Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 176


__ADS_3

Tiara masih belum mau duduk. Dia berdiri dan terus menatap pintu berharap Vania masuk ke dalam ruangan itu. Tapi bukan Vania yang muncul para pelayan datang membawa pesanan Zidan.


Makanan telah terhidang tapi Tiara tetap berdiri. Sedangkan Zidan sudah di duduk di bawah dengan beralaskan bantal kecil.


"Jangan berdiri terus, ayo makan." Ujar Zidan yang sibuk memegang buku di tangannya. Tiara tidak menjawab, tanpa di suruh Zidan menjelaskan.


"Jika tidak seperti ini kamu tidak akan mau makan malam dengan saya." Jelas Zidan.


"Bukannya bapak sedang makan malam sama Vania?" tanya Tiara.


"Apa kamu cemburu?" tanya Zidan.


"Siapa yang cemburu, saya hanya bertanya." Melihat mie ramen yang mengeluarkan asap panas membuat Tiara ngiler. Dia langsung duduk di depan Zidan tanpa harus malu.


"Buku apa itu?" tanya Tiara seraya melihat buku yang di pegang Zidan dan di tangan pria itu ada pena dan menuliskan sesuatu di atas kertas.


"Kamus bahasa jawa." Sahut Zidan.


"Hah? memangnya ada?" tanya Tiara aneh.


"Ya ada, ini buktinya." Zidan menunjukkan kamus yang ada di tangannya.


"Apa bapak yakin mau belajar bahasa jawa?" tanya Tiara seraya menyantap mie ramennya.


"Tentu saya yakin. Dan saya juga serius mau mempersunting kamu. Walaupun kamu menolak tapi saya akan tetap mempersunting kamu." Jelas Zidan.


Ucapan Zidan membuat Tiara menelan salivanya. "Kalau bapak serius kenapa tidak kursus bahasa jawa?" tanya Tiara.


"Saya sudah bertanya ke beberapa tempat kursus. Mereka hanya mengajarkan bahasa asing bukan bahasa daerah. Jadi kamus ini pilihan saya." Jelas Zidan.


Tiara manggut-manggut. Zidan meletakkan penanya dan mulai menikmati makanannya.


"Apa kamu cemburu dengan Vania?" tanya Zidan lagi.


"Hahaha saya cemburu?" Tiara berakting.


"Bapak tau, kita itu tidak saling mencintai, atas dasar apa saya cemburu sama Vania." Ujar Tiara bohong.


"Lantas kenapa kamu terus bertanya tentang Vania? apa itu bukan cemburu namanya." Sahut Zidan.


Tiara menggaruk kepalanya. "Bapak salah, saya di suruh Aneska untuk memata-matai Vania." Sahut Tiara asal. Sengaja mengatakan seperti itu agar tidak terlihat jika dirinya sedang cemburu.


Zidan tersenyum. Dia tau jika itu semua alasan Tiara, menurutnya ucapan Tami kunci perasaan Tiara kepadanya.


***

__ADS_1


Di istana Bassam


Semua keluarga berada di meja makan. Tanisa terus menundukkan kepalanya. Kejadian tadi siang merupakan pengalaman buruk buatnya.


Selama makan malam tidak ada yang membuka pembicaraan. Dan Abian membuka pembicaraan di sela-sela makan malamnya.


"Lusa malam hidangkan makanan yang lezat." Ujar Abian. Semua melihat ke arah Abian. Mereka bingung kenapa Abian mengatakan seperti itu, beda halnya dengan Aneska dan Tanisa, mereka tau maksud pembicaraan Abian.


"Maksud kamu apa Abian?" tanya oma.


Begitupun nyonya Rona mengajukan pertanyaan yang sama. "Bukannya setiap hari menu di istana selalu berbeda?" tanya mamanya.


"Iya aku tau, tapi siapkan menu lebih, karena lusa malam kita kedatangan tamu." Sahut Abian.


"Tamu? siapa tamunya?" tanya nyonya Rona penasaran.


Abian tidak menjawab dia masih sibuk dengan makannya. Wanita paruh baya itu melihat sekeliling meja makan, mencari jawaban dari penghuni lainnya. Dia melihat Tanisa yang telah keringat dingin.


"Tanisa." Panggil maminya. Tanisa mengangkat kepalanya dan melihat ke maminya. "Kamu sakit?" tanya maminya.


"E e enggak mi." Sahutnya.


