
Penjaga toko Zira butik menunjukkan beberapa pakaian yang cocok untuk Aneska. Dia mencoba beberapa dress di ruang ganti kemudian keluar menunjukkan kepada suaminya. Abian terpukau dengan keanggunan istrinya.
"Bagus enggak?" ucap Aneska memperagakan satu dress dengan cara berputar. Abian melongo, dia tidak berkedip.
"Halo bagus enggak?" Aneska mengulangi lagi ucapannya.
"Ba bagus." Ucap Abian gugup.
Abian membelikan banyak pakaian untuk Aneska semuanya pakaian yang feminin. Setelah selesai mereka kembali ke mobil karena Aneska sudah merengek ingin pulang. Karena kakinya sudah capek menyusuri mall tersebut.
Selama di dalam perjalan Aneska memijat kakinya yang sakit.
"Nanti sampai rumah aku pijat. Lebih baik sekarang kamu istirahat." Ucap Abian.
"Enggak usah aku bisa memijat sendiri." Ucap Aneska menolak. Abian mengambil dompet dari saku celana dan memberikan tiga kartu sama istrinya.
"Apa ini." Tanya Aneska bingung.
"Besok aku akan kembali ke kantor, ambil kartu ini dengan ini kamu bisa membeli apapun yang kamu mau." Ucap Abian.
"Enggak ah, untuk apa juga kartu, di istana semua makanan bisa di dapat." Aneska menolak.
"Iya, tapi ambil ini, aku harus memenuhi nafkah lahirku kepada kamu." Ucap Abian masih menyodorkan kartu kepada istrinya.
"Kalau ada nafkah lahir jangan-jangan dia minta nafkah batin." Gumaman Aneska terdengar Abian.
"Seharusnya iya, tapi aku masih menunggu kesiapanmu." Ucap Abian.
"Apa! enggak boleh ada namanya nafkah batin aku enggak siap." Ucap Aneska kencang.
"Iya, kan aku bilang tunggu kesiapan dari kamu." Ucap Abian lagi.
Aneska sudah bergidik, dia tidak bisa membayangkan malam pertama yang akan mengintainya.
"Ambil ini." Abian meletakkan di telapak tangan istrinya.
"Aku enggak mau." Aneska kembali menolak dan meletakan kembali kartu itu di atas paha suaminya.
"Ambil tidak! terserah kamu mau pakai atau tidak yang jelas aku enggak mau ada penolakan." Ucap Abian tegas.
Aneska melirik satu kartu yang jatuh ke bagian tengah antara paha kanan dan paha kiri suaminya.
Bagaimana ambilnya.
Aneska bingung, dia mengambil dua kartu yang ada di paha Abian. Aneska khawatir kartu itu akan masuk ke tempat yang sama seperti kartu satunya.
"Udah dua aja." Ucap Aneska.
"Istriku, aku bilang tiga." Ucap Abian tegas sambil fokus menghadap depan. Dia tidak menyadari kalau ada kartu di bagian kunci pahanya.
__ADS_1
"Iya-iya." Aneska bingung gimana cara mengambil kartunya. Dia melihat ke arah luar jendela tangannya mulai meraba mengambil kartu. Abian bingung karena jari istrinya meraba-raba pahanya dan tanpa di sengaja Aneska memencet sesuatu.
"Aw." Ucap Abian.
Aneska menoleh dan berteriak. "Aaaaaa." Teriak Aneska langsung menarik tangannya dan mengelap ke pakaian suaminya secara berulang, dia terlihat jijik.
"Kamu sengaja menyuruh aku mengambil kartu itu agar aku menyentuh harta pusakamu benar kan?" gerutu Aneska.
"Mana aku tau kartu itu masuk ke pahaku. Kamu yang sengaja menaruh di paha." Ucap Abian membela diri.
"Aku memang sengaja menaruh di paha karena kedua tangan kamu sedang memegang setir." Aneska juga melakukan pembelaan.
"Apa salahnya bilang ambilkan kartu. Tapi enggak apa-apa itu permulaan buat kamu untuk mengetahui barang suami kamu." Ucap Abian genit.
"Aaaaaa, aku enggak mau jijik ah." Aneska mengelap tangannya dengan tisu basah. Dia mencium aroma tangannya.
"Hei jangan jijik gitu kenapa? kamu orang kesehatan pasti tau tentang itu bahkan sudah menyentuhnya." Ucap Abian.
"Iya tapi beda." Ucap Aneska lagi.
"Beda apanya." Tanya Abian lagi.
Aneska tidak menjawab, dia hanya menjawab dalam hatinya.
Karena kamu terlalu ganteng, aku takut jatuh cinta sama kamu.
Tidak ada perdebatan lagi. Aneska menerima ketiga kartu suaminya. Abian sudah memberikan pin untuk ketiga kartu itu.
