
Abian sudah tiba di kantor. Semua mata tertuju padanya. Karyawan tidak tau kemana perginya Abian. Yang mereka tau pemilik perusahaan sedang mengembangkan bisnisnya di luar negeri.
"Selamat pagi pak." Ucap HRD menyapa Abian yang kebetulan ada di loby.
"Pagi." Jawab Abian singkat langsung menuju lift khusus. Sesampai di lantai ruangannya sekertarisnya yang bernama Tya langsung kaget dan berdiri sigap. Tya adalah pengganti Vania, dia di pekerjakan sebulan sebelum Abian stress dan menghilang.
"Pagi pak." Ucap Tya gugup.
"Pagi." Abian langsung masuk ke dalam ruangannya. Ruangan yang sudah lama tidak di lihatnya. Dekor ruangannya masih sama tidak ada yang berubah sama sekali. Pintu ruangan di ketuk.
Tok tok tok.
"Masuk" Ucap Abian.
"Pagi pak, ada meeting hari ini. Untuk yang memimpin meeting bapak apa pak Farid." Tanya Tya.
"Saya yang akan memimpin." Ucap Abian.
"Baik pak." Sekertaris itu hendak pergi keluar dari ruangan presiden direktur. Tapi langkahnya terhenti dengan suara Abian.
"Di mana ruangan Farid." Tanya Abian.
"Ruangan pak Farid ada di bawah lantai ini." Ucap Tya.
"Apa posisinya." Tanya Abian lagi.
"Direktur pemasaran pak." Jawab Tya. Abian keluar dari ruangannya, sekertarisnya mengikutinya dari belakang.
"Persiapkan semua bahan meeting. Saya akan pergi sendiri." Ucap Abian tegas.
"Baik pak." Ucap Tya kembali ke meja kerjanya. Abian memencet tombol lift satu lantai dari ruangannya. Dia menyusuri ruangan itu, semua karyawan kagum dan kaget akan sosok Abian yang datang tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba.
Abian jalan dengan gagahnya, dia berjalan menuju tempat direktur pemasaran berada. Dia melihat meja sekertaris kosong. Abian tidak mengetuk pintu ruangan, dia langsung membuka pintu ruangan Farid. Dia kaget melihat ruangan itu telah jadi tempat untuk bercumbu.
"Pagi pa pak." Ucap sekertaris panik sambil merapikan pakaiannya. Farid menoleh siapa yang di maksud selingkuhannya itu.
"Abian!" Farid kaget dan pucat. Dia membetulkan dasi dan pakaiannya. Rahang Abian mengeras, wajahnya memerah. Dia terlihat sangat marah.
"Siapa nama kamu?" ucap Abian kepada sekertaris Farid sekaligus selingkuhannya.
"Sintia pak." Ucap wanita itu takut sambil menundukkan kepalanya.
"Silahkan kamu keluar dari perusahaan ini. Kamu tidak di butuhkan lagi di sini! cepat!' Teriak Abian dengan suara menggelegar.
"Maaf pak saya khilaf." Wanita itu memohon sambil memegang kaki Abian.
"Aku hitung sama sepuluh kalau sampai wajah kamu masih di hadapanku akan aku umumkan sama seluruh pekerja di sini, tentang busuknya perbuatanmu!" Ucap Abian marah.
Wanita itu langsung buru-buru mengambil barangnya, dan berlari keluar melewati para pekerja yang bingung dengan suara teriakan CEO.
__ADS_1
Abian menutup pintu ruangan. Di dalam tinggal Abian dan kakak iparnya. Farid terlihat pucat dan takut. Abian langsung mendaratkan pukulan berkali-kali ke wajah dan tubuh kakak iparnya.
"Abian ini salah paham." Ucap Farid dengan suara yang berat karena perutnya baru saja di tonjok Abian.
"Sekarang baru kamu bilang salah paham! dasar binatang!" Abian memukul Farid sampai babak belur.
"Keluar kamu dari sini! aku tidak mau melihatmu lagi!" Teriak Abian.
"Kakakmu juga melakukan ini samaku." Ucap Farid.
Abian menarik kerah kemeja Farid dan melemparkan keluar ruangan. Semua karyawan kaget melihat Farid sudah babak belur. Karyawan berasumsi kalau yang terjadi antara Farid dan Abian masalah keluarga.
Dengan wajah yang babak belur, Farid keluar dari gedung. Di dalam ruangan direktur pemasaran Abian mencoba menerima ucapan kakak iparnya tentang perselingkuhan yang di lakukan kakaknya juga.
Abian keluar dengan perasaan marah dan kesal, dia kembali ke ruang kerjanya. Abian memukul tembok berkali-kali. Ponselnya berdering dan di layar ada nama istriku. Dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo suamiku." Ucap Aneska. Mendengar suara istrinya Abian langsung tenang, apalagi ada kata suami yang membuatnya makin tenang.
