
Waktunya makan malam, semua pekerja sudah berada di ruang makan, tapi Aneska tidak mau pergi makan malam. Dia khawatir Abian akan membawanya ke ruang makan keluarga Bassam.
Di ruang makan Tami mencari keberadaan Aneska. Tapi dia tidak menemukannya.
Mungkin dia sedang makan bersama keluarga Bassam.
Tami mengambil makan malamnya dengan para pekerja lainnya. Di depan pintu ada Abian yang sedang berkacak pinggang sambil mencari seseorang yaitu Aneska. Karena tidak menemukan calon istrinya, dia memanggil ibu Tatik.
"Ibu Tatik." Ucap Abian sambil melambaikan tangannya. Wanita paruh baya itu datang menghampiri majikannya, tapi dia berdiri sedikit menjauh.
"Mana perawat itu." Tanya Abian.
"Yang mana tuan, di sini ada dua perawat." Ucap ibu Tatik gugup.
"Calon istriku." Ucap Abian singkat sambil melihat sekeliling ruang makan.
"Bukannya dia makan bersama keluarga tuan muda."
"Aku ke sini, karena dia enggak ada di sana." Abian pergi meninggalkan ibu Tatik. Dia memilih mencari sendiri calon istrinya.
"Mungkin dia sedang di kamarnya." Gumam Abian sambil menyusuri kamar para pelayan. Abian bingung yang mana kamar Aneska, dia kembali lagi ke ruang makan para pekerja dan meminta ibu Tatik untuk menunjukkan kamar calon istrinya.
"Yang mana kamarnya." Tanya Abian.
"Yang ini tuan." Ucap ibu Tatik sambil menunjuk kamar Aneska. Dari dalam kamar, Aneska bisa mendengar kalau ada seseorang sedang berada di depan kamarnya.
"Suaranya seperti ibu Tatik, tapi suara pria itu suara siapa? apa Zidan." Gumam Aneska mencoba mendengar suara orang yang berada di depan kamarnya. Aneska menempelkan telinganya ke pintu kamar.
"Mati aku, itu suara orang gila itu. Aku harus bagaimana?" Aneska panik, dia tidak mau makan bersama keluarga Abian dan dia masih kesal dengan kelakuan pria itu.
"Apa aku pura-pura sakit." Gumam Aneska lagi.
"Tidak aku enggak boleh sakit. Aku harus sembunyi." Aneska memilih sembunyi di bawah tempat tidur.
Tok tok tok pintu di ketuk. Karena tidak ada sahutan dari dalam, Abian membuka pintu kamar itu sambil di temani ibu Tatik.
"Dia kemana?" Ucap Abian.
"Enggak tau tuan, saya tidak melihatnya dari siang." Ucap ibu Tatik sambil melirik ke bawah. Wanita paruh baya itu melihat ada rambut yang tergerai di lantai tepatnya di bawah tempat tidur.
"Kamu cari sampai dapat." Ucap Abian tegas.
"Tuan, saya rasa calon istri anda sedang main petak umpet." Ucap ibu Tatik sambil melirik ke arah tempat tidur. Abian mengerti kode yang di berikan wanita paruh baya itu, dia langsung melihat ke bawah tempat tidur.
"Hai." Ucap Aneska gugup karena persembunyiannya di ketahui Abian.
"Ngapain kamu di sini." Tanya Abian.
"Antingku jatuh ini baru ketemu." Ucap Aneska gugup.
__ADS_1
"Keluar." Ucap Abian.
"Enggak mau." Jawab Aneska.
"Aku hitung sampai tiga kalau tidak keluar akan aku."
"Aku apa." Aneska sudah berdiri di belakang Abian.
Ibu Tatik merasa senang, karena dia sempat berpikir kalau Aneska akan menikah dengan Abian di dasari cinta, tapi kenyataannya hanya sebuah keterpaksaan.
"Ayo makan malam." Ajak Abian.
"Aku masih kenyang." Jawab Aneska ketus.
"Kenyang apanya, perutmu terisi hanya siang tadi. Ayo makan, kalau tidak aku gendong." Ucap Abian.
"Kamu bisa kembali ke ruang makan." Perintah Abian kepada ibu Tatik. Wanita paruh baya itu kembali ke ruang makan.
"Aku makan dengan para pekerja saja." Tolak Aneska.
"Jangan pernah membantah ataupun menolakku. Aku bilang makan ya makan bersamaku." Ucap Abian tegas sambil menatap tajam wajah Aneska.
"Halo tuan Abian yang terhormat. Di mana rasa bersalahmu? apa kamu lupa kalau kamu telah melecehkanku." Ucap Aneska ketus.
"Oh jadi kamu mempermasalahkan kejadian tadi siang, masih mending kamu tidak aku perkosa."
Prakkk, Aneska menampar wajah Abian.
"Kurang ajar." Abian kesal, dia mencium kembali bibir Aneska dengan kasar. Perawat itu berusaha meronta dan mendorong tubuh Abian, tapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria.
"Lepaskan aku." Aneska terus berusaha mengakhiri ciuman panas dari Abian.
