Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 84


__ADS_3

Abian dan Aneska masih bermesraan, mereka berdua sama-sama terlena. Aneska mengakhiri ciuman suaminya karena ada gelagat yang aneh dari tangan suaminya.


"Prok." Aneska memukul tangan suaminya.


"Kenapa sayang? aku ingin menyentuh gunung kamu." Rengek Abian.


"Nanti kamu menyesal." Ucap Aneska menghindar.


"Menyesal kenapa?" ucap Abian bingung.


"Menyesal karena aku masih mens." Ucap Aneska sambil berlalu ke kamar mandi.


Abian menggerutu, nasib keris saktinya sangat tidak beruntung. Aneska sudah selesai membersihkan tubuhnya, dia kembali mendekati suaminya yang sedang selonjorkan kakinya.


"Duduk sini." Ucap Abian memerintahkan istrinya untuk duduk di perutnya.


"Aku berat, mana bisa kamu menahan berat badanku." Aneska menolak, dia memilih duduk di tempat yang lain.


"Kamu kan belum coba, ayo duduk di sini." Ucap Abian lagi.


"Enggak sayang, aku duduk di sini saja." Aneska tetap menolak kemauan suaminya, dia khawatir jika terlalu dekat dengan Abian, gairah keduanya akan muncul kembali.


Pasangan suami istri itu menonton televisi, melihat serial komedi di televisi Aneska tertawa senang, Abian memperhatikan gelak tawa istrinya. Dia memindahkan posisi duduknya dan duduk di bawah di dekat kaki Aneska.


"Kamu kenapa?" ucap Aneska bingung.


"Tertawalah, aku ingin melihat kamu tertawa." Ucap Abian sambil bertumpang dagu menghadap istrinya.


"Kamu aneh, tertawa itu sesuatu yang biasa tapi kenapa kamu ingin melihat aku tertawa?" ucap Aneska.


"Teman bisa membuat kamu tertawa dan bahagia, tapi yang bisa membuat kamu mengerti makna hidup adalah aku suamimu." Ucap Abian sambil mengecup tangan istrinya.


Mendengar ucapan suaminya, Aneska langsung berbunga-bunga. Terlihat dari senyumnya yang merekah.


"Kita lupakan tentang senyuman dan tertawa, kamu belum jawab kenapa kamu pulang cepat?" ucap Abian.


"Kan aku udah bilang tadi kalau aku cemburu sama kamu." Ucap Aneska jujur.


"Iya sayang aku tau, apa peraturan pulang di sana sudah berubah." Tanya Abian lagi.


"Masih sama." Jawab Aneska singkat.


"Lalu kenapa kamu pulang?"


"Jadi kamu tidak menginginkan aku di sini, huh." Aneska ngambek sambil memalingkan wajahnya.


"Bukan sayang, aku senang kalau kamu pulang cepat, cuma khawatir kalau kamu di tegur atasan." Ucap Abian.


"Tidak akan ada yang berani menegurku lagi." Ucap Aneska.


"Lagi? jadi kamu sering di tegur dan di marahi atasan kamu? kurang ajar betul tu orang." Abian marah, dia beranjak dari duduknya dan langsung mencari ponselnya.


"Suamiku kamu mau apa?" ucap Aneska bingung.


"Kamu diam saja, ini urusan aku dengan Arif."

__ADS_1


"Arif?" Aneska langsung menyambar ponsel suaminya.


"Sayang kembalikan ponselku." Ucap Abian.


"Enggak boleh, kamu tidak boleh memarahi dokter Arif, dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini." Ucap Aneska menyembunyikan ponsel Abian di belakang badannya.


Abian mengambil ponselnya dari depan badan istrinya, salah satu tangannya memeluk pinggang Aneska dan tangan yang lain mengambil ponsel yang di pegang istrinya.


"Mau kembalikan tidak?" ucap Abian.


"Enggak boleh." Ucap Aneska tetap tidak mau memberikan ponsel suaminya.


Abian sengaja melukis leher istrinya dengan bibirnya. Terbentuklah satu cap stempel bibir di sana.


"Abian." Ucap Aneska bingung sambil memegang lehernya. Abian langsung merampas ponselnya. Aneska lari ke ruang ganti dan melihat pantulan dirinya dari dalam cermin.


"Ya ampun merah, Abian!" Aneska teriak dan mendatangi suaminya sambil menghentakkan kakinya.


"Abian!" teriak Aneska.


Abian meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Aneska berhenti dengan teriakannya.


"Oh gitu. Iya-iya terima kasih karena telah menjaga istriku." Kemudian panggilan terputus.