"Halo kamu masih di sana?" Aneska tidak mendengar suara suaminya.
"Iya aku masih di sini." Jawab Abian mendengarkan suara istrinya sambil memejamkan mata.
"Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk menghubungi kamu. Maaf aku telat." Ucap Aneska.
"Tidak apa-apa, aku senang mendengar suaramu." Ucap Abian lagi.
"Tunggu, berikan satu ciuman untukku." Ucap Abian.
"Apa!" Aneska teriak. Abian menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Kenapa teriak." Jawab Abian pelan.
"Aku malu, di sebelahku ada Tami." Ucap Aneska pelan.
Suara ruangan di ketuk. Sekertarisnya mengingatkan waktunya untuk meeting. Abian menganggukkan kepalanya secara perlahan dan memerintahkan wanita itu untuk keluar ruangan dengan gerakan tangannya.
"Udah cepat, aku mau meeting." Ucap Abian.
Aneska berjalan menjauh dari Tami. Setelah cukup aman dia mulai mengecup suaminya melalui jarak jauh.
"Muaaaaahhhh." Ucap Aneska. Abian tertawa senang.
"Praktekkan nanti malam." Ucap Abian sambil tertawa dan panggilan terputus.
Abian keluar ruangan menuju ruang meeting di ikuti sekertarisnya.
"Zidan sudah kamu hubungi untuk hadir di ruang meeting." Ucap Abian.
"Sudah pak, semua para petinggi perusahaan sudah hadir di ruang meeting." Jelas Tya. Abian menganggukkan kepalanya menuju lift khusus bersama Tya. Di dalam ruangan yang sempit itu sekertarisnya diam-diam memperhatikan sosok Abian yang sangat berkharisma dan mempesona. Dia mengagumi sosok bosnya, bukan hanya dia hampir semua karyawan wanita menyukai Abian. Dan mereka mundur ketika Abian dekat dengan Vania. Tapi mereka tau kalau Vania dan Abian sudah tidak menjalin kasih, mereka berasumsi karena adanya jarak di antara ke duanya.
__ADS_1
"Selamat pagi." Ucap Abian di ruang meeting. Semua para petinggi perusahaan kaget dengan kehadiran Abian. Mereka senang Abian dapat kembali perusahaan.
"Pagi pak Abian." Ucap semua yang ada di ruang meeting.
Abian memulai meeting.
"Untuk posisi direktur pemasaran mulai sekarang di ambil alih oleh Zidan. Dan semua laporan yang pernah di serahkan sama Farid serahkan kepada saya." Ucap Abian tegas. Kemudian meeting di lanjutkan tentang pembahasan masalah saham yang mulai merosot.
***
Aneska menutup ponselnya. Tami mendekati temannya.
"Kenapa wajah kamu merona seperti itu? apa tuan Abian baru mengatakan sesuatu." Tebak Tami.
"Sstt ngomong apa sih." Ucap Aneska. Mereka melihat ada mobil yang baru masuk ke perkarangan istana. Dan turun seorang pria yang mereka kenal.
"Dokter Arif." Aneska dan Tami berlari mendekati dokter mereka.
"Aneska, Tami. Saya senang melihat kalian dalam keadaan baik." Ucap dokter Arif.
"Dokter ke sini mau memeriksa Abian." Tanya Aneska.
"Iya, sekaligus mau memeriksa Tanisa. Saya dapat telepon dari nyonya Rona kalau mata Tanisa sakit dan bengkak." Ucap dokter Arif.
Aneska dan Tami saling melirik. Dokter Arif melihat keduanya.
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dari saya." Tanya dokter Arif.
"Sebenarnya yang membuat mata Tanisa sakit saya dok." Ucap Aneska pelan.
"Dia melakukan karena membela diri." Timpal Tami.
Tami menceritakan kejadian di taman, dari Aneska di lempar bola sampai temannya membalas dengan melempar jambu batu.
"Ya ampun Aneska, kenapa sampai jambu batu yang kamu gunakan? pakai batu sekalian biar lebih sadis." Ucap dokter Arif sambil tertawa. Aneska dan Tami juga ikut tertawa.
"Dokter, Abian sudah sembuh jadi tidak perlu memeriksanya." Ucap Aneska.
"Oh iya, hebat kamu." Ucap dokter Arif senang.
"Saya akan menemui Abian untuk membawa kalian balik." Ucap dokter Arif lagi.
"Abian tidak ada di istana, dia sudah bekerja." Jelas Aneska.
"Nanti kita bicarakan lagi, saya mau memeriksa Tanisa." Dokter Arif masuk ke dalam istana meninggalkan dua perawatnya.
"Kalau sampai nenek sihir mengatakan tentang pernikahan aku dan Abian, pasti dokter Arif akan kaget." Ucap Aneska.
Bersambung.
__ADS_1