
Abian keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan melewati semua keluarga yang sedang menikmati sarapannya.
"Abian Aneska mana?" ucap oma.
"Ada di kamar." Jawab Abian dan langsung berjalan ke dapur.
"Abian ayo sarapan." Ucap nyonya Rona.
"Aku dan Aneska sarapan di kamar." Jawab Abian.
Abian meninggalkan ruang makan dan kembali menuju kamarnya.
"Tante." Rengek Anggela.
"Sstt." Ucap nyonya Rona sambil melirik ke arah maminya.
Abian memegang handle pintu dan dia terkejut melihat mertuanya ada di belakangnya.
"Ibu? kapan datang." Ucap Abian sambil menyalami wanita paruh baya itu.
"Setahun yang lalu." Ucap ibu Desi.
Ibu Desi tersenyum dan memukul bahu menantunya.
"Hahaha, pertanyaan kamu ada-ada aja, jelas ibu baru datang. Enggak lihat koper ibu masih nangkring di sini." Ucap ibu Desi sambil tertawa.
Pelayan datang membawa makanan untuk Abian dan Aneska.
"Siapkan kamar untuk ibu Desi." Perintah Abian.
"Baik tuan." Ucap pelayan sambil masuk ke dalam kamar Abian.
"Ibu dan Cyra udah makan." Tanya Abian.
"Belum, tapi ibu mau ketemu sama Aneska dulu, boleh?" ucap ibu Desi.
"Boleh, mari masuk." Abian mempersilahkan ibu mertuanya masuk.
"Cyra simpan koper kita di kamar dulu." Ucap ibu Desi.
"Iya bu." Cyra mengikuti pelayan yang membawanya ke salah satu kamar yang ada di lantai empat. Sedangkan ibu Desi masuk ke dalam kamar anaknya.
"Dasar anak pemalas." Ibu Desi langsung mencubit anak sulungnya yang sedang berbaring di kasur.
"Aw ibu." Ucap Aneska langsung memeluk orang tuanya.
"Kamu itu sudah nikah, enggak malu apa sama suami, jangan malas, istri itu harus bangun lebih awal dari suami menyiapkan semua keperluan suami." Ibu Desi menceramahi anaknya.
Abian tersenyum sambil duduk di sofa, dia memperhatikan wajah istrinya yang bingung dan lelah karena datang-datang langsung di marahi ibunya.
"Stop, ibu datang sama siapa?" ucap Aneska.
"Sama Cyra." Jawab ibunya.
"Bapak enggak ikut." Ucap Aneska lagi.
"Bapak jaga rumah, oh iya menantu terima kasih banyak uang dari kamu telah di buatkan modal sama bapak." Ucap ibu Desi.
"Sama-sama bu, keluarga Aneska keluargaku juga." Ucap Abian.
__ADS_1
Aneska melirik suaminya, Abian langsung mengedipkan salah satu matanya. Aneska tersenyum simpul.
Ibu Desi memperhatikan penampilan anaknya.
"Aneska, berapa kali ibu bilang sama kamu, kalau tidur rambutnya jangan basah." Ucap ibu Desi marah.
"Bukan bu.." Aneska melihat ke Abian, suaminya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya yang mengisyaratkan agar Aneska diam dan tidak memberitahukan kejadian yang barusan terjadi.
"Ini lagi, kenapa leher kamu merah semua? apa di sini banyak nyamuk." Ucap ibu Desi sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Untuk apa itu bu?" tanya Aneska bingung.
"Ini minyak sereh, biasa ibu pakai untuk memijat tapi bisa mengusir nyamuk." Ibu Desi mengolesi seluruh leher anaknya dengan minyak itu.
"Buka baju, biar ibu pijat sekalian." Ucap ibu Desi.
"Enggak usah bu, ibu pasti capek. Ibu istirahat dulu ya." Aneska membawa ibunya keluar kamar.
"Ya udah ibu istirahat dulu, oh iya Nes tolong kamu bilang sama pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar, ibu enggak mau gabung sama nenek sihir itu." Ucap ibu Desi.
"Iya bu." Aneska masuk ke kamarnya dan mengambil gagang telepon dan menghubungi pelayan, memesan makanan untuk orang tuannya.
Aneska duduk di sebelah suaminya.
"Jahat banget nyamuknya sampai merah semua leher istriku." Goda Abian sambil melihat leher istrinya.
