kamu." Ucap nyonya Rona.

__ADS_1


"Apa mam?" ucap Ila sambil memperhatikan penampilan kakaknya dan kakak iparnya.


Nyonya Rona menjelaskan kejadian yang barusan saja terjadi. Ila terkejut dengan kekejaman Farid sama Aneska.


"Maaf ma, Ila enggak bisa." Ila menolak.


"Ila, kamu harus bantu kakak sayang." Ucap Tanisa merayu adiknya.


"Enggak kak, perlakuan suami kakak harus di pertanggung jawabkannya sendiri." Ucap Ila.


"Dasar anak kecil." Tanisa menjewer telinga adiknya.


"Aw." Ila memegang telinga dan meringis kesakitan.


"Tanisa lepaskan tangan kamu dari telinga Ila." Bentak nyonya Rona.


"Tapi mam." Ucap Tanisa.


"Keluar kalian berdua." Ucap nyonya Rona pura-pura marah. Tanisa menghentakkan kakinya dan keluar dari ruang musik bersama suaminya. Mereka mencoba menguping pembicaraan antara Ila dan maminya.


"Ila, mami tau perbuatan Farid salah, tapi mami enggak bisa melihat kakak kamu jadi gelandangan. Kasihan Tanisa, dia harus menerima akibat dari perbuatan suaminya." Ucap nyonya Rona pura-pura sedih.


Ila anak yang penyayang, dia sangat menyayangi keluarganya walaupun dia tau nyonya Rona lebih sayang sama Tanisa di bandingkan dirinya tapi dia tetap menghormati orang tuanya.


"Aku akan bantu sebisaku mami." Ucap Ila sambil memegang tangan maminya.


"Oh anak mami yang imut, makasih sayang." Ucap nyonya Rona sambil memeluk anak bungsunya.


Di depan pintu Tanisa dan Farid mendengarkan pembicaraan orang tua dan adiknya.


"Ingat, semua ini karena ulahmu. Kalau sampai kamu memanfaatkan ku. Akan aku cincang tubuhmu." Ancam Tanisa.


"Tenang sayang." Farid memeluk Tanisa. Tapi Tanisa mendorong tubuh suaminya.


"Enggak usah akting sok mesra, aku melakukan ini bukan karena kamu suamiku tapi aku melakukannya karena istana ini bagian dari hidupku dan bukan kamu." Ucap Tanisa.


Dari luar ada suara yang cukup menggelegar.


"Faridddd!" Teriak Abian.


Dia mencari keberadaan Farid.


"Gawat Abian udah pulang." Tanisa cemas dan langsung masuk ke dalam ruang musik Ila.


Abian teriak mencari Farid, dia bertemu Tami yang baru turun dari tangga.


"Mana Aneska." Tanya Abian.


"Nona Aneska ada di kamar tuan, dia belum sadarkan diri." Ucap Tami.

__ADS_1


Abian langsung menaiki anak tangga dengan langkahnya yang lebar.


Bersambung.


__ADS_2