Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 140


__ADS_3

"Kalau Abian yang mengantarkan sendiri beda ceritanya bu, ini ibu membawa Aneska tanpa persetujuan suaminya dan itu tidak boleh." Pak Mirza menasehati istrinya.


Ibu Desi hanya diam mendengarkan nasehat yang di berikan suaminya. Dia tidak ingin memikirkan masalah itu.


"Ibu mau masak." Bu Desi kembali memasak untuk keluarganya.


Melihat istrinya yang tidak acuh dengan ucapannya. Pak Mirza mengerti jika istrinya tidak ingin membicarakan masalah itu.


Malam telah tiba dan ibu Desi telah selesai memasak. Keluarga pak Mirza mulai menyantap makan malamnya di meja makan. Hanya Aneska yang tidak berada di meja makan itu. Aneska telah makan lebih dulu sebelum keluarganya makan. Tadi dia menikmati makan malamnya di kamar.


Tidak ada pembicaraan selama di meja makan. Keluarga melupakan semua kejadian hari itu. Sampai ada seseorang yang mengetuk pintu rumah.


"Apa bapak bilang kalau ibu pulang?" tanya ibu Desi.


"Bilang ke siapa?" tanya suaminya balik.


"Ke bu Tarno." Sahut istrinya.


"Dari tadi bapak di rumah mana ada bapak keluar. Mungkin bu Tarno melihat ibu pulang." Jelas pria paruh baya itu.


"Cyra kalau bu Tarno cari ibu bilang saja ibu sudah tidur dan bilang juga besok aja pijatnya." Jelas ibunya.


"Iya bu." Cyra beranjak dari kursinya menuju ruang tamu. Dia membuka pintu dan melihat ada sosok yang di bicarakan ibunya tadi.


"Cyra ibu kamu ada?" tanya bu Tarno.


"Ada bu, tapi ibu lagi tidur."


"Padahal ibu mau minta pijat." Ujar wanita paruh baya itu.


"Besok aja pijatnya bu."


"Ya udah besok pagi bilang ke ibu kamu ya." Wanita paruh baya itu pamit pulang.


Cyra kembali menutup pintu dan melanjutkan makan malamnya. Belum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya pintu rumah kembali di ketuk.


"Apa kamu sudah bilang kalau ibu tidur?" tanya wanita paruh baya itu.


"Udah loh bu, bu Tarno langsung pulang tadi." Jelas anak bungsunya.


"Lalu siapa itu?" suami dan anaknya langsung mengangkat kedua bahunya, mereka tidak bisa menebak siapa yang ada di depan rumah.


Cyra beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu rumah. Melihat sosok itu Cyra langsung teriak memanggil bapak dan ibunya.


"Bapak ibu!" teriak Cyra.


"Pak Cyra kenapa." Pasangan suami istri itu sontak lari menuju ruang tamu dan keduanya kaget melihat Abian telah sampai di rumah mereka.

__ADS_1


"Kamu!" ibu Desi langsung menunjukkan wajah tidak suka.


Berbanding terbalik dengan suaminya, pak Mirza sangat ramah menyambut menantunya.


"Nak Abian silahkan masuk." Ujar pak Mirza.


Abian masuk ke dalam rumah mereka di mana ruang tamu mereka sebesar kamar mandi Abian di istana.


Ibu Desi langsung melotot ke suaminya tapi pak Mirza berpura-pura tidak tau. Abian masuk ke dalam rumah itu tanpa membuka sepatunya yang sontak membuat ibu Desi sewot.


"Harap lepaskan sepatu anda, ini bukan jalan raya." Sindir ibu Desi.


"Bu...." Pak Mirza merapatkan giginya.


"Maaf." Abian melepaskan sepatunya. Dia bingung mau meletakkan sepatunya di mana.


"Cyra sepertinya tuan muda kebingungan di mana meletakkan sepatu mahalnya, ambilkan kresek." Titah ibunya.


"Kok kresek bu?" tanya Cyra bingung.


"Sepatu mahal dia tidak pantas di dalam rak sepatu kita. Berikan kresek." Titah ibunya. Cyra ke dapur dan mengambil kresek sesuai perintah ibunya.


"Ini kak." Cyra menyerahkan ke Abian.


"Kreseknya mau di apakan?" tanya Abian bingung.


"Di telan." Ceplos ibu Desi.


"Duduk Abian, soal sepatu jangan di pikirkan." Pak Mirza mempersilahkan menantunya untuk duduk. Abian menduduki kursi yang terbuat dari rotan.


