Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 23


__ADS_3

"Hahaha, Abian Abian, kamu membuat mami senam jantung. Bercanda kamu luar biasa." Ucap nyonya Rona tertawa.


"Apa wajahku seperti sedang bercanda." Ucap Abian tegas. Mendengar penuturan anaknya wajah nyonya Rona langsung berubah drastis menjadi serius.


"Nikahkan kami." Ucap Abian tegas sambil mengelus rambut Aneska. Abian memperlakukan Aneska dengan cukup baik, membuat siapapun yang menyaksikan itu merasa iri dan cemburu, terutama Zidan, dia sangat cemburu.


"Tuan Abian, pernikahan sesuatu yang sakral dan bukan main-main. Jadi jangan buat candaan." Ucap Aneska.


"Siapa yang suruh kamu ikut bicara?" Ucap Abian ketus.


"Ops." Aneska langsung menutup rapat mulutnya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan, karena aku bukan majikanmu. Mulai hari ini panggil namaku Abian, setelah menikah kamu bisa memberikan sebutan yang cukup romantis untukku." Ucap Abian.


Ini orang sepertinya belum sembuh, kalau sembuh enggak mungkin minta kawin.


"Sayang apa yang di katakan perawat ini benar. Pernikahan bukan sebuah permainan." Ucap nyonya Rona.


"Mami pikir aku sedang bercanda? Mami salah justru aku serius dengan hal yang aku ucapkan."


Nyonya Rona bingung, dia tidak tau bagaimana cara membatalkan ataupun membantah omongan anaknya. Wanita paruh baya itu melirik Aneska, dia ingin perawat itu yang merayu anaknya untuk membatalkan rencana gila anaknya.


"Aku tidak bisa menikah denganmu, karena aku sudah punya kekasih." Ucap Aneska.


Abian menatap wajah gadis itu dengan penuh selidik.


"Siapa kekasihmu." Ucap Abian sambil menatap tajam wajah Aneska.


"Itu." Ucap Aneska menunjuk ke arah Zidan. Nyonya Rona dan Zidan kaget, Abian mendekati orang kepercayaan maminya. Dia menatap tajam wajah Zidan.


"Putuskan dia, mulai sekarang kamu milikku." Ucap Abian tegas sambil menarik tangan Aneska dan membawa gadis itu keluar kamar.


Tinggal nyonya Rona dan Zidan di kamar itu.


"Rencanakan sesuatu. Aku tidak mau Abian menikah dengan perawat itu." Ucap nyonya Rona sambil menuding jarinya ke arah Zidan. Lalu wanita paruh baya itu keluar dari kamar dan mengikuti langkah anaknya.


Abian membawa Aneska menuju meja makan. Sebelum sampai ke ruang makan, mereka melewati ruang keluarga. Di ruang itu ada Farid sedang menonton. Ketika dia melihat sosok Abian, pria itu langsung berdiri.


"Ada yang keluar dari rumah sakit jiwa." Ejek Farid. Abian mendengus kesal, dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aneska. Dia berjalan mendekati kakak iparnya.


"Bukkkk." Abian mendaratkan pukulan ke wajah Farid.


"Aaaaaaaa, hentikan Abian." Nyonya Rona berteriak histeris. Zidan dan nyonya Rona berusaha melerai perkelahian itu. Aneska memilih kabur. Dia tidak mau terlibat dalam acara smackdown itu.


Wajah Farid lebam, dia mendapat banyak pukulan dari Abian.


"Mami, kenapa dia di biarkan berkeliaran di istana ini. Kurung lagi dia di kamarnya." Ucap Farid kesal.

__ADS_1


Abian berusaha untuk memukul kakak iparnya lagi. Tapi tangannya di pegang dua penjaga.


"Bawa kembali ke kamar." Ucap nyonya Rona.


Abian memberontak, dia dapat melepaskan tangannya dari dua penjaga itu.


Abian mencengkram leher maminya dengan tatapan marah.


"Asal mami tau, aku tidak pernah gila. Jangan pernah mengurungku lagi, atau kalian semua akan menyesal. Termasuk mami, hati-hati dengan semua perlakuan mami kepadaku." Ancam Abian.


Abian mencari keberadaan Aneska. Dia tidak menemukan gadis itu. Dia menyusuri lantai lima tapi tidak menemukan perawat itu. Abian masuk ke dalam lift. Dia memencet tombol lantai satu.


Mecari ke seluruh ruangan yang ada di lantai satu. Tapi dia tidak menemukan Aneksa. Pada saat itu lonceng jam waktu makan siang berbunyi. Abian tau di mana dia dapat menemukan Aneska.


Dan ternyata dugaannya benar. Aneska sedang mengambil makan siangnya bersama para pekerja lainnya. Abian masuk ke dalam ruang makan itu dan mendekati Aneska. Semua pekerja menatap ke arah tuan muda itu.


"Kenapa kamu makan di sini." Ucap Abian.


"Ka ka kamu." Ucap Aneska gugup karena Abian sudah berada di sampingnya.


"Perhatian semuanya, mulai sekarang dia tidak makan bersama kalian. Dia akan makan bersama dengan keluarga Bassam." Ucap Abian.