"Iya jahat banget nyamuk kepala hitam berambut dan berjenggot lagi." Sindir Aneska.
"Tapi kamu suka kan?" goda Abian lagi.
"Ogah siapa yang suka." Ucap Aneska sambil memalingkan wajahnya dari Abian.
"Aaaaa." Rengek Aneska sambil mencubiti suaminya.
"Ampun sayang, sekarang kita makan dulu." Abian mengambil makanan untuk istrinya. Aneska tidak menolak karena dia memang sudah lapar.
Dia menikmati sarapannya yang lezat.
"Makan yang banyak nanti malam kita akan guncangkan dunia." Ucap Abian sambil tersenyum.
"Uhuk-uhuk." Aneska langsung tersedak. Abian buru-buru memberikan air putih dan mengelus punggung istrinya.
"Sayang kalau makan baca doa jangan baca komik." Sindir Abian.
"Ah kamu, ini semua karena kamu." Ucap Aneska kembali mencubit suaminya.
"Apa ada ucapanku yang salah." Ucap Abian bingung.
"Ada! kenapa kamu mengatakan akan mengguncang dunia, memangnya mau ngapain." Gerutu Aneska.
"Mau nanam benih." Jawab Abian santai sambil mengunyah makanannya.
"Lagi!" ucap Aneska.
"Lah iyalah." Jawab Abian singkat.
"Aduh bakal lemas lagi kakiku." Gerutu Aneska.
"Kamu harus terbiasa sayang, tadi pagi itu hanya permulaan dan puncaknya nanti malam." Ucap Abian sambil memegang hidung istrinya.
__ADS_1
"Suamiku bisa tidak kalau main ular tangganya sekali aja." Ucap Aneska pelan.
"Kenapa? takut?"
"Iya takut sekaligus capek. Aku enggak kuat lihat keris sakti kamu yang enggak tidur-tidur." Rengek Aneska.
"Ya mau gimana lagi, apa kamu mau kerisku ke sarung orang lain." Ucap Abian.
"Apa! Awas ya kalau sampai masuk ke sarang wanita lain pulang aku pastikan tidak berbentuk keris lagi." Ancam Aneska.
"Memangnya mau kamu ubah seperti apa kerisku." Tanya Abian.
"Jadi sendok." Ucap Aneska.
"Hahaha cemburu ya, layanilah suamimu ini sampai puas." Rayu Abian sambil memeluk bahu istrinya.
"Iya tapi kalau setiap malam sampai berpuluh kali bisa mati adek bang." Rengek Aneska.
"Hahaha enggak dek, abang hanya sekali di kali sepuluh dek." Goda Abian sambil tertawa.
Aneska langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Dia tidak bisa membayangkan bentuk mahkotanya.
"Ah kamu, pasti mahkotaku tidak akan berbentuk lagi." Rengek Aneska.
Abian hanya tertawa dengan tingkah istrinya yang manja.
"Pasti bentuk mahkotaku sudah tidak karuan bentuknya." Ucap Aneska lagi.
"Mau bentuk mahkota kamu zig zag atau persegi aku tetap cinta sama kamu." Ucap Abian sambil mengecup bibir istrinya.
"Kalau keriput bagaimana." Tanya Aneska lagi.
"Pakai anti aging pasti enggak keriput." Ucap Abian.
"Aaaa itu sama saja kamu enggak mau." Rengek Aneska.
"Mau sayang, mana mungkin aku enggak mau. Yang merubah bentuknya kan aku." Ucap Abian.
Setelah perdebatan tentang masalah bentuk mahkota. Akhirnya di ambil kesepakatan kalau untuk nanti malam hanya melakukan beberapa kali saja.
Abian pergi meninggalkan istana menuju kantornya. Aneska menghampiri orang tuanya yang sedang beristirahat di kamar.
"Ibu." Ucap Aneska sambil menggedor pintu kamar.
Cyra membuka pintu kamar.
"Mana ibu." Tanya Aneska.
"Ada di kamar mandi." Cyra melihat penampilan kakaknya yang di lehernya berbalut selendang.
"Gaya kakak kenapa seperti penari." Ucap Cyra.
"Kenapa?" ucap Aneska bingung.
"Itu." Cyra memegang selendang Aneska.
"Iya kakak sekarang penari jaipong." Ucap Aneska sambil menari layaknya seorang penari profesional.
"Stop enggak cocok." Ucap Cyra.
__ADS_1
Bersambung...