"Cyra ambilkan bantal." Titah ibunya lagi.


"Untuk apa bu?" tanya gadis belia itu bingung.


"Kursi kita tidak senyaman kursi istana jadi berikan bantal biar tidak panas bokongnya." Jelas ibu Desi. Cyra mau berlari ke dalam kamar tapi pak Mirza menahan anaknya.


"Cyra tidak usah." Cyra kembali ke tempat semula yaitu berdiri di samping ibunya.


"Apa tadi kamu kesasar?" tanya pak Mirza.


"Iya pak, saya sampai ke kampung yang ada di ujung setelah di sana saya baru tau dari pedagang yang kebetulan lewat situ.


"Rasain." Timpal ibu Desi ketus.


"Bu bisa diam tidak." Pak Mirza berujar dengan merapatkan giginya.


Ibu Desi diam, sebenarnya dia ingin memarahi menantunya tapi tatapan suaminya lebih menakutkan dari segalanya.

__ADS_1


Karena malas ibu Desi pergi meninggalkan suami dan menantunya, wanita paruh baya itu menarik tangan anak bungsunya. Mereka melanjutkan kembali makan malamnya.


"Bu, kak Abian enggak di tawari makan?" tanya Cyra.


"Ngapain, biarkan dia cari makan di luar." Sahut ibunya. Di ruang tamu pak Mirza berbincang dengan menantunya.


"Bapak sudah mendengar masalah kamu dan Aneska, tidak seharusnya Aneska mengambil keputusan sendiri." Sesal pak Mirza.


"Saya yang bersalah dalam hal ini pak, saya terlalu emosi dan tidak mau mendengarkan penjelasan Aneska." Abian berujar dengan perasaan sedih dan menyesal.


"Tidak Abian, kesalahan ada pada Aneska, memang niat awalnya ingin memberikan kado kejutan untuk kamu tapi setelah tau janinnya tidak berkembang seharusnya dia mengambil keputusan secara bersama karena itu darah daging kalian." Pak Mirza meminta maaf atas kesalahan yang telah di lakukan anaknya.


"Saya juga salah pak, menghina dan memarahi Aneska dan ibu, tidak seharusnya saya berkata kasar." Sesal Abian.


Pak Mirza menganggukkan kepalanya, karena Abian telah mengakui kesalahannya.


"Mengenai ibu, jangan di pikirkan ibu melakukan itu karena hati nuraninya sebagai seorang ibu." Jelas pria paruh baya itu.


"Iya pak saya mengerti."


"Kamu belum makan kan?" tanya pak Mirza.


Abian hanya tersenyum, dia belum makan dari siang, kejadian itu membuatnya melupakan rasa lapar.


"Ayo makan." Pak Mirza mengajak menantunya menuju dapur, melihat ada sosok menantunya membuat ibu Desi langsung melotot.


"Pak kenapa dia di bawa masuk ke sini?" tanya ibu Desi bingung.


"Menantu kita lapar." Pak Mirza memberikan piring untuk menantunya.


"Ayo makan jangan malu, makanan kami tidak semewah di istana, kalau di istana makanannya beragam di sini ada sayur dan sambal sudah bisa makan, semoga kamu bisa menyesuaikan makanan kami." Jelas pak Mirza.


"Iya pak." Abian meletakkan nasi ke dalam piringnya dan menuangkan semua sayur sop ke dalam piringnya.


Keluarga itu bengong dan saling menatap, bu Desi ingin menegur menantunya tapi suaminya langsung memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya.


Abian mengambil sendok yang ada di tempat sendok tapi dia masih mencari pasangan sendoknya.


"Kenapa Abian?" tanya pak Mirza.


"Garpunya mana?" tanya Abian.


"Hahaha." Ibu Desi langsung tertawa.


"Dasar orang kaya, kami makan tidak menggunakan garpu, garpu hanya untuk makan mie, tapi kalau kamu mau, bisa di ambilkan." Jelas ibu Desi mengambil sesuatu di dalam rak piringnya dan meletakkan di atas meja.


"Kok sama parang bu?" tanya suaminya bingung.

__ADS_1


"Orang kaya selalu makan dengan peralatan makan yang lengkap, kita hanya ada sendok dan garpu karena tidak punya pisau makan jadi ibu ganti dengan itu, semoga parang itu dapat menyempurnakan makan kamu." Bu Desi berbicara dengan merapatkan giginya.


Bersambung...


__ADS_2