
🌷🌷🌷
Thank you votenya
Lihat rangking ya, jika masih 10 besar di tambah lagi bab nya.
🌷🌷🌷
Semua menatap ke arah Zidan dan Tiara.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Aneska.
Tiara bangun dan duduk melihat sekelilingnya terutama di sampingnya. "Kenapa bapak bisa di sini?" tanya Tiara ke Zidan.
"Mana saya tau." Ujar Zidan membela diri.
"Bagaimana enggak tau, seharusnya yang tidur di sini Aldo bukan bapak." Tegas Tiara.
Zidan dan Tiara berdebat, tidak ada yang mau mengalah dan di salahkan.
Semua yang melihat itu merasa jengah dengan dua manusia itu.
"Zidan Tiara bangun." Ibu Desi masuk ke dalam kerumunan itu.
Zidan dan Tiara langsung berdiri. "Ini kampung bukan di kota, tidak baik berpelukan sama yang bukan muhrimnya. Ngapain aja tadi malam kalian. " Ibu Desi menatar keduanya dengan ceramah subuhnya.
"Kami enggak melakukan apapun." Tiara membela dirinya. Dan bu Desi melihat ke arah Zidan.
"Enggak ada bu, mana mungkin kami berbuat mesum di tempat ramai seperti ini." Jelas Zidan santai.
"Sekarang ramai tadi malam kan sepi? apalagi kalian tidur bersebelahan." Sahut Aldo.
"Do jangan kompor, awas kamu." Tiara mengepalkan tangannya ke arah Aldo. Dan pria itu tertawa mengejek.
"Memangnya berpelukan itu bukan perbuatan mesum!" seru bu Desi lagi.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Zidan bersikap cuek dan santai di depan semuanya.
"Tiara hubungi orang tua kamu, sekarang." Titah ibu Desi tegas.
"Ngapain bu?" tanya Tiara bingung.
"Katakan ke orang tua kamu untuk datang ke acara resepsi pernikahan Aneska." Tiara lega padahal awalnya dia berpikir jika ibu Desi ingin membicarakan masalah yang tengah di hadapinya kepada kedua orang tuanya.
"Sekalian membicarakan masalah kalian berdua." Ujar bu Desi lagi.
"Apa!" Tiara sontak kaget dan langsung melihat ke arah semua temannya. Dia membutuhkan pembelaan dari semua sahabatnya.
Tiara melihat ke arah Aneska. "Nes, bantu aku." Tiara terlihat pucat.
"Maaf Ti, aku enggak bisa bantu, kamu tau sendiri ibu ku, apalagi ini rumahnya kalian harus menanggung konsekuensinya." Jelas Aneska mengangkat tangan atas masalah yang di hadapi temannya.
Tiara menoleh ke arah Tami dan temannya itu melakukan hal yang sama. Karena kesal tidak ada yang membelanya terutama Zidan, dia bersikap acuh tak acuh dengan masalah yang di hadapinya.
Tiara mencubiti Zidan, dia merasa di jebak pria itu. "Aw..." Zidan meringis dan berusaha menghindari cubitan setan itu.
"Hei stop, jangan seperti anak kecil, cepat hubungi orang tua kamu." Titah bu Desi lagi.
__ADS_1
Dengan wajah sendu dan pucat Tiara menghubungi orang tuanya untuk menghadiri acara resepsi Aneska.
"Bagaimana?" tanya bu Desi.
"Iya, mereka akan datang." Sahut Tiara pelan. Dan terdengar suara dua temannya yaitu Aldo dan Dimas. "Kawin kawin kawin." Kedua pria itu terlihat sangat senang dan seperti ejekan buat Tiara.
Tiara langsung pasang kuda-kuda dengan menonjok dua pria itu dengan kepala tangannya.
"Itu hukuman untuk kalian berdua." Tiara merapatkan giginya.
"Kami salah apa." Ujar Aldo meringis.
"Kalian bersekongkol dengannya untuk menjebak ku, iya kan!" seru Tiara marah dan menunjuk ke arah Zidan.
"Ye siapa yang bersekongkol, kalau mau bisa saja aku yang di situ tapi buktinya bukan kan." Aldo membela dirinya.
"Udah jujur aja!" seru Tiara lagi. Aldo dan Dimas menggelengkan kepalanya.
Zidan mendekati Tiara. "Saya akan bertanggung jawab." Ujar Zidan seraya memegang tangan Tiara.
"Bertanggung jawab apaan." Gerutu Tiara dan menepis tangan Zidan.
"Suit suit, priwit..." Ucap dua temannya senang. Sedangkan Tiara merasa hari ini nasib sial untuknya.
"Sekarang bersiap karena kalian akan bertugas menerima tamu." Ujar Aneska ke teman-temanya.
Oma dan Ila sudah bangun dan melihat nyonya Rona dan Tanisa tidur sambil duduk. Dimana kepala Tanisa bersandar di bahu maminya.
"Rona bangun." Oma menyentuh tangan anaknya.
Keduanya pergi ke kamar mandi dan tentu saja harus mengantri. Di dalam kamarnya Aneska sedang di hias dengan dukun manten yang umurnya lebih tua dari ibu Desi. Dukun manten sedang menggambar paes di dahi. Paes yang di lukis di dahi Aneska berwarna hitam yang tentu membuat Abian bingung.
"Bu kenapa harus warna hitam apa tidak ada warna lain." Abian mengajukan protes ke dukun manten. Dukun manten hanya meliriknya sekilas dan melanjutkan lagi.
Abian merasa takut mendapatkan tatap dukun manten itu. Auranya sangat seram ketika mendapatkan tatapan dari dukun manten.