"Tapi kenapa kamu keringatan? pendingin ruangan telah di nyalakan?" tanya maminya.


Tanisa hanya diam. Dia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Untuk apa perias? oma bisa merias diri oma sendiri." Sahut omanya.


"Bukan untuk oma tapi untuk merias Tanisa." Ujar Abian lagi.


Oma dan nyonya Rona menoleh ke arah Tanisa. "Apa lusa ulang tahun kamu?" tanya oma ke cucunya. Tanisa menjawab dengan gelengan kepalanya.


"Memangnya besok ada apa?" tanya maminya.


Abian tidak menjawab dan hanya menatap kakaknya. Menurutnya Tanisa yang akan menjawab pertanyaan itu.


Semua telah selesai makan malam, Abian bergegas ke kamarnya di ikuti istrinya dari belakang. Tanisa tidak di izinkan pergi dari ruang makan.


"Tanisa jawab mami, sebenarnya ada apa ini? kenapa tiba-tiba Abian mengatakan seperti itu, apa ini ada hubungannya dengan tamu lusa malam?" tanya maminya.


"Aku ngantuk mi." Tanisa langsung pergi ke kamarnya.


"Menurut mami apa yang terjadi antara Tanisa dan Abian?" tanya nyonya Rona ke oma Zulfa.


"Kalau tamu itu ada hubungannya dengan Tanisa, kemungkinan?" Oma Zulfa dan nyonya Rona saling pandang.

__ADS_1


"Lamaran." Sahut oma Zulfa.


"Apa lamaran!" wanita paruh baya itu segera menuju kamar anak sulungnya. Mengetuk pintu kamar sekeras mungkin. Dari ketukan itu Tanisa bisa tau jika maminya telah mengetahui apa yang akan terjadi besok malam.


Tanisa tidak mau membuka pintu kamarnya. Amukan dan interogasi maminya membuatnya takut.


Di kamarnya Aneska bergelayut manja di badan kekar suaminya. Tangannya fokus memegang ponsel. Dia mengirim pesan di grup mereka yang isinya teman sejawatnya.


Ada yang mau lamaran lusa.


Tami dan Aldo membalas pesan itu.


*Siapa?


Dimas*


Balas Aneska.


Grup itu mendadak ramai, tapi Dimas belum membaca pesan itu. Begitupun Tiara masih makan malam dengan Zidan.


Abian mengambil ponsel istrinya. "Cukup bermain ponselnya. Kamu belum memainkan aku malam ini." Ujar Abian genit.


"Kan di kantor udah, apa di rumah juga?" tanya Aneska bingung dengan kekuatan keris sakti suaminya.


"Tentu sayang, aku ingin segera punya anak dari kamu. Jadi kita tidak boleh lengah dalam membuatnya." Ujar Abian seraya menciumi istrinya.


"Abian, kalau seandainya Dimas jadi menikah dengan Tanisa, bagaimana dengan mami kamu?" tanya Aneska.


"Kenapa dengan mami? apa mami mau kawin juga." Sahut Abian di sela-sela menciumi aroma tubuh istrinya.


"Bukan itu, maksudku pasti mami kamu tidak akan terima. Apalagi yang melamar Dimas. Dimas sama seperti aku orang susah, mana mungkin mami kamu merestui." Ujar Aneska


"Wali nikah mereka aku jadi urusan mami biarkan saja. Mami tidak akan merestui kalau yang melamar Tanisa orang biasa. Restunya hanya untuk orang kaya. Padahal orang kaya tidak menjamin mempunyai akhlak yang baik." Jelas Abian berkaca dari Farid kakak iparnya yang bejat.


"Tapi bagaimana dengan pernikahan mereka. Aku tau gaji perawat, tidak mungkin Dimas dapat mengumpulkan uang untuk membuat resepsi mewah." Ujar Aneska khawatir tentang resepsi dan hantaran yang di minta mertuanya.


"Tidak usah pikirkan tentang resepsi, biaya resepsi dari aku." Ujar Abian.


"Oh suamiku, kamu sangat baik sekali, tapi hantaran bagaimana? tidak mungkin hantaran dari kamu juga. Tanisa saudara kamu, seharusnya Dimas menyiapkan segalanya sendiri."


Abian mengerti hantaran harus di persiapkan pihak pria. "Sebagai wali aku tidak menyebutkan berapa nominal yang akan di berikan Dimas ke Tanisa. Semampunya dia saja." Ujar Abian yang mengerti batas ekonomi Dimas.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2