Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 168


__ADS_3

Aneska memaksa suaminya untuk memakai celana dalam buatannya. "Sayang besok aja ya." Ujar Abian menolak. Menolak karena tau akan sensasi yang di rasakan ketika memakai celana dalam rajutan.


"Sekarang dong, aku mau lihat ukurannya pas atau tidak." Titah Aneska.


Abian tidak bisa menolak. Jika menolak sama saja membuat istrinya marah kembali. "Aku akan memakai di sana." Abian menunjuk ruangan yang terdapat lemari.


"Baiklah aku akan tunggu di sini." Ujar Aneska berbaring menunggu suaminya.


Di ruangan itu Abian menatap celana dalam dengan warna merah menyala.


"Seumur-umur baru ini aku memakai ****** warna merah." Gerutu Abian.


Abian memakai celana dalam itu seraya berkaca. "Wah parah banget bentuknya." Ujar Abian seraya memperhatikan bentuk keris saktinya.


"Sayang cepat aku mau lihat." Teriak Aneska.


Tidak berapa lama Abian keluar dengan memakai kimono.


"Kok pakai kimono aku mau lihat ukurannya pas atau tidak." Dengan malu Abian membuka kimononya dan Aneska langsung tertawa.


"Kan lucu!" seru Abian yang bisa menduga kalau keris saktinya tidak terlihat sakti.


"Sayang kenapa keris kamu seperti di bakar di dalam bara api." Ejek istrinya.


Abian mulai menggaruk. "Sayang gatal." Ujar Abian menggaruk.


"Hahaha, panu pak." Ejek Aneska lagi.


"Aku lepas ya?" tanya Abian. Aneska tidak menjawab, dia terlalu bahagia menertawai suaminya.


Tanpa di suruh Abian membuka celana dalamnya. "Ini baru lega." Ujar Abian dengan tubuh polosnya.


Dia naik ke tempat tidur.


"Itu keris enggak di tutupi? entar di gigit nyamuk loh." Ejek Aneska lagi.


"Iya ini mau di tutupi." Abian membaringkan tubuh istrinya.


"Sayang mau apa?" tanya Aneska bingung.


"Mau kamu." Sahut Abian genit dan mulai meraba seluruh tubuh istrinya. Malam yang panjang untuk pasangan suami istri itu. Melakukan berbagai jurus untuk menyenangkan pasangannya.


***


Pagi harinya sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Aneska mengerjapkan matanya. Melihat ke sebelahnya di mana Abian masih tertidur dengan pulasnya.


Berjalan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya di sana. "Setelah sekian lama tidak berhubungan badanku terasa sakit semua." Gumam Aneska seraya membersihkan badannya.


Aneska telah selesai mandi dia mendapatkan suaminya duduk di pinggir tempat tidur dengan mata yang masih terpejam.


"Kalau masih ngantuk enggak usah kerja." Ujar Aneska.


Abian membuka matanya dan segera ke ke kamar mandi. Setelah memakai pakaian Aneska melihat ponselnya.


"Ya habis baterei." Gumam Aneska dan mengisi daya untuk ponselnya.


Setelah rapi pasangan suami istri itu keluar menuju meja makan. Nyonya Rona terus menyunggingkan senyum di bibirnya. Dia yakin Aneska tidak akan sarapan bersama, tapi ketika melihat Abian menggandeng tangan istrinya, membuat wanita paruh baya itu melongo.

__ADS_1


"Apa hebatnya sih wanita itu. Lebih cantik Vania di bandingkan dia. Tapi kenapa Abian bisa luluh dengan wanita kampungan itu." Gerutu nyonya Rona pelan.


"Pagi semuanya." Sapa Abian. Semuanya menjawab sapaan pemilik istana.


Abian duduk di kursinya dan di samping kanannya ada Aneska. Ibu Desi menyodorkan sebuah kotak kecil ke hadapan Abian.


"Apa ini bu?" tanya Abian menatap kotak di hadapannya.


"Kado dari ibu, bukalah." Titah ibu Desi.


Abian memegang kotak tersebut dan membuka. Ketika melihat bahan yang sama seperti dari istrinya dia bisa menduga kalau itu celana dalam.


Abian melirik istrinya Aneska menahan tawanya. "Apa kamu dan ibu janjian?" tanya Abian berbisik.


"Enggak ada." Sahut Aneska pelan.


"Kok hanya di lihat, ayo tunjukkan sama yang lain." Titah ibu Desi.


Abian menatap tajam istrinya yang sedang menahan tawanya. Dengan malu dia melebarkan isi kado itu seraya menutup matanya.


"Sayang lihat." Ujar Aneska. Abian membuka matanya dan melihat kaos kaki dari bahan yang sama.


"Apa aku seperti anak bayi sampai di kasih kaos kaki segala." Bisik Abian ke Aneska.


