Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 87


__ADS_3

Ibu Desi keluar dari kamar mandi dan melihat anak sulungnya sedang berada di kamar dan sedang menari.


"Aneska kamu kenapa?" ucap ibu Desi bingung dengan tingkah anaknya.


"Eh ibu." Aneska berhenti menari sambil menggaruk kepalanya.


"Kak Anes mau jadi penari bu." Ucap Cyra.


"Enggak usah, kamu tidak pantas jadi penari badan kaku mirip robot gitu mau jadi penari, jadi istri yang soleha saja dan jadi perawat yang perduli dengan pasien." Ucap ibu Desi sambil mengolesi badannya dengan minyak.


"Ibu sakit?" ucap Aneska melihat ibunya yang tidak seperti biasanya.


"Ibu enggak sakit, di sini dingin banget semuanya pakai kipas." Ucap ibu Desi.


"Ac bu bukan kipas." Cyra membetulkan ucapan ibunya.


"Ah samalah itu." Ucap ibu Desi mulai mengambil piring dan mengisi dengan beberapa makanan.


"Bu, Anes udah enggak kerja lagi." Ucap Aneska pelan.


"Apa Abian melarang kamu?" ucap ibu Desi sambil mengunyah makanannya.


"Iya, enggak apa-apa kan bu." Ucap Aneska pelan dia khawatir ibunya marah.


"Ya enggak apa-apa, istri itu harus mendengarkan perintah suami. Bagus kalau kamu nurut." Ucap bu Desi sambil melihat semua makanan.


"Nes apa orang kaya makanannya selalu seperti ini?" ibu Desi menunjuk meja yang berisi makanan.


"Iya bu, menunya banyak kan? sampai bingung mau menghabiskannya." Jelas Aneska.


"Nes, bisa tidak minta sama koki masak jengkol sama sambal terasi, pasti enak sekali." Ucap ibu Desi.


"Ih ibu buat malu kak Anes aja." Ucap Cyra.


"Kok buat malu? itu makanan orang pribumi ngapain harus malu kecuali ibu makan uang haram baru malu-maluin." Jelas ibu Desi tidak mau kalah.


"Bilang ya Nes." Ucap ibu Desi lagi.


"Iya bu." Jawab Aneska singkat tidak membantah sama sekali ucapan ibunya.


***


Abian berada di ruang kerjanya. Sekertarisnya Tya membawakan beberapa berkas lama.


"Pak ini berkas yang bapak minta. Dan ini berkas yang di tanda tangani pak Farid." Jelas Tya sambil menunjukkan berkasnya.


Abian menganggukkan kepalanya dan memerintahkan sekertarisnya untuk meninggalkan ruangannya dengan menggerakkan jarinya. Dia membaca dan menganalisa semuanya. Dan melihat neraca perusahaan.


Abian mendengus kesal, dia menghubungi bagian keuangan untuk datang ke ruangannya.


Seorang wanita paruh baya yang mempunyai posisi manager keuangan datang ke ruangan CEO.


"Selamat pagi pak." Sapa wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


"Silahkan duduk." Perintah Abian ke wanita paruh baya itu. Wanita itu menarik kursi yang ada di depan bosnya dan menduduki kursi tersebut.


"Jelaskan tentang pembukuan ini." Ucap Abian sambil menyodorkan neraca yang ada di hadapannya ke manager keuangan.

__ADS_1


Wanita itu menjelaskan secara rinci tentang pendapatan dan pengeluaran. Semua transaksi yang terjadi selama satu bulan di jelaskan wanita paruh baya itu.


Abian melihat semua neraca dalam enam bulan terakhir.


"Permata Grup? apa hubungan kita dengan perusahaan ini? kenapa setiap bulan selalu ada pembayaran ke perusahaan itu." Tanya Abian.


"Menurut info dari manager pemasaran, kita ada kontrak kerja sama dengan perusahaan itu." Jelas wanita paruh baya itu.


"Hubungi bagian commercial." Perintah Abian.


Manager keuangan pergi meninggalkan ruangan Abian, dia menghubungi bagian penanggung jawab commercial untuk datang ke ruangan CEO. Commercial merupakan bagian penting dalam sebuah perusahaan, departemen itu yang mengajukan penawaran harga dan kerja sama dengan klien.


Seorang pria paruh baya yang mempunyai posisi penting di bagian commercial masuk ke dalam ruangan Abian.


"Selamat pagi pak." Ucap pria itu.


"Hemm, tunjukkan kontrak kerja sama perusahaan kita sama Permata grup." Ucap Abian.


"Baik pak." Pria paruh baya itu keluar dari ruangan Abian dan berlari kecil ke departemennya.


"Cari kontrak kerja sama dengan Permata grup." Perintah manager commercial.


Semua staf di departemennya sibuk mencari kontrak kerja sama itu. Mereka membongkar semua file.


"Pak ini." Ucap salah seorang staff.