"Bawa sini ponsel kamu." Ucap Abian sambil menyodorkan tangan kirinya ke arah Aneska.
"Untuk apa." Tanya Aneska.
"Aku besok mulai ke kantor. Kamu harus mengabariku setiap tiga puluh menit sekali." Ucap Abian.
"Setiap tiga puluh menit? minum obat aja setiap per delapan jam dalam sehari. Kamu mau over dosis?" ucap Aneska.
"Udah mana ponsel kamu." Ucap Abian masih menyodorkan tangannya. Aneska menyerahkan ponselnya kepada Abian. Suaminya langsung mencatat di dalam daftar kontak istrinya.
"Itu nomorku. Coba hubungi aku." Aneska menghubungi nomor suaminya. Setelah ponsel suaminya berdering, Abian langsung menambahkan daftar kontak dengan memberi nama istriku.
"Ingat per tiga puluh menit." Ucap Abian.
"Iya-iya."
Mobil masih melaju memasuki kawasan perbukitan kemudian masuk ke bagian yang kanan kirinya terdapat pohon-pohon besar, itu pertanda kalau mereka sudah mau sampai ke istana Bassam.
"Heran cari rumah jauh banget, mana enggak ada tetangga lagi." Gumam Aneska. Mobil memasuki pekarangan istana Bassam. Abian memberhentikan tepat di depan pintu masuk. Pelayan membukakan pintu untuk Aneska dan Abian.
"Bawakan belanjaan nona Aneska ke kamar." Perintah Abian.
__ADS_1
"Baik tuan."
Abian menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam istana. Di salah satu ruangan ada nyonya Rona dan anak sulungnya.
"Mami coba lihat ada yang baru menghambur-hamburkan uang." Sindir Tanisa. Aneska melirik ke arah Tanisa. Abian tidak melirik maupun merespon ibu dan kakaknya. Dia membawa istrinya meninggalkan ruangan itu.
Sesampai di kamar ponsel Aneska berdering ada nama Cyra di layar ponselnya.
"Iya Cyra ada apa." Tanya Aneska.
"Kakak aku dapat hadiah dari kak Abian." Ucap Cyra senang.
"Hadiah." Aneska melirik suaminya yang sedang membuka baju di balkon kamar.
"Hadiah apa." Tanya Aneska bingung. Cyra menjelaskan hadiah apa yang baru di terimanya. Aneska terkejut mendengar penuturan adiknya.
"Kak sampaikan terima kasihku pada kak Abian." Ucap Cyra kemudian panggilan terputus.
Abian masuk ke dalam kamar. Aneska mengikuti langkah suaminya. Abian membalikkan badannya melihat ke arah istrinya.
"Kamu mau ikut mandi juga." Ucap Abian cepat. Aneska tidak menjawab dia malah memeluk tubuh Abian yang sedang tidak memakai pakaian.
"Kamu kenapa?" Abian bingung tapi dia membalas memeluk erat istrinya.
"Sebenarnya aku mau marah sama kamu, karena telah memberikan hadiah sebuah piano kepada adikku tanpa sepengetahuanku. Tapi ketika mendengar adikku menangis terharu dan berkali-kali mengucapkan senang mendapatkan hadiah dari kamu. Aku jadi tidak berniat memarahi kamu. Terima kasih karena telah menjadi malaikat buat keluargaku, hiks hiks." Aneska menangis terharu.
"Keluargamu adalah keluargaku. Aku akan membantu sebisa mungkin untuk membuat keluarga istriku senang." Ucap Abian sambil mengusap air mata istrinya.
"Iya tapi jangan banyak-banyak dan ini terakhir, aku enggak mau di anggap sama keluargamu kalau kami keluarga materialistis." Jelas Aneska.
Aneska mengingat pesan yang harus di sampaikannya sama Abian.
"Kata Cyra makasih atas kadonya dan dapat salam dari ibu dan bapak." Ucap Aneska.
"Ok aku terima, apa kamu tidak memberikan hadiah untuk suami kamu yang ganteng ini." Ucap Abian masih memeluk istrinya.
"Kamu mau hadiah apa dari aku." Ucap Aneska pelan.
"Satu ciuman hangat dari kamu." Ucap Abian.
"Kenapa selalu ciuman?" gerutu Aneska.
"Kalau aku minta barang kamu enggak ada uang jadi ciuman saja sebagai penggantinya.
Aneska diam sesaat.
"Iya, tapi tutup mata kamu." Ucap Aneska malu.
Abian menutup matanya dan Aneska mengecup bibir suaminya. Seperti biasa Abian tidak suka jika hanya di kecup. Dia langsung membalas kecupan itu menjadi ciuman yang panjang sampai lidah mereka tarik tambang.
__ADS_1
Bersambung.