Abian melempar ponselnya dan langsung mengangkat istrinya.


"Abian turunkan aku! kamu kenapa sih!" gerutu Aneska.


"Aku senang." Ucap Abian sambil menggendong tubuh istrinya dan berputar.


"Abian aku pusing." Abian menurunkan istrinya.


"Ngapain, buktinya tanpa di beritahu kamu tau juga, lihat nih karena kamu leherku merah." Gerutu Aneska.


"Mana?" Abian melihat leher istrinya dan kembali membuat stempel bibir di leher istrinya.


"Abian jangan." Rengek Aneska.


Abian terus memberikan stempel di setiap leher istrinya, dia ingin membuat stempel di dada istrinya tapi pintu kamar di ketuk.


"Abian hentikan!" Aneska mendorong tubuh suaminya dan merapikan kancing bajunya kembali, dia membuka pintu kamarnya. Ada pelayan wanita di depan pintu.


"Iya?" ucap Aneska.


Pelayan itu terbengong.


"Ada apa?" tanya Aneska lagi.


"Maaf nona, waktunya makan malam keluarga sudah menunggu anda dan tuan muda." Ucap pelayan sambil tidak mengalihkan pandangannya ke leher Aneska.


"Makasih." Aneska buru-buru menutup pintu dan berlari ke ruang ganti. Lagi-lagi dia berteriak.


"Abiannnn!" Teriak Aneska.


Abian hanya tersenyum, istrinya langsung datang dan mencubit badannya berkali-kali.

__ADS_1


"Bagaimana mau keluar kalau leherku seperti ini." Rengek Aneska.


"Perduli amat sama mereka." Jawab Abian santai.


Aneska menghentakkan kakinya dan kembali ke ruang ganti, dia mencari sesuatu yang dapat menutupi lehernya.


"Ayo makan." Ajak Aneska.


Abian beranjak dari tempat duduknya dan mengerutkan dahinya.


"Sayang, kamu sepeti mau ke pemakaman." Ejek Abian.


"Biarin, peduli amat sama orang lain." Jawab Aneska ketus sambil mengulang ucapan suaminya. Abian tersenyum dengan tingkah istrinya yang lucu. Dia menggandeng tangan istrinya menuju ruang makan.


Semua sudah berkumpul di ruang makan, nyonya Rona tidak melihat keberadaan Anggela.


"Silahkan makan, mami mau menjemput Anggela dulu." Ucap nyonya Rona sambil beranjak dari kursi makan.


Di kamarnya Anggela merasa sedih. Dia tidak berniat untuk keluar kamarnya. Nyonya Rona mengetuk pintu kamar Anggela.


"Masuk." Teriak Anggela.


Nyonya Rona masuk ke kamar itu dan melihat wanita itu sedang duduk di atas kasur sambil menangis.


"Anggela ayo makan." Ajak nyonya Rona..


"Enggak tante, aku enggak mau makan." Ucap Anggela menangis.


"Anggela kenapa menangis?" tanya nyonya Rona khawatir.


"Kuku aku tante rusak, hiks hiks." Ucap Anggela mengadu.


Nyonya Rona mengerutkan dahinya dia bingung dengan arti kata rusak dari Anggela, karena menurutnya kuku wanita itu tidak rusak.


"Anggela sepertinya kuku kamu baik-baik saja." Ucap nyonya Rona.


"Ini rusak tante, lihat." Anggela menunjukkan jari-jemarinya ke depan wanita paruh baya itu.


Nyonya Rona mendekatkan matanya ke depan kuku Anggela.


"Tidak rusak."


"Tante ini rusak, lihat ini." Anggela kembali menunjukkkan jarinya.


Nyonya Rona kembali melihat kuku wanita itu dan lagi-lagi dia tidak menemukan ada kerusakan.


"Anggela, sepertinya saya dan kamu harus pakai kaca pembesar." Ucap nyonya Rona.


"Ini loh tante." Anggela menunjukkan jarinya kembali.


"Ini bukan rusak tapi hanya cat kukunya yang hilang, sudah keluar di sini tidak ada razia kuku." Ucap Rona.


"Tapi kalau Abian lihat aku tidak perfect bagaimana." Rengek Anggela lagi.


"Anggela tidak mungkin Abian mengecek satu persatu kuku kamu, ingat Abian bukan guru yang mau mengecek kuku kamu." Ucap nyonya Rona.

__ADS_1


Akhirnya Anggela keluar dari kamarnya dan mengikuti wanita paruh baya itu dari belakang.


Bersambung...


__ADS_2