Setelah selesai dengan paes, bidan manten melanjutkan dengan memberi sanggul yang tentu saja sanggulnya harus sesuai dengan bentuk wajah pengantin wanita.
Aneska terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Abian sampai pangling dengan wajah istrinya. Walaupun belum memakai pakaian pengantin tapi auranya telah terlihat.
Setelah selesai dengan riasan Aneska mengganti pakaiannya dengan pakaian pengantin model dodotan Jawa sehingga memperlihatkan bahu dan punggung istrinya yang putih bersih. Dan beruntungnya Aneska tidak ada tato kepemilikan Abian di badannya, karena untuk beberapa hari Abian puasa.
"Bu, saya tidak setuju dengan pakaian itu, apa tidak bisa bahu istri saya di tutupi dengan kain." Ujar Abian kembali protes.
Dukun manten melirik kembali ke pengantin pria. Dan sama sekali tidak bersuara. "Bu, ganti saya tidak setuju." Protes Abian.
"Sayangnya protes saudara tidak saya terima." Dengan tatapan magis itu, Abian tidak berkutik.
Aneska seperti putri-putri keraton. Abian mengenakan pakaian pengantin yang sama dengan istrinya hanya saja dadanya terlihat sampai perut.
Setelah selesai merias para pengantin, dukun manten belum selesai dengan tugasnya. Dia merias keluarga mempelai pria dan wanita dan juga merias pagar ayu yaitu teman-teman mempelai wanita.
Oma mendatangi anaknya dan cucunya yang masih tidur. "Hei bangun ini sudah siang, acara sudah mau di mulai." Gerutu oma seraya menimpuk keduanya dengan bantal.
"Aduh mami ganggu saja." Ujar nyonya Rona dengan mata setengah terbuka. Wanita paruh baya itu melihat penampilan oma mengenakan pakaian seragam berwarna merah dan kain jarik untuk bawahannya.
"Kenapa dengan pakaian kalian?" tanya nyonya Rona bingung.
__ADS_1
"Ini seragam keluarga kita. Ayo mandi." Titah oma.
"Seragam? cepat banget seragamnya jadi?" tanyanya lagi.
"Ini sewa tau, udah buruan kamu juga akan di rias seperti ini." Jelas oma.
"Sewa?" nyonya Rona mengedikkan bahunya.
"Kenapa?" tanya oma.
"Sudah berapa ratus orang yang memakai pakaian itu? aku enggak mau, mending aku dan Tanisa pakai gaun kami sendiri." Nyonya Rona menolak.
"Terserah, tapi oma kasih tau ya, ini di kampung enggak pantas gaun mahal kalian di pakai yang ada malah jorok." Oma beranjak dari kamar.
Ketika berada di pintu kamar oma menoleh kembali. "Kalau pakaian kalian berbeda akan sangat terlihat di mata Abian jika kalian tidak berniat untuk datang ke acaranya." Oma keluar dengan Ila.
"Mami bagaimana?" tanya Tanisa.
"Dari pada rencana mami batal, kita ikuti kemauan Abian." Nyonya Rona bergerak dan berhenti lagi.
"Kenapa mi?" tanya Tanisa.
"Mami mau pipis dan sikat gigi tapi kamar mandinya jorok nanti kalau muntah bagaimana?" nyonya Rona minta pendapat anaknya.
"Tapi enggak mungkin juga di tahan mi." Sahut Tanisa.
Akhirnya kedua wanita itu keluar melewati dapur dan di dapur telah penuh para ibu-ibu yang tengah sibuk meracik olahan makanan untuk para tamu undangan.
Ketika dua wanita itu lewat, semua ibu-ibu menganggukkan kepalanya memberi hormat. Mereka bisa menebak jika keduanya keluarga pengantin pria. Apalagi penampilan mereka terlihat berbeda, kulit yang mulus dan jari yang lentik terlihat jika keduanya orang kaya.
Dengan pedenya Tanisa dan maminya melewati semuanya. Apalagi Tanisa hanya mengenakan celana pendek yang membuat para kaum adam langsung melotot.
Dengan santainya keluar dari dapur menuju kamar mandi, tidak memperdulikan mata yang melihat mereka.
Tanisa mengintip kamar mandi itu. "Mi, enggak sekotor yang kemarin malam, udah lumayan bersih. Aku mandi ya soalnya panas." Tanisa masuk ke dalam kamar mandi dan maminya menunggu di depan pintu dengan kepala terus terangkat ke atas menunjukkan keangkuhannya.
Tidak butuh waktu lama Tanisa selesai mandi. "Tanisa, baju kamu mana?" tanya maminya.
"Ini." Tanisa menunjukkan pakaian yang baru saja dikenakannya telah berpindah ke tangannya.
"Terus ke kamar kamu pakai apa?" tanya maminya.
"Pakai handuk." Sahut Tanisa.
"Tapi ini banyak orang, apalagi banyak bapak-bapak di belakang sini." Bisik maminya.
"Peduli amat, anggap saja aku sedang di kolam renang." Dengan santai dia melewati semuanya. Tubuh mulusnya hanya terbalut handuk putih.
Bapak-bapak yang berada di situ pada ngeces sedangkan ibu-ibu langsung melihat suaminya masing-masing dan langsung menyadarkan suaminya dengan sebuah tamparan.
Karena ulah Tanisa keadaan di belakang ribut, para suami tidak merasa bersalah dan tidak terima mendapatkan tamparan itu sedangkan para wanita tetap memukul suaminya yang menganggap suami mereka genit.
Bersambung...
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
__ADS_1