"Karena kamu imut sayang." Ujar Aneska menarik hidung suaminya yang mancung.


"Bagus tidak kaos kakinya, ibu sengaja membuatnya untuk kamu." Jelas ibu Desi dan mendapatkan cibiran dari besannya.


"Terima kasih bu, kalau musim dingin akan saya pakai." Ujar Abian menyenangkan hati mertuanya.


Setelah sarapan Abian berangkat kerja sebelum berangkat mengecup dan memeluk istrinya.


Aneska kembali ke kamarnya dan melihat ponselnya yang masih belum penuh. Karena terlalu lelah Aneska tertidur.


***


Abian sampai di kantornya dan masuk ke dalam loby dengan gagahnya. Ketika di loby dia melihat Zidan dan Vania.


"Itu Abian." Vania dan Zidan segera menghampirinya.


"Pagi Abian." Sapa Vania.


Abian hanya menganggukkan kepalanya. "Zidan kamu yang urus." Abian melangkahkan kakinya meninggalkan Vania dan Zidan.


Vania kaget dengan tingkah Abian yang sangat dingin dengannya.


"Kamu tunggu di sini dulu." Ujar Zidan dan segera meninggalkan Vania.


Di loby karyawan yang kenal dengan Vania menyapanya dengan ramah. Walaupun tidak tau maksud kedatangan Vania tapi karyawati tetap ramah.


Di ruangan CEO


"Tuan, mau di letakkan di mana Vania?" tanya Zidan bingung.


"Dia bilang terserah, dan untuk di sini tidak mungkin. Aku serahkan semua dengan kamu." Titah Abian.


Zidan permisi keluar dari ruangan Abian dan kembali ke loby.

__ADS_1


"Ikut aku." Titah Zidan.


Vania mengikuti Zidan menuju departemen pemasaran. "Untuk posisi sekertaris tidak ada yang kosong dan hanya kosong di departemen pemasaran." Jelas Zidan.


"Siapa manager pemasarannya?" tanya Vania yang melihat sekeliling departemen pemasaran.


"Aku." Sahut Zidan singkat. Vania membulatkan mulutnya, dia tidak percaya akan bekerja sama dengan pria yang di kenalnya.


"Itu meja kamu, semoga kita bisa bekerja sama." Ujar Zidan dan segera masuk ke ruangannya.


Vania tersenyum senang. Sudah lama dia menginginkan kerja seperti dulu.


***


Aneska terbangun siang hari dan langsung melihat ponselnya. "Sudah penuh." Gumam Aneska dan menyalakan ponselnya.


Ketika di nyalakan banyak pesan masuk dan yang di baca pertama kali pesan dari Tiara. Membaca pesan itu perasaan Aneska langsung mendidih.


"Aku harus melakukan sesuatu." Gumam Aneska mondar mandir dan memikirkan sesuatu.


Aneska mencari keberadaan Anggela yang sedang belajar membersihkan ruangan.


"Anggela ikut aku." Titah Aneska seraya memegang tangan wanita itu. Melihat keakraban antara Anggela dan Aneska membuat Tanisa dan nyonya Rona mencibir.


Aneska membawa Anggela ke kamarnya. "Ada apa Aneska?" tanya Anggela bingung.


"Mulai sekarang kamu jadi juru make up ku." Titah Aneska.


Anggela menganggukkan kepalanya dan tetap mengerutkan dahinya. Karena dia tau jika Aneska bukanlah wanita yang suka berhias dan itu yang membuat Abian tertarik itu pikirnya.


"Aku mau ke kantor suamiku. Pilihkan pakaian yang cocok." Aneska menunjukkan lemari pakaiannya.


Anggela memegang dan melihat semua pakaian Aneska.


"Aneska kalau kedatangan kamu untuk berkunjung pakai dress juga boleh." Ujar Anggela.


"Aku mau terlihat formil." Sahut Aneska.


Anggela melihat pakaian Aneska dan semuanya tidak ada yang formil. "Aku ada pakaian yang sampai sekarang belum aku pakai. Jangan berpikiran kalau ini bekas." Ujar Anggela khawatir jika Aneska akan berpikiran jika dia memberi barang bekas untuk Aneska.


"Baiklah tunjukkan padaku pakaiannya." Anggela keluar dari kamar Aneska dan kembali ke kamarnya mencari pakaiannya.


Anggela kembali membawa pakaian yang masih terbungkus plastik.


"Ini pakaiannya, menurutku ukurannya pas untuk kamu." Ujar Anggela membuka bungkus plastik dan mengeluarkan isinya.


Aneska manggut dia suka dengan pakaian itu. Anggela mulai merias wajah Aneska hanya dalam beberapa menit wajah Aneska telah terlihat cantik.


Mengenakan sepatu heels dan menenteng tas di tangannya.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Aneska yang berjalan mondar mandir.


Anggela mengangkat kedua jempolnya untuk Aneska.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2