Semua para pekerja mendengarkan dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa tuan, bukannya dia hanya pekerja biasa seperti kami." Ucap ibu Tatik yang berbicara sedikit berteriak. Wanita paruh baya itu memilih untuk menjaga jarak, dia takut kejadian kemaren terulang lagi.


Suasana di ruang makan menjadi riuh, banyak pekerja yang senang mendengar kabar itu. Tapi ada juga sebagian kecil yang merasa kalau ucapan Abian hanya candaan belaka, salah satunya ibu Tatik.


"Tuan, anda bercanda ya." Ucap ibu Tatik lagi.


"Apa wajahku seperti orang yang sedang bercanda!" Ucap Abian tegas.


Ibu Tatik langsung menutup rapat mulutnya. Abian menarik tangan Aneska.


"Aku makan di sini." Ucap Aneska sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Abian. Pria itu mengambil piring yang ada di tangan Aneska. Dan langsung mengangkat tubuh Aneska. Dia meletakkan tubuh perawat itu di bahunya. Sama hal yang dilakukan Zidan kepadanya dua hari yang lalu.


Semua pekerja pada riuh, mereka lupa akan peraturan yang telah ada. Abian membawa Aneska menuju lantai lima. Perawat itu terus memberontak dari Abian.


"Turunkan aku." Ucap Aneska.


"Nanti kalau sudah sampai akan aku turunkan." Ucap Abian. Mereka sudah sampai di ruang makan. Keluarga Bassam yang ada di situ kaget dengan tingkah Abian yang membawa seorang pekerja ke dalam ruang makan mereka.


"Apa-apaan ini." Ucap nyonya Rona marah. Abian tidak menjawab, dia menarik kursi untuk Aneska.


"Duduk." Ucap Abian. Aneska tidak mau, tapi wajah Abian langsung berubah. Mau tidak mau dia langsung duduk.


Oma Zulfa dan Ila senang dengan kembalinya Abian.

__ADS_1


"Sayang oma." Ucap oma Zulfa sambil merentangkan tangannya. Abian mendekati oma Zulfa, dia mengecup dahi omanya. Setelah itu memeluk adiknya Ila.


"Abian kenapa kamu membawa perawat ini." Ucap Tanisa.


"Karena dia calon istriku." Ucap Abian tegas.


"Apa!" Semua yang berada di meja makan kaget.


"Hore kak Abian mau nikah." Ucap Ila senang. Nyonya Rona langsung melirik anak bungsunya. Ila langsung tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.


"Abian, mami tidak setuju." Ucap nyonya Rona ketus sambil melirik ke arah Aneska


"Dia tidak pantas untukmu." Ucap nyonya Rona dengan tatapan sinis.


Aneska hanya bisa mendengarkan saja sambil menundukkan kepalanya.


"Mami tidak bisa melarangku, aku sudah memilihnya dan pilihanku telah bulat." Ucap Abian tegas.


"Tuan, anda tidak bisa memaksakan kehendak anda. Sebaiknya tanyakan hal ini kepada Aneska, apa dia mau menikah dengan anda atau tidak." Ucap Zidan. Dia sebenarnya tidak rela jika melihat Aneska menikah dengan Abian, karena dia merasa ada ketertarikan dengan perawat itu.


"Jangan ajarkan aku tentang semua hal. Sikap egoisku ini ajaran dari siapa?" Ucap Abian menyindir maminya.


"Aku mau makan di kamar saja, selera makanku hilang karena ada orang asing di sini." Ucap Tanisa ketus.


"Aku juga tidak mau makan sama orang gila." Ucap Farid ketus.


"Kurang ajar." Ucap Abian sudah mau beranjak dari kursinya dan ingin menyerang kembali kakak iparnya. Tapi Zidan langsung menangkap tangan Abian.


"Farid, jaga mulutmu. Kalau kamu masih meyebutkan kata gila kepada Abian, mami usir kamu dari sini." Ucap nyonya Rona marah. Sepasang suami istri itu pergi meninggalkan meja makan. Hanya ada beberapa orang yang masih duduk di kursi makan.


"Ayo kita makan." Ucap oma Zulfa.


Semua mulai menikmati makanannya hanya Aneska yang belum menyentuh makanannya.


"Aneska makanlah, tidak perlu sungkan ataupun malu." Ucap oma Zulfa sambil berjalan mengelilingi meja makan. Dia tau kalau Aneska tidak akan mau makan, jadi wanita sepuh itu mengambilkan beberapa lauk dan di letakkan di meja makan.


"Makanlah." Ucap oma Zulfa. Melihat hal itu nyonya Rona merasa kesal. Dia bingung dengan anaknya dan orang tuanya yang cepat sekali akrab dan baik sama orang asing.


"Mami, sudah mencarikan penghulu untuk menikahkan kami." Ucap Abian lagi.


Nyonya Rona yang lagi makan langsung tersedak.


Dia tidak tau cara membatalkan permintaan anaknya. Secara dia takut akan kemarahan anaknya.


Bersambung.


Buruan vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"

__ADS_1


__ADS_2