"Bawa sini." Pria paruh baya itu melihat kontrak kerja sama itu dan langsung membawanya ke ruangan Abian


Pintu ruangan di ketuk, pria paruh baya itu langsung menunjukkan berkas kontrak kerja sama dengan Permata grup. Abian melihat kontrak kerja sama itu, semua legal dokumennya di lihatnya.


"Tinggalkan ini di sini." Ucap Abian, pria paruh baya itu pergi meninggalkan ruangan bosnya. Abian mengecek kembali berkas itu.


Abian mengambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya untuk mengecek Permata grup.


"Kabari secepatnya." Ucap Abian kemudian panggilan terputus.


***


Aneska pergi ke kebun bunga bersama ibunya. Sedangkan Cyra sedang berlatih piano bersama Ila.


"Desi." Ucap oma Zulfa.


Oma Zulfa menghampiri ibu Desi.


"Tangan oma kotor." Ucap oma Zulfa tidak jadi menyalami orang tuanya Aneska.


Ibu Desi membantu oma Zulfa memangkas bunga dan pohon yang menurut mereka harus di potong. Mereka mempunyai hobi yang sama sehingga oma dan ibu Desi cepat akrab.


"Ibu Anes, duduk di sana ya." Aneska pergi ke salah satu pohon besar dan duduk di bawahnya. Dia melihat ponselnya, mengecek pesan masuk dari suaminya.


"Dia kemana sih? sudah berapa jam tapi enggak kasih kabar." Gerutu Aneska


Aneska memejamkan matanya dan ada seseorang duduk di sebelahnya.


"Hai Aneska." Ucap Anggela.


Aneska membuka matanya dan kaget melihat ada wanita jadi-jadian di sebelahnya.

__ADS_1


"Ada apa?" ucap Aneska ketus sambil melirik Anggela.


"Enggak ada, aku hanya ingin duduk di sini. Aku sedang menghindari oma dari berkebun." Anggela tersenyum membayangkan oma sedang menungguinya.


"Oh." Ucap Aneska tanpa mau melihat ke arah Anggela.


"Oh iya, kata tante Rona, Abian minggu depan ulang tahun, tante mau memberikan kejutan untuk suami kamu." Ucap Anggela.


"Oh ya." Ucap Aneska pura-pura tertarik dengan pembicaraan Anggela.


"Iya, tante, Tanisa dan yang lainnya sudah menyiapkan kado untuk Abian, aku juga sudah membeli kado untuknya. Tante menyiapkan semuanya dengan matang dari gaun, dekor undangan dan yang lainnya sudah di persiapkan dengan matang." Jelas Anggela.


"Kalau memang ini kejutan kenapa kamu memberitahukan kepadaku? apa kamu tidak khawatir kalau aku akan membocorkan rahasia kalian." Ucap Aneska balik sambil melirik ke Anggela.


"Hahaha, kalau kamu mau mengatakan sama Abian terserah, tapi menurutku kamu tidak akan memberitahukan sama Abian, semua orang pasti menyukai kejutan." Ucap Anggela tertawa.


"Anggela kamu kemana?" teriak oma mencari Anggela.


"Gawat oma mencariku." Anggela berlari ke dalam istana menghindari oma.


Aneska memikirkan omongan Anggela tentang pesta kejutan untuk suaminya.


"Aku belum membeli kado untuknya. Sebaiknya aku cari kado sekarang." Gumam Aneska sambil berlari menuju kebun.


"Aneska jangan lari-lari." Teriak oma.


Aneska langsung berhenti seketika. Dengan raut wajah bingung.


"Kenapa oma?" Aneska mengerutkan dahinya bingung.


"Oma tidak mau penerus Bassam jatuh." Ucap oma Zulfa pelan.


Ibu Desi yang sedang ada di kebun langsung ikut nimbrung.


"Penerus? Aneska kamu hamil? ya ampun aku akan jadi nenek." Ucap ibu Desi senang.


Oma Zulfa dan Aneska bingung dengan tingkah ibu Desi.


"Desi dengar oma." Ibu Desi mengambil ponselnya dan berjalan meninggalkan oma dan anaknya. Dia menghubungi suaminya.


"Bapak kita akan jadi kakek dan nenek." Teriak ibu Desi.


"Apa!" Aneska langsung berlari menghampiri ibunya.


"Bu." Aneska menyentuh tangan ibunya.


"Sstt diam." Ibu Desi membagi kebahagian dengan suaminya.


Ibu Desi tidak memberikan kesempatan untuk Aneska berbicara. Dia membisikkan sesuatu ke ibunya.


"Anes enggak hamil tadi oma hanya bercanda." Bisik Aneska.


"Apa!" Ibu Desi langsung memukul anak sulungnya pak Mirza yang berada di ujung ponselnya mendengar keributan.


"Halo halo ibu ada apa? apa yang terjadi." Ucap pak Mirza.


"Bapak kita akan jadi kakek dan nenek tapi bohong." Rengek ibu Desi dan kembali mencubiti anak sulungnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2