"Hentikan aku mohon hentikan, hiks hiks." Aneska menangis. Abian mengakhiri aksinya, dia melihat Aneska sudah banjir air mata.
"Keluar kamu dari sini. Walaupun kamu anak orang kaya aku tidak takut samamu. Asal kamu tau, aku tidak akan pernah sudi jadi istri bonekamu." Teriak Aneska sambil mengusir Abian.
Abian pergi meninggalkan kamar Aneska. Dia meninggalkan gadis itu sendirian di kamarnya. Dia menuju ruang makan. Di sana sudah berkumpul semua keluarga besarnya sambil menikmati makan malamnya.
"Wah ada yang kehilangan calon pengantinnya." Ejek Tanisa.
Abian tidak membalas ataupun menggubris omongan kakaknya. Dia lebih memilih untuk menikmati makanannya.
"Mana ada wanita yang mau nikah sama orang enggak waras." Ejek Farid.
Byurrt, Abian menyiram wajah Farid dengan air.
"Ini untuk mulutmu yang macam banci." Ucap Abian.
"Kurang ajar." Farid beranjak dari kursinya, tapi dia berhenti karena ada suara yang menghentikannya.
__ADS_1
"Farid!" Nyonya Rona marah.
"Sudah mami katakan berapa kali, jangan pernah mengatakan hal itu kepada Abian. Dan untuk kalian berdua, kalian tidak di izinkan keluar dari istana selama satu minggu." Ucap nyonya Rona tegas.
"Mami, kenapa aku harus di hukum juga." Tanya Tanisa.
"Karena kamu sama saja dengan suamimu, selalu mengejek Abian." Jawab nyonya Rona.
"Ah mami." Rengek Tanisa.
"Mami, mana mungkin aku harus berdiam diri di istana ini selama seminggu. Perusahaan kita akan hancur kalau aku tidak berada di sana." Timpal Farid.
"Aku yang akan meneruskan perusahaan keluarga Bassam." Ucap Abian tegas. Semua orang yang berada di meja makan langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu? hahaha, bisa apa kamu dengan perusahaan Bassam. Nanti malah tambah kacau kalau ada kamu di sana." Ejek Farid.
"Farid, jaga mulutmu sebelum ada kamu, siapa yang mengurus perusahaan Bassam. Kamu itu hanya meneruskan saja." Ucap oma.
"Iya itu dulu, tapi sekarang keadaanya berbeda. Dia bukan Abian yang dulu." Ejek Farid.
"Jangan berdebat, kamu tidak mami izinkan keluar dari istana. Mengenai perusahaan nanti mami pikirkan." Ucap nyonya Rona.
Farid tidak bisa membantah omongan mertuanya. Dia harus memikirkan cara agar terbebas dari hukuman istana. Makan malam keluarga Bassam telah selesai. Tanisa dan suaminya sudah meninggalkan meja makan. Abian mengambil piring kosong dan mengisi dengan nasi dan lauk pauk. Nyonya Rona memperhatikan tingkah anaknya.
"Cari orang yang bisa menikahkan kami, aku beri waktu satu minggu." Ucap Abian sambil mengisi piring dengan lauk pauk.
"Abian, mami tidak setuju kamu menikah dengan perawat itu. Kita tidak sebanding dengannya." Ucap nyonya Rona.
Abian berhenti dengan aktivitasnya, dia menatap tajam wajah orang yang melahirkannya.
"Apa materi dan status sosial yang membuat orang sebanding dengan keluarga kita?"
"Sebanyak apapun harta seseorang tidak menunjukkan dia lebih mulia di hadapan Tuhan. Jangan bandingkan keluarga kita dengan orang susah, mungkin masih mulia orang susah di bandingkan kita. Kita semua di ciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Kecuali kalau mami matinya mau di planet." Sindir Abian sambil meninggalkan meja makan. Di tangannya, dia membawa piring yang berisi makanan dan menuju kamar Aneska
"Abiannnnnn." Teriak nyonya Rona. Dia selalu kesal dengan tingkah anaknya. Abian tidak pernah bersikap hormat ataupun segan. Dia tidak pernah di anggap ada oleh anaknya.
Abian tidak memperdulikan teriakan maminya. Setibanya di depan kamar Aneska, dia mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok.
Aneska membuka pintu dengan segera, dia berpikir kalau yang datang Zidan, jadi tanpa ragu dia langsung membuka pintu. Ketika di lihatnya bukan Zidan, Aneska buru-buru menutup pintu. Abian sudah menghalangi dengan tangannya.
"Jangan di tutup, aku hanya mau mengantarkan ini." Abian menunjukkan piring yang di bawanya.
"Aku masih kenyang." Ucap Aneska berusaha untuk mendorong dan menutup pintu kamarnya.
"Nanti kamu sakit. Aku janji setelah kamu makan, aku akan pergi." Ucap Abian.
"Bawa saja piring itu, aku enggak butuh makanan dari pria brengsek sepertimu." Ucap Aneska terus berusaha untuk mendorong dan menutup pintu. Abian tetap pada pertahanannya, dia mendorong balik pintu kamar dengan sekuat tenaga. Saking kuatnya Aneska terpental dan membentur lemari.
__ADS_1
Bersambung.
Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih